Kelompok Sosial
Ilustrasi kelompok sosial
Berdasarkan asal usul katanya, kelompok sosial dibagi menjadi dua kata yakni kelompok dan sosial. Menurut KBBI, kelompok adalah kumpulan atau golongan atau gugusan. Sementara itu, sosial adalah berkenaan dengan masyarakat. Bila kedua kata tersebut digabungkan, pengertian dasar dari kelompok sosial adalah kumpulan atau golongan atau gugusan yang berkenaan dengan masyarakat.
Menurut Soerjono Soekanto, kelompok sosial adalah himpunan atau kesatuan manusia-manusia yang memtuskan untuk hidup bersama-sama dan berinteraksi satu sama lain sehingga timbul hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi.
Syarat-syarat kelompok sosial menurut Soekanto adalah orang-orang yang terkandung di dalamnya harus merasa sebagai bagian dari kelompok tersebut, memiliki norma-norma yang mengatur hubungan di antara para anggotanya, memiliki tujuan bersama, dan berinteraksi satu sama lain antaranggota.
Ciri-ciri Kelompok Sosial
Berikut ini ciri-ciri kelompok sosial:
- Memiliki hubungan atau interaksi antaranggota dalam kelompok itu
- Memiliki struktur sosial yang jelas misalnya dengan adanya struktur organisasi kelompok tersebut.
- Memiliki tujuan yang ingin dicapai bersama-sama.
- Memiliki aturan atau norma-norma yang diterima umum oleh setiap anggota dalam kelompok tersebut.
Berdasarkan definisi dan ciri-ciri tersebut, kelompok sosial haruslah sebuah kumpulan orang-orang yang terorganisir. Orang-orang yang tergabung dalam kelompok tersebut harus memiliki hubungan atau setidaknya memiliki visi yang sama untuk mencapai tujuan tertentu.
Kelompok Sosial dan Aplikasinya
Kelompok sosial bukanlah sekumpulan orang-orang yang berkumpul pada suatu waktu dan kemudian membubarkan diri tanpa tujuan yang jelas. Contoh kasus yang menarik untuk dijelaskan dengan konsep ini adalah kerumunan orang. Kerumunan orang bukan sebuah kelompok sosial karena tidak memenuhi ciri-ciri seperti yang disebutkan di atas.
Bagaimana dengan sebuah organisasi? Organisasi adalah sebuah bentuk kelompok sosial. Organisasi tersebut bisa bertujuan untuk mencapai keuntungan tertentu seperti pada perusahaan (organisasi profit) atau organisasi yang sifatnya tidak bertujuan untuk mencari profit seperti organisasi sosial.
Oleh karena itu, definisi kelompok akan tampak sangat luas asalkan memenuhi persyaratannya. Dalam lingkup analisis kelompok sosial, seorang peneliti wajib meneliti pertanyaan dasar yang mendasari pengertian kelompok sosial, apakah kelompok itu memiliki ciri-ciri sebagaimana dijelaskan di awal?
Apakah organisasi profit termasuk kelompok sosial? Perusahaan merupakan salah satu bentuk organisasi dan juga kelompok sosial. Perbedaan utama dari perusahaan dengan kelompok sosial lainnya adalah tujuan yang hendak dicapai. Perusahaan memiliki tujuan utama untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya sehingga meningkatkan value perusahaan dan para stakeholder perusahaan tersebut.
Untuk mencapai tujuan tersebut, perusahaan biasanya menyusun sebuah struktur organisasi. Masing-masing posisi pada struktur organisasi tersebut harus memiliki spesifikasi dan deskripsi kerja tertentu sehingga tidak membingungkan posisi lainnya. Posisi tersebut masing-masing dipegang oleh anggota dari kelompok sosial yang tergabung dalam organisasi profit tersebut.
Kejelasan job description pada sebuah organisasi (terlebih organisasi profit seperti perusahaan) sangat penting. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi ambiguitas dan tumpang tindih tanggung jawab di antara anggota kelompok sosial dalam kasus ini. Seorang direktur utama memiliki tanggung jawab mengarahkan perusahaan sehingga mencapai tujuan yang telah dinyatakan sebelumnya.
Seorang direktur utama, sebagai anggota kelompok sosial, tidak memiliki kewajiban untuk melakukan pembersihan setiap properti yang dimiliki perusahaan secara langsung. Direktur utama hanya memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa property atau kantornya bersih sehingga meningkatkan citra perusahaan. Siapa yang melakukan pembersihant tersebut? Tentu saja bagian lain yang ada di perusahaan atau petugas outsourcing yang sengaja dipekerjakan oleh perusahaan.
Bila dianalisis, sesungguhnya organisasi profit memiliki seluruh ciri-ciri yang dipersyaratkan sehingga disebut sebagai kelompok sosial. Telah dijelaskan di awal, organisasi profit seperti perusahaan memiliki tujuan yang jelas. Selain itu, terjadi interaksi antaranggota yang tergabung dalam organisasi tersebut.
Interaksi tersebut bisa terlihat dari aliran kerja atau aliran informasi yang terdapat di perusahaan. Selain itu, setiap perusahaan akan memiliki value yang hendak dibagi ke seluruh anggota organisasi (baca : karyawan dan direksi). Value tersebut ditularkan sehingga tingkah laku karyawan, seluruh anggota kelompok sosial, sesuai dengan value perusahaan.
Value tersebut bisa dikategorikan norma yang digunakan oleh organisasi tersebut. Selain itu, bisanya perusahaan juga memiliki Standing Operation Procedure (SOP) tertentu sehingga karyawan, bagian dari kelompok sosial, dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. SOP dan value tersebut bisa dikatakan sebagai norma yang berlaku di perusahaan.
Bagaimana dengan Organisasi Non-profit, apakah termasuk dalam kelompok sosial? Berbeda dengan organisasi profit, organisasi non-profit tidak bertujuan untuk memperoleh keuntungan atau profit sebesar-besarnya. Pada organisasi non-profit tujuan yang ingin dicapai beraneka ragam. Salah satu contoh organisasi non-profit adalah sekolah.
Tujuan sekolah tentu saja bukan mencari keuntungan, melainkan untuk mendidik anak didik, anggota kelompok sosial dalam kasus ini, sehingga memiliki pengetahuan yang bisa berguna bagi mereka di masa yang akan datang. Tujuan sekolah bukan hanya transfer ilmu (transfer of knowledge) tetapi juga transfer akhlak (Transfer of wisdom). Oleh karena itu, efek sosial akan lebih terasa pada organisasi non-profit bukan hanya sebatas pada tujuan finansial.
Sekolah memiliki tujuan yang lebih luas, bukan sekadar memberikan pengajaran pada anak didik. Sejatinya sekolah (bentuk interaksi kelompok sosial) merupakan tempat mendidik seorang manusia menjadi manusia seutuhnya. Budi pekerti, akhlak dan interaksi sosial antarmanusia jauh lebih penting dibandingkan pengetahuan itu sendiri. Sebuah pengetahuan bisa didapat dari buku, tetapi tidak untuk akhlak dan budi pekerti. Budi pekerti haruslah diajarkan dengan sabar dan penuh cinta.
Seorang guru (bagian dari anggota kelompok sosial dalam organisasi non-profit) sesungguhnya memiliki tugas dan tanggung jawab yang sangat berat. Mereka tidak hanya berkewajiban untuk mengajari anak-anak macam-macam pengetahuaun, tetapi juga mendidik anak-anak tersebut. Tanggung jawab untuk mendidik ini sebenarnya tidak hanya dialihkan kepada guru-guru yang ada di sekolah.
Tanggung jawab tersebut harus tetap melekat pada orang tua. Dilihat dari ciri-ciri dan syarat kelompok sosial, sekolah bisa digolongkan ke dalamnya. Sekolah sejatinya memiliki tujuan sosial yang lebih besar (masuk ke dalam syarat pertama sebuah kelompok sosial). Selain itu, sekolah juga memiliki struktur organisasi dan pembagian kerja yang jelas.
Sekolah sebagai tempat pembentukan karakter anak didik memiliki kewajiban untuk menularkan nilai dan norma yang dimiliki sekolah. Tidak hanya terbatas sekolah, norma-norma yang secara umum diterima masyarakat pun sejatinya juga diajarkan sekolah. Oleh karena itu, sekolah dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk kelompok sosial.
Kelompok Sosial - Pandangan Sekolah Masa Kini
Sebagai sebuah tempat untuk mendidik, sekolah menjadi tempat yang sakral dan vital di sebuah negara. Sebuah negara wajib memiliki bentuk sekolah dan sistem pendidikan yang baik. Sistem pendidikan yang baik menjadi keniscayaan karena akan menghasilkan sumber daya manusia (anggota kelompok sosial) yang unggul dan memiliki karakter bangsa dan negara.
Namun, pada praktiknya, terjadi degradasi atau transformasi fungsi dan tujuan sekolah (kelompok sosial). Meskipun hal itu tidak terjadi secara kontras, namun sejatinya telah terjadi penurunan fungsi sekolah. Sekolah hanya dijadikan tempat transfer pengetahuan (Transfer of Knowledge), bukan lagi Transfer Akhlak (Transfer of Wisdom).
Fungsi awal dan sejati dari sekolah harus dikembalikan ke bentuk aslinya. Tidak hanya di sekolah, perubahan tersebut bisa dimulai bahkan ketika anak didik (calon anggota kelompok sosial) belum duduk manis di bangku sekolah. Maksudnya, peran orang tua dan orang-orang terdekat anak didik mempunyai tanggung jawab yang besar dalam membangun karakter anak didik tersebut.
Pelajaran mengenai kejujuran, kerja keras, penghormatan kepada orang yang lebih tua, dan saling mengasihi antarsesama wajib diberikan. Oleh karena itu, kelompok sosial seperti sekolah tidak hanya dibebani tanggung jawab yang begitu besar.

