Teori Piaget dan Kemampuan Kognitif Anak
Sebagai orang yang melahirkan anaknya, seorang ibu tentunya dekat dan sering mengamati perkembangan bayinya yang senang memasukkan segala barang yang ada didekatnya ke dalam mulutnya. Ternyata, gerakan ini merupakan salah satu bentuk kemampuan kognitif anak dalam mengenali dan mempelajari lingkungannya. Itulah salah satu teori Piaget tentang faktor kognitif.
Jean Piaget merupakan salah seorang ahli yang banyak mengamati perkembangan kecerdasan manusia, khususnya pada masa anak-anak. Teori Piaget tentang perkembangan kognitif bahkan menjadi referensi di dunia psikologi dan pendidikan.
Dengan mempelajari teori ini para orang tua juga dapat mengamati dan mengevaluasi tumbuh kembang anak agar dapat berkembang secara optimal.
Secara umum, Piaget membagi teori tentang perkembangan kognitif dalam beberapa tahapan, yaitu :
- Tahap Sensorik-Motorik
Tahap ini terjadi saat anak berumur 0 hingga 2 tahun yang ditandai dengan berbagai bentuk gerakan yang bersifat motorik. Pada tahap ini, anak melakukan proses belajar mengenal dan menyerap berbagai informasi yang masuk melalui indra penglihatannya, pendengaran, dan alat pengecapnya.
Kalau Anda perhatikan, pada tahap ini berbagai indra anak tersebut terbilang sangat peka dan anak akan cepat dalam meresponnya. Karena itulah, seperti telah diuraikan sebelumnya, untuk mengenal sesuatu, anak cenderung untuk meraih berbagai benda yang ada di dekatnya untuk dimasukkan ke dalam mulutnya.
Kegiatan motorik ini merupakan kemampuan kognitif anak dengan mengenal berbagai hal melalui saraf sensorik, yaitu dengaan cara merasakannya melalui indra pengecap mulutnya.
- Tahap Praoperasional
Pada tahap yang dilalui saat anak berumut 2 hingga 7 tahun ini, kemampuan kognitif anak masih bersifat transduktif. Menurut Piaget, anak cederung masih berpikir secara general dan belum mengenal pola berpikir induktif maupun deduktif. Pada masa umur ini anak belum bisa membedakan antara ayah dengan laki-laki dewasa lainnya yang ada di sekitarnya.
Kasus penculikan anak-anak yang terjadi pada anak usia ini juga lebih disebabkan anak belum mampu membedakan antara orang tua kandung, orang dewasa yang berniat baik, maupun orang asing yang berniat menculiknya. Karena itulah orang tua perlu berhati-hati dalam mengawasi dan menjaga perkembangan anak-anaknya.
- Tahap Kongkret
Pada tahap ini dilalui saat anak berumur 7 hingga 11 tahun. Pada masa ini, kemampuan kognitif anak sudah berkembang lebih kongkret, lebih koheren, dan lebih logis. Kecerdasan anak juga lebih berkembang yang ditandai dengan imajinasinya yang meningkat. Pada masa ini seorang anak sudah mulai bisa memecahkan suatu masalah dengan kemampuannya.
- Tahap Operasional
Tahap operasional dilalui saat anak berumur 11 hingga 15 tahun. Pada tahap ini, seorang anak sudah mampu berpikir dengan pola abstraksi dimana anak dapat membuat kesimpulan terhadap pengetahuan atau informasi yang diperolehnya.
Kemampuan kognitif ini bahkan berkembang cukup pesat dengan memposisikan dirinya seperti layaknya orang dewasa yang perlu mendapatkan kepercayaan untuk memecahkan suatu masalah.
| Beri rating untuk artikel di atas |








