Materi Khutbah Idul Adha
Idul Adha merupakan hari raya besar kedua ummat Islam setelah idul fitri. Idul Adha atau yang lebih akrab disebut dengan lebaran haji atau hari raya kurban, merupakan bentuk penghormatan dan pemuliaan Islam terhadap para jamaah haji. Yang telah menyempurnakan pelaksanaan rukun Islam yang ke lima yakni melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu.
Hari Raya Idul Adha
Ratusan ribu ummat muslim diseluruh penjuru dunia berkumpul untuk melaksanakan wukuf di padang arafah. Tak lain hanyalah untuk memuji dan mengagungkan nama Allah yang Maha Suci dan Maha Besar. Khutbah Idul Adha tak lain juga semata-mata untuk mengagungkan kebesaran Sang Maha Pencipta yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih.
Idul Adha sebagai salah satu hari raya besar ummat Islam, layaknya hari raya idul fitri juga didahului dengan ibadah puasa sunnah. Sebelum berangkat menunaikan ibadah shalat Idul Adha disunnahkan untuk tidak menyantap makanan apa-apa atau minum. Hal ini berlawanan dengan sunnah yang dianjurkan sebelum menunaikan shalat Idul Fitri. Pada Idul Fitri, kita disunnahkan makan-makan terlebih dahulu sebelum berangkat menunaikan ibadah shalat Idul Fitri.
Shalat Idul Adha dan Khutbahnya
Salah satu hal yang menambah khidmat dan khusuknya kita dalam menjalani hari raya Idul Adha adalah pada saat kita melaksanakan shalat Idul Adha. Dan dalam shalat ini, hal yang akan paling sangat berkesan tentunya sejauh mana kita memaknai dan menyimak khutbah Idul Adha yang disampaikan seorang khatib.
Khutbah merupakan bagian dari rukun shalat. Layaknya kita sedang membaca Al-fatihah dalam shalat. Oleh sebab itu pada saat khatib tengah berada di atas mimbar untuk berkhutbah, maka kita tidak diperkenankan berbicara, ngobrol atau melakukan aktivitas tak penting lainnya. Ingat bahwa khutbah merupakan bagian dari rukun shalat itu sendiri.
Berikut ini beberapa poin penting yang biasanya terkandung sebagai muatan khutbah Idul Adha yang disampaikan oleh seorang khatib;
1. Pemaknaan Hakikat Berkurban
Ulasan yang biasanya kerap kita dengar adalah sejarah turunnya syariat berkurban yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim beserta putranya Ismail. Belajar dari ketulusan seorang Ibrahim dalam mengikhlaskan putranya Ismail untuk disembelih.
Yang dengan keikhlasan itu, Allah tidak menyia-nyiakan ketaatan seorang Ibrahim dan Ismail. Maka Allah pun mengganti Ismail yang akan dipotong dengan seekor kambing. Riwayat ini juga sekaligus mengajarkan dan mencontohkan ketaatan seorang anak terhadap orang tuanya yang berupaya melaksanakan syariah Allah dengan benar, meski dengan pengorbanan nyawa sekalipun.
2. Kurban dan Manfaat Sosial
Poin penting lain yang perlu disampaikan dalam khutbah Idul Adha adalah manfaat dan peran sosial yang akan muncul dari ibadah berkurban ditengah masyarakat. Islam adalah agama yang mengajarkan kepekaan dan kepedulian yang sangat besar kepada masyarakat.
Disyariatkannya ibadah kurban bagi kaum muslimin tak lain semata-mata sebagai salah satu bentuk rasa saling berbagi, peduli dan kecintaan yang tinggi terhadap masyarakat kurang mampu yang merasa kesulitan untuk mengkonsumsi makanan mewah seperti daging sapi misalnya.
Ibadah kurban ditujukan bagi mereka yang memiliki kondisi ekonomi sulit. Sehingga akan sangat terasa keberkahan dari hari raya Idul Adha yang mereka jalani. Bukan untuk golongan orang-orang ekonomi elit yang menjadikan daging sapi atau kambing sebagai makanan sehari-hari.
3. Pemaknaan Kurban pada Kondisi Kehidupan Bernegara
Hakikat kurban adalah pengorbanan. Ditengah keprihatinan bangsa Indonesia atas segala musibah yang datang beruntun memberikan tuntutan dan anjuran kepada kita untuk terus memupuk rasa kepedulian terhadap sesama.
Rasa solidaritas dan kepekaan terhadap nasib saudara-saudara kita yang tengah dilanda bencana menjadi bentuk aplikasi nyata dari pelaksanaan ibadah kurban. Inilah beberapa hal penting yang bisa menjadi muatan khutbah Idul Adha.






