logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Ilmu Sejarah

Kisah Pendiri Kerajaan Malaka


Ilustrasi kerajaan malaka

Kerajaan Malaka adalah sebuah kerajaan Melayu yang pernah ada di tanah Malaka (Malaysia sekarang). Kerajaan ini pernah mencapai kejayaannya pada abad 15 dengan menguasai Selat Malaka sebagai jalur perdagangan di bawah perlindungan kekaisaran Ming. Kerajaan ini berdiri atas jasa Parameswara.

Kerajaan Malaka tidak mempunyai bukti arkeologis maupaun catatan sejarah sebagai bukti keberadaannya. Bukti adanya kerajaan ini hanya berdasarkan kronik dari Dinasti Ming di Cina dan Sulalatus Salatin. Dari dua bukti sejarah ini masih terdapat kesimpangsiuran yang belum jelas tentang bagaimana kerajaan ini berdiri.

Ketidakjelasan bagaimana agama Islam menjadi agama rakyat Malaka dan menjadi agama resmi dari Kerajaan Malaka juga belum ada dalam bukti tadi. Namun, dari bukti keruntuhan kerajaan ini oleh Portugis pada 1511, pemerintahannya saat itu dipimpin oleh seorang sultan.

Berdirinya Kerajaan Malaka

Menurut sebagaian sejarawan, Kerajaan Malaka berdiri pada 1380-1403, dengan pendirinya bernama Parameswara. Parameswara berasal dari Kerajaan Sriwijaya putra dari Raja Sam Agi, Raja Sriwijaya. Parameswara melarikan diri ke daerah Semenanjung Melayu melewati Selat Melayu (kala itu belum bernama Malaka), karena Kerajaan Sriwijaya mengalami keruntuhan akibat serangan Kerajaan Majapahit.

Pada waktu datang kesemenanjung Malaka itulah Parameswara bertemu dengan penduduk asli yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Berhubung Parameswara dan rombongan adalah orang yang lebih pendidikan dan kebudayaan yang lebih tinggi, mereka berhasil mengajari penduduk asli berbagai pengetahuan. Dan dari situ tempat itu berkembang menuju ke arah yang lebih baik.

Pada perkembangannya, tempat itu berubah menjadi ramai, pusat perdagangan, dan sebagai tempat lewatnya kapal-kapal dagang dari daerah lain. Parameswara dan rombongnanya berhasil mengajari penduduk asli untuk bercocok tanam berbagai tanaman yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, seperti pisang, tebu, dan berbagai rempah-rempah.

Para pendatang ini berhasil menemukan hasil tambang yang berupa biji-biji timah, dari situ berkembang pembuatan peralatan dari timah. Dengan berkembangnya Semenanjung Melayu menjadi Kerajaan Malaka, maka berkembang pula perdagangan yang lebih ramai. Kerajaan ini menjadi pusat perdagangan dengan beberapa daerah di Sumatra.

Dari Sumatra, mereka membeli beras dan kebutuhan lain yang tidak ada di Malaka. Kebutuhan akan beras terpaksa tergantung pada hasil padi dari daerah Sumatra.

Keadaan alam yang belum menentukan dan keadaan masyarakat yang belum mengenal tata cara tanam yang baik, membuat sektor pertanian di Malaka belum bisa berkemabang saat itu. Penduduk masih menitikberatkan pada perdagangan saja, tanpa mengembangkan sektor yang lain.

Ada beberapa versi asal usul nama Malaka. Menurut ahli sejarah dari Malaysia, Parameswara ketika di Tumasik diserang oleh Kerajaan Siam, kemudian melarikan diri ke daerah Muar. Tetapi pada perjalanannya, ia diganggu oleh banyak biawak yang ada di sungai.

Kemudian arahnya berubah menuju ke daerah Burok, dan mencoba bertahan dari kejaran pasukan Siam. Tetapi usaha itu gagal dan mereka melarikan diri lagi ke daerah Sening Ujong, dan sampai ke Sungai Bertam di pesisir pantai.

Lalu ketika menetap di daerah itu oleh penduduk sekitar Parameswara diangkat menjadi raja. Suatu saat, ketika ia sedang berburu, tiba-tiba anjingnya bertarung dengan pelanduk dan kalah. Ia begitu terpesona oleh peristiwa yang terjadi.

Saat menyaksikan peristiwa itu ia sedang berteduh di bawah pohon malaka. Dari sini kemudian Parameswara memberi nama Malaka pada daerah itu, dan sebagai nama kerajaannya, yaitu Kerajaan Malaka.

Versi selanjutnya berasal dari pengertian pertemuan berbagai pedagang dari daerah lain untuk melakukan transaksi. Nama tempat itu diambil dari bahasa Arab, malqa yang artinya "tempat bertemu". Itulah dua di antara beberapa versi yang ada. Versi yang benar sampai sekarang masih diperdebatkan.

Kerajaan Malaka yang baru berdiri di tengah kekhawatiran mendapatkan gangguan dari penguasa daerah lain yang lebih besar. Sultan pertama kerajaan ini Prameswara yang bergelar Sultan Muhammad Iskandar Syah. Ia berusaha menjalankan politik damai tanpa peperangan.

Ada dua kerajaan besar yang bisa menjadi ancaman, yaitu Majapahit dan Cina. Politik damai yang dilakukan oleh sultan pertama ini melalui jalinan hubungan diplomatik dan ikatan pernikahan.
Sultan Muhammad Iskandar Syah sebagai sultan pertama Kerajaan Malaka mengunjungi Kaisar Yongle di Nanjing pada 1205 untuk mendapat pengakuan atas kerajaan yang baru didirikannya itu.

Dengan niat baik, sultan mengirimkan upeti ke Kaisar Yongle sebagai simbol persahabatan, dan kaisar tadi memberikan perlindungan kepada kerajaan yang baru berdiri itu. Sehingga Kerajaan Siam yang sebelumnya sering menganggu dan musuh lama dari sultan tidak berani menganggu wilayah kerajaan.

Untuk menjaga kedamaian dengan Kerajaan Majapahit di Jawa, sultan menikah dengan salah satu putri Kerajaan Majapahit. Dari politik yang dilakukannya itu, kerajaan berjalan dengan damai tanpa ada gangguan yang berarti. Politik warisan Sultan Muhammad Iskandar Syah ini dianut oleh para sultan selanjutnya.

Contohnya Sultan Mansyur Syah yang memerintah pada 1459-1477. Ia menikah dengan putri Kerajaan Majapahit, untuk menjaga perdamaian dan persahabatan. Dengan Kerajaan Cina, sultan tetap menjalankan hubungan diplomatik yang baik dengan saling mengirimkan utusan dan memberikan hadiah.

Di tahun 1205, Kaisar Cina mengirimkan Laksamana Ceng Ho untuk mengunjungi Kerajaan Malaka, guna mengadakan perjanjian persahabatan. Inilah yang membuat kerajaan ini tetap aman. Secara tidak langsung, dua kerajaan besar, Majapahit dan Cina, melindungi Malaka.

Di tahun 1411, Sultan Malaka berkunjung ke Cina sebagai balasan kunjungan Laksamana Cheng Ho. Di Cina, Sultan dan rombongan disambut dengan upacara meriah yang menandakan bahwa kaisar sangat senang dengan kunjungan Sultan Malaka beserta rombongan. Ketika pemerintahan Sultan Mansyur Syah, demi menjaga hubungan diplomatik yang lebih baik, sultan menikahi salah satu Putri Kaisar Yunglo yang bernama Hang Li Po.

Pada masa pemerintahan Sultan Mansyur Syah, Kerajaan Malaka mempunyai seorang laksamana yang baik bernama Hang Tuah. Laksamana itu mampu melaksanakan tugas dari sultan untuk menjalankan politik yang baik dengan kerajaan tetangga. Hang Tuah mampu menguasai beberapa bahasa, seperti Cina, Siam, dan Keling.

Di tangan laksamana inilah Kerajaan Malaka mampu menjaga daerah lautnya dari perompak yang sering menganggu perairan. Berkat Laksamana Hang Tuah pula kerajaan ini tetap bisa menjalin hubungan politik damai, melalui kunjungan-kunjungan untuk tetap menjalin kerjasama.

Sampai akhir hayatnya, laksamana ini tetap dikenang sebagai laksamana yang hebat, sehingga sering dimitoskan hingga kini oleh bangsa Melayu. Laksamana Hang Tuah meninggal di Malaka dan dimakamkan di tempat asalnya, Sungai Duyung Singkep.

Kerajaan Malaka sebagai Tempat Penyebaran Islam

Islam menyebar di Kerajaan Malaka melalui pedagang-pedagang yang berkunjung ke Malaka. Pedagang Islam ini mengetahui bahwa Malaka merupakan salah satu bandar di timur yang mengalami kemajuan di bidang perdagangan, sehingga banyak dari mereka berkunjung untuk melakukan perdagangan dengan penduduk Malaka.

Dengan berbaurnya para pedagang ini, maka Islam otomatis memengaruhi kepercayaan penduduk sekitarnya. Lambat laun, Islam menyebar ke dataran Malaka. Penyebaran agama Islam ke Malaka semakin maju dengan masuk Islam-nya raja pertama Malaka, Prameswara, pada tahun 1414.

Masuknya raja ke agama Islam, turut mengubah gelarnya menjadi Sultan Muhammad Iskandar Syah, dan dari sini pula agama Islam menjadi agama resmi Kerajaan Malaka. Perkembangan Islam di Malaka semakin mengalami kemajuan dengan banyaknya rakyat Malaka yang memeluk Islam.

Pada masa pemerintahan Sultan Mansyur Syah, Islam semakin mengalami perkembangan yang pesat dan Malaka menjadi pusat perkembangan agama Islam. Itulah kisah para pendiri Kerajaan Malaka yang tentunya bisa diambil tauladan.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Kota Paling Maju Pada Awal Peradaban Dunia
  • Sejarah Peradaban Yunani Kuno Tidak Sehebat Ceritanya
  • Memaknai Arti Hidup adalah Perjuangan
  • Sumatra dalam Pendapat para Pelancong Barat dan Sejarawan
  • Menelusuri Sejarah Google
  • Sejarah Penemuan Ban Tubeless
  • Hamburger dan Sejarahnya dalam Berbagai Versi
  • Legenda Bahtera Nuh
  • Tragedi Trisakti - Awal Keruntuhan Orde Baru
  • Indonesia Merdeka - Mengenang Kembali Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
  • Jatuh Bangun Kerajaan Majapahit Sejarah
  • Mesopotamia, Peradaban Lembah Sungai Eufrat dan Tigris
  • Sejarah Korea Selatan: Macan Asia Timur
  • Mengenal Sejarah Jepang Lewat Manga
  • Peta Plato Menuju Kerajaan Atlantis
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA