logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Metafisika    Paranormal

Dua Kekuatan Batin dan Perbedaannya


Ilustrasi kekuatan batin

Dalam sebuah bukunya, Idries Shah menulis, “terdapat penyimpangan yang oleh agama ditampilkan sebagai hal-hal spiritual (bersifat rohani) padahal sebenarnya merupakan salah satu bagian dari sifat-sifat duniawi. Salah satu contoh paling umum penyimpangan tersebut adalah kebanggaan atau kefanatikan sempit terhadap agama. Padahal tujuan dari keberagamaan adalah bagaimana mencapai tahap ikhlas, dimana ia berbuat, berpikir, berperilaku bahkan mengelola perasaan sekalipun semua digantungkan kepada kekuasaan Tuhan. Tidak ada kebanggaan selain mampu mencapai tahap ikhlas untuk berbuat apapun, sehingga ia tidak akan pernah mengharapkan pujian atau perhatian dari sesama manusia karena tujuannya adalah mencapai ridha Tuhan.

Namun dalam kenyataannya banyak pemeluk agama tidak dapat melepaskan diri dari kebanggaan yaitu selalu merasa bahagia atau nyaman ketika dianggap beriman. Pada saat mendapat label beriman seolah ia telah menjadi manusia paling suci, yang telah memiliki jatah hidup di akhirat berupa kemuliaan. Padahal ketika masih berada pada tahap merasa bangga dengan pemberian label dari manusia itu, memberi peluang bagi timbulnya kebanggaan tersebut sehingga mengaburkan perbedaan antara orang yang benar-benar beragama dengan orang yang berpura-pura beragama. Lalu, apa kaitannya umat beragama dengan kekuatan batin? Ini sebuah pertanyaan mendasar yang tidak gampang menjawabnya. Kenapa ? Ketika membahas masalah kekuatan batin saja seringkali menemukan multi interpretasi. Salah satunya adalah yang menyebabkan munculnya aliran kebatian, yang mencoba dan berusaha mensucikan batin dengan mengabaikan berbagai perilaku atau ritual yang dilakukan oleh fisik. Para penganut aliran kebatian ini menganggap telah melaksanakan segala kewajiban manusia di hadapan penciptanya, ketika telah melakukan ibadah secara kebatian atau mensucikan batin. Padahal semestinya adalah bagaimana melakukan ritual fisik itu yang akan mengantarkan pada kondisi keyakinan bahwa semua itu dilakukan sebagai wujud penghambaan kepada Allah SWT dan bukan tujuan yang lain.

Kalau ada yang bertanya mana yang lebih penting mengelola ragawi atau mengelola batin ? Bagi masyarakat yang menganut aliran kebatinan, tentu saja akan menjawab mengelola batin jauh lebih penting dibanding dengan mengelola raga. Padahal Allah telah menciptakan manusia itu justru secara lengkap antara raga dan batin. Dengan demikian semestinya bagaimana perilaku raga dan batin ini seiring sejalan untuk mengupayakan mencari keridhaan Allah SWT. Inilah salah satu aspek pencapaian keikhlasan dalam kehidupan beragama. Sehingga pujian sepanjang itu datang dari manusia siapapun dia, tidak akan mengalahkan keinginannya untuk mendapat keridhaan di sisi Allah. Ada tidaknya pujian dari sesama tidak akan mengurungkan niatnya untuk menggapai keridhaan Allah. 

Keadaan Mistis dan Keadaan Esoteris

Kadang umat beragama, meskipun sudah mempelajari agama, belum bisa membedakan antara hal yang sifatnya mistis dan keadaan esoteris yang didapatkannya dari pengalaman agama. Dengan demikian, mereka lebih suka mengejar keadaan mistisnya daripada mengejar keadaan esoterisnya.

Keadaan mistis ini, misalnya kemampuan untuk melihat hal-hal gaib (padahal tidak ada jaminan setan yang dilihat tersebut adalah benar-benar setan), kemampuan meramal (padahal tidak ada satu pun orang yang tahu masa depan selain hanya serba terbatas), atau mungkin kemampuan kebal ditebas, kebal ditenung, dan sebagainya. Orang-orang yang mampu melakukan hal-hal mistis tersebut dianggap dekat dengan Allah. Padahal, belum tentu demikian.

Ketika untuk mencapai kesanggupan dalam hal-hal mistis tersebut dicapai dengan cara yang tidak dikehendaki oleh Allah SWT atau menyimpang dari tatanan agama, bisa dipastikan tidak akan dekat dengan Allah. Sebaliknya setelah berusaha sekuat daya untuk mencapai keridhaan Allah, kemudian diberi kekuatan untuk tidak bisa ditebas senjata tajam misalnya, semua itu bukan tujuan melainkan semata-mata cara Allah memberi perlindungan kepada dirinya.

Jadi sebenarnya hal yang paling mendasar dalam membedakan keadaan mistis dan esoteris seseorang dalam kehidupan beragamanya, tinggal ditelusuri bagaimana cara mencapai tujuan itu. Seseorang yang beriman, yang senantiasa menjauhi segala yang dilarang Allah dan mendekati atau melakukan segala yang diridhai Allah, maka segala orientasi dalam hidupnya adalah mencapai keridhaan Allah. Kalaupun kemudian dalam praktek sehari-harinya ia tampak berbeda, terlihat memiliki kemampuan terhadap hal-hal yang tidak dimiliki oleh manusia pada umumnya, semua itu tidak menjadi tujuannya. Kalaupun boleh dikatakan maka semua kelebihan itu hanyalah berupa bonus dari Allah, karena hal yang utama adalah mencapai keridhaan Allah, tidak ada bentuk lain. Tapi sebaliknya bila melakukan keberagamaan tersebut untuk tujuan-tunjuan duniawi seperti ingin kebal ditebas senjata tajam misalnya, bisa jadi ia memiliki kemampuan itu tapi bukan berarti berada dalam keridhaan Allah. Tak menutup kemungkinan justru kelebihan yang dimilikinya itu akan mengantarkan pada murka Allah setelah tertanam sifat riya atau takabur misalnya.

Memusnahkan Segala Hal Kecuali Allah

Sebenarnya, kemampuan gaib, atau kekuatan batin, bisa dilatih umat beragama tanpa melalui kekuatan mistisnya. Kemampuan mistis seseorang hanyalah keadaan sekunder dari kekuatan esoterisnya. Kekuatan esoteris yang dimaksud di sini adalah keadaan cinta kepada Allah, menyadari bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta, Allah adalah penyebab semua hal di dunia.

Sebenarnya, ritual keagamaan mengajak umat beragama mencapai titik ini. Kadang, ada umat beragama yang berkeras bahwa ia sudah menyadari Allah adalah satu-satunya pencipta. Tapi, pada praktiknya, umat beragama tadi tetap saja berburu harta sebanyak-banyaknya, menghalalkan segala cara demi hidup mapan sesuai dengan pendapat masyarakat, tega menyakiti orang lain, atau hanya ingin menang sendiri. Orang-orang semacam ini jelas tidak akan mampu mencapai keadaan esoteris tadi. Kalaupun ia tetap berusaha beribadah seperti halnya orang lain beribadah, maka tujuannya bukan mencari keridhaan Allah melainkan mencari bentuk-bentuk lain.

Sama Sekali Bukan Keajaiban

Jangan heran jika dalam sebuah kondisi tertentu, seorang sufi bisa menyalakan api dari tangannya, tidak mempan ditebas benda setajam apa pun, atau memanggil hujan untuk turun. Bukan dirinya yang melakukan hal tersebut. Ia hanya memohon kepada Allah seperti halnya kita memohon kepada Allah. Bedanya, ia benar-benar menghilangkan semua hal yang bersifat menyekutukan Allah sedangkan kita tidak. Tidak mengherankan karena para sufi telah berhasil menghilangkan yang lain kecuali hanya ada Allah, doa dan permintaanya pun akan cepat tercapai dan terkabul. Dan tentu saja doa orang yang telah berhasil menghilangkan yang lain dalam hatinya kecuali hanya ada Allah, tidak akan berdoa untuk hal-hal yang tidak baik. Ketika ia berdoa tentu saja apakah Allah akan meridhai atau tidak. Kalau doa yang akan dipanjatkan tersebut akan menurunkan keridhaan Allah, maka ia akan memintanya dan Allah segera mengabulkannya. Sebaliknya bila hal itu untuk mencelakakan orang lain – dan ini sebenarnya mustahil dilakukan – tentu ia tak akan berani mengajukan doa seperti itu karena akan mencederai kecintaanya kepada Allah.

Seandainya kita masih tertarik dengan kemampuan sang sufi untuk bertindak di luar logika, selama itu pula kita tidak memiliki kekuatan batin yang sebenarnya. Kalau pun ada kekuatan batin, bisa jadi kekuatan tersebut berasal dari setan.

 

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Hantu Seram - Beda Negara Beda Nama
  • Cara Jitu Menghalau Penampakan Kuntilanak
  • Tafsir Mimpi - Sudah Ada Sejak Dulu
  • Firasat Haid dalam Primbon Jawa
  • Mengkaji Ulang Niat Mempelajari Ilmu Tenaga Dalam
  • Manakah yang Lebih Unggul Hantu Gentayangan Dalam Negeri atau Mancanegara?
  • Cerita Gaib - Kekasih Gaib Ratih
  • Cara Membangkitkan Tenaga Dalam: Ada Nggak, Ya?
  • Racun 'Hantu Merah'
  • Primbon Datang Bulan Sebuah Ilmu Metafisika
  • Sebuah Sejarah Pencarian Tuhan
  • Hantu Pocong - Fenomena Hantu Pocong yang Melegenda
  • Cara Melatih Tenaga Dalam Merpati Putih
  • Mewaspadai Tanda-tanda Sihir
  • Latihan Tenaga Dalam Tidaklah Instan
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA