logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    Idul Adha

Menyampaikan Khutbah Idul Adha Bahasa Jawa


Ilustrasi khutbah idul adha bahasa jawa
Orang Jawa terkenal sebagai kelompok masyarakat yang selalu menjunjung tinggi nilai nilai budaya milik mereka. Salah satu bentuk budaya tersebut adalah bahasa. Memang meski hampir semuanya bisa menggunakan bahasa Indonesia, namun ketika melakukan komunikasi sehari hari dengan teman atau saudaranya sendiri mereka lebih suka menggunakan bahasa Jawa. Maka tidak mengherankan ketika dalam pelaksanaan shalat di hari Idul Adha banyak ustad yang menyampaikan khutbah Idul Adha bahasa Jawa pada masyarakat golongan ini.

Tujuan

Tujuannya tentu saja agar pesan yang disampaikan juga bisa sampai dan masuk ke dalam hati dan sanubari mereka. Sehingga tujuan dakwah Islam juga lebih cepat mengena dan tersebar di berbagai pelosok daerah Jawa. Selain itu, masih banyak orang Jawa terutama yang berusia cukup lanjut, tidak terlalu paham bahasa Indonesia. Untuk itulah penggunaan bahasa Jawa ini menjadi salah satu cara memberikan pengetahuan kepada semua orang terutama yang tidak menggunakan bahasa Indoneisa.

Dengan menggunakan bahasa Jawa, orang yang pulang kampung yang telah merantau jauh dan lama tidak pulang, akan merasa menikmati keberadaannya di tanah Jawa dengan seutuhnya. Bahasa Jawa ini akan membuat keakraban dan kedekatan secara emosional dengan sesama. Ketika mendengar bahasa Jawa di tanah Jawa, maka rasa bahagia itu akan semakin lengkap. Perjalanan jauh menuju kampung halaman menjadi tidak terasa karena terselimuti oleh rasa bahagia itu tadi.

Untuk itulah para ulama yang ingin menyebarkan Agama Islam di pulau Jawa, selain mengajarkan ajaran agama yang paling mulia ini juga menyatukan diri dalam budaya masyarakat setempat. Salah satunya yaitu menyampaikan khutbah hari Raya Idul Adha Bahasa Jawa ketika hari besar bagi umat Islam itu tiba. Tema yang disampaikan bisa mengenai apa saja asalkan tidak lepas dari bahasan tentang keutamaan berkurban, hubungan antara orangtua dan anak, pengabdian kepada Allah Swt, dan hal-hal atau berita yang berkaitan dengan apa yang sedang terjadi.


Isu ini sangat penting diangkat. Terutama kalau isu atau tema itu dapat mempengaruhi pemikiran atau pemahaman tentang keislaman umat. Untuk itulah para khatib perlu mengetahui tentang apa yang sedang hangat terjadi di sekelilingi. Tentu saja gaya penyampaiannya harus diperhatikan dan waktu penyampaian tidak terlalu panjang agar tidak menimbulkan kebosanan yang akut. Tidak jarang jamaah yang tidak tahu bahwa khutbah itu merupakan bagian dari sholat eid, meninggalkan tenpat sholat.

Padahal, karena khutbah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sholat eid, maka jamaah tidak boleh meninggalkan tenpat sholat sebelum khutbah berakhir. Namun yang terlihat adalah banyak juga jamaah yang meninggalkan lapangan tempat sholat, merokok, bercerita, dan melakukan hal lain. Inilah yang cukup disayangkan. Hal ini juga menunjukkan bahwa hukum ini belum terlalu dipahami oleh banyak orang. Untuk itulah para pendakwah tetap harus lebih sering menyebarkan hukum-hukum yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.

Berbagi Ilmu

Para pendakwah bukanlah satu-satunya orang yang seharusnya melakukan hal ini. Masyarakat sendiri harus mampu mendidik dirinya sendiri. Hanya saja kedangkalan ilmu dan pengalaman membuat mereka tidak mengerti dan mungkin saja tidak tahu bagaimana cara mendapatkan ilmu itu. Inilah mengapa mereka masih membutuhkan para pendakwah agar memberikan ilmu yang memang harus didapatkan.

Masyarakat Jawa yang masih banyak menganut Islam abangan atau pemahaman Islam yang digabungkan dengan budaya atau pengaruh agama Hindu, juga harus diberikan pengertian terus-menerus. Jangan sampai pemahaman ini menjadikan mereka melakukan dosa besar. Apalagi hingga melakukan syirik kepada Allah Swt. Tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak masyarakat Jawa yang membuat sesajen dan melakukan banyak ritual pada saat-saat tertentu.

Pemahaman tentang hari baik dan bulan baik serta tolak balak juga masih banyak dilakukan dan dipahami sebagai sesuatu yang tidak menjadi masalah. Padahal hal-hal tersebut dilarang dalam Islam. Kalau yang menyampaikannya adalah orang yang bukan berasal dari tanah Jawa dan tidak bisa berbahasa Jawa, maka hal ini mungkin akan menjadi sedikit sulit. Dengan pendekatan budaya dan pendekatan secara pribadi, seorang pendakwah akan mampu memberikan pengertian baik dengan cara yang halus dan bertahap.

Masuk Islam itu haruslah menyeluruh. Bila memang telah mengaku sebagai seorang muslim, maka tidak boleh lagi melakukan hal-hal yang tidak berasal dari ajaran Islam. Tidak boleh setengah-setengah dan mencampurkan hal-hal yang tidak perlu dengan hal-hal yang dianggap mempunyai dalil yang nyata. Islam itu telah sempurna dan tidak perlu menambahkan lagi apapun kepada ajaran Islam. Namun sayangnya, masih sangat banyak orang yang tidak peduli dan tetap berusaha memegang teguh budaya dan segala yang yang telah diyakininya sejak ia kecil.

Pesan yang Disampaikan

Khutbah Idul Adha Bahasa Jawa yang disampaikan kepada orang Jawa tentu juga tetap mengandung nilai nilai ajaran Islam yang sebenarnya juga bisa menyatu atau sesuai dengan pola pikir masyarakat Jawa yang selalu menghormati nilai budaya yang mereka miliki, antara lain adalah :

1. Semangat gotong royong
Orang Jawa terkenal dengan pola hidupnya juga suka bergotong royong ketika sedang melakukan sesuatu, terutama untuk kepentingan orang banyak atau umum. Maka para ulama juga bisa menyampaikan khutbah Idul Adha dalam Bahasa Jawa tentang hubungan pelaksanaan penyembelihan binatang kurban serta semangat gotong royong yang juga sangat sesuai dengan nilai nilai ajaran agama Islam.

Tidak menjadi masalah kalau ingin melakukan penyembelihan sendiri dan dibagikan sendiri. Namun, bila semua rentetan acara itu dilakukan bersama-sama, maka hal ini jauh lebih baik. Apalagi kalau dengan adanya cara kurban ini, kebersamaan dalam satu kampung akan semakin terasa. Banyak masjid yang menyelenggarakan kurban juga membuat acara makan bersama. Di tanah Jawa, hari Raya Haji atau Hari Raya Idul Adha memang tidak ramai seramai Hari Raya Idul Fitri. Orang lebih terfokus pada pelaksanaan kurban.

Banyak unsur yang harus dipelajari ketika menyembelih hewan kurban ini. Misalnya, siapa saja yang berhak dan berapa hak dari yang berkurban. Tidak jarang yang berkurban ini malah minta bagian tertentu lebih banyak. Padahal sesungguhnya yang paling penting adalah nita berbagi dan jika panitia memberi bagian yang berkurban, seharusnya diterima saja dengan lapang dada. Akan lebih baik kalau semakin banyak bagian yang dibagikan daripada yang dimakan sendiri.

2. Tolong menolong
Ulama atau ustad yang ingin mengajak masyarakat Jawa untuk menjalankan ajaran Islam dengan lebih taat juga bisa menyampaikan materi atau topik ini ketika menyampaikan khutbah Idul Adha dalam Bahasa Jawa. Keterikatan dan merasa lebih bisa menerima apa yang disampaikan adalah sesuatu yang sangat penting. Sampaikan dengan bahasa yang mudah dan bahasa yang dimengeri oleh pendengar. Itulah konsep yang harus dipahami dengan baik oleh setiap pendakwah.

Selain menjadi bagian dari budaya Jawa, sifat suka tolong menolong itu juga sangat dianjurkan oleh Islam. Contoh yang bisa diambil misalnya tentang riwayat Nabi Muhammad yang selama menjalani tugasnya sebagai rasul juga suka menolong orang lain. Masyarakat Jawa sangat baik dan sangat senang bisa berbagi dengan orang lain. Sudah menjadi budaya bahwa mereka senang membahagiakan orang lain.

3. Memupuk rasa persaudaraan
Ini juga merupakan materi atau topik bagus yang bisa disampaikan dalam khutbah Idul Adha dalam Bahasa Jawa. Karena masyarakat Jawa juga senang sekali untuk menjalin persahabatan atau persaudaraan dengan siapa saja, tanpa memandang pangkat atau golongan. Maka tidak mengherankan bila masyarakat Jawa dengan senang hati mau memeluk agama ini karena ajaran yang disampaikan juga sesuai dengan budaya mereka selama ini.

4. Mau berkorban
Orang Jawa juga dikenal dengan rasa solidaritasnya yang tinggi kepada sesama manusia. Mereka rela berkurban untuk kebahagiaan orang lain. Hal ini tentu sangat sesuai sekali dengan inti atau tujuan dari pelaksanaan penyembelihan binatang kurban pada hari Idul Adha. Maka sangatlah tepat bila ustad atau ulama juga melakukan khutbah Idul Adha dalam Bahasa Jawa dengan mengambil tema ini sebagai pokok bahasan atau pesan yang ingin disampaikan.

Tema-tema tersebut tidak akan menjadi tema yang basi karena akan selalu ada dalam hati masyarakat Jawa.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Khutbah Kedua Idul Adha: Kandungan Materi Khutbah Idul Adha
  • Makna Qurban - Hati-Hati Keliru Memahaminya
  • Tema Pidato Idul Adha
  • Pentingnya Ucapan Selamat Idul Adha
  • Membuat Materi Khutbah Idul Adha
  • Teknik Pemotongan Hewan Kurban
  • Puasa Idul Adha dan Puasa Arafah
  • Menelisik Puasa Sunah Idul Adha
  • Fikih Hewan Qurban Idul Adha
  • Kartu Ucapan Idul Adha
  • Ketentuan Pelaksaan Qurban
  • Memahami Makna Idul Adha
  • Materi Khutbah Idul Adha
  • Amalan Menjelang Lebaran Idul Adha
  • Hikmah Khotbah Idul Adha
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA