Kementerian Luar Negeri US Versus Wikileaks
Ilustrasi kementerian luar negeri
Bocoran dari Wikileaks terkait berbagai kebijakan dan rahasia Amerika Serikat, banyak menuai kontroversi. Ada yang percaya tak sedikit pula yang menganggapnya sebagai dagelan. Namun di antara kontroversi pemberitaan dari Wikileaks tersebut, tidak tanggung-tanggung Hilary Clinton harus turun gunung. Tentu saja ini tidak dianggap biasa-biasa saja karena bagaimana pun ketika menteri luar negeri US ini sampai perlu memberi keterangan langsung terkait kontroversi Wikileaks, artinya informasi tersebut diyakini bisa merubah setidaknya mempengaruhi negara lain. Memang benar pada akhirnya Kementerian luar negeri US meminta Wikileaks tidak perlu digubris. Dengan sangat meyakinkan Kementrian luar negeri US mengatakan bahwa bocoran informasi dari Wikileaks tidak dapat dipercaya. Rupanya US tidak memperhitungkan bahwa sebenarnya dengan bocoran dari Wikileaks tersebut, dunia sudah telanjur menilai. Bahkan tidak sedikit para diplomat asing yang kemudian membuat kawat diplomatik dari Wikileaks sebagai salah satu bahan rujukan kebijakan.
Kini, US mulai teralienasi. Tidak sebebas dulu dalam bertukar informasi. Toh, kalau itu salah menurut US, mengapa pemerintah AS berang dengan meminta data pribadi pengelola Wikileaks ke Twitter? Kalau memang benar bahwa informasi yang dikeluarkan oleh Wikileaks tersebut hanya mengada-ada, tidak bisa dipercaya atau bualan semata, tidak seharusnya pemerintah AS berang dan menunjukkan sikap berlebihan seperti itu. Sebagai sebuah negara, tentu saja para diplomat Amerika Serikat dan juga dinas intelejennya, bukan orang kemarin sore. Artinya dengan sekali gebrakan kemudian dibuatnya berang seperti orang kebakaran jenggot.
Sikap pemerintah AS yang berlebihan dalam menanggapi bocoran yang dikeluarkan Wikileaks mengindikasikan bahwa kehadiran Wikileaks tidak bisa dipandang sebelah mata. Boleh jadi hal ini juga mengindikasikan bahwa sebenarnya pemerintah sedang mempertanyakan peran dina intelejennya sendiri, kenapa informasi rahasia negara seperti itu harus bocor kemudian dipubliksikan oleh Wikileaks. Hal kedua, mungkin saja sikap Amerika yang berlebihan seperti itu juga mengindikasikan bahwa sekarang telah ada pihak lain yang bisa membobol rahasia negara yang sifatnya sangat rahasia. Tentu saja sistem pengamanan informasi dan rahasia negara Amerika sekarang ini tidak sehebat dan secanggih dulu. Hal ketiga, kemungkinan juga sebuah gebrakan yang merupakan shock terapi buat dinas intelejen dan dinas rahasia lainnya, bahwa pemerintah Amerika sekarang ini sudah tidak sepenuhnya mempercayai ketangguhan mereka dalam hal menjaga keamanan negara.
Wikileaks dan Assange
Julian Assange dan kawan-kawan memang tokoh fenomenal. Konon, selama tersambung dengan internet, tidak ada yang tidak bisa ditembus oleh hacker asal Australia tersebut. Ribuan kawat diplomatik yang terkumpul jadi bukti sahih. Meski sempat mendekam di penjara akibat pelecehan seksual, tidak membuat aktivitas Wikileaks terhenti. Kecanggihan dalam hal membobol kawat diplomatik yang tersambung dengan koneksi internet, bisa gampang dibobol apalagi informasi yang sifatnya bukan rahasia. Dan tentang isi bocoran yang dipublikasikan oleh Wikileaks, semua orang bisa menilai sejauh mana tingkat validitas informasi tersebut. Dan penilaian ini samasekali tidak akan bisa dipengaruhi sekalipun pemerintahan Amerika Serikat mengatakan bocoran yang disampaikan Wikileaks sebagai bualan dan tidak perlu dipercaya.
Hal-hal seperti itu setidaknya telah menjadi kesimpulan pemerintah Amerika Serikat terhadap Wikileaks. Apalagi di tengah badai kontroversi, semakin banyak kawat diplomatik kian gencar bocor ke publik. Dan menghadapi kondisi seperti ini Julian Assange jadi target nomor satu US. Dia sebagai founder dan president Wikileaks menerima risiko dikuntit oleh para intelijen US. Tiap sepak terjangnya diikuti. Julian tidak bisa bebas melangkah. Gerak-gerik Julian akan terus dimonitor. Bak hidup dalam kerangkeng. Nah, dunia pun kemudian memandang kalau memang kehadiran Wikileaks tidak akan membahayakan rahasia diplomatik dan negara Amerika, kenapa negara dan polisi dunia seperti Amerika justru demikian berang.
Namun, menghadapi kejaran dina rahasia Amerika seperti itu, bukan Julian kalau tidak punya seribu akal. Julian Assange mempunyai plan B. Ia sudah siap memberi salinan atau copy kawat diplomatik kepada media terkemuka di dunia bila sewaktu-waktu terjadi apa yang tidak diinginkan. Konon, Julian juga memegang kartu truf US. Rahasia sensitif yang bila tersebar akan membuat guncang dunia. Julian masih menyimpan kartu truf tersebut. Maka, US tidak bisa bertindak sembrono jika tidak mau rahasia tersebut bocor. Pintar, bukan? Dan kepintaran Julian seperti itu baiknya jangan diuji coba terlebih dahulu kalau memang Amerika Serikat sendiri tidak ingin semakin kehilangan muka.
Taktik US
Kini, US tidak punya banyak pilihan, selain wait and see. Terus menangkis bocoran Wikileaks yang disebar. Taktik US memblokir situs yang terkait dengan Wikileaks tidak berpengaruh signifikan. Hal itu malah menuai simpati dari hacktivis, julukan aktivis hacker. Mereka mencanangkan gerakan perlawanan untuk membekukan situs Paypal, US, dan sebagainya.
Melawan Wikileaks sama dengan melawan mereka. Bak kartu domino. Efek ini sudah menjalar kemana-mana. Menyeret banyak pihak ke pusaran konflik. US harus mulai berbenah dari internal. Bocoran Wikileaks harus jadi cermin dari kebijakan beringas US, misalnya perang dan eksploitasi minyak. Wikileaks akan terus eksis dari dunia maya ke dunia nyata. Banyak pengamat mengatakan bahwa kini era keterbukaan telah hadir. Negara tidak bisa bersembunyi dari alasan “rahasia negara”. Serahasia apapun informasi itu sepanjang telah tersambung ke internet, maka akan dengan mudah para hacker seperti Julian Assange membobolnya.
Bagi negara lain dengan munculnya bocoran kawat diplomatik Amerika Serikat oleh Wikileaks semakin meyakini bagaimana kekuatan para hacker. Dan melawan mereka tidak harus dengan balik menyerang dan mengancam, namun tetap tenang bila memang kawat diplomatik yang dibocorkannya itu tidak terlalu penting. Namun apabila menerapkan standar ganda seperti yang dilakukan Amerika Serikat selama ini, justru akan menjadi bulan-bulanan para hacker. Buktinya, kebijakan Amerika Serikat yang menjadikan Julian Assange sebagai orang paling dicari nomer satu, juga tidak memberi dampak apapun. Boleh jadi karena sebenarnya kebijakan tersebut hanya gebrakan semata tanpa diikuti dengan langkah nyata.
Kehadiran Wikileaks semakin meneguhkan kenyataan dan bukti bahwa teknologi internet semakin memiliki kekuatan untuk menjangkau tidak saja tempat rahasia melainkan juga informasi rahasia seperti kawat diplomatik yang belasan tahun ke belakang justru menjadi informasi sangat rahasia yang di dalam departemen luar negeri sekalipun tidak semua lapisan mengetahuinya.
Namun tentu saja kecanggihan teknologi internet tersebut juga tidak seharusnya membuat orang atau lembaga takut untuk melakukan apapun sepanjang untuk kepentingan kemanusiaan. Sebaliknya kehadiran para hacker juga bukan semata-mata virus dan pembobol canggih, melainkan kehadiran mereka sebagai bagian dari kecanggihan teknologi internet itu sendiri. Dengan demikian antara programmer dan para hacker ini merupakan mitra sekaligus competitor utama. Tinggal masalahnya sejauh mana antara keduanya bersinergi atau saling berhadapan. Semua itu kembali kepada kedewasaan individu masing-masing. Hanya saja jangan sampai kepintaran menjadi senjata untuk memusnahkan peradaban.

