Mengurai Konsep Kedaulatan Tuhan
Vox populi vox dei. Suara rakyat suara Tuhan. Demokrasi berbasis pada suara rakyat. Tools tersebut adalah pemilihan umum. Hak asasi manusia mendapat tempat mulia. Manusia adalah individu yang bebas bergerak. Mengatur diri sendiri. Konsep ini vis a vis dengan kedaulatan Tuhan. Bagi sebagian kalangan, demokrasi mengingkari prinsip Tuhan.
Misalnya, gerakan Hizbut Tahrir. Mereka ingin negara berbasis teokrasi (agama). Hukum negara adalah hukum Tuhan. Manusia tidak boleh membuat hukum sendiri. Negara teokrasi mencaplok utuh konsep agama kedalam konsep negara.
Piagam Jakarta
Indonesia sempat memasukkan agama Islam ke dalam Pancasila. Piagam Jakarta ini diprotes oleh daerah lain. Dengan kerendahan hati, para founding father meluluskan permintaan tersebut. Indonesia tidak diikat oleh kemajemukan. Ragam suku dan agama berbaur. Menamakan diri sebagai Indonesia. Maka, tidak ada satu anak emas pun di negeri ini. Negara tidak boleh pilih kasih.
Maka, ketika kini mencuat Perda bernuasa syariat, pro dan kontra mencuat dari sana sini karena khawatir memicu cemburu sosial. Misalnya, daerah A boleh memakai syariat, maka daerah B akan meminta hal yang sama. Lama-lama, negara tersandera oleh jerat konflik SARA. Kita juga khawatir melihat konflik berbau agama dan pembakaran rumah ibadah. Penyerangan satu kelompok ke kelompok lain.
Tuhan tidak mengajari kekerasan. Maka, heran jika jalur kekerasan ramai dipakai. Menyitir ucapan ulama terkenal bahwa jika kita yakin benar, ada kemungkinan mereka salah. Namun, jika mereka juga yakin benar, kemungkinan kita salah ada. Tuhan yang jadi Maha Kebenaran (al haq). Oleh sebab itu, manusia harus mencari kebenaran dari segala penjuru dengan terus rendah hati dan mawas diri.
Kedaulatan Tuhan
Tuhan berdaulat di mana-mana. Bukan hanya di negara. Tuhan berdaulat di tiap hati insan manusia beriman. Mereka yang beriman akan jadi manusia paripurna. Doing the right thing when no body watching. Mereka bertindak bukan atas pamrih, melainkan berorientasi pada Tuhan. Kedaulatan Tuhan model ini yang perlu dilakukan. Tiap manusia punya filter atas do’s and don’ts. Benteng terkuat adalah diri sendiri.
Agama akan rentan jika ditarik ke pusaran kekuasaan politik. Tuhan bukan milik satu orang dan kelompok. Tiap orang akan mendaku bahwa agama mereka yang paling benar. Bahkan, mereka yang agnostik (atheis) sekalipun merasa dirinya benar. Maka, kita tidak perlu berdebat soal keyakinan siapa yang benar. Kita harus bersatu untuk kemanusiaan tanpa melihat agama. Bukankah perbedaan adalah anugerah?






