logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    Ali Bin Abi Thalib

Meneladani Kisah Ali bin Abi Thalib


Ilustrasi kisah ali bin abi thalib

Kisah Ali bin Abi Thalib sebagai pemuda tangguh, pejuang Islam, kuat dalam mempertahankan prinsip hidup seyogyanya patut dijadikan sebagai suri tauladan bagi kehidupan pemuda di masa sekarang ini, yang sudah cenderung terkooptasi oleh pola pikir hedonis dan pragmatis.  Ibunya Fatimah binti Asad, bin Hasyim. Saudaranya: Uqail, Jafar, Ummu Hani, Thalib.

Pejuang Muda

Kisah Ali bin Abi Thalib penuh dengan drama yang sarat perjuangan untuk menegakkan dakwah Islam. Ia tumbuh menjadi pemuda yang lebih matang dari umurnya. Perawakannya juga menunjukkan kematangan, kekuatan, dan sikap tegas yang jarang dipunyai oleh pemuda seusianya. Ia sering diajak Rasulullah untuk beperang membela dien Islam. Komitmen dan jiwanya telah ia tasbihkan untuk perjuangan Islam.

Dalam usianya yang masih muda, banyak sekali peperangan yang telah ia ikuti, seperti perang al-Ahzab dan berperan aktif dalam menembus benteng Khaibar. Julukan sebagai “pahlawan Islam yang pertama” pun berada di pundaknya. Tak heran ia menjadi orang kepercayaan Nabi dan disegani oleh musuh dan sahabat yang lainnya.

Sifat Ali bin Abi Thalib

Dalam konteks fisik, Ali bin Abi Thalib tak beda jauh dengan perawakan bangsa Arab secara umum, yakni tegap, berpundak yang lebar, lengannya berotot, lehernya berisi, dan rambutnya di pinggir kepala. Hal ini terungkap dalam deskripsi kitab Usudul Ghaabah fi Ma'rifat ash Shahabah. Ali itu berkulit hitam, berbadan besar, berjenggot, pendek, berani, pantang menyerah, pemaaf, tegas dalam berbicara, dan berwibawa.

Ali juga terkenal dengan keberaniannya. Ia tak pernah merasa gentar melawan musuh-musuhnya. Hanya perlu beberapa gerakan saja untuk menjatuhkan lawan-lawan. Ia bergerak bak singa yang cekatan, melakukan sergapan dengan sangat tangkas, dan membuatnya tak lagi berkutik. Namun dibalik semua itu, ternyata Ali sangat penyabar, lembut dan penuh perhatian terutama kepada mereka yang satu haluan dan bergerak dalam perjuangan Islam.

Ali dikenal sebagai pribadi zuhud yang tidak menomorsatukan materi atau hal-hal yang berbau duniawi. Dalam berpakain, sekalipun ia khalifah tak pernah sekalipun menggunakan pakaian dari bahan yang mewah seperti sutera, cukup sekadar menutupi tubuhnya dan sengatan panas matahari. Makanannya pun cukup roti kering, cuka dan minyak.

Ali dan Pedang Zulfikar

Ada slogan khusus ketika itu untuk Ali bin Abi Thalib, berbunyi "Tak ada pedang yang bisa menyamai tajamnya pedang zulfikar. Tak ada pemuda yang memiliki ketangguhan mirip Ali”. Slogan tersebut pantas disandangkan kepada Ali bin Abi Thalib, karena ia begitu perkasa dalam peperangan. Ketika perang Badar terjadi, sebanyak 70 orang kaum Quraisy yang tewas dalam peperangan berdarah tersebut. Ali ikut dalam peperangan tersebut. Konon, dari jumlah 70 itu, sepertiganya yang tewas itu dipersembahkan oleh Ali bin Abi Thalib.

Tanya- Jawab Ali dengan Kaum Khawarij

Dikisahkan, ada sepuluh orang pemuka khawarij ingin membuktikannya. Mereka pun berdiskusi. Mereka sepakat untuk menanyakan satu pertanyaan, tapi tidak di waktu yang sama. Jika Ali memberikan alasan yang berbeda, maka benar apa yang dikatakan Rasulullah mengenai dirinya.

Mulailah mereka bergiliran mendatangi rumah Ali bin Abi Thalib. Dimulai dari orang yang pertama dan bertanya,”Hai Ali, mana lebih utama ilmu atau harta?”

“Ilmu,” jawab Ali.

“Apa alasannya?”

“Ilmu adalah warisan para nabi, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Firaun dan lainnya.”

Setelah mendengar jawaban Ali, penanya pertama pun pergi meninggalkannya. Tak lama kemudian, penanya kedua datang menemui Ali. Namun Ali tetap menjawab bahwa ilmu lebih utama dari harta. Meski, setiap pertanyaan selalu diberikan alasan yang berbeda.

“Ilmu akan selalu menjagamu, sedangkan harta kamulah yang mesti menjaganya,” jawab Ali kepada penanya kedua.

“Pemilik harta itu musuhnya banyak, sedangkan pemilik ilmu sahabatnya banyak,” jawab Ali kepada penanya ketiga.

Untuk penanya keempat, Ali menjawab, “Harta akan berkurang jika digunakan, tapi ilmu akan bertambah jika kamu pergunakan.”

Untuk penanya kelima, Ali menjawab, “Pemilik harta aka nada yang menjulukinya si Pelit, tapi pemilik ilmu akan selalu dihormati dan dimuliakan.

Untuk penanya keenam, Ali menjawab, “Harta perlu dijaga dari tangan pencuri, tapi ilmu tak perlu menjaganya.”

Untuk penanya ketujuh, Ali menjawab, “Pemilik harta pada hari kiamat akan dimintai tanggungjawab, tapi pemilik ilmu akan mendapat syafaat.”

Untuk penanya kedelapan, Ali menjawab, “Harta jika dibiarkan dalam waktu yang lama akan rusak, tapi ilmu tak akan musnah dan lenyap.”

Untuk penanya kesembilan, Ali menjawab, “Harta membuat hati menjadi keras, tapi ilmu menjadi penerang hati.”

Untuk penanya kesepuluh, Ali menjawab, “Pemilik harta akan dipanggil Tuan besar, pemilik ilmu akan dipanggil ulama atau ilmuwan”.

Lalu Ali berkata lagi,”Sekiranya seluruh orang yang hidup di dunia ini datang dan bertanya kepadaku di saat aku masih hidup tentang keutamaan ilmu dibanding harta, maka jawabanku tetap sama. Ilmu lebih utama dari harta, meski nantinya alasan yang kuutarakan berbeda.”

Akhirnya, kesepuluh orang khawarij tersebut kembali kepada ajaran Rasulullah Saw.

Kisah Sedekah Ali bin Abi Thalib

Suatu hari setelah pulang dari rumah Rasulullah, Ali melihat Fatimah sedang berdiri  di teras rumah.

“Hai isteriku, apakah ada makanan hari ini untuk suamimu?” tanya Ali.

“Demi Allah, aku tak memiliki apa-apa kecuali uang enam dirham, hasil upah memintal bulu-bulu domba milik Salman al-Farisi. Dan aku berencana ingin membelikan makanan untuk Hasan dan Husain.”

“Biar aku saja yang membelikannya. Berikan uangnya kepadaku!”

Fatimah pun memberikan uang tersebut.

Ali pun bergegas pergi membeli makanan untuk kedua anaknya. Di tengah jalan, ia ketemu dengan seorang laki-laki yang berkata, “Siapa yang mau meminjami Tuhan Yang Maha Pengasih dan Yang Selalu Menepati Janji.”

Ali pun memberikan uang enam dirham tersebut kepadanya. Kemudian pulang ke rumahnya dengan tangan kosong.  Fatimah yang melihat Ali pulang dengan tangan hampa langsung menangis.

“Mengapa kamu menangis?”

“kenapa kamu pulang tanpa membawa sesuatu? Kemana uang yang enam dirham tadi?”

“Isteriku yang mulia, aku telah mememinjamkannya kepada Allah.”

Mendengar jawaban Ali, Fatimah berhenti menangis dan gembira. “Sungguh! Aku mendukung tindakannmu!”

Lalu Ali pun keluar rumah karena ingin bertemu Rasulullah Saw. Di tengah jalan, ia disapa seorang laki-laki, “Hai Abu Hasan, maukah kau beli untaku?”

“Aku tak punya uang,” kata Ali

“Bayarnya belakangan saja.”

“Berapa?”

“Seratus dirham.”

“Baik. Kalau begitu aku beli.”

Setelah diberikan untanya kepada Ali, dan Ali pun ingin kembali pulang meletakkan untanya di sekitar ruamhnya. Di tengah perjalanan, ia disapa seorang laki-laki.

“Hai Abu Hasan, apakah unta tersebut akan kau jual?”

“Ya.”

“Berapa?”

“Tiga ratus dirham.”

“Ya, aku beli.”

Lalu orang tersebut membayarnya dengan kontan 300 dirham dan mengembil unta tersebut.

Ali pun pulang ke rumahnya. Fatima tersenyum melihat wajah Ali yang sumringah.

“Kelihatan  begitu gembira, apa yang terjadi suamiku?”

“Isteriku yang mulia, kubeli unta dengan bayar tempo seharga 100 dirham. Lalu kujual lagi 300 dirham dengan kontan.”

“Aku setuju.”

Setelah berdialog di rumahnya, Ali pamit kepada Fatimah mau menemui Rasulullah Saw. di mesjid. Ketika masuk masjid, Nabi Saw. tersenyum melihatnya.

“Hai Abu Hasan! Akan kau yang lebih dahulu cerita ataukah aku terlebih dahulu?”

“Anda saja yang cerita, ya Rasul,” jawab Ali.

“Tahukah kamu siapa yang menjual unta kepadamu dan siapa yang membelinya kembali?”

“Tidak. Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”

“Berbahagialah Ali. Kamu telah meminjamkan enam dirham kepada Allah. Dan Allah memberimu 300 dirham. Tiap satu dirham mendapat ganti 50 dirham. Yang pertama datang kepadamu adalah Jibril dan yang terakhir datang adalah Mikail.”

Kisah Ali Memuliakan Lansia

Saat waktu subuh tiba, Ali bin Abi Thalib keliatan gelisah sekali. Ia tergesa-gesa, karena tak ingin ketinggalan shalat berjamaah. Namun, ia cukup kebingungan. Pasalnya ada seoang laki-laki tua yang berjalan sangat lambat yang menghambat langkah Ali. Demi menghormati orang tua tersebut, Ali ‘membuntut’ di belakangnya. Tentu saja, Ali bin Abi Thalib sangat khawatir tidak bisa shalat jamaah bersama Nabi Saw. Ketika ia tahu bahwa orang tua tersebut tidak memasuki mesjid, baru menyadari bahwa orang tua tersebut bergama nasrani.

Ketika Ali masuk masjid, ia mendapati Rasulullah Saw. sedang ruku’. Itu artinya, ia masih mempunyai kesempatan untuk mengejar shalat tersebut. Ali lalu berjamaah bersama mereka. Usai Shalat para sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw.

“Ya Rasul, apa yang sedang terjadi sehingga memperpanjang ruku’ seperti shalat subuh pagi ini. Selama ini, Anda tidak pernah melakukan hal ini?”

“Ketika ruku’ dan tengah membaca subhana rabbiyal ‘adzimi seperti biasanya, maka aku bermaksud ingin mengangkat kepalaku. Tetapi Jibril as. datang dan membentangkan sayapnya di atas punggungku. Lama sekali. Ketika ia mengangkat sayapnya baru aku bisa berdiri untuk mengangkat kepala,” jawab Rasulullah Saw.

“Mengapa ini bisa terjadi?” tanya salah seorang sahabat.

“Aku tak sempat menanyakan hal itu,” balas Rasulullah Saw. kembali.

Tak lama kemudian, datang Jibril as. menemui Rasulullah Saw.

“Hai Muhammad! Tadi Ali tergesa-gesa agar bisa ikut shalat berjamaah, namun ada seorang laki-laki tua beragama Nasrani menghambat jalannya. Ali tidak tahu kalau laki-laki itu beragama nasrani. Ia biarkan orang tua tadi berjalan di depannya. Maka Allah menyuruhku supaya engkau tetap ruku’ agar Ali bisa menyusul shalat subuhmu. Ini tak mengherankan bagiku. Yang mengherankan, Allah swt. memerintahkan malaikat Mikail untuk menahan perputaran matahari dengan sayapnya. Sehingga, tenggang waktu terbitnya lebih lama. Ini tentulah karena pebuatan Ali tadi.”

Setelah diceritakannya kepada para sahabat apa yang disampaikan Jibril as. mengenai ruku’ yang begitu panjang. Lalu Rasulullah Saw. bersabda, “Inilah derajat orang yang memuliakan orang tua lanjut usia, meski yang dimuliakan beragama nasrani.”


Patutlah kiranya para pemuda saat ini menyontoh dari kisah Ali bin Abi Thalib tersebut, supaya generasi kita menjadi generus penerus yang tangguh dan berkepribadian kuat.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Kisah Ali bin Abu Thalib dalam Meperjuangkan Islam
  • Kumpulan Kata Mutiara Ali bin Abi Thalib untuk Kehidupan
  • Kisah Ali bin Abi Tholib, Sepupu Nabi yang Setia
  • Sejarah Ali bin Abi Thalib
  • Pedang Ali Bin Abi Thalib, Pejuang Islam
  • Profil Singkat Menantu Rasulullah, Ali Bin Abi Thalib
  • Nasehat Ali Bin Abi Thalib, Pemimpin Teladan
  • Kisah Sejarah Khalifah Ali bin Abi Thalib
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA