Kerajaan-kerajaan Hindu Budha di Indonesia
Ilustrasi kerajaan hindu budha di indonesia
Kerajaan Hindu Budha di Indonesia mulai muncul pada abad ke-4, seiring dengan semakin maraknya perdagangan antarnegara yang dilakukan oleh orang-orang di Nusantara. Perdagangan antarnegara ini dipicu oleh berkembangnya teknologi melaut sehingga memungkinkan pedagang-pedagang dari India, Tiongkok, dan Timur Tengah tiba di Nusantara.
Agama Hindu dan Budha yang lantas melahirkan kerajaan Hindu Budha di Indonesia konon disebarkan oleh orang-orang India dan Tiongkok ini. Salah seorang penyebar paham Hinduisme di Indonesia adalah seorang musafir dari India yang bernama Maha Resi Agastya (disebut juga Dwipayana atau Batara Guru), sedangkan salah seorang penyebar agama Budha di Nusantara adalah seorang musafir Tiongkok yang bernama Pahyien.
Sejak abad ke-4 hingga abad ke-13, kerajaan Hindu Budha di Indonesia tersebar di Nusantara, mulai dari Kerajaan Kutai hingga Kerajaan Majapahit. Secara keseluruhan, penelitian arkeologi dan catatan sejarah menyatakan bahwa terdapat 11 kerajaan Hindu Budha di Indonesia. Berikut ini 5 dari 11 kerajaan Hindu Budha di Indonesia yang pernah berjaya.
Kerajaan Hindu Budha di Indonesia - Kutai Martadipura
Sejarah mencatat bahwa perkembangan kerajaan Hindu Budha di Indonesia dimulai di hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Pada abad ke-4, di lokasi tersebut berdiri sebuah kerajaan yang menganut kepercayaan Hindu. Kerajaan tersebut dipercaya bernama Kutai Martadipura. Nama Kutai Martadipura disimpulkan oleh para ahli yang menduga-duga setelah mempelajari prasasti-prasasti di lokasi Sungai Mahakam.
Corak kepercayaan Hindu di kerajaan Hindu Budha di Indonesia yang satu ini terlihat di yupa-yupa yang ditemukan. Yupa adalah prasasti (tugu batu) yang dibangun sebagai tiang penambat binatang persembahan kurban yang kemudian dibagikan kepada golongan Brahmana. Tulisan-tulisan yang terdapat dalam tujuh buah yupa peninggalan Kerajaan Kutai Martadipura menjadi acuan para ahli untuk mengidentifikasi dan memahami lebih jauh pengaruh agama Hindu di kerajaan Hindu Budha di Indonesia yang paling tua ini.
Kutai Martadipura, salah satu kerajaan Hindu Budha di Indonesia, diduga runtuh akibat tewasnya raja yang ke-13. Aji Pangeran Anum Panji Mendapa, nama raja tersebut, dipercaya tewas dalam peperangan melawan Kerajaan Kutai Kartanegara.
Kerajaan Hindu Budha di Indonesia - Tarumanagara
Kerajaan Hindu Budha di Indonesia yang berikutnya adalah Tarumanagara. Kerajaan ini berdiri pada tahun 358 – 669 Masehi atau pada abad ke-4 hingga abad ke-7. Tarumanagara, disebut juga Kerajaan Taruma, adalah kerajaan bercorak Hindu aliran Wisnu yang berlokasi di Pulau Jawa bagian barat.
Kerajaan yang berjaya pada masa Kerajaan Hindu Budha di Indonesia ini meninggalkan setidaknya tujuh buah prasasti yang tersebar di wilayah Bekasi, wilayah Bogor, dan wilayah Banten (Lebak). Prasasti yang terdapat di wilayah Bekasi adalah Prasasti Tugu yang berisi berita penggalian dua buah sungai, yaitu Sungai Gomati oleh Purnawarman dan Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru terkait mengatasi bencana banjir yang sering terjadi di kedua daerah tersebut.
Prasasti ini menyebutkan bahwa Purnawarman menyedekahkan 1.000 sapi untuk golongan Brahmana saat penggalian sungai-sungai tersebut. Prasasti ini kini tersimpan dengan baik di sebuah museum di Jakarta. Adapun prasasti yang terletak di Lebak, Banten adalah Prasasti Cidanghiyang atau disebut juga Prasasti Munjul. Prasasti ini berisi puji-pujian bagi Raja Purnawarman.Kerajaan Hindu Budha di Indonesia yang satu ini banyak meninggalkan jejaknya di daerah Bogor.
Prasasti-prasasti Kerajaan Tarumanagara yang ditemukan di daerah Bogor adalah Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Ciaruteun, Prasasti Muara Cianten, Prasasti Jambu, dan Prasasti Pasir Awi. Prasasti-prasasti tersebut (baik tujuan pembuatan maupun hasil akhirnya) tidak terlepas dari nilai-nilai kepercayaan Hindu.Berdasarkan catatan sejarah di Naskah Wangsakerta, Kerajaan Tarumanagara sebagai salah satu kerajaan Hindu Budha di Indonesia hanya sempat 12 kali berganti raja. Linggawarman adalah raja Tarumanagara yang terakhir. Di antara keturunan-keturunan Linggawarman terjadi persengketaan sehingga Kerajaan Tarumanagara yang besar hancur dan terpecah menjadi dua: Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.
Kerajaan Hindu Budha di Indonesia - Kalingga
Kalingga dipercaya sebagai sebuah kerajaan yang Berjaya di masa kerajaan-kerajaan Hindu Budha di Indonesia. Kerajaan yang menganut nilai-nilai kepercayaan Hindu ini disebut-sebut berdiri pada abad ke-6. Adapun lokasi berdirinya kerajaan ini masih belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli mengatakan Kerajaan Kalingga berdiri di Jawa Tengah, tepatnya di wilayah antara Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pekalongan.
Kesimpangsiuran informasi mengenai kerajaan Hindu Budha di Indonesia yang satu ini disebabkan tidak banyaknya prasasti-prasasti atau peninggalan lainnya yang bisa dijadikan acuan. Beberapa naskah yang dijadikan sumber informasi mengenai Kerajaan Kalingga adalah catatan-catatan sejarah saudagar China (yang menyebut Kalingga dengan nama “Ho-ling”), naskah Carita Parahyangan yang menyinggung keberadaan Ratu Shima (pemimpin Kerajaan Kalingga) yang adil dan bijaksana, serta kisah-kisah yang beredar di masyarakat setempat.
Satu-satunya prasasti yang dianggap sebagai peninggalan Kerajaan Kalingga di masa kerajaan Hindu Budha di Indonesia ini adalah Prasasti Tukmas. Prasasti ini ditemukan di wilayah Gunung Merapi, tepatnya di Magelang. Menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa, Prasasti Tukmas berisi nilai-nilai yang mencerminkan hubungan manusia dan Dewa-Dewi agama Hindu.
Kerajaan Hindu Budha di Indonesia: Kanjuruhan. Kanjuruhan adalah kerajaan bernapaskan nilai-nilai kepercayaan Hindu yang berjaya di masa kerajaan Hindu Budha di Indonesia. Lokasi kerajaan yang berdiri pada abad ke-6 ini diduga terpusat di wilayah Malang, Jawa Timur; tepatnya di sekitar Sungai Metro dan Sungai Brantas.
Informasi mengenai kerajaan Hindu Budha di Indonesia yang satu ini didapatkan dari Prasasti Diyono yang diperkirakan telah ada sejak tahun 760 Masehi. Prasasti tersebut secara terperinci menjelaskan kehidupan rakyat yang dipimpin oleh Raja Gajayana dan keturunan-keturunannya yang tegas dan bijaksana. Prasasti Diyono juga menyebutkan tentang aliran Hindu yang dianut Kerajaan Kanjuruhan, yaitu Hindu aliran Siwa.
Pada 847 Masehi, Kerajaan Mataram Kuna di Jawa Tengah melakukan penaklukan terhadap beberapa kerajaan Hindu Budha di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Menyikapi hal ini, Kerajaan Kanjuruhan menghindari peperangan dan kekerasan. Kerajaan ini menyerah dan mau menjadi bagian dari Kerajaan Mataram Kuna, bahkan rakyatnya menyumbangkan sebuah candi pengiring dalam pembangunan Candi Prambanan. Dengan kata lain, Kerajaan Kanjuruhan memang menjadi milik Kerajaan Mataram Kuna. Akan tetapi, kerajaan tersebut diperbolehkan untuk memerintah di daerahnya dengan tetap melapor secara berkala ke pemerintah pusat (Kerajaan Mataram Kuna).
Kerajaan Hindu Budha di Indonesia - Melayu
Tidak hanya di Kalimantan dan Jawa, kerajaan-kerajaan Hindu Budha di Indonesia juga tersebar di Pulau Sumatra. Salah satu dari kerajaan-kerajaan tersebut adalah Kerajaan Melayu. Berdiri sejak abad ke-7, Kerajaan Melayu dipercaya menguasai arus perdagangan di Selat Malaka sebelum berdirinya Kerajaan Sriwijaya. Meski tidak ada sumber yang pasti, kerajaan ini diperkirakan menganut agama Budha aliran Hinayana.
Kerajaan Hindu Budha di Indonesia yang satu ini banyak disebut di naskah-naskah kuno Tiongkok. Salah satunya dalam buku karya Pendeta I Tsing yang berjudul Nan-hai Chi-kuei Nei-fa Chuan dan Ta-T’ang His-yu Ch’iu-fa Kao-seng Chuan. Dalam tulisan-tulisannya, Pendeta I Tsing menyebutkan bahwa Kerajaan Melayu terletak di antara Kerajaan Sriwijaya dan Kedah (maka dari itu para peneliti menyimpulkan bahwa lokasi Kerajaan Melayu adalah di wilayah Sungai Batang Hari).
Menurut Prasasti Kedukan Bukit, Kerajaan Sriwijaya melakukan penaklukan atas kerajaan-kerajaan Hindu Budha di Indonesia, termasuk Kerajaan Melayu. Prasasti tersebut menyebutkan bahwa penaklukan atas Kerajaan Melayu terjadi pada tahun 682. Setelah Sriwijaya runtuh, Kerajaan Melayu kembali menjadi kerajaan yang merdeka. Akan tetapi beberapa waktu kemudian Kerajaan Melayu kembali ditaklukan oleh sebuah kerajaan besar, yakni Kerajaan Majapahit.

