Kisah Kasih Sayang Kaum Semut
Ilustrasi kisah kasih sayang
Kisah kasih sayang selalu ada dalam setiap hubungan makhluk hidup. Tak terkecuali semut. Terdapat kisah di balik sebuah taman hijau yang indah. Bunga-bunga tumbuh mekar. Burung berkicau riang. Pepohonan tumbuh subur di taman ini. Di antara tinggi pepohonan dan hijau taman itu. Terdapat pohon jambu yang dihuni oleh kaum semut. Di bawah akar rindangnya pohon jambu, terdapat lubang sebagai pintu keluar-masuk sarang semut. Ruangan yang cukup luas untuk para semut.
Saling Menghormati
Ketika satu peradaban tidak ada rasa saling menghormati, maka peradaban itu akan runtuh. Masing-masing pihak akan mengklaim bahwa merekalah yang paling pandai dan merekalah yang paling hebat. Ketegangan akan menjadi sesuatu yang terjadi setiap hari. Nafsu ingin menghancurkan satu sama lain akan membawa kehancuran bersama. Tidak ada lagi pembangunan yang bisa dilakukan karena memang ketika satu membangun, yang lain akan menghancurkan.
Begitulah seterusnya hingga masing-masing pihak menyadari bahwa kebahagiaan itu akan hadir ketika ada rasa bahagia melihat orang lain bahagia. Ada rasa tidak sakit hati dan cemburu membabi buta ketika pihak lain terlihat mendapatkan rezeki lebih. Perasaan menerima itu sebagai ungkap rasa rendah hati kepada Tuhan yang telah menetapkan segala sesuatunya sesuai dengan takarannya. Bahwa ada yang dilebihkan dan ada yang dicoba dengan banyak kekurangan.
Semua itu adalah bentuk ujian dan cobaan dari Tuhan demi mencari kelompok umat yang paling hebat dan paling tunduk kepada semua yang telah digariskan Tuhan. Tidak mudah mendapatkan rasa dan pemikiran seperti ini. Bila tidak ada rasa kasih yang ditumbuhkan di hati, akan sangat sulit menerima orang lain denganb segala kekurangan dan kelebihannya. Rasa kasih sayang yang tumbuh itu pun harus dipupuk karena perasaan manusia itu tidak tetap.
Perubahan akan ada ketika ada pengaruh yang berbeda. Demi tetap konsisten memiliki rasa kasih sayang, lingkungan harus dididik dan dipengaruhi dengan hal-hal yang positif. Akan sulit mendapatkan anak yang penuh dengan sifat lemah lembut ketika orangtua tidak berlemah lembut dengan sang anak. Tidak mudah menahan marah selama mungkin ketika godaan untuk naik darah terpampang terus di depan mata.
Kasih sayang itu adalah sifat yang sangat mulia. Tidak heran kalau orangtua berusaha menanamkan sifat saling mengharagai dan menghormati dengan cara memberikan cerita fabel. Kisah yang memilihi hewan sebagai tokoh utama dalam cerita. Lewat cerita ini, orangtua berharap bahwa anak-anak akan mau dan mampu memahami bagaimana bersikap terhadap orang lain. Dalam dunia nyata, ketiadaan rasa kasih sayang ini telah membuat kehancuran di mana-mana.
Tak perlu pergi jauh untuk melihat hasil dari kebencian yang meluap-luap. Lihatlah apa yang terjadi di Lampun, di Kampung Mesuji yang banyak dihuni oleh para transmigran dari Bali. Mereka hidup damai tetapi kecemburuan sosial dan kebencian telah menghancurkan kedamaian itu. Perkampungan yang bagus dengan pembangunan yang pesat, harus terhenti dan mereka seolah mundur 40 tahun dari peradaban.
Tidak hanya di Mesuji, Lampung. Daerah Sumbawa juga seperti itu. Hanya karena isu yang tidak benar, tanpa ada rasa belas kasihan, semua dihancurkan. Padahal kalau bisa menahan diri, semua pasti ada solusinya. Manusia itu emmang berbeda-beda. Fisiknya berbeda. Jiwa dan pemikirannya pun berbeda. Namun kalau tujuan hidup damai dan penuh dengan kasih sayang menjadi tujuan bersama, maka semua perbedaan itu bisa tertutup dengan rapi.
Kisah Fabel Membuka Hati
Berikut ini ada salah satu kisah fabel yang menggambrakan bahwa sikap kasih sayang itu harusnya ada agar tidak ada yang tersakiti. Bila ada yang tersakiti, yang merasa sakit suatu saat akan membalas. Tentu tidak ada penyelesaian yang baik ketika semua berusaha saling membunuh.
Sikap tidak saling menghormati menyebabkan ketidakrukunan bagi kaum semut. Alasannya karena perbedaan ukuran tubuh. Kelompok pertama, semut bertubuh besar. Kelompok kedua, semut bertubuh kecil. Mereka selalu bersitegang dan tidak pernah akur. Saling menyepelekan dan mengejek satu sama lain. Keadaan ini membuat kewalahan Semut Tua. Setiap mengumpulkan makanan, Semut Besar dan Semut Kecil itu selalu bekerja terpisah. Semut besar merasa mampu memikul makanan lebih banyak. Semut Kecil merasa mampu membawa makanan lebih cepat.
Mereka tidak pernah keluar bersama melalui lubang itu. Semut Besar memaksa lebih dahulu dan Semut Kecil terpaksa harus menunggu. Kemudian mereka menyebar ke arah berlawanan. Setiap hari selalu seperti itu. Tiba waktunya pohon jambu berbuah lebat sekali. Pohon menjadi rindang dan sejuk. Para semut sangat senang ketika datang musim buah Jambu. Tidak perlu berjalan jauh, karena makanan tersedia di depan mata.
Saling Berbagi
Cerita kasih sayang antara Semut Besar dan Semut Kecil bermula di suatu siang. Turun hujan deras dan angin kencang. Kaum semut segera berlari pulang tanpa makanan. Akibatnya, gudang makanan tidak penuh. Semua hanya diam ketakutan di bawah akar itu. Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Ruangan menjadi gelap gulita. Semua menjerit terkejut dan panik. Pintu sarang tertutup oleh buah jambu besar. Karena keadaan di luar hujan dan kilat terdengar menakutkan. Kaum semut tidak bergerak, khawatir saling injak.
Semut Tua memerintahkan agar para semut memegang tangan teman terdekat. Tangan kaum semut saling meraba agar bisa memegang teman yang terdekat. Mereka tidak tahu, apakah itu Semut Kecil atau Semut Besar. Singkat cerita, tibalah waktu makan. Lalu makanan dikeluarkan dan berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Apabila ada yang belum kebagian, segera berteriak dan teman terdekat harus berbagi makanan. Terus menerus seperti itu.
Ternyata, baik Semut Besar ataupun Semut Kecil saling berbagi makanan. Mereka tanpa sadar saling menolong. Hingga semua semut kebagian makanan. Hari berganti malam. Hujan dan angin perlahan mulai mereda. Para semut masih berdiam dalam gelap gulita. Karena gudang tidak penuh dan mereka tidak bisa keluar dari lubang tanah ini. Mereka tertidur tanpa makan malam. Sementara tangan mereka masih berpegangan saling menjaga.
Malam berganti pagi. Kaum semut terbangun dengan perut yang terasa lapar. Tiba-tiba muncul sinar dari lubang itu. Ruangan itu samar-samar terlihat. Lalu mereka tersadar, selama malam tadi Semut Besar dan Semut Kecil saling membantu. Saling menjaga agar tidak ada semut yang terinjak dalam gelap. Dengan malu-malu mereka melepas tangan teman di sampingnya. Merekapun berpelukan dan berterima kasih. Telah saling menjaga dan berbagi. Masalah yang dihadapi tadi malam, dilalui dengan penuh kebersamaan. Ini adalah hari baru bagi kaum semut.
Semut Besar tidak jahat seperti dugaan. Semut Kecil ternyata berguna, malah kekuatannya jauh dari dugaan. Mereka haruskerjasamadan saling berbagi. Seperti ketika mereka berbagi makanan dalam ruangan gelap tadi malam. Melihat sinar kecil dari lubang itu, Semut Kecil segera bertindak. Mereka pun bekerjasama dengan baik. Semua Semut Kecil keluar masuk membawa makanan. Lalu buah Jambu itu perlahan digerogoti Semut Besar, hingga terdoronglah penghalang pintu sarang dengan mudah.
Kaum semut bersorak gembira. Semut Tua tampak sangat lega. Pintu sarang terbuka kembali. Keberhasilan ini dirayakan dengan bernyanyi, bersalaman, dan saling memaafkan. Suasana sarang semut itu berganti menjadi ruangan penuh suka ria, kasih sayang, dan cinta. Mereka sadar, walaupun ukuran tubuh mereka berbeda mereka bisa saling menjaga dan berbagi. Sejak itu, dalam perbedaan antara mereka, Semut Besar dan Semut Kecil hidup rukun dan bersahabat. Selalu saling menyapa jika bertemu. Akhir cerita, mereka hidup damai dan saling mengasihi selamanya.
Inspirasi
Demikianlah cerita kasih sayang yang terjadi di dunia semut. Bayangkan saja kalau dalam kehidupan nyata ada semut yang memberontak dan tidak mau menjadi dirinya sendiri. Semut pekerja protes ingin menjadi ratu. Sedangkan ratu yang tidak bisa berjalan jalan, juga protes dan ingin menjadi semut tentara yang gagah perkasa. Semut ratu ini juga ingin menjadi semut pekerja yang memberi makan kepada semut lainnya. Pasti akan terjadi kekacauan.
Semoga menjadi inspirasi kita untuk selalu menghormati, menghargai, dan hidup rukun penuh cinta. Baik kepada manusia lain, lingkungan, dan semua makhluk di muka bumi ini.

