Penyebab, Gejala, dan Penanganan Keracunan Makanan
Sebuah Koran ibukota memberitakan kasus keracunan makanan (food intoxication) yang marak terjadi akhir-akhir ini. Dari berita tersebut terungkap data keracunan makanan yang semuanya terjadi pada 2010, di antaranya sebagai berikut.
- 55 warga di Jember, Jawa Timur keracunan saat menyantap hidangan resepsi pernikahan.
- 22 santri sebuah Pesantren di Tangerang keracunan saat acara khataman di pesantren.
- 28 warga Marunda Baru, Cilincing, Jakarta Utara, keracunan usai menyantap hidangan acara syukuran.
- 100-an karyawan suatu pabrik di Margahayu, Bandung, Jawa Barat, keracunan makanan katering pabrik pada saat makan siang.
Nampaknya dari semua kasus, semuanya memiliki pola dan bentuk yang sama, yaitu terjadi di dalam sebuah kegiatan massal, seperti resepsi pernikahan, syukuran, makan siang karyawan, atau buka puasa bersama, dan makanan dikemas dalam bentuk kotak atau langsung dimakan prasmanan.
Penyebab
Melihat pola tersebut, penyebab semua kasus keracunan itu hampir dipastikan sama, yaitu karena hal-hal sebagai berikut.
• Tidak Higienis
Kurang perhatiannya pihak pengelola makanan (catering) terhadap kebersihan makanan menyebabkan makanan menjadi tidak higienis dan tercampur mikroba yang bersifat patogen (mengandung penyakit). Mikroba tersebut akan semakin berkembang biak tanpa disadari.
Berkembang biaknya mikroorganisme jahat tersebut biasanya karena buruknya sanitasi saat makanan diolah, sehingga pada saat disantap terjadilah peristiwa keracunan makanan tersebut.
• Rendahnya Kualitas Bahan Makanan
Bahan makanan yang berkualitas rendah menyebabkan makanan mudah rusak karena saat disinggahi mikroorganisme maka kana langsung terurai. Apalagi makanan berbahan dasar hewani yang memang paling cocok untuk perkembangan mikroorganisme,
• Adanya Zat Aditif yang Tidak Tepat
Bahan tambah atau zat aditif seperti pewarna, pengawet, penguat rasa, dan pemanis bila ditambahkan ke makanan secara berlebih atau tidak tepat maka akan menimbulkan keracunan.
Salah satu contohnya adalah penggunaan formalin pada proses pembuatan bakso. Bila formalin tersebut masuk ke sistem pencernaan manusia maka dapat berakibat fatal.
Gejala dan Penanganannya
Hampir semua kasus keracunan memiliki gejala yang sama, seperti pusing-pusing, mual, muntah-muntah, badan lemas, mata berkunang-kunang, diare bahkan sampai kejang-kejang dan pingsan.
Bila gejala-gejala tersebut sudah dirasakan, maka secepatnya korban langsung dilarikan ke rumah sakit. atau diberikan pertolongan pertama. Sebab bila korban keracunan tersebut didiamkan maka akan beresiko kematian. Pertolongan pertama bagi korban keracunan makanan adalah sebagai berikut.






