Ketika Cinta Bertasbih: Film Drama Percintaan Islami

Perfilman Indonesia seperti tengah menemukan masanya. Perlahan bangkit dan produsen film berama-ramai menyuguhkan film yang cukup bervariasi. Di tengah maraknya penayangan film-film berbau porno yang berselimut cerita hantu, film-film bertema cinta religius muncul sebagai variasi. Salah satunya adalah Ketika Cinta Bertasbih.
Film ini muncul setelah film serupa berjudul Ayat-ayat Cinta mendapat sambutan yang cukup baik dari masyarakat Indonesia. Kedua film ini berasal dari sebuah novel yang ditulis oleh penulis yang sama. Habiburrahman El Shirazy adalah sosok penulis di balik kesuksesan dua novel sekaligus dua film tersebut.
Ketika Cinta Bertasbih adalah film yang ditayangkan di bioskop pada 2009 lalu. Sebagai sebuah film baru, Ketika Cinta Bertasbih juga banyak menggunakan artis-artis baru. Pemilihan para pemain film ini dilakukan melalui tahap audisi.
Setelah melalui beberapa tahap, dipilihlah Kholidi Asadil Alam, Oki Setiana Dewi, Andi Arsyil Rahman dan Meyda Sefira. Selain para pemain baru, film ini juga melibatkan beberapa pemain kawakan seperti Deddy Mizwar, Alice Norin, Niniek L. Karim, Slamet Rahardjo, dan El Manik.
Film ini disutradarai oleh Chaerul Umam. Seorang sutradara yang juga mengarahkan Deddy Mizwar dan Lidya Kandouw dalam film Ramadhan dan Ramona. Sebuah film komedi romantis yang diproduksi pada 1986 lalu.
Film ini dinobatkan sebagai film dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang tahun 2009. Jumlah peminat untuk film ini mencapai angka 3 juta orang. Keberhasilan film ini masih terus ingin diperpanjang, namun sekuel lanjutannya tidak terlalu mendapat sambutan yang baik. Ketika Cinta Bertasbih 2 hanya mampu menarik perhatian 1,5 juta penonton.
Sinopsis Ketika Cinta Bertasbih
Film ini memiliki tokoh utama bernama Khairul Azzam yang diperankan oleh Kholidi Asadil Alam. Ia adalah seorang mahasiswa yang melanjutkan kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo. Azzam, adalah seorang lelaki dewasa yang tampan, cerdas dan datang dari sebuah kampung di Jawa Tengah. Meskipun datang dari kampung, Azzam tidak kampungan. Ia memiliki budi pekerti yang sangat baik. Kuliahnya di Kairo pun berkat beasiswa karena kepintarannya.
Kepintaran Azzam berlanjut di luar negeri. ia mendapatkan predikat sebagai mahasiswa yang lulus dengan nilai terbaik. Azzam ditimpa berita duka, ayahnya meninggal. Sebagai anak pertama, Azzam merasa berkewajiban untuk bertanggung jawab terhadap kehidupan ibu dan adik-adiknya. Sebagai putra Jawa, usaha yang dilakukan Azzam pun tidak jauh dari budaya tanah kelahirannya. Azzam berjualan tempe dan bakso di Kairo.
Azzam menjual tempe dan baksonya diwilayah sekitar KBRI Indonesia di Kairo. Hal itulah yang mempertemukan Azzam dengan putri dari duta besar bernama Eliana Pramesthi yang diperankan oleh Alice Norin. Eliana adalah seorang wanita yang cantik sekaligus berprestasi.
Kecantikan Eliana menarik hati Azzam. Namun, kekaguman Azzam hanya berakhir di hati. Ia mempertimbangkan banyak hal untuk menjalin hubungan dengan Eliana. Hingga akhirnya Azzam dijodohkan oleh supir KBRI.
Azzam dijodohkan dengan Anna. Tanpa diketahui oleh Azzam, Anna sudah lebih dulu dikhitbah oleh Furqon. Furqon yang mencintai Anna ternyata berbuat sesuatu yang pada akhirnya membuat semua rencana Furqon menikahi Anna gagal. Konflik percintaan antara Azzam, Eliana, Anna dan Furqon menjadi daya tarik tersendrii di film ini. Cerita cinta dalam film ini tentu saja dikemas secara islami.






