logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Ilmu Sejarah

Kerajaan Tarumanegara - Ceritanya dari Prasasti - ANNEAHIRA.COM


Ilustrasi kerajaan tarumanegara

Tahukah Anda sejarah Kerajaan Tarumanegara? Dahulunya Indonesia adalah bukan negara kesatuan. Bukanlah sebuah negara yang disatukan dan dipimpin oleh satu orang seperti sekarang ini. Bukan juga berstatus sebagai negara republik. Dahulu, Indonesia “terpecah”. Terpecah dan terbagi dalam beberapa wilayah yang memiliki sistem pemerintahan berupa kerajaan, salah satunya Kerajaan Tarumanegara.

Jumlah kerajaan yang dimiliki Indonesia zaman dahulu sangat banyak. Jelas saja banyak, karena kerajaan hampir terdapat di seluruh wilayah Indonesia. Seperti kantor-kantor Bupati yang pasti ada di setiap wilayahnya. Selain Majapahit, kerajaan lain yang tergolong besar salah satunya adalah Kerajaan Tarumanegara.

Jika Majapahit berkuasa di Pulau Jawa bagian tengah dan sebagian timur, Kerajaan Tarumanegara berkuasa di Pulau Jawa bagian barat. Jika dilihat secara geografis, Kerajaan Tarumanegara kini berada di sekitaran Banten dan Jakarta.

Sejarah Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Tarumanegara merupakan salah satu kerajaan tertua dan terbesar di Nusantara. Kerajaan Tarumanegara berkuasa di seluruh bagian barat Pulau Jawa dari abad 4 hingga abad ke 7.

Hampir sama dangan kebanyakan kerajaan yang memerintah saat itu, Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan Hindu. Sebuah kepercayaan yang sudah sangat berumur tua. Kepercayaan Hindu yang menjadi dasar dari kerajaan ini adalah Hindu yang memiliki aliran Wisnu.

Menurut sejarah, pendiri Kerajaan Tarumanegara adalah Rajadirajaguru Jayasingawarman. Raja ini kemudian digantikan oleh putranya bernama Dharmayawarman. Jayasingawarman meninggal dan dimakamkan di tepi kali Gomati. Berbeda dengan anaknya, Dharmayawarman yang dimakamkan di pinggir kali Candrabraga.

Sepeninggalnya dua raja tersebut kemudian terpilihlah Raja Purnawarman sebagai raja ke tiga yang dimiliki oleh Kerajaan Tarumanegara. Pada masa pemerintahannya, Raja Purnawarman memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah yang lebih dekat dengan pantai. Tempat barunya itu diberi nama Sundapura, itulah cikal bakal nama “Sunda” digunakan untuk penyebutan daerah Jawa Barat.

Selain memindahkan pusat pemerintahannya, Raja Purnawarman juga dikenal dengan perintahnya yang mengatakan bahwa Sungai Gomati dan Candrabraga harus digali sepanjang 6112 tombak, atau berkisar pada ukuran 11 km pada saat ini. Setelah sungai tersebut digali, Raja kemudian memerintahkan untuk menyembelih sebanyak 1.000 ekor sapi untuk dibagikan pada kaum Brahmana.

Kerajaan Tarumanegara dan Bukti-Bukti Peninggalannya

Cerita mengenai sejarah kerajaan memang tidak lepas dari berbagai bukti peninggalan. Peninggalan tersebut biasanya berupa prasasti dan benda-benda kuno lainnya. Kerajaan Tarumanegara pun memiliki beberapa peninggalan yang akhirnya berguna untuk ilmu sejarah. Bukti-bukti itu bisa berfungsi sebagai identitas sebuah kerajaan. Identitas kehancuran atau identitas kejayaan.

Prasasti Pasir Muria

Prasasti ini dibuat pada masa pemerintahan Raja Kerajaan Tarumanegara ke tujuh, Suryawarman. Prasasti tersebut menuliskan bahwa raja sebelum Suryawarman, yaitu Candrawarman memberikan kembali daerah-daerah yang pernah diperintahnya pada penguasa daerah masing-masing. Pemberian itu karena mereka, para penguasa daerah, dianggap setia dan mengabdi pada Kerajaan Tarumanegara.

Prasasti Munjul, Pandeglang

Prasasti ini sebagai bukti betapa berkuasanya Kerajaan Tarumanegara saat itu. Raja Purnawarman berhasil memperluas daerah kekuasaannya hingga Selat Sunda.

Prasasti Purnawarman

Prasasti ini menunjukkan bahwa Kerajaan Tarumanegara telah berubah status menjadi kerajaan yang bersifat daerah. Diikuti oleh berpindahnya pusat pemerintahan Kerajaan Tarumanegara ke daerah lain.

Prasasti Ciaruteum

Pada prasasti ini terdapat tulisan Palawa yang menggunakan bahasa Sansekerta. Tulisan yang terdapat pada prasasti itu berupa puisi yang artinya “kedua telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termasyhur Purnawarman penguasa Kerajaan Tarumanegara.” Prasasti ini menunjukkan betapa besar dan kuat pengaruh dari Purnawarman pada masa itu.

Prasasti Telapak Gajah

Prasasti ini adalah bukti keberadaan gajah milik Raja Purnawarman. Gajah milik Purnawarman sering digunakan untuk berperang. Gajah perang milik Raja Purnawarman bernama Airawata, sama dengan gajah milik Batara Indra Dewa.

Prasasti ini menggambarkan bagaimana bendera dari Kerajaan Tarumanegara. Sebuah bendera yang bergambar gajah dengan untaian rangkaian bunga di atas kepalanya. Prasasti ini juga menggambarkan mahkota yang dikenakan oleh Raja Purnawarman. Mahkota yang berukirkan sepasang lebah.

Prasasti Telapak Gajah memiliki gambar sepasang telapak kaki gajah dan terdapat keterangan satu baris berbentuk puisi yang berbunyi:

jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam.

Artinya adalah sebagai berikut.

Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.

Prasasti Jambu

Prasasti ini terdapat di Bogor. Pada prasasti ini kembali terukir sepasang telapak kaki. Prasasti ini lagi-lagi menceritakan betapa hebatnya Raja Purnawarman melalui puisi. Puisi tersebut menggambarkan bahwa baju perisai besi yang digunakan Purnawarman ketika berperang membuatnya kebal terhadap serangan musuh. Telapak kaki Raja Purnawarman pun digambarkan selalu berhasil dalam menghancurkan benteng milik musuh.

Puisi dua baris pada prasasti tersebut adalah sebagai berikut.

Shriman data kertajnyo narapatir - asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam - padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam - bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam.

Terjemahannya menurut Vogel adalah sebagai berikut.

Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya.

Kerajaan Tarumanegara - Naskah Wangsakerta

Naskah Wangsakerta menjelaskan cukup jelas tetang Kerajaan Tarumanegara, tetapi ada perdebatan mengenai naskah ini dan beberapa pakar sejarah meragukannya unnuk dijadikan rujukan sejarah Kerajaan Tarumanegara. Pada naskah yang berasal dari Cirebon ini, Kerajaan Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada 358 dan kemudian digantikan oleh putranya, Dharmayawarman pada 382 sampai 395. 

Raja ketiga yang memimpin Kerajaan Tarumanegara adalah Maharaja Purnawarman, yaitu pada 395-434 M. Purnawarman mendirikan ibukota kerajaan baru pada 397 yang berada dekat dengan pantai dan bernama Sundapura. 

Prasasti Pasir Muara yang berisi perisrtiwa pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda tersebut dibuat pada 536 M. Saat itu, penguasa Kerajaan Tarumanegara adalah Suryawarman, Raja Tarumanegara ke-7. 

Adanya Prasasti Purnawarman di Pasir Muara yang berisi berita tentang raja Sunda pada 536 M, adalah gejala awal bahwa ibukota Sundapura sudah berubah status menjadi suatu kerajaan daerah. Hal tersebut membuktikan bahawa pusat pemerintahan Kerajaan Tarumanegara sudah berpindah ke tempat lain. 

Contoh yang sama pun dapat dilihat dari kedudukan Rajatapura atau Salakanagara (Kota Perak). Salakanagara menjadi pusat pemerintahan Raja-raja Dewawarman (Dewawarman I-VIII) sampai tahun 362. Saat pusat pemerintahan beralih dari Rajaputra ke Tarumanagara, Salakanagara pun berubah status menjadi kerajaan daerah. 

Suryawarman bukan hanya melanjutkan kebijakan politik ayahnya (memberikan keparcayaan kepada raja-raja daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan mengalihkan perhatiannya ke wilayah bagian timur. Contohnya, pada 526M, menantu Suryawarman yang bernama Manikmaya, membangun kerajaan baru di Kendan (sekarang daerah Nagreg antara Bandung dan Limbangan, Garut). 

Kekuasaan Kerajaan Tarumanegara berkahir denagn berpindahnya tahta kepada Tarusbawa. Tarusbawa lebih condong untuk kembali ke kerajaannya, yakni Sunda yang awalnya ada dalam kekuasaan Kerajaan Tarumanegara.

Kejatuhan Kerajaan Tarumanegara

Di ujung barat pulau Jawa, tepatnya tahun 358 M, berdiri sebuah kerajaan bernama kerajaan Tarumanegara. Menurut catatan yang terdapat dalam prasasti yang ditemukan di sekitar daerah Jawa Barat, kerajaan ini adalah kerajaan tertua di pulau Jawa. Seorang Rajadirajaguru Jayasingawarman lah yang mendirikan kerajaan tersebut, sekaligus juga menjadi raja pertamanya.

Setelah Jayasingawarman mangkat tahun 382, seperti sistem pemerintahan kerajaan lainnya, putranya lah yang menggantikan beliau. Putra mahkota tersebut bernama Dharmayawarman. Ia berkuasa hingga tahun 395 M. Lalu, raja yang menggantikannya, Purnawarman, memindahkan letak kota kerajaan ke daerah pantai utara dan memberi nama kota baru itu Sundapura. Sunda pun lantas mulai terkenal sejak kota baru itu berdiri. 

Kerajaan Hindu

Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan yang dipengaruhi oleh budaya dan ajaran agama Hindu yang memuja dewa Wisnu. Hal ini diketahui dari beberapa buah prasasti yang diketemukan. Bahasa yang tertulis dalam prasasti peninggalan kerajaan tersebut adalah bahasa Sansekerta dan hurufnya huruf Pallawa. Itu adalah ciri khas pengaruh kerajaan yang terdapat di India Selatan. Sama halnya kerajaan Kutai, yang menganut agama Hindu Wisnu.

Kondisi Ekonomi    

Raja Purnawarman adalah raja yang paling sering disebut namanya dalam berbagai prasasti yang ditemukan. Ia adalah raja ketiga yang memimpin kerajaan Tarumanegara. Ia juga yang mencetuskan dibuatnya sebuah sungai yang bernama sungai Gomati. Sungai tersebut digali untuk kepentingan pengairan sawah dan ladang para penduduknya.

Proses penggalian sungai Gomati dikatakan memakan waktu selama 21 hari. Panjangnya adalah 12 km dan berujung ke laut. Pada waktu selesai melakukan penggalian, sang raja melakukan upacara pembukaan dengan menyembelih 1000 ekor sapi. Semua kisah tersebut ditulis dalam Prasasti Tugu yang ditemukan di daerah Tugu, Jakarta.   

Keruntuhan

Runtuhnya kerajaan Tarumanegara bermula dari kepercayaan yang diberikan oleh sang raja kepada pemerintah daerah di bawah raja, untuk memimpin wilayahnya sendiri. Lalu, kebiasaan memberikan warisan wilayah atau daerah kepada putra dan putri mahkota, yang lantas membuat kerajaan baru diwilayahnya tersebut. Hal itu membuat kekuasaan raja menjadi lemah dan gampang diserang musuh.

Tahun 669 M, raja Linggawarman yang menjadi raja terakhir, menyerahkan kekuasaan kepada menantunya yang berasal dari kerajaan Sriwijaya. Lantas, berakhirlah pemerintahan dalam nama Tarumanegara, berganti menjadi kerajaan Sunda.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Bandung Lautan Api dan Bandung Lautan Asmara
  • Perjuangan Mahatma Gandhi: Ahimsa, Perlawanan Tanpa Kekerasan
  • Napoleon Bonaparte: Tiada Hari Tanpa Perang
  • Sejarah Bali Pun Berkaitan dengan Ekspedisi Gajah Mada
  • Mengenang Perjuangan Bung Tomo
  • Fungsi Kantor Pos yang Mulai Terlupakan
  • Menelusuri Sejarah Tenggelamnya Kapal Titanic
  • NU: Sejarah dan Kiprah Politik Nahdlatul Ulama
  • Sejarah Proklamasi Kemerdekaan RI
  • Menguak Kisah Tentang Sejarah Kerajaan Majapahit
  • Misteri Kapal Nabi Nuh
  • Peradaban Lembah Sungai Mekong
  • Kota Paling Maju Pada Awal Peradaban Dunia
  • Memaknai Arti Hidup adalah Perjuangan
  • Sekilas Tentang Perjuangan Pattimura
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA