Kekuatan Alam Gunung Merapi
Gunung Merapi adalah simbol kultur sekaligus mistik mitologi keraton Yogya. Mengutip perkataan Permadi, gunung Merapi ibarat jenderal. Ketika gunung Merapi meletus, gunung lain di Indonesia juga ikut aktif.
Namun ini sebatas mitos dan mistik. Kekuatan alam gunung Merapi bersumber pada gusti (Tuhan). Mbah Maridjan pun mengatakan demikian. Meletus atau tidak bergantung pada kehendak gusti Allah. Maka kuncen Merapi ini pasrah atas kehendak Tuhan. Hingga ajal menjemput, Mbah Maridjan masih setia menjaga Merapi.
Simbol Kultur atau Mistik?
Gunung Merapi adalah simbol kultur masyarakat Yogya. Menurut Mbah Rono (Surono), Merapi itu memberi kehidupan ketika meletus. Tanah akan subur, pasir yang ditambang, dan sebagainya. Ahli vulkanologi ini tidak terus memakai logika, namun hati karena Merapi bagi warga sekitar sering dimaknai simbol mistik.
Misal penjelmaan Mbah Petruk dalam wedhus gembel (awan panas) ditunjuk sebagai isyarat penghuni Merapi. Atau kesaksian warga yang didatangi makhluk penunggu Merapi yang minta diberi sesajen. Maka membaca Merapi tidak semata dengan akal sehat, tapi di luar nalar manusia.
Penunjukkan Mbah Maridjan pun tak lepas dari simbol tersebut. Menjadi kuncen Merapi tak sembarangan karena butuh dedikasi tinggi. Setiap tahun ada tradisi kultural di Merapi. Banyak yang menyebut Mbah Maridjan penganut kejawen. Namun menurut warga sekitar, Mbah Maridjan adalah muslim taat yang lurus. Rajin beribadah dan memiliki kepribadian yang menyenangkan.
Kekuatan Alam
Kekuatan alam gunung Merapi masih menjadi misteri hingga kini. Letusan gunung Merapi adalah terunik di dunia. Gunung Merapi bahkan surga para ahli vulkanologi untuk belajar pola letusan gunung. Gunung Merapi ibarat laboratorium bagi para peminat displin ilmu ini.
Letusan gunung Merapi baru-baru ini memperlihatkan gejala berbeda. Tidak bisa diprediksi, liar, dan mematikan. Radius 5 km beranjak menjadi 10 km, lalu terakhir 15 km. Gemuruh awan panas kerap terdengar di angkasa membuat suasana mencekam. Masyarakat panik ketika dentuman dahsyat ledakan Merapi. Setiap terjadi terjangan awan panas,masyarakat lari terbirit-birit.
Beruntung, kekuatan alam ini diimbangi oleh kekuatan sosial. Masyarakat Yogya berinisiatif membuat gerakan nasi bungkus. Masyarakat juga dijalan rela membersihkan debuk vulkanik yang menempel di mobil. Membagikan masker pada korban Merapi, gratis.
Kolektivitas sosial ini menjadi secercah harapan untuk terus melangkah. Menatap masa depan yang lebih baik. Kita bersyukur dalam keadaan sulit masyarakat menjadi homo social. Kembali pada rasa kemanusiaan yang tidak bisa ditakar oleh materi.






