logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Suku    Suku Banten

Mengenal kehidupan Suku Baduy


Ilustrasi kehidupan suku baduy
Suku Baduy merupakan suku asli yang mendiami tanah Banten.  Suku ini mendiami daerah yang masih jauh dari keramaian di sekitar pegunungan Kendeng di Lebak, propinsi Banten. Kehidupan suku Baduy masih mempertahankan adat istiadat dan budaya leluhur mereka hingga saat ini.  Suku Baduy termasuk dalam kelompok suku Sunda yang berbahasa Sunda dengan dialek khas Banten. Mereka mempunyai kepribadian yang kuat dan sangat yakin bahwa hanya dengan mengikuti pola hidup yang telah digariskan oleh leluhurlah, mereka bisa bertahan.

Bila Suku Baduy Berubah

Tidak bisa membayangkan kalau dari sejak zaman dahulu suku Baduy mengubah pola hidup mereka. Yang terjadi mungkin sudah tidak ada lagi hutan nan lebat yang terpelihara dari sentuhan tangan jahil. Jika suku Baduy ini mengikuti modernitas perubahan zaman, mungkin telah berdiri begitu banyak vila di daerah mereka. Lalu daerah nan teduh itu menjadi tempat wisata. Seperti tempat wisata lainnya, mungkin tanah larangan ini telah lama menjadi tempat berbuat maksiat.

Di mana ada tempat wisata dengan keteduhan pepohonan, di sana jua ada perbuatan yang menentang agama. Dua orang yang tidak halal melakukan perbuatan yang nista dan sebagainya. Seandainya saja suku Baduy ini menerima pola hidup seperti kehidupan orang lain yang ada disekeliling mereka, mungkin tidak ada lagi pola hidup yang bisa dipelajari. Tidak ada kesederhanaan berpikir yang bisa diambil hikmahnya. Tidak ada cerita tentang orang-orang suku Baduy yang berjalan kaki begitu jauh demi sesuap nasi.

Sesuap nasi ini benar-benar sesuap nasi dan bukan perumpamaan. Orang Baduy itu biasa bersyukur dengan apa yang mereka punyai. Mereka juga tidak serakah. Kalau mereka serakah, telah habis hutan mereka dari sejak lama. Mereka sangat bersahabat dengan lingkungannya. Mereka juga sangat taat pada peraturan yang telah digariskan oleh leluhur mereka. Mereka sangat tahu bahwa kalau mereka melanggar, maka yang akan terjadi adalah kerusakan dan kenestapaan yang akan mereka rasakan sendiri.

Mereka juga menyadari kalau mereka tidak menjaga alam sejak dini, maka anak cucu mereka nantinya tidak bisa menikmati seperti yang mereka nikmati sekarang. Mereka sangat menyadari bahwa apa yang mereka miliki kini adalah titipan untuk anak cucu nantinya. Mereka cukup cerdas dan mempunyai peradaban yang baik sehingga pemerintah tidak perlu repot untuk berusaha memindahkan mereka dan membuat mereka lebih modern.

Mereka Lebih Bijak, Jangan Diganggu

Pola pikir mereka jauh lebih bijak dari orang-orang yang hanya memikirkan isi perut sendiri. Walaupun tidak semua orang Baduy menganut pola hidup yang begitu taat seperti yang dilakukan oleh orang Baduy Dalam, cara mereka mendidik anak-anak dan cara mereka mencari makan dengan sangat sederhana itu patut dipertahankan dan tidak boleh diganggu. Banyak yang sudah berusaha memasuki tanah larangan yang ada di perkampungan Baduy Dalam.

Hasil yang didapatkan adalah pengetahuan dan ilmu yang bermanfaat bagaimana menikmati hidup tanpa harus memikirkan hal-hal yang diluar jangkauan. Bahawa hidup ini menunggu mati adalah sesuatu yang pasti. Orang mau bergerak atau orang mau diam saja, suatu saat ia akan mati jua. Sekali hidup, seharusnya bermanfaat sehingga tidak membuat kehidupan ini menjadi sia-sia. Orang yang berpikir bahwa ia adalah mahluk yang lebih baik daripada orang lain, biasanya akan sombong.

Dengan kesombongan itu ia akan berusaha mempengaruhi orang lain. Bukannya tidak ada orang yang berusaha memperdaya suku Baduy. Namun, konsep hidup yang luar biasa kokoh nan kuat, telah membuat suku Baduy tak tergoyahkan. Mereka tetap pada pendiriannya dan tidak mengubah pola pikirnya demi apapun juga. Inilah contoh masyarakat yang harusnya diikuti. Masyarakat begitu taat kepada pimpinan karena mereka tahu bahwa pimpinannya bisa dipercaya.

Kalau suatu golongan mempunyai pimpinan yang bisa dipercaya, maka biasanya lingkungan itu akan aman dan nyaman. Bila ada hal-hal yang mengganjal di hati, mereka akan datang kepada pimpinannya dan yakin akan mendapatkan perlakuan yang adil. Inilah salah satu hal yang membuat suku Baduy ini tetap ada dan tetap mempunyai peradaban yang kurang lebih sama sejak suku ini ada. Perkembangan anak keturunan mereka menjadikan mereka mulai terbuka walaupun agak malu-malu.


Namun keterbukaan itu bukan akhirnya membuat mereka menjadi terlena. Ada banyak orang Baduy yang kini bisa berbahasa Indonesia dan bisa berhitung serta menulis. Seperti juga suku Anak Dalam atau suku Orang Rimba atau suku Kubu yang ada di Jambi. Mereka belajar bahasa Indonesia. Mereka jug abelajar berhitung karena mereka sering ditipu oleh orang yang bertransaksi dengan mereka. Kasihan sekali bila hal ini terjadi. Dengan keluguannya mereka hanya mengambil sedikit demi untuk mengganjal perut.

Sedangkan orang lain, mereka ingin mengambil semuanya dan membabat semuanya sehingga suku Anak Dalam ini tidak lagi mempunyai tempat untuk berladang. Mereka kelaparan dan hingga tersesat keluar dari hutan. Mereka tidak tahu jalan karena hutan telah dibabat habis dan dijadikan perkebunan. Mereka tidak mempunyai tempat berlindung dan tidak bisa berladang lagi. Mereka telah kehilangan banyak tanah adat. Kalau suku Baduy mengalami hal ini juga, bukannya tidak mungkin mereka pun akan kelaparan.

Tidak salah kalau mereka berusaha belajar membaca dan menulis serta belajar berbahasa Indonesia. Namun, mereka tetap pada pendiriannya dan tetap berpegang teguh pada norma yang telah digariskan oleh nenek monyangnya. Selama semua norma itu tidak merugikan dan telah terbukti keampuhannya, mereka tetap berpegang teguh pada semua itu.

Pembagian Suku Baduy

Ada dua kelompok suku Baduy yang dibedakan berdasarkan cara hidup dan tempat tinggal.  Hal ini disebabkan banyaknya generasi penerus suku Baduy yang ingin mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Bagaimanapun kehidupan di luar itu terlihat lebih gemerlap dan lebih menyenangkan. Sedangkan kehidupan di hutan itu sangat gelap tanpa ada hiburan dimalam hari. Ada saja suku Baduy Luar yang menjadi seperti orang biasa.

Kehidupan Suku baduy berdasarkan pembagiannya yaitu:


* Kehidupan suku Baduy Dalam.
Disebut suku Baduy Dalam karena masyarakatnya masih memegang teguh adat istiadat dan budaya yang telah diwariskan dari leluhur mereka.  Kehidupan suku Baduy Dalam ini masih alami, tidak diperbolehkan mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Semuanya dilarang karena dianggap akan membahayakan peradaban mereka.

Wilayah suku Baduy Dalam masuk ke dalam wilayah Kanekes, Lebak Banten.  Untuk membedakan, orang Baduy dalam memiliki ciri-ciri khas yaitu dari pakaian yang dikenakan semuanya berwarna putih atau biru tua dengan menggunakan ikat kepalanya yang juga berwarna putih. Uniknya, pakaian yang dipakai harus merupakan hasil tenunan buatan sendiri dan bukan dibeli.  Hasil tenunan tersebut juga harus dijahit sendiri. 

Suku Baduy Dalam ini tidak menggunakan alat-alat elektronik seperti televisi dan lainnya, juga tidak boleh menggunakan alas kaki seperti sendal dan sepatu saat berjalan.  Semuanya serba alami dan tidak mengikuti perkembangan jaman.
Kehidupan suku Baduy Dalam ini memang masih tradisional dan mempertahankan tradisi.  Jika ada pendatang yang ingin masuk ke dalam suku Baduy dalam pun, harus menghormati tradisi disana.

* Kehidupan suku Baduy Luar.
Kehidupan suku Baduy Luar  berbeda jauh dengan kehidupan suku Baduy Dalam.  Itulah sebabnya mereka disebut Baduy Luar, karena telah keluar dari wilayah asal di Kanekes dan membentuk kelompok baru disana. 

Kehidupan suku Baduy Luar ini lebih mengikuti perkembangan jaman dan teknologi.  Umumnya, masyarakat suku Baduy Luar merupakan generasi muda yang menginginkan perubahan hidup. Masyarakat Baduy Luar telah mengenal alat elektronik seperti televisi dan lainnya.  Juga telah menggunakan alat transportasi umum atau kendaraan.  Kehidupan suku Baduy Luar lebih modern, pembuatan rumahnya jauh lebih mengikuti perkembangan zaman.

Ciri-ciri orang Baduy Luar adalah pakaian yang dikenakannya berwarna hitam dengan ikat kepla yang berwarna hitam pula.  Pakaian yang dipakai bisa dibeli atau tidak ditenun sendiri.  Tidak ada larangan untuk memakai pakaian model yang lain.  Generasi muda suku Baduy luar bahkan sudah memakai kaos dan celana.

Terlepas dari perbedaan kedua suku Baduy, kehidupan suku Baduy ini dapat menjadi contoh yang baik.  Menjaga keseimbangan alam dengan kehidupan manusia yang selaras dan serasi agar tidak terjadi kerusakan.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Beragam Bahan untuk Makalah Suku Badui
  • Sejarah Suku Badui dan Sebutannya
  • Corak Kehidupan Masyarakat Suku Baduy
  • Peta Banten: Swasembada Beras Ala Suku Baduy
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA