Dua Kekuatan Batin dan Perbedaannya

Dalam sebuah bukunya, Idries Shah menulis, “terdapat penyimpangan yang oleh agama ditampilkan sebagai hal-hal spiritual (bersifat rohani) padahal sebenarnya merupakan salah satu bagian dari sifat-sifat duniawi. Salah satu contoh paling umum penyimpangan tersebut adalah kebanggaan atau kefanatikan sempit terhadap agama.
Banyak pemeluk agama tidak dapat melepaskan diri dari kebanggaan: merasa bahagia atau nyaman ketika dianggap beriman. Pandangan umum yang memberi peluang bagi timbulnya kebanggaan tersebut mengaburkan perbedaan antara orang yang benar-benar beragama dengan orang yang berpura-pura beragama.”. Lalu, apa kaitannya umat beragama dengan kekuatan batin?
Keadaan Mistis dan Keadaan Esoteris
Kadang umat beragama, meskipun sudah mempelajari agama, belum bisa membedakan antara hal yang sifatnya mistis dan keadaan esoteris yang didapatkannya dari pengalaman agama. Dengan demikian, mereka lebih suka mengejar keadaan mistisnya daripada mengejar keadaan esoterisnya.
Keadaan mistis ini, misalnya kemampuan untuk melihat hal-hal gaib (padahal tidak ada jaminan setan yang dilihat tersebut adalah benar-benar setan), kemampuan meramal (padahal tidak ada satu pun orang yang tahu masa depan selain hanya serba terbatas), atau mungkin kemampuan kebal ditebas, kebal ditenung, dan sebagainya. Orang-orang yang mampu melakukan hal-hal mistis tersebut dianggap dekat dengan Allah. Padahal, belum tentu demikian.
Memusnahkan Segala Hal Kecuali Allah di dalam Hati
Sebenarnya, kemampuan gaib, atau kekuatan batin, bisa dilatih umat beragama tanpa melalui kekuatan mistisnya. Kemampuan mistis seseorang hanyalah keadaan sekunder dari kekuatan esoterisnya. Kekuatan esoteris yang dimaksud di sini adalah keadaan cinta kepada Allah, menyadari bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta, Allah adalah penyebab semua hal di dunia.
Sebenarnya, ritual keagamaan mengajak umat beragama mencapai titik ini. Kadang, ada umat beragama yang berkeras bahwa ia sudah menyadari Allah adalah satu-satunya pencipta. Tapi, pada praktiknya, umat beragama tadi tetap saja berburu harta sebanyak-banyaknya, menghalalkan segala cara demi hidup mapan sesuai dengan pendapat masyarakat, tega menyakiti orang lain, atau hanya ingin menang sendiri. Orang-orang semacam ini jelas tidak akan mampu mencapai keadaan esoteris tadi.
Sama Sekali Bukan Keajaiban
Jangan heran jika dalam sebuah kondisi tertentu, seorang sufi bisa menyalakan api dari tangannya, tidak mempan ditebas benda setajam apa pun, atau memanggil hujan untuk turun. Bukan dirinya yang melakukan hal tersebut. Ia hanya memohon kepada Allah seperti halnya kita memohon kepada Allah. Bedanya, ia benar-benar menghilangkan semua hal yang bersifat menyekutukan Allah sedangkan kita tidak.
Seandainya kita masih tertarik dengan kemampuan sang sufi untuk bertindak di luar logika, selama itu pula kita tidak memiliki kekuatan batin yang sebenarnya. Kalau pun ada kekuatan batin, bisa jadi kekuatan tersebut berasal dari setan.






