logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Bisnis    Peluang Usaha    Kerajinan Tangan

Kerajinan Tangan Tradisional


Ilustrasi kerajinan tangan tradisional

Percayakah jika disebutkan bahwa kerajinan tangan tradisional tak pernah lekang ditelan zaman? Percayakah jika dikatakan bahwa kerajinan tangan tradisional akan selalu mendapat tempat di hati para konsumen?

Kerajinan tangan tradisional kan kuno, warnanya suram, dan susah perawatannya. Pendapat seperti ini bisa jadi masih dianut oleh sebagian kalangan, terutama generasi muda. Pendapat ini memang tak asing terdengar di tengah gempuran barang-barang pabrikan yang menawarkan kepraktisan serta model dan warna yang sangat bervariasi.

Lalu, di mana tempat bagi kerajinan tangan tradisional?

Kekayaan Indonesia

Indonesia memiliki ratusan suku bangsa dengan budaya dan adat istiadat masing-masing. Ragam budaya dan adat istiadat ini merupakan kekayaan yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia.

Setiap suku bangsa memiliki hasil-hasil budaya sendiri, termasuk di dalamnya kerajinan tangan tradisional. Kita mengenal kerajinan perak, kerajinan ukir emas, kerajinan kayu, batik, mutiara, tenun, anyaman, dan sebagainya dari berbagai daerah. Meskipun produk yang dihasilkan oleh satu daerah dengan daerah lainnya memiliki kesamaan bahan dan jenis, namun selalu ada perbedaan yang menjadi ciri khasnya.

Batik, misalnya. Selama ini kita mengenal batik sebagai kain khas dari Solo dan Yogyakarta. Akan tetapi ternyata tidak demikian. Batik terdapat di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Cirebon, Pekalongan, hingga Bengkulu. Masing-masing memiliki corak dan warna dominan yang berbeda. Perbedaan corak dan warna ini tak bisa dilepaskan dari kepribadian suku bangsa tempat batik itu berasal.

Peluang Usaha Kerajinan Tangan Tradisional

Kerajinan tangan tradisional memang tak pernah kehilangan pasar. Bahkan, tak sedikit produk kerajinan tangan tradisional Indonesia yang berhasil menembus pasar luar negeri.

Orang-orang luar negeri, terutama dari Amerika Serikat dan Eropa menilai barang-barang kerajinan tangan tradisional ini sebagai sesuatu yang eksotis, unik, dan antik. Tak sedikit yang bersedia membeli dengan harga mahal. Barang-barang kerajinan tangan tradisional ini juga dianggap sesuai dengan selera sebagian masyarakat mereka yang mulai kembali pada gaya hidup alami (back to nature).

Batik, wayang, kain tenun, ulos, angklung, dan berbagai hasil kerajinan tangan tradisional Indonesia lainnya telah melanglang buana, menghiasi rumah-rumah orang di berbagai penjuru dunia.

Standar Kualitas

Kerajinan tangan tradisional tak lagi hanya berkutat pada pasar dalam negeri. Memang tak mudah menembus pasar luar negeri karena negara-negara luar, seperti negara-negara Amerika, Eropa, Jepang, dan Australia memiliki standar kualitas yang berbeda dengan Indonesia. Standar kualitas Indonesia umumnya masih lebih rendah. Bahkan tak sedikit produk Indonesia yang dibuat asal jadi.

Perbedaan standar kualitas ini hendaknya tidak menjadikan usaha kerajinan tangan tradisional mundur dan takut untuk menembus pasar luar negeri. Perbedaan standar kualitas ini justru harus dijadikan penyemangat untuk menghasilkan produk kerajinan tangan tradisional dengan kualitas yang lebih baik. Misalnya, kualitas tenunan atau ukiran yang lebih halus, pewarnaan yang lebih indah, jahitan yang lebih rapi, dan lain-lain.

Tak ada salahnya berkompromi dengan permintaan pasar selama tidak mengubah makna filosofi yang terkandung dalam produk kerajinan tangan tradisional tersebut.

Jika bukan kita yang mengangkat seni kerajinan tangan tradisional Indonesia, siapa lagi yang akan melakukannya? Jika kita tidak bangga menunjukkan pada dunia bahwa inilah kerajinan tangan tradisional kita, jangan kebakaran jenggot jika di kemudian hari kerajinan tangan tradisional kita “dipungut” dan diakui milik oleh bangsa lain.

Kerajinan Batik di Indonesia

Kata 'batik' merupakan keratabasa dari kata-kata dalam bahasa Jawa amba (menulis) dan titik. Kata batik pertama kali tercatat dalam bahasa Inggris di Encyclopædia Britannica pada 1880. Dalam ensiklopedi tersebut kata 'batik' dieja battik. Kerajinan batik dikembangkan dari tradisi membatik masyarakat Jawa.

Yogyakarta dan Surakarta menghasilkan batik dengan makna tertentu yang berakar dari konseptualisasi Jawa mengenai alam semesta. Warna-warna batik tradisional meliputi indigo, cokelat tua, dan putih.

Kerajinan batik di Yogyakarta dan Surakarta mengandung makna tertentu. Pola-pola batik tertentu yang dihasilkan oleh kerajinan batik tersebut hanya boleh dipakai oleh kalangan ningrat.

Secara tradisi, garis yang lebih lebar atau garis bergelombang yang lebih tebal menunjukkan kedudukan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, dalam upacara-upacara, kedudukan seseorang dapat diketahui dengan memperhatikan kain yang dia pakai.

Kerajinan batik juga mengembangkan beberapa pola yang berbeda di setiap wilayah Indonesia. Beberapa pola unik seperti bunga, alam, binatang, atau cerita-cerita rakyat.

Batik pesisir dari kota-kota pantai utara Jawa, seperti Pekalongan, Cirebon, Lasem, dan Tuban, memiliki warna cerah dan dipengaruhi budaya Jawa, Arab, Cina, dan Belanda. Pada masa penjajahan, batik pesisir menjadi favorit kalangan peranakan Cina, Belanda, dan Eurasia.

Selain di Yogyakarta dan Jawa Tengah kerajinan batik juga cukup kuat di daerah Jawa Barat. Ciamis, Garut, Tasikmalaya, dan Kuningan merupakan daerah penghasil batik yang masing-masing memiliki motif unik. Di luar Jawa, batik juga diproduksi Bali. Sementara dari Sumatra, dikenal batik Jambi, Aceh, Palembang, dan Riau.

Pada 2 Oktober 2009 UNESCO menetapkan batik Indonesia sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity. UNESCO juga meminta Indonesia menjaga warisan tersebut. Semenjak itu juga kerajinan batik merata ke berbagai wilayah Indonesia.

Kerajinan Tangan Tradisional Batik

Kerajinan batik mempunyai beberapa tahapan yang terbilang cukup rumit. Pembuatan batik secara umum melewati tiga tahapan, yakni pemberian malam pada kain, pewarnaan, dan pelepasan lilin dari kain. Kain yang akan dibuat menjadi batik harus dicuci dan direbus beberapa kali untuk menghilangkan sisa-sisa kanji, kapur, atau bahan lain yang masih menempel pada kain.

Kerajinan batik menerapkan standar industrinya sendiri. Standar industri yang ketat membedakan kualitas kain yang digunakan, yaitu Primissima (terbaik) dan Prima. Kualitas kain biasanya ditulis pada tepi desain.

1. Pemberian Malam

Meskipun seni kerajinan batik sangat rumit, namun alat-alat yang digunakan sangat sederhana. Alat utamanya adalah canting, pencedok malam cair yang bercerat. Alat yang cukup akrab dengan kerajinan batik yang pertama adalah canting.

Canting terbuat dari tembaga dengan pegangan dari bambu sepanjang 11 cm. Canting diisi malam cair. Perajin batik kemudian menggunakannya untuk menggambar desain pada kain. Cerat pada canting memiliki beragam ukuran, mulai dari 1 mm untuk desain yang sangat mendetail hingga ukuran-ukuran yang lebih besar untuk mengisi area desain yang lebih lebar.

Berdasarkan ukuran lubang, canting dibedakan menjadi tiga, yakni canting cecek (ukuran kecil), canting klowong (ukuran sedang), dan canting tembok (ukuran besar). Kadang-kadang segumpal kapas dibebatkan pada mulut canting sebagai semacam kuas untuk mengisi area-area yang sangat lebar.

Selain canting, peralatan yang dibutuhkan dalam industri kerajinan batik adalah wajan. Wajan digunakan untuk menampung malam cair. Biasanya wajan terbuat dari besi atau tanah liat. Untuk menjaga agar malam tetap dalam keadaan cair, wajan diletakkan di atas anglo yang menyala.

Batik yang polanya dibuat dengan canting disebut batik tulis. Kerajinan batik memang membutuhkan waktu yang cukup lama. Pembuatan batik tulis memerlukan waktu hingga 2 - 3 bulan.

Pembuatan batik tulis dengan canting sangat menyita waktu. Untuk memenuhi permintaan pasar yang makin banyak dan menjadikan kain batik lebih terjangkau masyarakat kebanyakan, pada pertengahan abad ke-19 dikembangkan batik cap.

Cap merupakan semacam stempel desain batik dari tembaga yang digunakan untuk menerakan malam pada kain. Dengan menggunakan cap, waktu yang dibutuhkan untuk membuat batik bisa dipangkas hingga 2 - 3 hari saja.

Batik yang dibuat dengan teknik ini disebut batik cap. Cap biasanya digunakan pada industri kerajinan batik berskala besar. Mereka dituntut untuk memenuhi permintaan pasar dalam waktu yang ekstra cepat.

2. Pemberian Warna

Proses selanjutnya dalam industri kerajinan batik setelah pemberian malam selesai, adalah pewarnaan. Kain siap untuk dicelup dengan pewarna. Lamanya pencelupan menentukan kedalaman warna. Warna yang lebih gelap memerlukan waktu pencelupan lebih lama. Selanjutnya, kain direndam air dingin untuk mengeraskan malam.

Jika warna yang diinginkan sudah didapatkan dan kain telah kering, bagian yang telah diberi warna atau bagian lain yang akan diberi warna lain pada tahap pewarnaan selanjutnya, diberi malam kembali.

Untuk proses pewarnaan selanjutnya, bagian yang telah diberi malam kemudian dikerok dengan pisau kecil agar pewarna bisa meresap ke kain. Bagian tersebut kemudian diseka dengan air panas sebelum dicelup pada proses pewarnaan berikutnya. Proses rumit seperti ini sudah menjadi hal yang biasa dalam industri kerajinan batik.

Dalam industri kerajinan batik, jumlah warna pada batik menunjukkan berapa kali kain dicelup pewarna, dan berapa kali malam harus diterakan dan dibersihkan dari kain. Biasanya, semakin banyak warna yang digunakan, harga kain batik akan semakin mahal.

3. Pelepasan Malam

Setelah proses pewarnaan selesai, malam diluruhkan dari kain dengan cara merebusnya dalam air mendidih. Proses pembuangan lilin ini disebut melorot. Proses perebusan untuk menghilangkan malam dilakukan dua kali.

Pada perebusan terakhir ditambahkan soda abu (kalium hidroksida) untuk mematikan warna pada kain dan mencegah agar warna tidak luntur. Selanjutnya, kain batik direndam air dingin dan dijemur.

Proses tersebut sekaligus sebagai proses terakhir dalam industri kerajinan tangan tradisional batik. Semua tahapan tersebut akan membentuk kain batik dengan kualitas baik. Proses-proses tersebut juga membuat industri kerajinan batik berbeda dengan industri kerajinan yang lain.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Artikel Kerajinan Tangan, Inspirasi Bisnis bagi Wanita
  • Kerajinan Tangan dari Bahan Bekas yang Berkelas
  • Membuat Kerajinan Tangan dari Koran Bekas
  • Sketsa Bunga Sebagai Peluang Usaha Menjanjikan
  • Peluang Bisnis Sandal Unik
  • Bisnis Pernak Pernik Perhiasan dan Aksesori
  • Membuat Kreasi Kerajinan Tangan, Yuk!
  • Eksistensi Kerajinan Tangan Batik Indonesia
  • Cara Pembuatan Kerajinan Tangan Dari Kain Flanel
  • Macam macam Kerajinan Tangan Tempurung Kelapa
  • Menekuni Usaha Kerajinan Tangan Betawi
  • Membuat Kerajinan Tangan yang Mudah Dijual
  • Aneka Kerajinan Tangan Sebagai Peluang Usaha
  • Tips Memulai Bisnis Usaha Kecil
  • Jenis-Jenis Kerajinan Tangan Sebagai Peluang Usaha
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA