logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Seni    Seni Tradisional

Kesenian Wayang Golek: Hiburan Rakyat Murah Meriah


Ilustrasi kesenian wayang golek

Bagi masyarakat Tanah Pasundan, kesenian wayang golek dapat dikatakan sudah mendarah daging. Wayang golek merupakan sebuah pertunjukan wayang dan diperankan oleh para tokoh yang terbuat dari boneka kayu. Sejak awal, kesenian wayang golek sudah identik dengan hiburan rakyat.

Salah satu tokoh wayang golek paling terkenal adalah Cepot. Karakternya yang kocak kerap mengundang gelak tawa penonton. Namun, bodoran Cepot tidak semata-mata bertujuan menghibur. Tersirat makna dan nasihat mendalam dalam setiap dialognya. Wayang golek dipentaskan oleh seorang dalang sebagai pengendali.

Wayang Identik dengan Bayang

Wayang merupakan salah satu jenis teater rakyat yang sangat populer. Sayangnya, kepopuleran wayang golek nyaris tergerus kemajuan zaman dan teknologi. Anak muda dan remaja kini nyaris tidak pernah menonton wayang golek sekalipun ia lahir serta tumbuh di Tanah Pasundan.

Kata wayang selalu diidentikan dengan bayang atau bayangan. Hal ini tidaklah semata-mata tanpa sebab. Sebutan bayang muncul akibat pengaruh pertunjukan wayang kulit yang menggunakan sehelai kain sebagai layar sehingga menimbulkan bayangan.

Ujung Tombak Kesenian Wayang Golek

Jika ada pertanyaan, siapa saja ujung tombak pertunjukan wayang golek? Jawabannya adalah dalang dan sinden. Dalang adalah orang yang berperan memegang kendali setiap tokoh wayang. Seorang dalang harus piawai memainkan cerita dengan peniruan bunyi suara yang berbeda setiap karakter wayang.

Oleh sebab itu, seorang dalang pun kerap diidentikan dengan ritual khusus untuk memperoleh suara yang bisa disesuaikan dengan karakter tokoh wayang. Menjadi seorang dalang tidaklah mudah dan hanya orang tertentu yang bisa menjadi dalang. Salah satu dalang wayang golek paling terkenal adalah Asep Sunandar Sunarya.

Sejak 1920an, pertunjukan wayang selalu diiringi oleh sinden. Sepanjang cerita dan selama para tokoh wayang masih beraksi, sinden pun terus mengiringi. Peran sinden kala itu sangatlah vital dan terkenal melebihi dalangnya. Meskipun terlihat senang dan hanya bernyanyi, menjadi seorang sinden tidaklah mudah.

Seorang sinden biasanya memiliki suara yang merdu dan bercengkok. Sinden yang paling terkenal di dunia perwayangan adalah Upit Sarimanah dan Titim Patimah (1960an). Seorang sinden pun harus kuat dalam fisik karena ia harus duduk dengan kedua kaki melipat selama pertunjukan.

Rakyat Merakyat

Zaman dahulu, bahkan hingga sekarang, wayang golek dapat dikategorikan sebagai salah satu kesenian murah meriah. Wayang golek adalah tontonan yang sangat merakyat. Setiap orang, tanpa batasan umur maupun strata sosial lain, berhak menonton pertunjukan wayang golek. Wayang golek biasanya dipentaskan malam hari sampai menjelang dini hari. Bahkan, tak jarang pula yang mementaskannya sampai pagi.

Cerita wayang golek tentu masih bersumber pada cerita atau kisah Mahabarata dan Ramayana. Isi cerita wayang golek biasanya diselipi unsur-unsur nasihat maupun sindiran yang disesuaikan dengan kejadian yang tengah berlangsung di pemerintahan. Wayang golek merupakan ciciren seni Sunda bernilai tinggi.

Pertunjukan seni wayang golek, aspek-aspek yang mendukung sebagai media komunikasi tradisional, adalah: "kredibilitas dalang, pesan dalam bentuk ceritera, dan peranan para pendukung (jurukawih dan wiraswara)". (Sujana, 1991:8). Unsur-unsur tersebut saling mengisi dan menunjang terhadap sukses/ tidaknya suatu pertunjukan seni wayang golek.

Bahan-bahan yang ditelaah dari buku acuan adalah bahan-bahan yang dianggap relevan  dan sejauh hal itu dapat digunakan untuk menganalisa data lapangan. Bahan-bahan itu terutama berkenaan dengan garapan padalangan yang mencakup 3 aspek pokok, yaitu: kredibilitas dalang, pesan dalam bentuk ceritera, dan peranan para pendukung.

Keahlian Dalang

Di dalam penelitian Rizalullah (2003) di jelaskan bahwa dalang fungsinya sebagai komunikator adalah "sekaligus sutradara (pengatur laku dan sabetan) dalam pertunjukan kisah wayang". (Suryana, 2002:219). Keahlian dalang antara lain: "memainkan wayang, penggunaan bahasa dan sastra, teknik vokal, dan teori penyutradaraan". (Sujana, 1991:8).

 "memainkan wayang berhubungan dengan keterampilan dalang di dalam ‘memainkan’ wayang, mencakup: menarikkan wayang, memerangkan wayang, dan menggerakkan gunung-gunungan". (Sujana, 1991:9).

Di dalam memainkan wayang, dalang terikat oleh bentuk, motif, dan desain gerak serta temponya yang telah diatur berlandaskan kepada karakter dan jenis kelamin wayang. Raja agung dan berwibawa seperti Semiaji, Duryodana, dan lain-lain cukup dimainkan dengan langkah-langkah kecil sederhana dengan tempo lambat; sementara wayang-wayang yang mempunyai karakter satria dan ponggawa, biasanya dimainkan dengan bentuk dan motif yang beragam.

Umpamanya gerak-gerak keupat III, sekar tiba, mincid gelayar, jangkung ilo, ngalaras, jalak pengkor, baksa, dan mamandapan untuk wayang-wayang seperti: Aradea, Samba, Ekalaya, Somantri, dan lain-lain: sedangkan gerak-gerak gedut, capang, laras konda, lengkah dalapan, pakbang, sonteng, dan baksa untuk wayang- wayang seperti: Baladewa, Sencaki, Seta, Aswatama, dan lain-lain.

Dalam pada itu wayang-wayang Danawa, seperti Prabakesah, Buta terong, Buta Endog, Buta Jengkol, dan Buta Balad lainnya tidak terikat oleh adanya patokan-patokan itu. Gerak-geraknya akan sangat tergantung kepada keterampilan dalang di dalam mencari kemungkinan-kemungkinan yang dapat menimbulkan kesan lucu dan kagum. Bahkan bukan dalam segi gerak saja, tetapi mencakup segala sesuatu yang berhubungan dengan segi kebentukan atau rupa wayang.

Penggunaan Bahasa Dan Sastra

Bahasa dan sastra padalangan berhubungan dengan teknik vokal dalang dan pemakaian lirik-liriknya selama pertunjukan berlangsung. Teknik vokal dalang serta pemakaian lirik-liriknya itu tercakup dalam aspek-aspek sebagai berikut: "murwa, nyandra, kakawen, paguneman, dan rumpaka lagu". (Soepandi, 1984:6).

Murwa adalah "garapan dalang diawal pertunjukan, yaitu melagukan beberapa kalimat bahasa Kawi dengan teknik-teknik lagu tertentu. Adapun maksud dan isi kandungan dalam lirik murwa itu ialah gambaran tentang sesuatu keadaan baik fisik maupun non fisik yang mengawali cerita yang disajikan". (Sujana, 1991:10). Umpamanya tentang sebuah negara dengan segala isinya, tentang sifat-sifatnya seorang raja, tentang suasana bathin seorang tokoh wayang, dan lain sebagainya.

Nyandra kelanjutan dari murwa, yaitu "bagian yang masih menerangkan atau menggambarkan sesuatu dengan teknik prolog". (Sujana, 1991:10). Pada umumnya penonton cukup mengerti, karena disamping bahasa Kawi, nyandra juga disajikan dalam bahasa Sunda.

Kakawen yaitu "lagu-lagu "sekaran" dalam bentuk puisi berbahasa Kawi yang berisi tentang penerangan, pendidikan, dan pepatah kepada masyarakat". (Sujana, 1991:10). Bagian ini dihidangkan oleh dalang setelah murwa dan nyandra. Sendon ialah sejenis kakawen yang mempunyai watak sedih yang oleh karenanya jenis kakawen ini digunakan pada adegan-adegan yang mengungkapkan kesedihan.

Sekalipun lirik lagunya tidak menjurus ke hal-hal yang seperti itu, namun pemakaian surupan madenda serta keterampilan dalang di dalam membawakannya, sendon cukup mampu melukiskan keadaan yang dimaksud. Jenis kakawen lainnya yaitu renggan, berasal dari kata rengga-an yang berarti hiasan. Kakawen ini kebanyakan digunakan untuk mengiringi gerak wayang dalam berbagai suasana bathinnya, seperti kaget, suka-cita, dan lain-lain.

Paguneman ialah "percakapan atau dialog antar tokoh-tokoh yang sedang diperankan, dengan tidak lupa memperhatikan tingkatan bahasa". (Sujana, 1991:11) Selain bahasa Sunda, dalam paguneman sering juga dipakai bahasa Jawa, terutama pada adegan-adegan kerajaan.

Rumpaka lagu menunjukan adanya koordinasi antar berbagai aspek pendukung terutama dalang dan pesinden. Pesinden harus betul-betul memahami setiap adegan sekaligus memahami pula kode-kode yang dilontarkan dalang. Dengan cara begitu, lagu beserta syair yang dibawakan sinden, betul-betul relevan dan mendukung suasana seperti yang dikehendaki dalang.

Teknik Vokal

Antawacana berhubungan dengan "teknik vokal dalang di dalam memerankan setiap tokoh wayang, yang oleh karena itu dalang dituntut mampu mampu membuat perbedaan warna suara, surupan, dan logat antar satu dengan yang lainnya". (Soepandi, 1984:13).

Suara ini biasa dipakai untuk memerankan wayang-wayang yang mempunyai karakter satria ladak atau lanyap, umpamanya: Kresna, Drestajumena, Dipati Karna, Ekalaya, dan lain-lain. Dan terakhir, sora palseto yaitu suara "palsu" untuk memerankan wayang-wayang seperti: Togog Wijamantri, Bilung Sarawita, dan lain-lain.

Surupan maksudnya yaitu, suara-suara yang telah diolah dan disesuaikan menurut karakter wayang, diolah lagi menurut surupan gamelan. Dan biasa yang menjadi jejer sora yaitu barang dan galimer. Adapun maksudnya tiada lain untuk membedakan peran satu dengan yang lainnya, andaikan dalam adegan itu tokoh-tokoh yang berperan karakternya yang sama.

Logat bicara tergantung pada "air muka" kesenian wayang golek, dalam arti tokoh-tokoh wayang yang kepalanya tunduk biasanya berbicara pelan dan lambat. Sebaliknya wayang-wayang yang kepalanya lurus dengan muka ke depan, biasa  berbicara dengan logat "lincah", atau dalam bahasa Sundanya capetang, teureugeus, terewes.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Wayang Arjuna - Pandawa Paling Tangguh
  • Berburu Ukiran Toraja
  • Fenomena Kegemaran Masyarakat terhadap Motor Tua
  • 3 Tari Tradisional Jawa Barat, Pemikat Mata Dunia Internasional
  • Angklung - Jenis Musik Tradisional Jawa Barat yang Mendunia
  • Sejarah dan Perkembangan Tari Jaipong
  • Berbagai Tari Tradisional Jawa Barat
  • Alat dan Seni Musik Tradisional
  • Mengenal Beragam Jenis Tarian Nusantara
  • Pertunjukan Wayang dan Jenis-Jenis Wayang
  • Serba-Serbi Seni Kuda Lumping
  • Mengenal Tokoh-Tokoh Wayang Kulit Yogyakarta dalam Kisah Ramayana
  • Mengenal Tari Nusantara
  • Gamelan Jawa Cermin Keselarasan Hidup
  • Say Yes untuk Kesenian Daerah
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA