logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Seni    Seni Tradisional

Kesenian Malaysia - Terlahir dari Banyak Budaya


Ilustrasi kesenian malaysia

“Malaysia the Truly Asia”. Itulah semboyan yang dijual Malaysia untuk memromosikan pariwisatanya. Jargon tersebut sangat tepat untuk menggambarkan seni budaya Malaysia yang  sangat beragam. Kesenian Malaysia memang diwarnai oleh percampuran budaya dari berbagai negara. Hal tersebut tidak terlepas dari perjalanan sejarahnya yang melalui beberapa fase.

Salah satu faktor yang membuat sebuah negara menjadi besar adalah budaya yang dimiliki. Tapi tidak lantas berarti bahwa budaya-budaya tersebut hanya dimiliki oleh negara besar. Sebut saja Malaysia. Secara geografis, Malaysia sangat kecil, dibandingkan dengan Indonesia, meskipun demikian kebudayaan Malaysia atau kesenian Malaysia bukan berarti tidak ada.

Membicarakan kesenian atau kebudayaan sebuah negara pasti tidak bisa lepas dari sejarah negara tersebut. Karena bagaimana pun juga kesenian pasti terlahir dari cerita masyarakatnya. Begitupun dengan kesenian Malaysia.

Kesenian Malaysia - Masa Sejarah Awal

Dahulu, Semenanjung Melayu dan sekitarnya, termasuk pulau Sumatra saat ini merupakan pusat kerajaan Malaka. Pada awal abad ke-5, Kerajaan ini mencapai puncak kejayannya sebagai pusat perdagangan di Asia Tenggara. Hal ini menyebabkan banyak pedagang dari luar seperti Arab, India dan China datang dan bermukim. Secara tidak langsung, hal tersebutlah yang memengaruhi keanekaragaman kesenian Malaysia.

Bahkan para pedagang dari Eropa seperti Portugis, Inggris dan Belanda turut serta meramaikan perdagangan di Selat Malaka. Interaksi Malaka dengan bangsa asing menyebabkan terjadinya percampuran budaya yang jejaknya dapat terlihat hingga saat ini. Percampuran budaya tidak bisa dihindarkan, hasilnya, kesenian Malaysia juga terlahir dari berbagai campuran kesenian yang ada di dunia. Karena percampuran itulah, hingga akhirnya kesenian Malaysia kadang memiliki kesamaan dengan kesenian negara-negara lain, seperti Indonesia misalnya.

Bangsa Arab boleh dikatakan sebagai pionir datangnya orang asing di Malaysia. Keberadaan mereka di Malaysia seiring dengan misi dakwah penyebarluasan Islam di Nusantara. Sejarah mencatat hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW atau sekitar tahun  30 Hijriah (651 Masehi), Khalifah Utsman bin Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Pengaruh Arab juga dapat terlihat jelas pada berbagai kesenian Malaysia.

Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun,  para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara, termasuk di Semenanjung Malaya. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Sejak saat itu keberadaan orang-orang Arab di Malaysia makin banyak, dari merekalah kemudian agama Islam serta budayanya tumbuh dan berkembang di Malaysia. Kesenian Malaysia pun berkembang dengan unsur budaya Arab di dalamnya.
 

Kesenian Malaysia - Masa Penjajahan

Perkembangan kesenian Malaysia pun berlanjut. Kali ini cerita tentang penjajahan yang dialami Malaysia menjadi latarnya. Inggris merupakan negara terlama dan terakhir yang menguasai Malaysia. Pada masa penjajahannya, sektor industri menjadi bagian terpenting untuk digarap. Karena Malaysia kaya akan  sumber daya alam, terutama  timah. Sejak abad ke-17 para imigran dari daratan China berdatangan ke Malaysia dan menetap di Perak. 

Pada tahun 1872 sekitar 40.000 orang pekerja China datang ke Malaysia dipimpin oleh Ah Chung Qwee, umumnya para pekerja China itu berasal dari Canton dan Hakka. Hasilnya, sejak tahun 1883, Malaysia menjadi produsen timah terbesar di dunia, bahkan hingga sampai saat ini. Pekerja China tersebutlah yang secara tidak langsung memberikan pengaruh kepada kesenian Malaysia.

Daerah penghasil timah tersebut antara lain Kinta Valley, Ipoh, Gopeng, Kampar, dan Batu Gajah .dan  sepanjang kaki bukit Perak, Selangor Johor dan Kualalumpur. Para pekerja imigran China tersebut kemudian beranak pinak sampai sekarang. Kebudayaan China yang mereka bawa tetap mereka lestarikan hingga saat ini. Kesenian Malaysia pun pada akhirnya mengandung beberapa unsur budaya China.

Selain dari China, penjajah asing di Malaysia juga mendatangkan para pekerja dari India dan Sri Lanka dari tahun 1786 hingga 1834. Sebenarnya kedatangan orang India di Malaysia sudah ada sejak 2000 tahun yang lalu, yaitu ketika Kerajaan Malaka sedang mengalami kejayaannya sebagai pusat perdagangan di Asia Tenggara. Para pekerja dari India dan Sri Lanka tersebut umumnya berasal dari Gujarat dan Tamil. Para pekerja imigran tersebut lalu tinggal dan melahirkan keturunannya hingga sekarang.Secara langsung dan turun temurun, masyarakat Sri Lanka tersebut juga ikut memengaruhi keberadaan kesenian Malaysia.

Pada tahun 1901 jumlah keturunan India di Malaysia berjumlah 120.000 orang, lalu meningkat menjadi 640.000 orang di tahun 1931. Pada tahun 2005 penduduk Malaysia keturunan India ini berjumlah sekitar 1.800.000 orang atau  7 % dari jumlah total penduduk Malaysia. Akulturasi kebudayaan atau kesenian yang terjadi pada kesenian Malaysia memang benar-benar perpaduan dari berbagai kebudayaan. Melahirkan sebuah kesenian yang pada akhirnya diakui sebagai sebuah kesenian baru, kesenian Malaysia.
 

Kesenian Malaysia dan Bangsa Indonesia

Letak geografis yang dekat dan rumpun budaya yang sama, menyebabkan arus datang-perginya orang Indonesia ke Malaysia telah berlangsung sejak lama. Kedua rakyat dari dua negara berbeda ini sudah hidup bersama-sama, dalam satu pertalian budaya jauh sebelum berdirinya negara RI dan Malaysia. Kesenian Malaysia dan Indonesia cenderung memiliki akar yang sama, yaitu Melayu.

Tak mengherankan bila setelah kedua negara ini merdeka banyak warga yang bertukar kewarganegaraan. Misalnya beberapa orang Indonesia yang berasal dari Jawa, bugis, Padang, Makasar, Aceh, Bali dan lain-lain yang sudah menjadi warga negara Malaysia, begitu pula sebaliknya. Pertukaran kewarganegaraan ini berpengaruh terhadap terciptanya kesenian Malaysia.

Pasca merdeka, Malaysia benar-benar serius membangun negaranya. Sektor utama yang dibenahi adalah pendidikan, selain industri tentunya. Untuk itulah Malaysia membutuhkan tenaga guru yang handal untuk mendidik rakyatnya. Pilihan jatuh ke negara tetangga, Indonesia yang sudah lebih awal merdeka.

Di negara barunya ini, mereka tetap melestarikan kebudayaannya masing-masing.Tak heran bila di Malaysia kita bisa temukan Tari Pendet yang berasal dari Bali, atau kesenian Reog yang berasal dari Ponorogo - Jawa Timur. Banyaknya orang dari berbagai daerah di Indonesia yang hijrah ke Malaysia Kebudayaan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia itu menambah khasanah kebudayaan Malaysia yang memang sudah multikultural.

Kesenian Malaysia dan Konflik dengan Indonesia

Proses akulturasi ternyata membawa dua dampak. Dampak positif dan negatif. Kedua dampak tersebut pun dirasakan oleh kesenian Malaysia. Terlahir dari berbagai kebudayaan, memang membuat kesenian Malaysia kaya corak, namun di sisi lain, kesamaan tersebut seringkali menghadirkan konflik.

Konflik yang paling terkenal dan cukup mengganggu hubungan baik antara Malaysia dan Indonesia belakangan ini taklain adalah mengenai kesenian Malaysia itu sendiri. Samanya corak akibat pengaruh orang Indonesia yang tinggal di Malaysia menimbulkan persepsi yang salah.

Menjiplak pun menjadi semacam tuduhan yang ditujukan langsung pada berbagai kesenian Malaysia. Mulai dari makanan, tarian, alat musik, dan lagu daerah Indonesia, semua dilabeli Malaysia. Mengatasanamakan satu rumpun kemudian menjadikannya sebagai  tameng yang dirasa paling kuat oleh Malaysia. Lalu, benarkah demikian?

Konflik antara kesenian Malaysia dengan warga Indonesia seharusnya sudah diantisipasi sejak dulu. Mengingat banyaknya warga Indonesia yang turut tinggal di Malaysia. Permasalahan yang kemudian terjadi adalah mampukah dua bangsa yang konon katanya satu rumpun ini saling menghargai? Malaysia menghargai kesenian Indonesia dengan tidak bebas mengakui semua produk kesenian Indonesia, dan Indonesia menghargai kesenian Malaysia dengan mengiyakan bahwa kesenian Malaysia memang terlahir dari banyak budaya bangsa. Bisakah?

Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Wayang Bagong Media Kritik pada Zaman Belanda
  • Keunikan Tari Remo
  • Tarian Provinsi Jawa Tengah - Tarian Bedhaya
  • Wayang Prabu, Tokoh Raja-Raja dalam Pewayangan
  • Tari Klasik Jawa Tengah Paling Terkenal
  • Wayang Golek, Seni Khas Tanah Pasundan
  • Cara membuat Alat Musik Tiup Kayu
  • Sejarah Tentang Suling Bambu
  • Barong - Seni Tari Eksotis Bali
  • tari seribu tangan - Seribu Tangan Nan Rupawan
  • Ragam Pertunjukan Tari Nusantara
  • Mengenal Peralatan Masak Tradisional Indonesia
  • Harmonisasi Gerak dalam Tari Seudati
  • Tarian Tradisional Indonesia
  • Ukiran Asmat, Simbol Penghubung Ikatan Leluhur
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA