Kimia Tanah: Filosofi Tanah Lempung dan Tanah Merah
Anda tentu mengenal tanah lempung dan tanah merah. Beradasarkan kimia tanah, secara umum perbedaannya adalah sebagai berikut.
• Tanah lempung terbentuk oleh partikel silika dan alumunium yang halus dengan diameter kurang dari 4 mikrometer, sehingga terasa lebih padat karena ikatan partikel di dalamnya lebih erat. Itulah sebabnya tanah lempung terasa berat dan sulit diolah.
• Tanah merah tersusun atas partikel yang berukuran besar, lebih dari 4 mikrometer, sehingga ikatan partikelnya mudah terlepas dan pula tidak efisien dalam menahan kelembaban dan unsur hara dalam tanah.
Perbedaan Tanah Lempung dan Tanah Merah Saat Menghadapi Tekanan
Ada perbedaan mendasar antara tanah lempung dan tanah merah. Perbedaan keduanya akan terlihat dengan jelas saat mengalami tekanan, itulah yang menyebabkan pengunaan kedua jenis tanah ini berbeda.
Tanah lempung sangat solid-erat, sehingga apabila ditekan tidak membuatnya menjadi tercerai, putus atau terbenam. Tapi ia akan menyembul keluar seakan “melawan” dan memberikan reaksi yang sepadan dengan mencari jalan keluar lain yang tak terduga. Oleh karenanya, tanah lempung cocok untuk dijadikan bahan pembuat keramik. Harganya pun akan berlipat kali lebih mahal dan ditempatkan di etalase yang mewah.
Lain halnya dengan tanah merah. Bila mengalami tekanan, maka ia akan segera padat, merapat, masive ,dan stabil. Sehingga tanah merah identik dengan “tanah urugan” karena cocok sebagai bahan stabilisasi tanah yang tugasnya meredam ketidakstabillan di suatu tempat. Harganya pun akan jatuh.
Tanah merah adalah satu-satunya material yang harganya jauh lebih murah dalam satuan volume (kubik) daripada satuan luas (persegi). Mana yang Anda pilih tanah merah 1000 m³ atau 1000 m²?
Oeh karena dijadikan bahan urugan, maka tanah merah akan diinjak, dilindas dan dilupakan keberadaanya setelah berbagai property megah berdiri di atasnya.
Sifat kedua tanah ini juga bisa dianalogikan dengan karakter dan sifat manusia.
Manusia Tanah Lempung
Buya Hamka, Soekarno, Sayyid Qutb, dan Nelson Mandela adalah contoh nyata orang yang bertipikal tanah lempung.
“Walau tubuhku dipenjara, namun pikiranku tak bisa dipenjara”. Kalimat itulah yang meluncur dari bibir Buya Hamka, tokoh karismatik asal Sumatra Barat.
Ternyata benar, sejarah membuktikan selama di penjara, belasan buku telah berhasil dituntaska. Buah pikirannya melanglangbuana merasuki pikiran anak muda yang progresif, mengguncangkan tanah Minangkabau tempat ia berasal.
Hal yang sama dilakukan oleh Soekarno, Sayyid Qutb, dan Nelson Mandela. Buya Hamka dianggap mbalelo terhadap hukum adat di tanah kelahirannya.
Soekarno dianggap bermimpi saat mewacanakan Indonesia merdeka, Sayyid Qutb dianggap nekad dengan gagasan Pan Islamnya, Nelson Mandela dianggap ngawur karena ingin menghapus apartheid yang telah menggurita.
Mereka adalah contoh dari sedikit orang yang mampu terus melawan dengan menyalakan api kekuatan pikiran sehingga dapat memberikan pencerahan bagi banyak orang walau dengan segala keterbatasan. Dinginnya dinding penjara bukanlah hambatan, kerasnya perlakuan rezim penguasa bukanlah halangan, ditelikung dari belakang tidak bisa menggoyahkan. Berakhir di tiang gantungan, adalah pembebasan.
Manusia Tanah Merah
Para oportunis, pragmatis yang bermental ABS (Asal Bos Senang) adalah contoh orang yang bertipe tanah merah. Mereka yang hanya dijadikan perpanjangan tangan dan corong para penguasa, owner, bos, atau atasan dengan tugas utama meredam dan membungkam ketidak-nyamanan yang terjadi di daerah kekuasaannya.
Mereka tidak memberikan solusi, tapi malah mengkooptasi. Tak peduli berapa banyak yang tersakiti mereka hanya peduli dengan diri sendiri.
Namun suatu saat nanti pastikan terjadi, tanah lempung dipajang di etalase dengan penampilan dan harga yang pantas, sementara sang tanah merah akan dilupakan dan terlindas!
Saya mengajak Anda menjadi tanah lempung dan bukan tanah merah. Masih ada waktu untuk berbenah.






