logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Psikologi    Psikologi Sosial

Keinginan Manusia: Muda Foya-Foya, Mati Masuk Surga


Keinginan manusia hidup di dunia ini memang beragam, mulai dari keinginan yang bersifat emosional hingga yang dapat dimaklumi setiap orang. Wajar saja jika terjadi hal seperti itu, karena manusia merasa menjadi sosok yang lemah di antara makhluk lain di dunia ini.

Naif sekali makhluk yang bernama manusia ini. Mentang-mentang mempunyai ego dan nafsu, keinginan manusia hanya yang enak-enak. "Kecil bahagia, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga." Itulah slogan manusia.

Slogan tersebut memang bukan slogan yang  tanpa harapan. Meski terkesan enak-enak tapi sebenarnya slogan tersebut sering digunakan motivasi bagi sebagian besar orang ketika menjalani aktivitas dalam kehidupan ini.

Keinginan manusia yang satu memang tidak dapat ditebak oleh manusia yang lainnya. Kalaupun dapat ditebak, hal itu hanya kebetulan saja. Kemajuan teknologi seperti saat ini menjadi faktor tambahan penyebab keinginan manusia semakin bertambah dan berkembang.

Keinginan tersebut tidak terbatas pada kebutuhan jasmani saja tapi juga rohani. Slogan yang berisi keinginan enak-enak tersebut seharusnya tidak dimiliki oleh orang-orang yang mudah putus asa dalam hidupnya. Slogan tersebut hanya akan menjadi boomerang bagi mereka yang tidak semangat dalam hidupnya.

Sebelum lebih mendalam mengetahui keinginan manusia secara mendalam, sebaiknya kita instropeksi diri dari slogan tersebut. Di dunia ini tidak ada manusia yang sebenarnya hidupnya enak tanpa usaha optimal. Kehidupan yang enak dapat dirasakan ketika manusia mampu menempatkan dirinya pada posisi yang tepat dalam kehidupannya.

Kadang manusia sudah mengupayakan optimal segala potensinya, ternyata Tuhan memberikan ujian hidup sebagai bentuk kasih sayangnya. Ataupun sebaliknya, manusia yang belum mengoptimalkan potensinya juga diuji oleh TuhanNya. Semua mendapat porsi yang sama.

Ujian dari Tuhan diberikan kepada manusia bukan berarti Tuhan membenci manusia tersebut dengan segala upayanya. Tapi Tuhan memberikan ujian agar manusia senantiasa ingat dan bersyukur dengan  segala apa yang telah didapatkannya dari upayanya yang optimal.

Tuhan Maha Mengetahui segala apa yang diupayakan makhluknya termasuk manusia. Kehidupan yang enak hanya bisa diraih dengan upaya yang optimal dan syukur terhadap hasil yang didapatkannya. Meski secara teori mudah disampaikan, tapi hal tersebut membutuhkan kesabaran dalam kenyataan menjalankannya dalam kehidupan. Selanjutnya kita akan mengetahui hal-hal yang sebenarnya layak kita upayakan dengan optimal. Berikut uraiannya.

Kebahagiaan dan Ketenangan Jiwa

Apapun yang dilakukan oleh manusia, sesungguhnya untuk mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan jiwa. Jadi, keinginan manusia sebagian dalam hidupnya, sebenarnya adalah dua hal tersebut . Bila kebahagiaan tak mampu diraih, manusia akan kecewa. Kekecewaan itu akan membuat manusia berbuat sesuatu yang, bahkan, dapat membahayakan dirinya. Kekecewaan juga membuat ketenangan jiwa sulit diraih.

Segala bentuk hiburan dan kegiatan yang dianggap dapat memberikan kebahagiaan dan ketenangan jiwa akan dilakukan dan didatangi oleh manusia. Jeleknya adalah terkadang manusia-manusia yang tak berhati nurani akan melakukan hal-hal tak terpuji hanya untuk melampiaskan nafsunya. Saling sikut, saling rampas, saling menyakiti sebagai balas dendam, tak segan dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan "kebahagiaan" semu.

Jalan sesat, seperti mendatangi kuburan yang dianggap keramat, pun dilakukan atas nama mendapatkan ketenangan jiwa. Belum lagi, memakai batu dan jimat-jimat yang diyakini akan mendatangkan kedamaian. Manusia itu makhluk berakal, tapi gayanya mencari ketenangan jiwa kadang masih kalah dibanding makhluk lain.

Lihatlah buaya. Hewan berwajah sangar tersebut mungkin lebih bahagia dibanding manusia. Buaya hanya butuh makan dan seks. Tempat tinggalnya tak perlu dihias dan diberi banyak perabotan. Oleh karena itu, manusia harus tetap ingat dan instropeksi diri.

Manusia sebagai makhluk yang lebih mulia dari makhluk ciptaan Tuhan lainnya, memiliki akal yang dapat digunakan untuk memahami kehidupan dan tujuannya. Manusia hidup bukan terbatas pada keinginan lahiriah tapi juga batiniah. Wajar saja jika kebahagiaan dan ketenangan jiwa senantiasa dicari oleh manusia apapun kedudukan ataupun jabatannya.

Oleh karena itu, Tuhan tidak membedakan manusia berada pada status social di masyarakatnya. Kebahagiaan dan ketenangan hidu setiap manusia memiliki standar sendiri-sendiri jika diserahkan pada status sosialnya. Tapi, kebahagiaan dan ketenangan jiwa yang semestinya diraih manusia adalah meningkatnya keimanan dan ketakwaannya kepada Tuhan dalam hidup ini.

Harta

Manusia menganggap bahwa harta adalah salah satu sumber kehidupan yang harus didapatkan. Dengan harta, manusia bisa melakukan banyak hal. Termasuk, dapat menjadi penguasa manusia lainnya. Penjajahan yang terjadi adalah salah satu bentuk pencarian harta. Manusia memang tak pernah puas bila sudah menyangkut harta. Makan berpiring emas, bercangkir perak, bersendok dan bergarpu kristal sekalipun, belum akan membuat manusia lega.

Bahkan, bila manusia itu diberi satu gunung emas, dia pasti akan mencari gunung-gunung emas yang lainnya. Itulah manusia. Mahluk serakah yang sangat buas dalam mencari harta. Kerusakan lingkungan atau pembunuhan manusia lain demi segenggam berlian pun akan dilakukan dengan sepenuh hati dan segenap jiwa. Apa yang digambarkan dalam film Blood Diamond bisa menjadi contoh keserakahan manusia.

Perkembangan teknologi saat inipun juga dapat dijadikan fakta adanya keinginan manusia terhadap harta sangat banyak dan beragam. Pengaruh sistem kehidupan kapitalisme telah membentuk manusia untuk gila harta.

Sebenarnya harta bukan standar yang tepat dalam meraih keinginan hidup manusia di dunia ini. Manusia membutuhkan kemuliaan, tapi bukan diukur berdasar banyaknya nominal harta di dunia yang telah dikumulkannya. Manusia yang mulia meurut Tuhan adalah manusia yang meningkat ketakwaannya.

Secara teori pencapaian takwa mudah dilakukan, tapi sebenarnya takwa bukan sebatas kata-kata ataupun keinginan. Takwa yang diminta Tuhan adalah takwa sebenarnya. Takwa dapat diraih secara perlahan tapi pasti oleh manusia melalui beragam amal kebaikan dalam hidupnya.

Oleh karena itu, harta yang dicari dan dikumpulkan manusia, bukan dijadikan sebagai pengukur kemuliaannya di dunia dan saying Tuhan terhadapnya. Tapi harta tersebut hendaknya diamalkan sesuai dengan amalan yang ditunjukkan Tuhan menuju peningkatan ketakwaan.

Meraih Surga

Semua keinginan manusia yaitu masuk surga. Jangankan surga yang sesungguhnya, di dunia nan fana ini pun, manusia berusaha untuk menciptakan surga dengan berbagai kemewahan dan keindahan. Keinginan meraih surga inilah yang masih membuat manusia berbuat kebaikan. Bila tak ingat ada surga, manusia akan menjadi sejahat-jahatnya makhluk. Hidupnya hanyalah menjadi budak nafsu perut dan yang di bawah perut.

Berbagai petunjuk agama diikuti dan dijalankan dengan harapan akan masuk surga. Walaupun tahu bahwa tak mudah untuk meraih surga tanpa rida dari-Nya, tetap saja manusia berusaha menjadi makhluk mulia. Godaan pasti ada dan akan selalu ada, tetapi ruh manusia yang asalnya suci itu selalu ingin menuju jalan kesucian yang sudah ditetapkan sehingga surga yang diharapkan akan mampu dimasuki dengan mudah.

Itulah yang seharusnya menjadi instropeksi diri manusia terhadap slogan berisi hal-hal enak tersebut. Keinginan manusia tidak dapat dibatasi oleh perasaannya saja, tapi juga cara pandangnya terhadap kehidupan ini untuk siapa dan untuk apa.

Kadang manusia terlena dengan kehidupan di dunia hingga lupa akan petunjuk Tuhannya. Hal tersebut memang wajar dan sering terjadi pada diri manusia. Sosok yang lemah, kadang lupa dan kadang salah ini harus terus diingatkan agar menjalani kehidupannya dengan benar dan tepat sesuai keinginan Tuhannya.

Keinginan hidup yang beragam akan menjadi motivasi hidup manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia yang fana ini. Motivasi yang harus dimiliki adalah motivasi yang benar dan positif bagi diri utamanya.

Motivasi hidup tidak harus berasal dari orang lain, tapi motivasi hidup akan lebih mantap tertanam dalam diri ketika berasal dari diri manusia itu sendiri. Orang lain tidak dapat mengetahui diri manusia yang lain secara sempurna, tapi dirinya sendirilah yang memahami secara keseluruhan.

Oleh karena itu, antara keinginan dan motivasi hidup pada diri manusia harus berjalan beriringan dan menempati posisi mendukung kehidupan. Manusia sebagai makhluk pilihan Tuhan melakukan hal yang terbaik untuk meraih kemuliaan nantinya. Kebahagiaan, ketenangan jiwa, harta yang melimpah serta masuk surga menjadi bagian dari keinginan manusia yang harus dioptimalkan usaha pencapaiannya. Semoga bermanfaat bagi para pembaca yang budiman.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Seluk Beluk Pengertian Gender
  • Memasuki Pikiran Bawah Sadar dengan Meditasi
  • Pengendalian Emosi Jiwa
  • Bukan Dampak Negatif Facebook, Tapi Pandangan Negatif Tentangnya
  • Emosi Adalah Rangsangan
  • Gambaran Psikologi Karakter Manusia dalam Film
  • Cara Kelola Macam-Macam Emosi
  • Berdamai dengan Nafsu Liar
  • Gangguan Jiwa Tidak Selalu Gila
  • Merenungkan Sebuah Harapan Indah
  • Dampak Negatif Jejaring Sosial yang Merugikan
  • Kekuatan Diri dalam Sang Pemimpi
  • Hentikan Kekerasan Sekarang Juga
  • Kakek Gaul di Zaman Edan
  • Mempelajari Artikel Psikologi Sosial
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA