logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Hiburan    Film    Action

Kera Sakti – Perjalanan Hidup Si Monyet Ajaib


Ilustrasi kera sakti

“Kera sakti
Tak pernah berhenti bertindak sesuka hati
Kera sakti
Menjadi pengawal mencari kitab suci
Kera sakti
Liar, nakal, brutal, membuat semua orang menjadi gempar
Kera sakti
Hanya hukuman yang dapat menghentikannya.”

Ingat dengan penggalan lirik lagu di atas? Ya, penggalan lirik tersebut merupakan lirik lagu versi Bahasa Indonesia dari sebuah film yang cukup fenomenal beberapa tahun yang lalu. Sebuah film yang cukup menjadi kegemaran bagi masyarakat Indonesia. Sebuah film tentang kera sakti yang lincah dan berilmu tinggi.

Film kera sakti ini cukup digemari oleh berbagai kalangan masyarakat di Indonesia. Mereka berusia anak-anak hingga dewasa akan setia menunggu film kesukaannya ini diputar di salah satu televisi swasta Indonesia. Film kera sakti merupakan film khayal dengan tampilan yang menarik dan penuh dengan adegan-adegan silat khas Tiongkok sehingga mudah untuk menarik minat penonton, khususnya penonton dari Indonesia.

Kera Sakti – Dari Novel ke Film

Cerita perjalanan seekor kera sakti yang tersaji dalam film ini sebenarnya berdasar pada cerita novel berjudul Perjalanan ke Barat. Novel yang dalam Bahasa Tionghua bernama Hanyu Pinyin yang kemudian ditransliterasikan ke dalam Bahasa Inggris menjadi Journey to The West ini merupakan sebuah karya sastra kuno.

Novel Perjalanan ke Barat dengan kera sakti sebagai tokoh utamanya ini merupakan karya sastra kuno pada masa Dinasti Ming. Pada dasarnya, novel ini berisi tentang mitologi klasik tentang kehidupan. Bahwa kehidupan adalah mengenai pertentangan antara baik dan buruk.

Penokohan baik dalam novel ini digambarkan oleh seorang pendeta yang hidup dari zaman Dinasti Tang. Pendeta ini melakukan sebuah perjalanan ke barat untuk mengambil kitab suci. Tujuan ke barat yang dimaksud dalam novel ini adalah India.

Novel Perjalanan ke Barat ini ditulis oleh Wu Cheng-en, dan berhasil diselesaikan pada pertengahan abad ke-16. Novel karyanya ini menjadi bacaan yang paling terkenal seantero Tiongkok. Sekaligus menjadi salah satu di antara empat karya sastra terbaik Tiongkok bersama dengan tiga novel lainnya, seperti Kisah Tiga Negara, Batas Air, dan Impian Paviliun Merah.

Perbedaan tokoh antara novel dengan film terjadi pada sosok pendeta Tong. Pendeta yang digambarkan dalam novel bernama Xuanzhang. Sosok pendeta Xuanzhang ini dideskripsikan dalam film sebagai pendeta Tong. Karakter asli dari pendeta Tong dinilai bertolakbelakang dengan karakter pendeta Xuanzhang yang hidup pada masa Dinasti Tang tersebut.

Dalam novel Perjalanan ke Barat ini, tokoh lain yang ikut diceritakan adalah Sun Go Kong atau kera sakti sebagai murid pertama dari pendeta Tong, Tie Pat Kay sang siluman babi, dan Wu Ching siluman air.

Kekuatan si Kera Sakti

Dalam novel diceritakan bahwa pertemuan pertama antara pendeta Tong dengan kera sakti terjadi ketika kera sakti tertimpa musibah. Sun Go Kong merupakan kera sakti yang benar-benar sakti mandra guna. Kesaktiannya tersebut ia gunakan untuk mengacau dan membuat kahyangan kacau.

Dengan kesaktiannya itu jugalah, kera sakti bernama Sun Go Kong itu sombong dan menganggap bahwa tidak ada yang mampu menandingi kekuatannya baik di bumi maupun di langit. Kesombongannya itu berbuah musibah. Kera sakti yang sombong tersebut ditantang oleh Budha Culai-sang Maha Budha. Tidak sanggup memenuhi tantangan tersebut, kera sakti pun dihukum.

Hukuman yang diberikan kepada kera sakti ia harus turun dari atas gunung dan ditimpa oleh batu dalam waktu yang sangat lama, sekitar 500 tahun. Saat kera sakti menjalankan hukumannya tersebut datanglah seorang biksu agung, biksu agung atau pendeta Tong mendapatkan wasiat untuk mengambil kitab suci ke barat, dan pendeta Tong pun menolongnya. Kera sakti pun menasbihkan dirinya sebagai murid pertama dari pendeta Tong tersebut.

Sun Go Kong sebagai kera sakti memiliki bentuk tubuh yang gagah. Ke manapun ia pergi, ia selalu ditemani oleh tongkat kesayangannya. Sebuah tongkat yang diberi nama Ruyi Jingu Bang. Dan apakah ada yang tahu berapa berat tongkat dari kera sakti tersebut? Berat tongkat yang dimiliki kera sakti itu adalah 8, 100 kg. Bayangkan tongkat seberat itu ia perlakukan layaknya sumpit.

Dengan kekuatannya, kera sakti lincah itu mampu mengalahkan pasukan hebat yang datang dari kayangan. Ia juga melengkapi kesaktiannya dengan berbagai mantra yang bisa ia gunakan untuk menggerakkan hembusan angin, membelah air, dan membuat semacam lingkatan anti setan.

Kesaktian lain yang dimiliki oleh kera sakti ini adalah ia mampu berjalan dengan sangat cepat. Ia dapat menempuh jarak 54.000 km hanya dengan sekali mengibaskan badannya. Kera sakti ini juga memiliki kekuatan untuk berubah atau bertransformasi. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 72 bentuk yang berbeda telah ia kuasai. Tapi bagaimapun ia berubah, ada satu pada bagian tubuhnya yang tidak bisa ikut berubah, yaitu ekornya.

Kera Sakti dalam Film

Kefenomenalan novel ini di zaman dan wilayahnya, menyebar hingga kawasan Asia lainnya, dan Indonesia pun terkena imbasnya. Cerita dalam novel ini dibuatkan versi film, dan hasilnya tidak begitu jauh berbeda. Film serial kera sakti sukses dipasaran.

Dalam film serial tersebut diceritakan bahwa Sun Go Kong atau kera sakti tersebut lahir di Cina, disebuah gunung yang penuh bunga dan buah-buahan. Film serial kera sakti penuh dengan berbagai aksen khayalan. Tokoh-tokohnya memiliki kekuatan ajaib yang sama sekali tidak masuk akal. Mereka bisa terbang, lari dengan kencang, atau mengeluarkan jurus-jurus andalannya.

Tokoh dalam film serial Sun Go Kong juga bukan hanya kera sakti itu beserta gurunya. Dalam perjalanan mencari kitab suci tersebut, kera sakti ditemani dua orang temannya yang setia. Mereka juga sama-sama datang dari khayangan dan berjenis siluman. Dua sahabat kera sakti tersebut adalah siluman kerbau dan siluman babi.

Dalam film serial, dua sahabat kera sakti itu memiliki cerita yang berbeda. Diantara mereka berdua, siluman babi memiliki cerita yang paling menarik. Siluman babi bernama Pat Kay tersebut menarik banyak perhatian para penikmat film Sun Go Kong. Ia memiliki kisah cinta yang berakhir tragis.

Ia menjadi siluman babi juga karena kisah cintanya. Ia menjalin cinta dengan putri dan kahirnya dikutuk menjaid siluman babi. Semenjak dari peristiwa itu, Pat Kay tidak pernah bahagia dalam menjalankan cerita cintanya. Kata-kata yang paling terkenal darinya adalah “cinta, deritanya tiada akhir”.

Keberadaan film serial kera sakti di zamannya cukup menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat Indonesia, terutama mereka yang masih berusia anak-anak. Gerakan-gerakan kera sakti dalam film bahkan seringkali ditirukan. Cerita film kera sakti ini menyelipkan beberapa mitos serta sejarah dalam setiap adegannya, hal itu jugalah yang kemudian menjadi daya jual utama dari film serial kera sakti ini.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Spiderman 3, Musuh yang Semakin Banyak
  • Film Hulk Terbaru: The Incredible Hulk
  • The Hurt Locker, Tontonan Para Pecinta Film Perang
  • Mysterious Incredible Terminator
  • Ninja Assasin
  • Film Perfume, Film Pembunuhan dengan Alasan yang Aneh
  • Mengenal Perkembangan Dunia Transformers
  • Film Merantau - Filosofi Merantau dalam Film
  • Makna Lagu Superman is Dead Bangkit dan Percaya
  • James Bond dan Para Wanitanya
  • Rasa Baru dalam Spiderman 4
  • Esensi Nasionalisme dalam Resensi Film Dalam dan Luar Negeri
  • 2 Fast 2 Furious Movie Trailer
  • Serigala Terakhir: Persahabatan dan Pengkhianatan
  • Dragon Ball, Pengabul Permintaan
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA