logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Budaya    Globalisasi Budaya

Kesenian Riau di Tengah Serbuan Budaya Asing


Ilustrasi kesenian riau

Kesenian Riau adalah merupakan kesenian yang terdapat di wilayah Riau. Salah satu kesenian nusantara ini paling kental dengan budaya Melayu, sehingga layak kiranya jika kesenian Riau disebut sebagai pusat budaya Melayu dunia, dan menjadi tujuan utama pelacakan sumber budaya Melayu.

Letak geografis Riau sebagai "markas besar" dari kesenian Riau yang berada pada jantung perlintasan bahari membuat wilayah ini telah ramai dikunjungi masyarakat asing sejak zaman dulu. Kondisi ini bisa disikapi sebagai beban sekaligus berkah. Di satu sisi, Riau menjadi ladang perhimpunan berbagai potensi kesenian dengan pengaruh budaya asing, dan di sisi lain muncul pula potensi korosi terhadap nilai-nilai budaya setempat oleh budaya asing yang kurang selaras.

Dari zaman ke zaman, budaya Melayu dengan ciri sosiologis semacam itu, telah menjadi sistem scanning dalam interaksi antarbudaya yang saling berakulturasi. Dalam perkembangannya, kesenian Riau adalah bagian dari nilai keindahan yang tertata apik namun tak lepas dari tuntunan nilai norma Melayu yang bercorak Islam.

Riau sangat kaya dengan ragam bentuk kesenian, baik seni pertunjukan seperti teater, tari, musik, dan nyanyian; maupun sastra. Dalam perkembangannya, kesenian Riau tersebut memiliki kaitan erat dengan kegiatan adat, tradisi, maupun keagamaan yang terwarisi turun temurun.

Pulau Sumatera memang satu-satunya pulau di Indonesia yang masih kental memiliki kesenian bernuansa melayu. Nuansa melayu nyatanya bukan hanya dimiliki oleh kesenian Riau, kesenian di daerah lain yang masih berada di wilayah Sumatera pun memiliki nuansa yang sama. Maka janganlah heran jika ada beberapa bagian dari kesenian Riau yang mengingatkan kita akan kebudayaan melayu yang cukup kental.

Sebagai salah satu kesenian yang dimiliki oleh Indonesia, kesenian Riau berbeda dengan kesenian yang dimiliki oleh wilayah Indonesia lainnya. Hal yang membedakan adalah tentu saja nuansa melayu yang sangat kental.

Jika mau melihat ke belakang, sejarah atau identitas bangsa Indonesia sesungguhnya memang tidak jauh dari kebudayaan melayu. Rumpun bahasa yang kita pakai sehari-hari pun merupakan rumpun bahasa melayu. Pengaruh melayu masih sangat kental terasa di sepanjang Pulau Sumatera. Tidak mengherankan jika kesenian Riau yang memang berada di Pulau Sumatera memiliki nuansa melayu yang cukup kental.

Pengaruh kebudayan rumpun melayu yang ada di kawasan Pulau Sumatera memang tidak bisa dihindari. Kebiasaan dan kehidupan masyarakat yang memang tinggal di kawasan Sumatera itulah yang melatarbelakangi kesenian khas Pulau Sumatera, salah satunya kesenian Riau.

Beberapa Jenis Kesenian Riau

Kesenian Riau pada dasarnya memiliki cabang-cabang kesenian yang hampir sama dengan jenis kesenian yang terdapat didaerah lain. Berikut ini adalah beberapa jenis kesenian Riau yang ikut "meramaikan" kesenian yang ada di Indonesia.

1. Seni Teater Khas Kesenian Riau

Teater adalah bentuk kesenian Riau yang kompleks karena memadukan unsur-unsur seni lain seperti musik, rupa, dan sastra.

Teater khas Riau memiliki ciri istana karena perkembangan kesenian ini berawal dari dalam tembok Kesultanan Riau. Tersebutlah di antaranya adalah teater Makyong, teater Mendu, teater Mamanda, dan teater Bangsawan.

2. Seni Tari Khas Kesenian Riau

Dalam budaya kesenian Riau, seni tari berkembang secara integral dengan seni teater. Misalnya tari Ladun, tari Jalan Kunon, dan tari Lemak Lamun yang menjadi bagian dari teater Mendu. Atau tari Selendang Awang, tari Timang Welo, tari Berjalan Jauh, dan tari Cik Milik yang merupakan bagian penyusun teater Makyong.

3. Seni Musik Khas Kesenian Riau

Tak beda dengan seni tari, kesenian Riau ini pun menjadi bagian integral seni teater. Maka tersebutlah teater Mendu memanggungkan lagu Lakau, Ladun, Madah, Tala Satu, Ayuhai, dan lain-lain. Sedangkan teater Makyong memanggungkan lagu Timang Bunga, Selendang Awang, Awang Nak Beradu, Puteri Nak Beradu, dan sebagainya.

Seperti disebutkan di muka, kesenian Riau tersebut merupakan bagian dari upacara yang bersifat ritual seperti buka tanah dan semah, di mana di dalamnya digunakan mantra dan serapah.

4. Seni Sastra Khas Kesenian Riau

Seni Sastra berkembang terpisah dari seni teater, walaupun tidak sepenuhnya lepas. Warisan kesusastraan Riau yang paling menonjol adalah Gurindam Dua Belas karya cipta Raja Ali Haji. Namanya sebagai sastrawan, ahli bahasa, penulis sejarah sekaligus ulama, amat disegani di dunia. Jejaknya dijadikan rintisan bagi sastrawan sesudahnya seperti Raja Ali Kelana, Raja Zaleha, Aisyah Sulaiman, dan lain-lain. Kesenian Riau yang satu ini lahir dari pemikiran seorang pintar.

5. Seni Rupa Khas Kesenian Riau

Kesenian Riau yang satu ini sangat khas. Seni rupa khas Riau teraplikasi dalam motif hias seni rupa terapan, di antaranya pada seni bangunan, kerajinan, dan kain adat seperti kain tenun Siak, sutera lintang Siantan, serta sutera petak catur dan kain mastuli Daik Lingga.

Dalam kesenian Riau, motif Riau menghindari gambar binatang dan manusia, dan sebagai gantinya, mengeksplorasi motif geometri dan tumbuh-tumbuhan, serta kaligrafi. Motif yang terkenal misalnya: bunga cengkih, pucuk rebung, awan larat, sayap layang-layang, siku keluang, dan lain-lain.

Kesenian Riau di Tengah Serbuan Budaya Asing

Perkembangan zaman di segala sektor yang tak terelakkan menyebabkan dunia 'menyempit' selebar layar televisi. Belum lagi kemudahan akses transportasi dan komunikasi yang ikut berperan dalam serbuan budaya asing ke dalam struktur sosiologis Riau. Perkembangan ini secara tidak langsung berimbas pada kesenian Riau.

Tak bisa dipungkiri bahwa bentuk kesenian Riau yang tradisional dan konvensional sudah tidak lagi mampu menampung gelegak kegelisahan zaman dan naluri ekspresi yang menuntut kebaruan. Kesenian tradisional - bukan hanya kesenian Riau - dianggap sudah sangat membosankan.

Faktanya, kesenian Riau sedang tergagap-gagap menghadapi fenomena sosial post-modern di mana nilai-nilai budaya asing semakin menguat intervensinya sementara kemampuan filter budaya lokal semakin melemah. Kesenian tradisional tak lagi mampu berdiri sama tinggi dengan budaya asing yang menyerbu tanpa permisi.

Dibandingkan dengan pembangunan fisik kota Riau, perhatian terhadap kesenian Riau agaknya masih tertinggal cukup jauh. Kalaupun ada angin segar munculnya pelaku budaya modern yang mengabdi pada nilai-nilai budaya luhur di masa lalu, hembusannya belum cukup menghilangkan gerah akibat korosi yang terus berlangsung.

Gempuran dari kebudayaan asing yang perlahan tapi pasti memasuki wilayah Indonesia dan secara langsung berpengaruh terhadap kesenian atau kebudayaan Indonesia harus disikapi dengan serius. Upaya untuk mempertahankan kesenian Riau maupun kesenian yang lain sepenuhnya adalah tanggung jawab dari semua masyarakat Indonesia.

Maka, seperti terlantunkan dalam lirik lagu Lancang Kuning:

Lancang kuning, lancing kuning berlayar malam
Haluan menuju, haluan menuju ke laut dalam
Bila nakhoda, bila nakhoda tidaklah paham
Alamatnya kapal, alamatnya kapal akan teng`gelam

Semoga 'nakhoda' budaya Riau paham betul laut dalam yang dituju haluannya, dan semoga juga "Nahkoda" itu hafal, akan dibawa kemana kesenian Riau. Maka, jika demikian, kita bisa lega berharap 'kapal' ini tak akan tenggelam, bahwa kesenian Riau akan terus bertahan ditengah gempuran kebudayaan asing yang dengan mudahnya masuk ke Indonesia.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Nilai Filosofis Senjata Polisi
  • Mengkaji Fungsi 7 Unsur Kebudayaan Universal
  • Budaya Asing - Foot Binding, Tradisi China yang Menyakitkan
  • Dampak Globalisasi Terhadap Perekonomian dan Nilai-Nilai Nasionalisme
  • Pengaruh Kebudayaan Barat pada Kebudayaan Indonesia
  • Batik Unik - Batik yang Dibuat oleh Orang Amerika
  • Belajar Kebudayaan Italia Lewat Film Eat, Pray, Love
  • Budaya Global: Budaya Tato Masyarakat Suku Mentawai
  • Tradisi Hallowen, Modifikasi Budaya Barat
  • Keindahan Sebagai Imbalan Sifat Jujur
  • Mempelajari Kebudayaan China Lewat Ajaran Konfusius
  • Budaya dan Ekonomi, Faktor Penyebab Globalisasi
  • Pengaruh Budaya Barat pada Masyarakat Pribumi
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA