Seni Wayang, Warisan Kuno yang Masih Dicintai

Jika menyebut kata wayang, apa yang terlintas di benak Anda? Tentu imajinasi sebagian besar orang akan berbeda. Wayang merupakan bentuk kesenian berupa tokoh-tokoh dalam beragam bentuk rekaan berbahan kayu, kulit, dan lain sebagainya.
Tokoh-tokoh rekaan ini kemudian dimainkan oleh seseorang yang disebut sebagai dalang, yang jarang terlihat oleh penonton. Ada juga wayang yang tokoh-tokohnya terdiri atas sekumpulan orang, yang biasa disebut sebagai wayang orang. Namun, kesan yang terlintas ketika menyebut wayang biasanya adalah suatu hal yang sangat tradisional.
Lekat dengan Agama
Ya, kesenian wayang meupakan salah satu warisan budaya kuno yang masih eksis hingga saat ini. Dalam sejarahnya terlacak bahwa wayang, berasal dari kebudayaan masa lalu terkait dengan kegiatan religius manusia zaman dulu.
Mereka memainkan wayang sebagai bagian dari pemujaan terhadap dewa dalam kepercayaan animisme. Misalnya untuk menyambut dan merayakan panen, ruwatan, atau kegiatan penebusan dosa, menghindari mala petakan dan sebagainya.
Sejarah mencatat wayang mulai menyebar lebih cepat sejak abad ke-9 Masehi. Meski cikal bakal wayang sudah dikenal sejak ribuan tahun sebelum Masehi. Kesenian ini semakin mendapatkan tempat ketika raja-raja di India yang lekat dengan agama Hindu, mengajarkan kepercayaannya lewat wayang.
Mereka juga menceritakan berbagai nilai-nilai kehidupan melalui kesenian ini. Anda tentu mengenal kisah klasik populer Ramayana dan Mahabarata.
Demikian pula di Indonesia. Penyebaran wayang tidak lepas dari peranan para raja di Jawa, seperti Jayabaya pada abad ke-12. Wayang semakin dikenal dan makin lekat sebagai budaya Jawa, karena para wali songo penyebar agama Islam di Jawa juga memanfaatkan kesenian ini dalam mengenalkan nilai-nilai Islam.
Wayang Sebagai Seni
Dalam perkembangan berikutnya, lambat laun wayang mulai dipisahkan dari urusan kepercayaan dan agama. Meski masih kental dengan nilai-nilai Hindu, namun karena peminatnya berasal dari beragam kalangan, maka wayang pun mampu menembus batas-batas tersebut.
Siapa pun bisa memainkan dan menikmati wayang, tanpa harus terpengaruh oleh batas budaya, adat istiadat atau agama. Mulai dari Jawa Timur, Jawa Tengah sampai Jawa Barat mengenal wayang dengan berbagai bentuknya masing-masing.
Masyarakatnya pun akrab dengan wayang, karena tak jarang menampilkan kesenian ini dalam berbagai kegiatan, seperti sunatan atau acara kawinan. Bahkan, pemerintah pun baik pusat maupun daerah, tak jarang menanggap wayang semalam suntuk pada acara-acara peringatan hari besar.
Kini, wayang menjadi salah satu kesenian kebanggaan Indonesia. Meski sesungguhnya berasal dari India, namun perkembangannya jauh melebihi daerah asalnya.
Wayang di Indonesia memiliki citarasa khas yang sangat berbeda. Tak salah jika badan internasional di bawah naungan PBB yaitu Unesco, mengakuinya sebagai salah satu aset budaya dunia.
Banyak Ragam Wayang
Pada awalnya wayang hanya terdiri atas satu jenis cara pertunjukkan. Namun, terus berkembang menjadi banyak sekali ragamnya, mungkin di atas 10 jenis dan akan terus bertambah ragamnya. Dulu orang mengenal wayang purwa yang paling mirip dengan aslinya.
Kemudian, masyarakat juga mengenal wayang kulit, wayang golek (Jawa Barat), wayang krucil, wayang beber, wayang gedog, wayang suluh, wayang titi, wayang madya, wayang wahyu, sampai wayang orang.
Dari beragam jenis tersebut mungkin sebagian di antaranya masih asing. Memang yang kemudian paling banyak berkembang adalah wayang kulit, wayang golek dan wayang orang.
Pada zaman modern ini, sejumlah seniman kemudian membuat beragam variasi terhadap wayang. Misalnya, ada wayang suket. Jika dalang pada wayang umumnya tak terlihat maka pada wayang jenis ini, dalangnya ikut nampang. Temanya pun lebih kontemporer.
Atau wayang urban. Jenis wayang variasi terbaru yang lebih trendi, dinamis, dan menyasar segmen anak muda. Lagu yang mengiringinya pun bukan lagi sederetan gamelan melainkan musik anak muda. Perubahan-perubahan ini menjadi salah satu tanda bahwa wayang masih dicintai masyarakat.






