logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Sosial    Kelompok Sosial

Kelompok Sosial dalam Masyarakat Multikultural


Ilustrasi kelompok sosial dalam masyarakat multikultural

Status sosial. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, hal tersebut tetap ada dalam masyarakat. Meskipun dikatakan bahwa semua manusia sama, secara implisit, masyarakat telah membuat status atau kelompok sosialnya sendiri. Terlebih pada kelompok sosial dalam masyarakat multikultural, status sosial bisa sangat dirasakan keberadaannya. Dalam masyarakat multikultural, terdapat begitu banyak perbedaan. Baik perbedaan suku, agama, warna kulit, maupun perbedaan pemikiran.

Semua perbedaan tersebut bercampur menjadi satu kesatuan atau wadah. Dampak yang muncul adalah adanya beberapa pengelompokan yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Meski tak ada peraturan tertulis bahwa masyarakat berkelas tertentu harus bergaul dengan kelas masyarakat yang sama, nyatanya mereka melakukannya, sebagian besar.

Secara sederhana, kelompok sosial dalam masyarakat multikultural adalah sebagai berikut.

  1. Kelompok menengah ke atas.
  2. Kelompok menengah ke bawah.

Kelompok masyarakat menengah ke atas adalah kelompok masyarakat dengan status sosial paling tinggi. Boleh dibilang menempati derajat yang “mulia”. Sebaliknya, kelompok menengah ke bawah merupakan kelompok masyarakat dengan status sosial yang paling rendah.

Biasanya, kelompok masyarakat menengah ke atas akan membuat kelompok atau grup mereka sendiri. Dalam sebuah acara arisan, misalnya. Kelompok menengah ke atas akan menentukan “fee” yang tinggi untuk sekadar arisan, misalnya 1 juta rupiah per minggu. Nyatanya, kelompok masyarakat seperti itu memang ada.

Dari segi gaya hidup, tentu gaya hidup mereka sangat tinggi. Mulai dari makan, pakaian, gadget, barang mewah seperti mobil, dan lain-lain, mereka miliki karena "persyaratan" untuk menjadi kelompok masyarakat menengah ke atas memang seperti itu.

Sementara itu, kelompok masyarakat menengah ke bawah adalah sebaliknya. Mereka lebih suka bergaul dengan kelompoknya. Dalam mengadakan acara arisan pun, mereka tidak menentukan jumlah yang tinggi. Mungkin hanya sekitar 10 ribu rupiah sampai 100 ribu rupiah. Gaya hidup? Tentu tak sama dengan gaya hidup masyarakat menengah ke atas.

Jurang Pemisah Kelompok Sosial Masyarakat Multikultural

Adanya perbedaan latar belakang kadang membuat jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Ibarat sebuah pertunjukan sandiwara, si miskin memerankan peran yang tak jauh-jauh dari pembantu atau pesuruh, sedangkan si kaya memerankan tokoh bos atau atasan. Interaksi antara kedua masyarakat berbeda lapis tersebut tak jarang menemui hambatan. Konflik kepentingan pun kerapkali terjadi di antara mereka. Yang di bawah ingin di atas, yang di atas tidak mau berbagi.

Sebenarnya, bila kita mau kembali ke fitrah bahwa “semua manusia diciptakan sama”, tak akan ada konflik antara kedua kelompok tersebut. Posisi di atas, di tengah, atau di bawah, bisa berubah sewaktu-waktu. Bila semua mau sadar dan belajar, tak akan ada yang namanya kecemburuan sosial. Hidup tidaklah statis!

Perilaku Sosial Individu dalam Kelompok Sosial

Setiap kelompok sekurang-kurangnya memiliki tiga ciri utama. Tiga ciri utama kelompok sosial dalam masyarakat multikultural adalah kepemilikan batas-batas tertentu, memiliki keberadaan objektif, dan terdapatnya orang-orang yang mengakui eksistensi suatu kelompok.

Setiap kelompok harus memiliki batas, sehingga orang merasa berada atau tidak merasa dalam suatu kelompok. Batas yang menunjukkan bahwa orang-orang tertentu termasuk atau tidak termasuk sebagai anggota suatu kelompok tidak hanya ditentukan oleh batas-batas fisik, melainkan juga batas-batas yang bersifat psikologis dan sosial. Termasuk corak-corak batas kelompok dapat dirinci sebagai berikut:

  • Batas lokasi geografis, seperti kecamatan, kabupaten, atau negara.
  • Batas pandangan politik atau pandangan ideologi, misalnya anggota partai komunis kebanyakan adalah orang-orang yang memiliki sikap antiagama, sedang anggota partai persatuan pembangunan biasanya adalah orang-orang yang memiliki pandangan religius.
  • Batas warisan budaya masa lalu, seperti etnik Jawa atau etnik Cina, etnik Yahudi, atau etnik Wales.
  • Batas profesi, seperti Ikatan Dokter Indonesia yang beranggotakan orang-orang yang berprofesi sebagai dokter.
  • Batas status sosial ekonomi, seperti klasifikasi orang berdasarkan penghasilan ekonomi menjadi kelas ekonomi rendah, kelas ekonomi menengah, dan kelas ekonomi atas.

Selain itu, batas kelompok juga dapat dilihat berdasarkan kemudahan untuk dimasuki atau tidak dapat dimasuki oleh orang lain yang sebelumnya bukan anggota suatu kelompok. Dilihat dari segi ini, kelompok dapat dipilah menjadi kelompok terbuka dan kelompok tertutup.

Seperti telah diuraikan sebelumnya, di samping batas, kelompok sosial dalam masyarakat multikultural juga harus memenuhi syarat keberadaan objektif. Dalam pengertian ini, kelompok merupakan hasil dari suatu proses yang dapat disebut sebagai definisi sosial. Definisi sosial adalah gabungan ide-ide bersama dari sekumpulan individu yang mengkonstruksi dunia sosialnya.

Dalam definisi sosial itu tercakup di dalamnya kegiatan dari kumpulan banyak orang yang secara bersama mengonsep suatu bentuk wadah sosial yang dapat disebut kelompok , memberikan atribusi substantif pada kelompok tersebut, dan kemudian memperlakukan kelompok tersebut sebagai suatu entitas sosial yang nyata keberadaannya.

Kelompok Primer dan Kelompok Sekunder

Sitinjau dari arti penting kelompok bagi seseorang maka kelompok dapat dibagi menjadi kelompok primer dan kelompok sekunder. Kelompok primer adalah berkumpulnya dua orang atau lebih dalam satu pola hubungan yang bersifat langsung, intim, dan bersifat pribadi. Beberapa contoh dari kelompok primer adalah keluarga, kelompok kerja, kelompok bertetangga rumah susun, atau kelompok bermain anak-anak sebuah Rukun Tetangga.

Terbentuknya kelompok primer biasanya disebabkan oleh kondisi-kondisi seperti:

  • Kedekatan fisik yang melibatkan interaksi fisik yang secara reletif bersifat langsung. Kedekatan fisik sangat memungkingkan terjadinya komunikasi yang bersifat intens. Komunikasi yang bersifat intens dapat diindikasikan dengan saling bertukarnya perasaan atau pendapat di antara mereka.
  • Jumlah orang yang relatif terbatas.
  • Interaksi yang relatif lekat dan intens.

Kelompok primer memiliki tiga fungsi utama. Fungsi pertama kelompok primer adalah sebagai agen sosialisasi. Sebagai contoh, keluarga sebagai kelompok primer merupakan instrumen yang berfungsi untuk mengenalkan generasi muda dengan nilai-nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat yang multikultural.

Fungsi kedua kelompok primer adalah perannya sebagai instrumen untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial para anggotanya. Fungsi ketiga kelompok primer adalah perannya sebagai instrumen kontrol sosial. Anggota-anggota kelompok primer memiliki hak dan kewajiban mengekspresikan pendapat dan sikapnya tentang suatu masalah sosial dan sekaligus memperoleh umpan balik berupa koreksi terhadap sikap dan pendapatnya itu.

Berbeda dengan kelompok primer, kelompok sekunder adalah jenis kelompok yang ditimbulkan oleh hubungan antara dua orang atau lebih dalam cara-cara yang bersifat tidak langsung, kurang akrab dan tidak terlalu pribadi. Dalam interaksi antarindividu dalam kelompok sekunder, orang lebih jarang mengenal secara baik orang lain. Contoh-contoh kelompok sekunder adalah komunitas daerah elit perkotaan, lembaga pemerintahan dan pabrik.

Dalam lingkup kelompok sekunder seperti itu, individu lebih berhati-hati dalam melakukan perilakunya dan lebih waspada dalam berhubungan dengan orang lain. Dalam kelompok sekunder, orang hanya memberikan sebagian kecil bagian hidup dan kepribadiannya kepada orang lain.

Kelompok sekunder sering kali adalah kelompok sosial dalam masyarakat kultikultural dengan interes khusus karena menjalankan fungsi-fungsi khusus. Contoh kelompok sekunder yang yang menjalankan fungsi-fungsi khusus adalah sekolah yang menjalankan fungsi mendidik generasi muda, angkatan bersenjata yang menjalankan fungsi bela negara, dan tempat bekerja yang menjalankan fungsi mencari nafkah.

Secara ringkas dapat dikemukakan bahwa hubungan sosial antarindividu dalam kelompok sekunder bersifat tidak pribadi, komunikasi bersifat rasionak dan berjalan secara efektif serta efisien mengacu pada tujuan-tujuan khusus, harapan-harapan peran yang secara khusus telah ditetapkan, dan interaksi antarindividu sangat berorientasi pada tujuan.

Kelompok Acuan dan Kelompok Keanggotaan

Kelompok acuan adalah unit sosial temoat individu-individu mengidentifikasikan diri. Individu-individu memanfaatkan standar yang berasal dari kelompok acuannya untuk membatasi perilaku dan memberi penilaian terhadap perilaku itu. Kelompok acuan seseorang sangat mungkin untuk tidak sesuai dengan kelompok keanggotaannya. Kelompok keanggotaan adalah suatu unit sosial tempat individu-individu secara aktual mengikatkan diri.

Sebagai contoh, seorang  pegawai negeri pada masa Orde Baru biasanya memiliki kertu anggota sebagai anggota organisasi politik Golongan Karya, namun ada orang tertentu yang memiliki simpati dan setuju dengan kebijakan-kebijakan partai lain, seperti pada partai Persatuan Pembangunan atau partai Demokrasi Indonesia (kelompok acuan), meskipun secara formal ia adalah pegawai negeri sipil yang menjadi anggota Golongan Karya.

Kelompok acuan memiliki dua fungsi. Fungsi pertama adalah memberi kerangka acuan untuk mengarahkan perilaku individu, seperti kepemilikan, identifikasi, dan pengembangan norma dan sikap hidupnya. Fungsi kedua adalah memberikan standar atau tolok perbandingan bagi sesuatu yang dimiliki oleh dirinya sendiri.

Individu secara berkelanjutan melakukan penilaian terhadap diri sendiri berhubungan dengan kemenarikan ciri-ciri fisik, kecerdasan, status sosial, dan status kesehatan. Bila kerangka acuan individu bukan kelompok keanggotaannya, ia akan mengalami perasaan deprivasi relatif.

Deprivasi relatif adalah ketidakpuasan yang dialami individu karena kesengajaan antara sesuatu yang dimiliki dan sesuatu yang diyakini individu sebagai sesuatu yang seharusnya dimiliki sebagai anggota dari kelompok sosial dalam masyarakat multikulkultural.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Menyikapi Keanekaragaman Kelompok Sosial dalam Masyarakat Multikultural
  • Mengenal Pendekatan dalam Perilaku Organisasi
  • Pembentukan Kepribadian Melalui Masyarakat Multikultural
  • Mencermati Pengertian Masyarakat Tradisional
  • Bobotoh Persib - Pendukung Fanatik Persib Bandung
  • Program Pemberdayaan Masyarakat Desa
  • Bola Mania Adalah Konsumen yang Loyal
  • Antusiasme Sepak Bola Masyarakat Perkotaan
  • Ciri-Ciri Masyarakat Modern
  • Rumah Dunia Banten: Sosial Bermodal Kreativitas
  • Belajar pada Masyarakat Pedesaan
  • Ciri-ciri Masyarakat Kota dan Desa
  • Perkembangan Kelompok Sosial dalam Masyarakat Multikultural
  • Merintis Pembangunan Masyarakat Harmoni
  • Konsep Dasar Pembentukan Kelompok Sosial
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA