logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Pasti    Ilmu Gizi dan Kesehatan

Miris: Keracunan Makanan di Sekolah


Ilustrasi keracunan makanan di sekolah
Miris sekali membaca atau mendengar berita tentang keracunan makanan di sekolah. Anak-anak kecil itu harus berjuang hidup setelah keracunan. Apa penyebab keracunan makanan di sekolah?

Yang Paling Bertanggungjawab

Pihak yang paling bertanggung jawab adalah pembuat makanan tersebut (maaf langsung nuduh). Tidak sedikit di antara mereka entah karena tidak mengerti atau tak mau mengerti tetap saja memakai bahan-bahan berbahaya bagi manusia.
Berjalan-jalanlah di sekitar sekolah-sekolah dasar yang berada agak di pinggiran kota, maka Anda akan menemukan betapa banyaknya penjaja makanan yang ada di sekeliling sekolah-sekolah tersebut. Perhatikanlah makanan yang dijajakan oleh para penjual tersebut.
Warna-warna makanan yang sangat menyolok, seperti, merah, pink, kuning dan sebagainya. Ambil contoh, yang katanya nugget, sosis yang ditusuk lalu digoreng dengan minyak goreng yang sudah menghitam dan diberi saos yang juga berwarna mencolok. Harganya hanya Rp 500. Apa yang mau diharapkan dari harga segitu untuk makanan yang bernama nugget atau sosis?
Bila makanan tersebut dirasakan dengan saksama, pasti ada rasa pahit. Tetapi, saosnya yang manis pedas dapat menutupi rasa pahit. Makanan seperti inilah yang setiap hari sering dikomsumsi oleh anak-anak.
Sekali dua kali, tubuh anak masih kuat menahan semua zat kimia yang dipakai dalam makanan itu, namun setelah beberapa kali, tubuh anak mulai bereaksi negatif dan menimbulkan keracunan. Selain nugget-nugget-an dan sosis-sosisan, masih ada lagi bakso yang mengandung borak.
Modal yang tidak terlalu banyak dan perasaan takut merugi, telah membuat para pembuat makanan menggunakan zat yang sebenarnya untuk mengawetkan mayat tersebut.
Kini, tidak hanya keracunan makanan yang mengancam anak-anak, penyakit ginjal akut pun telah 'mengintip' dan menunggu waktu saja. Tidak jarang ditemukan kasus gagal ginjal yang menyebabkan kematian pada anak-anak usia dibawah 12 tahun.

Selain Makanan, Minuman Juga Penyebabnya

Penyebabnya selain makanan juga minuman yang anak-anak beli. Minuman dengan warna yang juga tidak kalah menyoloknya. Rasa manis yang sangat berlebihan tentunya bukan dari gula pasir murni.
Para orangtua hendaknya mulai sadar akan bahayanya jajanan sembarangan yang ada di sekitar sekolah. Harga yang murah dengan tidak adanya jaminan kebersihan dari penjaja makanan, sudah merupakan sebuah sinyal bahwa orangtua harus berhati-hati.
Ada baiknya bahwa pihak sekolah menerapkan peraturan khusus bagi para penjual makanan atau bila perlu sekolah mempunyai kantin sendiri. Dapat dipahami bahwa tidak mudah bagi sekolah-sekolah tertentu untuk mempunyai kantin sendiri.
Apalagi bila sekolah tersebut berada di pinggiran kota dengan murid yang begitu banyak, memakai sistem shift pula –pagi dan sore, untuk anak-anak yang berbeda. Bagi para penjual, sistem ini membuat mereka dapat meraih keuntungan berlipat ganda.

Perlunya Sidak DIKES dan Balai POM

Bila saja semua makanan itu baik dikomsumsi dan tidak berbahaya, tidak akan menimbulkan permasalahan baru. Tapi, karena sudah menyebabkan keracunan makanan, maka pihak yang berkepentingan, seperti, Balai POM, Dinas Kesehatan, dan instansi terkait, harus mengambil tindakan demi menjaga kesehatan anak-anak yang masih belum mengerti mana makanan sehat dan mana makanan yang tidak sehat.
Pihak yang berkepentingan hendaknya melakukan penelitian, jangan menunggu ada yang keracunan baru menelurusi penyebabnya. Hendaklah melakukan inspeksi mendadak. Sehingga pedagang yang sengaja membuat makanan yang tidak sehat atau mengandung racun bisa terdeteksi dengan langsung.
Jika diinformasikan kepada pihak sekolah secara langsung, maka bukan tidak mungkin ada yang membocorkan kepada para pedagang. Sehingga apa yang menjadi penyebab keracunan sangat sulit dideteksi.
Atau, jika pun pihak Dinas Kesahatan (Dikes) tidak melakukan penelitian, maka pihak kepala sekolah dengan guru yang mengajarkan bidang studi IPA dan Olahraga bisa bekerjasama dalam hal ini. Mereka bisa dengan sendirinya melakukan penelitian.
Namun yang membuat miris, terkadang pihak kepala sekolah terlibat dalam hal ini. Karena mendapatkan  pendapatan dari penjualan makanan atau minuman yang bisa menyebabkan terjadinya keracunan makanan di sekolah. Namun,  mencoba pura-pura tidak memahaminya.
Apa yang penulis katakan bukanlah hal yang baru. Kasus seperti ini sudah banyak terjadi. Persis macam perilaku korupsi di perkantoran pemerintahan. Selama ada uang penutup mulutnya, maka tak akan terungkap kejahatan yang kecil tapi berdampak besar.
Keracunan makanan di sekolah kelihatan kecil, tapi efeknya luar biasa. Siswa menjadi terhambat belajar dan kesehatan mereka pun bakal terganggu seterusnya. Namun pihak pedagang dan pihak sekolah terkadang kurang memahaminya. Hanya melihat keuntungan yang didapat sehingga dengan berani melakukan perbuatan yang tercela tersebut.
Karena itu, penulis menyarankan pihak Dikas maupun Balai POM langsung saja melakukan penyelidikan, tanpa harus memberikan informasi terlebih dahulu. Pasalnya, bila diinformasikan bukan tidak mungkin hasil penelitian terhadap makanan tersebut bisa tidak menunjukkan hasil negatif.

Guru Mesti Berperan Aktif

Sejatinya, untuk menyalamatkan siswa dari keracunan makana di sekolah yang terjadi melalui penjualan makanan di kantin dapat juga dilakukan melalui penjelasan guru bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam (untuk anak SD) dan Biologi (untuk SMP dan SMP).
Apalagi saat ini, sudah cukup mudah bagi guru menampilkan contoh jenis makanan yang mengandung racun dengan tidak racun. Pasalnya ada gambar-gambar jenis makanan yang beracun dan menjelaskan rasa makanannya.
Di sinilah guru menjadi lebih produktif. Ia bisa menjelaskan dengan detail makanan yang layak di makan oleh siswa. Sungguh, peran guru dalam kelas untuk menyelamatkan siswa dari keracunan makanan sangat potensial sekali.
Penjelasan guru memang akan lebih berarti, jika ada yang sampai keracunan makanan. Namun siapa pun tak mengharapkan ini terjadi. Jangan sampai terjadi, karena menjadi suatu yang ironi dan miris sekali bila benar-benar terjadi.

Peran Orang Tua Juga Penting

Setelah pihak Dinas Kesehatan, Balai POM dan peran pihak sekolah, maka tugas terakhir yang mengingatkan anak-anak agar tidak keracunan makanan adalah orang tua. Orang tua harus selalu menyampaikan pesan kepada anak-anaknya untuk hati memakan makanan. Jangan sembarang makan.
Meski kelihatan menarik, tapi jika tidak mengandung kesahatan maka makanan tersebut tidak baik. Jika memakan makanan yang tidak baik, sangat mungkin munculnya penyakit. Jika penyakit sudah menyerang, maka tak bisa berolahraga dan sangat mungkin dirawat inap di rumah sakit.
Tentu saja, nasehat-nasehat menjaga kesahatan menjadi hal yang akan sering diingat anak-anak. Pasalnya, di sekolah ia mendapatkan pesan gurunya untuk tidak sembarang memakan makanan. Plus, diberikan contoh makanan yang tidak sehat. Di rumahnya, siswa pun diberikan nasehat oleh orang tuanya untuk tidak sembarang memakan makanan juga.
Maka, pesan tersebut bakal membekas di pikirannya. Hingga akhirnya, ia pun menjadi orang yang sangat berhati-hati saat memakan makanan.
Alangkah lebih baiknya, bila orang tua juga menyiapkan makanan sendiri dari rumah. Artinya, siswa bontot makanan dari rumah. Karena orang tua pasti menjaga kesehatan anaknya dan hanya memberikan makanan yang baik kepada anaknya.
Hanya orang tua yang malas memask saja yang tidak mau melakukannya. Ia lebih baik menyuruh anaknya membeli makanan yang didagangkan oleh orang lain, padahal di dalam makanan tersebut terdapat kandungan makanan yang tidak sehat. Misalnya saja penyedap rasa.
Orang tua yang terlalu sibuk umumnya melakukannya. Padahal, ketika anaknya harus dirawat di rumah sakit lantaran keracunan baru ia menyadari, bahwa kesibukannya sangat tidak berarti dibandingkan kesehatan anaknya yang mesti dirawat inap di rumah sakit beberapa hari.
Maka jadilah orang tua yang bisa berbagi. Jangan jadi orang tua yang hanya sibuk mencari uang, tapi tak pernah memikirkan bagaimana kondisi kesehatan anak. Ini pernah penulis saksikan sendiri. Orang tua yang tak pernah berpikir tentang kesehatan anaknya.
Bahkan di hari libur pun, ibunya jarang masak. Ia lebih memilih untuk membeli makanan di warung. Meski ia tahu bahwa makanan tersebut mengandung penyedap. Bahkan, ia tega membiarkan suaminya yang terjangkit penyakit diabetes, yang mestinya menjaga makanannya, tak menjadi perhatiannya. Ia biarkan saja begitu. Untung saja, Tuhan memberikan rezeki lebih kepada keluarga tersebut.
Namun, gara-gara sikapnya tersebut ia pernah menunggu selama empat hari lantaran anaknya mengidap keracunan makanan. Meski bukanlah penyebab keracunan makanan di sekolah, tapi di pedagang keliling yang dibeli ketika pulang sekolah. Penulis tetap saja melihatnya tak pernah "kapok".
Semoga sobat Ahira yang membaca artikel ini tidak termasuk orang tua yang tak perduli terhadap kesehatan anaknya.   

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Demensia - Makalah Kesehatan Otak
  • Jamur Tiram, Jamur Bergizi Tinggi
  • Gejala Keracunan Makanan pada Anak-anak
  • Makanan Kotor - Ancaman Bagi Kesehatan
  • Manfaat Pohon Belimbing
  • Kandungan Bawang Putih yang Berkhasiat
  • Kandungan Alpukat dan Manfaatnya bagi Kesehatan
  • Kandungan Jahe yang Kaya Khasiat
  • Kiat Menyeimbangkan Hormon Pada Manusia
  • Pengolahan Bahan Makanan agar Tahan Lama
  • 10 Manfaat Buah Alpukat Bagi Kesehatan
  • Zat Bromelin pada Kandungan Nanas
  • Kandungan Telur, Zat Gizi Bernilai Tinggi
  • Ayo, Kenali Zat Makanan Kita Sehari-hari
  • Kandungan Biji Durian, Pengikat dalam Tablet
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA