logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Seni    Seni Tradisional    Kesenian Jaranan

Serunya Menonton Kesenian Jaranan

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Wilayah Jawa bagian timur, Ponorogo, Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Malang, hingga Banyuwangi, memiliki banyak kemiripan dalam hal berkesenian. Salah satunya, yaitu kesenian jaranan.

Kesenian jaranan merupakan sebuah kesenian yang memiliki asal sejarah cukup panjang. Kesenian ini lahir saat kerajaan-kerajaan Jawa Kuno mulai berdiri sehingga dapat dikatakan kesenian ini merupakan tradisi leluhur masyarakat Jawa Timur.

Kita patut berbangga karena di era modern ini masyarakat Indonesia masih melestarikan kesenian-kesenian daerah yang sudah berumur ratusan tahun untuk selalu mengingat sejarah atau asal-usul kita.

Kesenian jaranan ini sempat dilarang tampil oleh pemerintah saat terjadinya pemberontakan PKI. Isu yang beredar saat itu mengatakan bahwa seniman jaranan terlibat dalam organisasi PKI, sementara PKI dianggap sebagai musuh dan pengkhianat negeri.

Oleh karena itu, banyak seniman jaranan yang ditangkap dan menjadi tahanan politik pada saat itu. Namun, kini, kesenian ini boleh kembali dipentaskan. Bahkan, mendapatkan apresiasi yang baik dari dinas kepariwisataan Republik Indonesia.

Kesenian jaranan sebetulnya memiliki sisi magis atau sarat dengan nilai-nilai spiritualitas masyarakat Jawa. Kesenian ini menampilkan aksi para penari yang melenggak-lenggok di atas kuda mainan atau sering juga disebut dengan istilah kuda kepang atau jaran kepang (jaran adalah bahasa Jawa untuk kuda).

Tarian kuda kepang diiringi oleh beberapa instrumen dari gamelan (seperangkat alat musik tradisional Jawa), seperti gong, kendang, adapula alat musik terompet, dan sebagainya. Meriah sekali.

Lalu, terdapat juga para pawang yang siap mengamankan kesenian ini jika para penunggang kuda tersebut mulai kesurupan atau dirasuki roh halus.

Dalam perkembangannya, kesenian jaranan ada yang dikombinasikan dengan kesenian yang lebih modern, yaitu melakukan variasi musik pengiring dan mencampurnya dengan jenis musik samroh, dangdut, atau campur sari.

Gerakan penari jaranan ini juga mulai bervariasi. Ada yang tetap dengan 24 gerakan yang mengikuti pakem gerakan jaranan Wijaya Putra, ada yang 14 gerakan dengan pakem Joyoboyo, dan yang paling sedikit gerakannya adalah pakem gerakan Ronggolawe (hanya 5-6 gerakan). Bahkan, di daerah Banyuwangi, ada jaranan buto yang merupakan variasi lain dari kesenian jaranan.

Menikmati tontonan kesenian jaranan ini sungguh mengasyikkan. Melihat gerakan-gerakan penari yang lincah di atas kuda kepang sambil sesekali memutar-mutar kuda tersebut seakan mereka benar-benar sedang menunggangi kuda hidup.

Terlebih dengan alunan musik yang rancak ditambah aksesoris lain yang bisa berupa pecut ataupun krincing yang berbunyi setiap kali penari menghentakkan kaki di tanah.

Tontonan yang begitu sarat dengan sejarah leluhur ini memang tidak pernah membosankan. Jika bukan kita yang terus melestariakan kebudayaan warisan leluhur, lalu siapa lagi?

Dengan menyaksikan tontonan kesenian tradisional seperti kesenian jaranan ini, Anda pun telah turut berpartisipasi melestarikan budaya bangsa.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Kesenian Suku Batak - Ulos, Seni Kriya Adiluhung
  • Tari Topeng: Topeng dan Kebudayaan
  • Kesenian Sunda Populer
  • Ragam Tari Tradisional Indonesia
  • Mengenal Kesenian Suku Dayak
  • Pengertian Seni Tradisional di Indonesia
  • Beragam Jenis Kesenian Melayu
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA