Rajungan, Kepiting Laut yang Sarat Potensi

Bagi Anda yang gemar mengkonsumsi sea food, nama rajungan bukanlah hal yang asing di telinga. Kepiting laut yang satu ini memang sering menjadi pilihan para penggemar sea food sebagai makanan favorit. Hal ini didukung oleh keadaan negeri kita yang dikenal sebagai negara bahari terbesar di dunia.
Luas lautan sebesar 5,8 juta kilometer persegi, sedangkan luas daratan hanya sekitar 1,9 juta kilometer persegi. Tentu saja ini membuat Indonesia menjadi negeri dengan hasil laut yang melimpah. Rajungan atau kepiting laut adalah salah satu di antaranya.
Di sekitar Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, terdapat kurang lebih 234 jenis kepiting laut. Sebagian besar di antaranya berada di perairan kita, yakni 124 jenis. Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan spesies yang banyak diburu. Selain karena rasanya yang lezat, juga karena nilai jual yang terkenal cukup mahal. Nilai gizi dari kepiting laut juga cukup tinggi, dengan protein sekitar 65 persen, mineral 7,5 persen dan lemak tak sampai 1 persen.
Daerah penangkapan kepiting laut atau rajungan di antaranya adalah pantai utara Bali tepatnya di Gilimanuk, Pengambengan atau pantai selatan Bali, pantai utara dan selatan Jawa Timur, pesisir Lampung hingga Medan dan Kalimantan Barat.
Portunus pelagicus dari Indonesia telah menjelajah ke seluruh dunia melalui proses ekspor. 60 persen rajungan hasil tangkapan Indonesia dikirim ke Amerika, Australia, dan Kanada. Selain itu, rajungan segar juga telah diekspor ke Singapura dan Jepang. Di sisi lain, hasil produk olahan rajungan dalam bentuk kaleng juga telah dikirim ke Belanda. Rajungan menempati komoditas ekspor ketiga setelah udang dan ikan.
Ciri dan Lingkungan Hidup Rajungan
Banyaknya permintaan akan kepiting laut, membuat terjadinya eksploitasi rajungan secara besar-besaran. Akibatnya sebagian tempat hidup atau habitat rajungan juga ikut terkena imbas. Rusaknya habitat rajungan membuat populasinya menurun drastis di perairan.
Hampir semua spesies rajungan memiliki potensi untuk diperdagangkan. Selain Portunus pelagicus, juga masih ada jenis lainnya seperti Portunus trituberculatus, Portunus gladiator, Portunus sanguinus, dan Portunus hastatoides.
Sebuah solusi alternatif untuk mempertahankan keberadaan kepiting laut di alam adalah dengan melakukan budidaya atau peternakan rajungan. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mengetahui ciri-ciri, siklus hidup maupun metode pemeliharaan kepiting laut sebelum budidaya dilakukan.
Rajungan atau kepiting laut, biasa disebut sebagai the swimming crab, karena dia merupakan kepiting yang bisa berenang di air. Rajungan hanya bisa hidup pada lingkungan air laut. Kepiting ini tidak bisa hidup di lingkungan yang kering tanpa air. Tempat pemeliharaan rajungan hendaknya masih berada di sekitar perairan pantai. Mengapa? Karena rajungan sering kali naik ke daratan ketika air laut sedang surut.
Rajungan (Portunus pelagicus) memiliki cangkang yang berbentuk membulat dan pipih. Di kiri dan kanan mata rajungan terdapat sembilan buah duri. Rajungan memiliki lima pasang kaki. Kaki-kaki tersebut terdiri atas sepasang capit, tiga pasang kaki jalan dan sepasang kaki terakhir sebagai alat renang yang berujung membulat, mirip dengan dayung.
Budidaya rajungan selama ini memiliki permasalahan klasik, karena termasuk jenis baru dalam peternakan. Belum pastinya model bisnis yang pas, ongkos produksi yang tidak menentu, serta daya hidup kepiting laut yang sangat rendah akibat terjadinya saling memakan antarjenis, membuat budidaya rajungan di negeri ini masih belum semarak seperti halnya ikan hias maupun udang.
Padahal, kepiting laut mempunyai nilai ekonomi yang tak kalah bonafit dibandingkan udang maupun ikan hias. Oleh karena itu, perlu banyak penelitian maupun penyuluhan untuk menjadikan peternakan kepiting laut semakin berkembang dari hari ke hari.






