Peta Plato Menuju Kerajaan Atlantis

Banyak orang yang sudah mendengar cerita menakjubkan tentang Kerajaan Atlantis. Menurut cerita, Kerajaan Atlantis merupakan sebuah kerajaan dengan kebudayaan yang super modern. selain itu, tata kota yang dimiliki kerajaan Atlantis dinilai tidak akan ada yang mengimbangi meski digandengkan dengan kebudayaan masa kini.
Dari sekian banyak orang yang pernah mendengar atau membaca tentang Kerajaan Atlantis, kebanyakan tentu bersumber dari hasil karangan Plato dalam buku Timaeus dan Critias.Namun, tahukah Anda jika Misteri Kerajaan Atlantis yang hilang ditelan badai kataklismis bisa jadi telah menghantui kepala manusia jauh sebelum Plato menuliskannya dalam buku Timaeus dan Critias pada 347 SM.
Plato hanyalah sebagian dari orang yang terhantui sejak mendengar legenda Kerajaan Atlantis dari sumber Critias, murid Socrates. Critias sendiri mendengar kisah itu bersumber dari kakeknya, Joepe, yang mendengarnya dari Solon (639-559 SM), yang mengetahui kisah Atlantis saat mengunjungi tempat pemujaan leluhur di Mesir.
Tidak ada yang bisa memastikan apakah tulisan Plato tentang Kerajaan Atlantis itu fiksi ataukah fakta. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa dengan tulisan tersebut misteri kerajaan Atlantis diwariskan hingga puluhan abad berikutnya dan merangsang ekspedisi-ekspedisi besar, penelitian tanpa batas akhir, dan tanda tanya yang terus menghantui generasi ke generasi tentang lenyapnya peradaban menakjubkan itu.
Plato Melukis Kerajaan Atlantis
Meskipun ekspedisi dan pencarian kerajaan Atlantis telah banyak dilakukan, bahkan oleh hampir tiap generasi, belum ada satu orang pun yang berhasil menemukannya. Pencarian Kerajaan Atlantis yang konon tenggelam ke kedalaman laut telah melahirkan spekulasi-spekulasi mengenai Atlantis. Dan, tulisan Plato menjadi satu-satunya “peta” bagi penelitian modern.
Seperti apa peta Atlantis yang “dilukis” Plato? Lewat dialog-dialog tokoh dalam buku tersebut, kurang lebih gambaran Kerajaan Atlantis adalah sebagai berikut.
1. Letak Geografis Kerajaan Atlantis
Ditulis sebagai dialog Timaeus, Plato menunjukkan letak dan kondisi geografis Atlantis,
“… sebuah pulau yang terletak di depan selat yang disebut sebagai pilar-pilar Herkules. Luas pulau itu lebih besar dari Libya dan Asia yang digabungkan menjadi satu, dan merupakan pintu masuk ke pulau-pulau lainnya. Dari pulau-pulau itu, kita bisa melintas menuju seluruh benua lainnya yang mengelilingi samudra yang sesungguhnya.”
Selama berabad-abad, pilar Herkules dipahami sebagai Selat Giblartar, dan samudera tempat pulau-pulau itu mengapung diterjemahkan sebagai Samudera Atlantik. Belakangan, muncul pendapat bahwa pilar Herkules adalah Selat Sunda, dan samudera yang mengepung pulau itu adalah Samudra Pasifik yang dulu diperkirakan menyatu dengan Atlantik.
2. Kondisi Tanah Kerajaan Atlantis
Dalam dialog Critias disebutkan kondisi tanah Atlantis sebagai berikut:
- Merupakan daratan yang subur dan cocok untuk pertanian.
- Mendapat curah hujan tahunan dan memiliki persediaan makanan yang melimpah.
- Terdapat gunung yang tidak terlalu tinggi di masing-masing sisinya.
- Terbagi menjadi dua daratan dengan garis lingkar yang sama jaraknya dari tengah pulau tersebut.
- Tanahnya mengandung logam langka jenis orichalcum. Logam ini adalah jenis yang paling mulia setelah emas, warnanya kuning seperti emas.
- Gajah bisa ditemukan di pulau tersebut.
3. Peradaban Kerajaan Atlantis
Critias menyebutkan bahwa:
- Masyarakat Atlantis terbagi dalam beberapa kelas.
- Sebagian masyarakatnya bekerja sebagai tukang batu, tukang kayu, penambang logam, dan prajurit.
- Mereka hidup dengan cara menjadi penjaga bagi kaum mereka sendiri.
- Memiliki pengikut sukarela dari kaum Helenis.
- Mereka menjaga jumlah laki-laki dan perempuan dalam jumlah yang sama.
4. Teknologi Kerajaan Atlantis
Critias menyebutkan:
- Kerajaan Atlantis telah mengenal teknologi untuk membangun kuil, istana, dan pelabuhan-pelabuhan.
- Mampu membangun jembatan untuk menghubungkan wilayah air dengan daratan, jalan-jalan yang besar dan kokoh, serta bangunan-bangunan yang indah.
- Membangun kanal yang cukup besar yang bisa dilewati kapal untuk keperluan muhibah mereka ke zona terluar benua.
5. Pemerintahan Kerajaan Atlantis
Critias menjelaskan:
- Atlantis dipimpin oleh raja yang berkarakter mulia, dan pemerintahan diatur dengan hukum-hukum yang adil.
- Rakyatnya memiliki kepatuhan yang baik terhadap hukum, dan religius karena memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap dewa-dewa.
- Masyarakatnya berinteraksi dengan pola harmonis antara kelemahlembutan dan kebijaksanaan dalam berbagai aspek kehidupan sosial.
- Mereka tidak mau menyerang sesamanya, dan bahu-membahu mendukung raja apabila ada yang hendak menggulingkannya.
Kehancuran Kerajaan Atlantis
Atlantis kemudian lenyap ditelan laut. Plato memperkirakan peristiwa tenggelamnya benua itu pada kurang lebih 9.000 tahun sebelum masa Critias, seperti tertulis dalam dialog Critias,
“9000 tahun telah berlangsung sejak perang pecah antara Atlantis dengan bangsa di luar pilar Herkules.”
Merujuk pada tahun penulisan buku pada 347 SM, maka bisa diperkirakan bahwa Kerajaan Atlantis tenggelam ke dalam laut lebih dari 11.000 tahun yang lalu.
Lebih jauh, Plato mengungkap kronologi tenggelamnya Kerajaan Atlantis sebagai berikut.
- Bencana diawali dari kemerosotan akhlak masyarakat Atlantis yang dianggap mengundang kemarahan dewa-dewa sehingga datanglah hukuman berupa bencana alam yang dahsyat.
- Saat itu, Kerajaan Atlantis sedang menyiapkan pasukan untuk menyerang Athena.
- Terjadi gempa bumi susul-menyusul, gunung-gunung meletus bersamaan, dibarengi hujan besar yang menimbulkan banjir dan menggenangi seluruh Kerajaan Atlantis.
- Peristiwa itu berlangsung dalam satu malam, dan esok harinya tak ada lagi Kerajaan Atlantis yang megah di atas daratan. Kerajaan beserta kemegahannya itu tenggelam seluruhnya ke dalam laut.
Pencarian Puluhan Abad
Legenda Kerajaan Atlantis begitu menakjubkan dan mengundang perhatian dari generasi ke generasi. Pencarian atas kota misterius itu tak pernah berhenti, dan ide-idenya mengilhami banyak manusia modern, baik dalam hal seni, politik, dan pilar peradaban lainnya.
Begitu populernya Atlantis, bahkan jauh meninggalkan kepopuleran kota hilang lainnya seperti Sodom dan Gomora. Hanya berdasarkan pada peta samar-samar rekaan Plato, yang masih disangsikan faktualitasnya. Tiga milenium berlangsung tanpa hasil yang pasti, namun pencarian belum juga berhenti.
Teori lokasi Kerajaan Atlantis berganti-ganti. Satu teori muncul, menguatkan atau menghapus teori sebelumnya, namun Kerajaan Atlantis terus berjaya dalam misteri. Ia, dalam persemayamannya di dasar laut –entah di mana– menunggu ditemukan. Menunggu begitu sabar sampai waktu yang ditentukan.
Jika teori terbaru menyebutkan Indonesia adalah situs Kerajaan Atlantis, bisa jadi di waktu yang akan datang akan ada teori yang menyebutkan tempat lain.






