logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Ilmu Sejarah

Menebar Asa Kebangkitan (Kembali) Kerajaan Sriwijaya


Ilustrasi kerajaan sriwijaya

Upacara akbar pembukaan SEA Games XXVI di Palembang, 11 November 2011, berlangsung spektakuler. Cerita kegemilangan Kerajaan Sriwijaya ditampilkan dengan megah melalui tarian bertajuk ‘Sriwijaya, Golden Peninsula’. Ditunjang teknologi laser berkekuatan penuh yang memberikan efek citra dari wilayah nusantara, para penonton dibuat terpukau menyadari luasnya kawasan kekuasaan dari Kerajaan Sriwijaya. 

Sudah sangat tepat ketika panitia SEA Games mengangkat tema kemegahan dan kegemilangan Kerajaan Sriwijaya. Mengapa? Karena sebagai kerajaan maritim terkuat pada masanya (sekitar abad ke-7 hingga ke-9 Masehi), wilayah kekuasaan Kerajaya Sriwijaya teramat luas. Meliputi Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi.

Jika dibandingkan dengan wilayah negara Indonesia saat ini, kurang lebih sama dengan area kekuasaan dari Kerajaan Sriwijaya. Tak berlebihan bila para ahli sejarah sepakat bahwa Kerajaan Sriwijaya adalah contoh nyata kegemilangan nenek moyang bangsa Indonesia tempo dulu.   

Tertarik ingin mengetahui lebih jauh mengenai Kerajaan Sriwijaya? Ulasan di bawah ini semoga bisa menjawab dan memuaskan rasa ingin tahu tersebut. Termasuk melihat kemungkinan kebangkitan kembali Kerajaan Sriwijaya dalam konteks ke-Indonesia-an.

Di tengah keterpurukan bangsa Indonesia saat ini, menengok kembali sejarah Kerajaan Sriwijaya semoga bisa membangkitkan semangat kebangsaan dan kejayaan. Indonesia bisa!    

Lahirnya Kerajaan Sriwijaya

Berbagai buku sejarah pastinya tak pernah alpa menuliskan dua kerajaan besar (imperium) yang menjadi contoh kedahsyatan kerajaan di nusantara. Dua imperium itu adalah Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Kerajaan Sriwijaya tercatat sebagai salah satu imperium nusantara karena luas wilayah dan pengaruh kekuasaannya.   

Muasal nama Kerajaan Sriwijaya berasal dari bahasa Sansekerta. Yaitu ‘Sri’ artinya ‘Bercahaya’ dan ‘Wijaya’ artinya ‘Kemenangan’. Sehingga Sriwijaya dapat diartikan sebagai kerajaan yang gilang-gemilang cahaya kemenangan atau kekuasaannya. Dari nama tersebut, tersirat bagaimana hegemoni dari Kerajaan Sriwijaya untuk kawasan Asia Tenggara.

Bukti tertulis mengenai kerajaan yang gilang-gemilang itu (Kerajaan Sriwajaya), diperoleh dari temuan arkeologis tertua berupa prasasti Kedukan Bukit di Palembang bertarikh 682 Masehi. Prasasti berbentuk batu mini berukuran 45 × 80 cm, ditulis dalam aksara Pallawa dan menggunakan bahasa Melayu Kuno. Berisikan catatan perjalanan dari Raja Dapunta Hyang Sri Jayanasa dalam upayanya memperluas kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. 

Informasi dari prasasti Kedukan Bukit mengabarkan bagaimana Kerajaan Sriwijaya berhasil memperluas wilayah kekuasaannya. Dari prasasti tersebut juga bisa ditarik kesimpulan bahwa Kerajaan Sriwijaya telah ada jauh sebelum abad ke-7. Para sejarawan mengajukan asumsi kerajaan yang berpusat di sekitar Sungai Musi itu mulai terbentuk sekitar abad ke-6 Masehi. 

Ada pun bukti lain mengenai Kerajaan Sriwijaya adalah tulisan dari cerita perjalanan seorang pendeta Tiongkok bernama I-tsing. Cerita perjalanannya diklaim sebagai bukti awal dari kerajaan yang berpusat di Kota Palembang. Pendeta I-tsing dalam tulisannya menyebutkan sebuah kerajaan besar yang memerintah Pulau Sumaera bagian selatan pada tahun 671 Masehi. I-tsing bahkan sempat tinggal selama setengah tahun untuk memperdalam ilmu agamanya. Dan kerajaan tersebut bernama Sriwijaya. 

Baik bukti arkeologis tertua (prasasti Kedukan Bukit) maupun catatan perjalanan dari pendeta Tiongkok (I-tsing), tidak memberikan gambaran awal terbentuknya Kerajaan Sriwjaya. Temuan tersebut hanya memotret kondisi Kerajaan Sriwijaya yang mulai berkembang dan nantinya akan menjadi salah satu imperium di nusantara. 

Masa Kegemilangan dan Kemunduran Kerajaan Sriwijaya

Sriwijaya pada masa kegemilangannya merupakan pusat dari pengajaran tradisi Budha. Kondisi ini menarik ribuan peziarah dan sarjana dari berbagai wilayah di Asia, khususnya Tiongkok (Cina) dan India. Rumah bagi mereka yang memiliki ketertarikan untuk memperdalam ajaran dari Sang Budha. Meskipun Kerajaan Sriwijaya lebih memusatkan pengajaran bagi aliran Budha Vajrayana, aliran Buddha lainnya seperti Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana juga mendapat tempat. 

Derasnya aliran para peziarah dan sarjana Budha, berdampak pada maraknya perekonomian yang menopang Kerajaan Sriwijaya. Sektor perdagangan berkembang pesat. Mata koin emas pun telah digunakan sebagai alat tukar menukar (uang). Ini menunjukkan perekonomian Kerajaan Sriwijaya sudah berada di tingkat yang tinggi. Karena pada masa tersebut, aktivitas perdagangan lazimnya masih tradisional, yaitu berbentuk barter (tukar menukar barang). 

Jika ditelurusi ke belakang, pesatnya perkembangan Kerajaan Sriwijaya sebagai salah satu pusat pengembangan agama Budha adalah dampak dari stabilitas politik, kekuatan militer dan kebijakan kebudayaan. Para raja yang berkuasa mampu meredam gejolak politik, membangun kesolidan kekuatan militer dan mengembangkan kebijakan kebudayaan yang awalnya dari kebudayaan sungai (muara dan hulu Sungai Musi) menjadi kebudayan laut (maritim). 

Perubahan ini berakibat positif bagi kemajuan Kerajaan Sriwijaya. Didukung oleh armada laut yang kuat, Kerajaan Sriwijaya melakukan ekspansi militer ke pusat perdagangan utama di Asia Tenggara, yakni Jawa dan Semenanjung Malaya, dan berhasil. Pusat perdagangan pun beralih ke Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan ini kemudian menjelma sebagai pengendali satu-satunya jalur perdagangan antara India-Tiongkok yang melewati Selat Malaka dan Selat Sunda.  

Keuntungan melimpah dari sektor perdagangan, dan pengembangan Kerajaan Sriwijaya sebagai pusat bagi agama Budha, menjadikan raja-raja Sriwijaya bergelimang harta. Rakyatnya bergaya hidup kosmopolitan. Ekspansi militer pun terus dilakukan. Hasilnya, Kerajaan Sriwijaya pada masa kegemilangan (abad ke-9 Masehi) memiliki daerah koloni yang tersebar meliputi sebagian besar kawasan Asia Tenggara. 

Sejarah kemudian merekam kejayaan Kerajaan Sriwijaya mulai memudar pada akhir abad ke-10. Ditandai oleh berkecamuknya peperangan. Sriwijaya menjadi incaran serangan militer dari kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Serangan-serangan tersebut berdampak pada menyusutnya kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.  

Salah satu kerajaan yang berhasil mendobrak hegemoni Kerajaan Sriwijaya adalah raja dari dinasti Chola di Koromandel, India Selatan. Tercatat pada 1017 dan 1025, Rajendra Chola I mengirim ekspedisi laut untuk menyerang Sriwijaya. Termasuk upaya menaklukan daerah-daerah koloni Sriwijaya. Dan pada 1030, pamor Sriwijaya sebagai negara maritim akhirnya tergerus ketika Kerajaan Chola berhasil menawan raja Sriwijaya yang berkuasa, Sangrama-Vijayottunggawarman. 

Selanjutnya, nama Kerajaan Sriwijaya terbenam dalam pusaran sejarah. Terlupakan dan tak lagi dikenal oleh dunia. Termasuk dilupakan oleh bangsa Indonesia yang merupakan pewaris sah dari kegemilangan nenek moyangnya itu, Kerajaan Sriwijaya.

Untunglah pada 1918, seorang sejarawan Perancis bernama George Cœdès memublikasikan temuannya mengenai Kerajaan Sriwijaya. Temuan yang membangunkan bangsa Indonesia dari mimpi panjangnya bahwa mereka dahulu adalah bangsa berdaulat. Pernah menghegemoni kawasan Asia Tenggara dan jadi pusat peradaban. 

Kebangkitan (Kembali) Kerajaan Sriwijaya Masa Kini

Ciri utama Kerajayan Sriwijaya adalah penguasaan maritim (lautan). Dominasi total pada kekuatan armada laut untuk menguasai alur pelayaran (hilir mudik kapal laut), dan jalur perdagangan. Termasuk menguasai kawasan tertentu yang dinilai strategis bagi pembangunan pangkalan armada laut.

Perkembangan kebudayaan yang awalnya berpusat pada kebudayaan sungai menjadi kebudayaan maritim, dipandang sebagian sejarawan sebagai titik tolak pesatnya kemajuan Kerajaan Sriwijaya.

Berkaca dari kenyataan sejarah tersebut, bangsa Indonesia pada masa sekarang dapat memetik pelajaran berharga dari sejarah kegemilangan Kerajaan Sriwijaya. Bahwa potensi lautan yang dimiliki bangsa ini, dapat menjadi kekuatan luar biasa dahsyatnya bagi kemajuan perekonomian. Sayangnya potensi lautan itu belum optimal dikembangkan. Bukan hanya pusat perdagangan laut tidak berada di tangan bangsa Indonesia, kekayaan yang tersimpan di dalam laut nusantara pun teramat sering dijarah oleh negara lain. 

Menapaktilasi kejayaan Kerajaan Sriwijaya juga dapat mendongkrak harga diri bangsa. Jika pada masa awal merebut kemerdekaan kaum nasionalis mengusung kejayaan Sriwijaya sebagai contoh bahwa bangsa ini pernah berdaulat, maka hal itu bisa diulang kembali.

Di antara carut marutnya kondisi bangsa, kisah kegemilangan Kerajaan Sriwijaya dapat dibangkitkan kembali sebagai pelecut semangat kebangsaan yang kini mulai tergerus. Belajar dari sejarah Kerajaan Sriwijaya berarti belajar untuk membangkitkan kembali roh kejayaan dari bangsa Indonesia pada masa lalu.

Belajar Kedaulatan Negara dari Kerajaan Sriwijaya

Sejak sekolah dasar, anak-anak di negeri ini telah dikenalkan akan sejarah Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan maritim pertama yang menguasai wilayah hampir seluas negara Indonesia. Membentuk sebuah imperium yang mengendalikan jalur perdagangan laut di Selat Malaka, Selat Sunda, Laut China Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata.
 

Sebagai kerajaan Melayu kuno yang ada di Pulau Sumatera (kawasan sekitar Kota Palembang), Sriwijaya telah dikenal sejak abad ke-7 M. Baik itu dari berita para pelancong luar negeri maupun beberapa prasasti yang menegaskan akan kedigdayaan Kerajaan Sriwijaya.
Jika ditilik dari namanya, Sriwijaya yang berakar kata dari bahasa Sansekerta ini berarti “kemenangan yang bercahaya”, yaitu sri=bercahaya dan wijaya=kemenangan. Menyiratkan bagaimana pada awal mulanya kerajaan ini bersifat agresif dalam mengekspansi/ memperluas wilayah kerajaannya. 
 

Melalui berbagai kemenangan yang cemerlang, Sriwijaya pun mengokohkan dirinya sebagai kerajaan yang menguasai kawasan Asia Tenggara. Mampu menyatukan berbagai suku bangsa dan beragam kemajemukan di dalamnya. Menjadi kerajaan yang berhasil mengeratkan berbagai wilayah taklukan pada satu panji dan satu raja. Adat istiadat dan keyakinan yang berbeda pun dapat diakomodir dalam satu bentuk pemerintahan yang padu, yaitu Sriwijaya.
 

Warisan Sriwijaya
 

Memang, tak ada yang menyangkal bagaimana luar biasanya pengaruh serta kharisma yang dimiliki Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan besar. Para ahli sejarah berpendapat sama bahwa Sriwijaya adalah contoh nyata bagaimana nusantara pada zaman dahulu telah mampu diiikat dalam satu kesatuan. 

Karenanya, bersama-sama dengan Kerajaan Majapahit, Sriwijaya menjadi simbol kebesaran dan kesatuan nusantara sebelum era kolonial melanda. Sehingga pada awal abad ke-20, para pejuang kebangsaan Indonesia yang menginginkan kemerdekaan nusantara dari penjajah Belanda, sepakat untuk mempergunakan kedua kerajaan tersebut sebagai simbol pemersatu. 

Kerajaan Sriwijaya pun kiranya dapat terus menginspirasi negara ini. Meskipun telah lebih dari enam dekade bangsa ini memproklamirkan kemerdekaannya, tapi potensi konflik terus ada. Konflik yang dipicu oleh kemajemukan bangsa. Jika diringkas, konflik itu terangkum dalam kata SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan).

Lihat saja pada waktu belakangan ini, Republik Indonesia tak pernah henti digoyang oleh maraknya kerusuhan yang berlatarkan perbedaan tersebut. Mulai dari konflik etnis, gesekan keyakinan atau agama hingga permainan para elit politik yang menjadikan rakyat alit (grass root) sebagai korbannya. Membuat bangsa ini sedikit demi sedikit menjadi keropos dan berjalan menuju titik nadir. 

Apabila pada awal abad ke-20 para pelopor bangsa (faunding father) mampu menjadikan Sriwijaya sebagai salah satu simbol pemersatu dan penjaga kedaulatan bangsa, maka kiranya cara itu pun bisa ditiru kembali.

Bukan untuk mengambi ideologi atau sistem pemerintahan Sriwijaya yang jelas jauh berbeda dengan bangsa Indonesia saat ini, tapi menjadikan Sriwijaya sebagai spirit kejayaan dan kedaulatan masyarakat yang tinggal dan hidup di nusantara. Menjadikannya sebagai warisan yang jauh lebih bernilai daripada hanya sekadar bercerita di buku-buku teks sejarah.


Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Akankah Keroncong Perjuangan Lahir Kembali?
  • Asal-usul Agama Hindu dan Pengaruhnya di Nusantara
  • Negara Atlantis: Utopia yang Menyakitkan
  • Contoh Makalah Sejarah
  • Penyebab dan Akibat Revolusi Industri
  • Kebangkitan Nasional sebagai Tonggak Kemerdekaan Bangsa
  • Manusia Purba, Pithecantropus Robustus
  • ASAL USUL BAHASA JAWA
  • Peninggalan Dari Kerajaan Tarumanegara
  • Kekuatan Militer Rusia: Masih Besar di Dunia
  • Sejarah Jam di Dunia
  • Artikel Sumpah Pemuda 1928 - Sunario dan AR Baswedan
  • Mengenal Sejarah Candi Prambanan
  • Sejarah Kerajaan Kutai Martadipura
  • Napoleon Bonaparte: Tiada Hari Tanpa Perang
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA