logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Budaya    Budaya Sunda

Mengenal Kebudayaan Suku Sunda


Ilustrasi kebudayaan suku sunda

Nama Sunda tidak lepas dari wilayah bagian barat Pulau Jawa. Bagian terbesar tanah Sunda berupa dataran tinggi dan pegunungan, kecuali bagian utara berupa dataran rendah. Pegunungan memanjang dari barat ke timur, memiliki tanah subur dengan bagian atasnya banyak dilapisi tanah semburan gunung berapi dari masa lalu. Banyak berkelok aliran sungai mengalir dari pegunungan menuju laut sebelah utara atau Laut Jawa, bermuara ke laut sebelah barat atau Selat Sunda maupun mengalir ke laut sebelah selatan atau Laut Hindia.

Dalam Ilmu Bumi (Geologi) dikenal nama dataran Sunda, berupa dataran masa lampau (masa grasial) yang membentang dari barat ke timur antara lembah Brahmandapura di Myanmar hingga Maluku sekarang. Istilah Sunda Besar meliputi pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Madura. Sedangkan sebutan Sunda Kecil terdiri dari Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores dan Timor.

Kebudayaan Sunda merupakan hasil kreasi masyarakat Sunda yang telah berada di Tatar Sunda (tanah Sunda) jauh sebelum masehi. Mereka disebut dengan urang Sunda yang memiliki sifat ramah, santun dan baik pada kaum pendatang.

Penelitian arkeologis mengemukakan, di dataran Sunda telah bermukim kelompok masyarakat yang memiliki sistem kepercayaan, mata pencaharian, pola pemukiman dan organisasi sosial. Secara fisik cukup sulit membedakan antara orang Sunda dan orang Jawa yang sama-sama hidup di Pulau Jawa. Perbedaan yang jelas dilihat dari segi budaya, terutama bahasa.

Terdapat istilah Sunda Buhun atau Sunda Kuna, yaitu segala hal yang dikaitkan dengan budaya orang Sunda pada masa praislam atau sebelum abad ke-17 M. Sunda Buhun lebih sering difokuskan pada bahasa, sastra dan aksara Sunda.

Kebudayaan suku Sunda tak lepas dari keberadaan kerajaan-kerajaan di tanah Sunda. Menurut temuan dokumentasi tertulis berupa prasasti dari pertengahan abad ke-5 M, berdiri pemerintahan Kerajaan Tarumanagara dengan salah satu rajanya bernama Purnawarman dan beribukota di wilayah Bekasi sekarang.

Lanjutan dari Tarumanagara, berdirilah Kerajaan Sunda sekitar abad ke-8 M dan Pajajaran sebagai ibukota yang berpusat di daerah Bogor sekarang. Kerajaan ini hidup selama 6 abad, karena runtuh pada kisaran tahun 1579 M. Pada zaman pemerintahan Prabu Maharaja (1350-1352 M) terjadi konflik dengan raja Majapahit Hayam Wuruk.

Pada masa kepemimpinan Sri Baduga Maharaja (1482-1521 M) dan Prabu Surawisesa (1521-1535 M) terjalin kerjasama keamanan dan ekonomi dengan Portugis yang menguasai Malaka. Sejak masuknya penjajahan Belanda, perlahan semua tanah Sunda runtuh ke pemerintahan kolonial Hindia Belanda pada abad ke-19 M.

Bahasa Sunda

Salah satu kebudayaan suku Sunda adalah bahasa Sunda yang diciptakan dan digunakan oleh orang Sunda dalam rutinitas keseharian hidup mereka. Bukti tertulis bahasa Sunda berasal dari prasasti dari abad ke-14 M yang ditemukan di Kawali, Ciamis Jawa Barat. Bahasa Sunda banyak sekali dipengaruhi oleh struktur bahasa sanskerta dari India.

Datangnya agama Islam dan lahirnya pemerintahan kerajaan Islam di wilayah Sunda, bahasa Sunda banyak sekali dipengaruhi oleh bahasa Arab sekitar akhir abad ke-16 M. Sementara bahasa Jawa tampak jelas pengaruhnya di awal abad ke-17 M hingga pertengahan abad ke-19 M karena pengaruh Mataram.

Selanjutnya masuk pula bahasa Belanda, terutama setelah dibuat sistem ejaan bahasa Sunda dengan menggunakan Cacarakan (1860) dan Aksara Latin (1912) yang diprakarsai oleh orang Belanda. Sementara bahasa Melayu merasuk ke bahasa Sunda, terutama setelah dideklarasikan bahasa persatuan dengan bahasa Indonesia (1928).

Kesenian Sunda

Selain bahasa, terdapat pula kesenian Sunda. Menurut hasil survey pemerintahan provinsi Jawa Barat, tercatat lebih dari 350 jenis kesenian yang berkembang di Jawa Barat. Sebagian ditujukan untuk kegiatan-kegiatan sakral dari ritual kepercayaan lokal, seperti kesenian sidekah bumi. Banyak pula kesenian Sunda yang berupa tontonan hiburan masyarakat, seperti Wayang Golek dan Ibing Tarawangsa. Kesenian yang berupa permainan anak disebut Kaulinan Urang Lembur, diantaranya Sorodot Gaplok, Tatarucingan, Ucing Sumput, Ngadu Muncang, Bebentengan, Egrang, dll.

Banyak hal yang bisa dipelajari dari kearifan kebudayaan suku Sunda (local wisdom) dan merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan. Pertarungan budaya lokal dengan budaya global jangan sampai mengasingkan masyarakat kita dari nilai tradisi hingga tercerabut dari akar budaya asal. Mari kita pertahankan budaya sendiri sebagai khazanah kekayaan budaya Indonesia.

Budaya Sunda

Berbiaca tentang kebudayaan suku sunda maka tidak akan terlepas dari budaya yang dimiliki oleh orang sunda. Budaya sunda merupakan budaya yang tumbuh dan berkembang dari masyarakat sunda itu sendiri. Budaya yang dimiliki oleh orang sunda sangatlah terkenal akan keramahannya serta menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan yang ada.

Secara umum masyarakata sunda yang menjunjung budaya sunda memiliki karakter yang berbeda dengan masyarakat lainnya. Masyarakat sunda memiliki karakter yang ramah atau lebih dikenal dengan istilah someah, periang, murah senyum, lemah lembut, dan yang paling penting adalah hormat pada kedua orang tua.

Seperti itulah budaya lokal arif yang dimiliki oleh masyarakat sunda. Dan merupakan cerminan dari orang sunda itu sendiri. Sebagaimana yang diajarkan pada masyarakat jawa tentang bagaimana menggunakan bahasa ketika berhadapan dengan sesama dan bagaimana berhadapan dengan orang tua, begitu pula masyarakat sunda yang menggunakan bahasa yang halus ketika harus berbicara dengan orang yang lebih tua.

Budaya yang menghormati orang tua tersebut telah diajarkan sedini dan terus diajarkan lewat penggunaan bahasa yang berbeda ketika harus berhadapan dengan orang yang lebih tua. Menghormati orang yang lebih tua adalah sebuah nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh budaya sunda lewat penggunaan bahasanya.

Kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat sunda merupakan salah satu budaya yang tertua yang ada di Nusantara. Maka tidak heran jika budaya sunda lebih sering dikaitkan dengan kerajaan sunda pada masa lampau.

Dalam ajaran yang diberikan oleh budaya sunda selalu mengajarkan untuk menuju keutamaan hidup. Dalam bahasa sunda, watak dari orang sunda dikenal dengan sebutan cageur, bageur, singer, dan pinter. Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia maka artinya adalah sembuh, baik, sehat, dan cerdas.

Itu adalah etos dan watak yang selalu diajarkan kepada orang sunda. Orang sunda haruslah sembuh atau waras, baik itu lahir maupun batin yang artinya sehat secara jasmani dan rohani yang berarti tidak gila. Orang sunda sendiri juga haruslah memiliki sifat yang baik, baik itu kepada sesama maupun kepada alam semesta. Watak yang selanjutnya adalah sehat yang berarti kuat serta cerdas merupakan watak yang juga harus dimiliki oleh orang sunda.

Jika melihat ajaran yang ditanamkan dalam watak orang sunda tersebut maka budaya jugalah pasti sangat arif. Karena selalu mengajarkan hal yang baik dan penuh toleran kepada semua makhluk. Jadi budaya sunda sudah sepatutnya dilestarikan karena memiliki nilai-nilai kearifan budaya lokal serta menjadi khasanah dan kekayaan budaya yang dimiliki oleh Indonesia.

Dalam setiap kebudayaan lokal yang ada di Indonesia biasanya memiliki nilai-nilai spiritual. Niali-nilai spiritual yang ada pada budaya sunda dikenal dengan sebutan sunda wiwitan. Budaya spiritual sunda wiwitan mengajarkan seseorang untuk selalu hidup selaras dengan alam. Dengan demikian budaya sunda selalu menjunjung tinggi alam yang telah memberikan banyak manfaat bagi manusia.

Mereka selalu mencoba untuk hidup selaras dengan alam. Menggunakan alam dengan cara menjaganya dan tidak merusaknya. Tentu hal tersebut berbeda dengan kebanyakan orang sekarang yang lebih banyak merusak alam hanya untuk mendapatkan manfaat sesaat dari alam. Sungguh hal tersebut sebenarnya adalah kerugian yang besar mengingat alam juga akan memberikan sebuah kutukan atas segalah keserakahan yang diinginkan oleh manusia yang tidak pernah mencoba memperhatikan dan hidup serasi dengan alam.

Kini sebagian besar masyarakat sunda telah beragama islam. Hanya sebagian kecil saja yang tidak beragama Islam. Walaupun demikian semuanya tetap menjunjung tinggi persatuan dan tetap menjalankan kebaikannya untuk menjaga dan melestarikan alam sebagaimana budaya sunda wiwitan yang telah mengakar pada masyarakat sunda.

Budaya sunda juga dikenal dengan masyarakat yang sangat suka bergotong-royong. Semua hal dikerjakan bersama-sama asalkan masih dikerjakan bersama-sama. Nilai gotong-royong masih ada dan melekat pada masyarakat sunda. Berbeda dengan daerah lainnya yang sudah tergilas dengan budaya kapitalis yang lebih mementingkan nilai uang daripada nilai sosial. Semoga budaya yang arif seperti ini akan terus ada dan berkembang ke masyarakat lainnya.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Beragam Alat Musik Jawa Barat
  • Wayang Golek Sunda
  • Rumah Bernuansa Saung Bambu
  • Pengertian Calung, Jenis Calung, dan Fungsinya
  • Menikmati Carita Bodor Sunda
  • Si Kabayan, Identitas Dongeng Basa Sunda
  • Kebaya Sunda, Salah Satu Kekayaan Budaya Sunda dan Indonesia
  • Anak Bandung – Muda, Kreatif dan Kontroversial
  • Mari Mengenal Kesenian Tradisional Jawa Barat
  • Lagu Pop Sunda: Benarkah Dicintai Orang Sunda?
  • Kebudayaan Masyarakat - Kampung Adat di Bandung
  • Kuda Lumping Warisan Budaya Bangsa
  • Rekam Jejak Sejarah Kerajaan Mataram
  • Sejarah dan Fungsi Tari Jaipong
  • Pakaian Adat Sunda
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA