logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    25 Nabi Dan Rasul

Kisah Nabi Muhammad yang Zuhud


Ilustrasi kisah nabi muhammad

Nabi Muhammad merupakan nabi terakhir bagi umat Islam di seluruh dunia. Nabi Muhammad dipilih Allah Swt., sebagai utusan Allah untuk menyebarluaskan agama Islam. Dalam kisah Nabi Muhammad, Nabi Muhammad Saw merupakan sosok muslim yang taat pada agama dan sangat menyanyangi umatnya.

Pribadinya yang mengesankan dan tawadu’, membuat nabi Muhammad sukses membawa umat Islam menjadi umat yang besar di dunia. Bahkan seorang Michael H. Hart dalam bukunya The 100, menobatkan nabi Muhammad sebagai orang yang paling berpengaruh dan sukses sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Kisah Nabi Muhammad - Sejarah Singkat Nabi Muhammad

Pasti Anda penasaran bagaimana sosok dan kehidupan dari Nabinya semua umat muslim di seluruh dunia. Berdasarkan kisah Nabi Muhammad, Nabi Muhammad Saw terkenal dengan sifatnya yang menwan hati bagi siapapun yang mengenalnya. Sifat mulia yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw antara lain adalah Al-Amin, As-Saadiq. Sehingga beliau dipanggil dengan sebutan Al-Amin dan As-Saadiq.

Nabi Muhammad Saw merupakan anak dari pasangan Abdullah dan Siti Aminah. Ayahnya meninggal terlebih dahulu sebelum Nabi Muhammad Saw lahir, tepatnya ketika Nabi Muhammad berusia 4 bulan dalam rahim ibunya. Ketika berumur 6 tahun, Nabi Muhammad Saw harus kehilangan ibu tercinta. Oleh karena itu, Nabi Muhammad Saw sepeninggal ibunya diasuh oleh kakeknya Abd Al-Muththalib.

Namun, Nabi Muhammad Saw tidak lama diasuh dengan sang kakek. Kakek Nabi Muhammad Saw meninggal ketika Nabi berusia 8 tahun, selanjutnya Nabi Muhammad Saw berada di bawah pengasuhan pamannya Abu Thalib. Selama pengasuhan dengan pamannya Abu Thalib, Nabi Muhammad Saw diajari menggembala kambing dan seirng menemani pamannya berdagang sampai ke negeri Syam.

Ketika Nabi Muhammad Saw beranjak dewasa, ia menambah keterampilannya, berupa ilmu bela diri dan memanah, di samping keahliannya berdagang yang makin berkembang. Hingga sepak terjang berdagang Nabi yang maju terdengar sampai ke telinga Siti Khadijah. Siti Khadijah merupakan wanita terhormat yang memiliki status tinggi Suku Arab. Ia seorang janda, yang memiliki bisnis dagang yang juga maju.

Nabi Muhammad Saw diminta Khadijah untuk bekerja sama dengannya. Kepiawaian Nabi dalam berdagang ditambah dengan pribadinya yang menawan, membuat Khadijah jatuh hati. Hal ini juga disambut baik oleh Nabi Muhammad Saw. Maka mereka pun menikah, ketika itu Nabi Muhammad Saw berusia 25 tahun dan Khadijah hampir 40 tahun.

Kisah Nabi Muhammad - Diangkatnya Muhammad Menjadi Rasul

Dalam kisah Nabi Muhammad, pada masa Nabi Muhammad sebelum menjadi Rasul, sering terjadi pertikaian atau perpecahan di Mekkah. Oleh karena itu, Nabi Muhammad Saw suka menyendiri di Gua Hira’. Gua Hira’ terletak dalam sebuah bukit sekitar 6 Km sebelah Timur Kota Mekkah. Tepat ketika malam tanggal 17 Ramadhan sewaktu Nabi Muhammad sedang berada dalam Gua Hira’, ia didatangi oleh Malaikat Jibril.

Malaikat Jibril lantas menyuruh Nabi Muhammad yang tidak bisa membaca, untuk membaca apa yang disampaikan Malaikat Jibril dari Allah Swt. Ketika itu, yang dibaca oleh Nabi Muhammad adalah surat Al-Alaq ayat 1-5. Surat Al-Alaq tersebut menjadi wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.

Selama menjadi mengemban tugas dari Allah Swt sebagai rasul, Nabi Muhammad banyak mendapatkan rintangan, terutama dari kaumnya sendiri. Tidak jarang Nabi Muhammad mendapat cemoohan yang tidak mengenakkan hati dari masyarakat pada masa itu. Sesaat setelah diangakt menjadi Rasul, tugas utama Nabi Muhammad adalah menyebarkan ajaran Islam. Orang pertama yang memeluk Islam setelah Nabi adalah istrinya Siti Khadijah.

Di awal penyebaran agama Islam setelah pengangkatan dirinya menjadi Rasul oleh Allah Swt melalui malaikat Jibril, Nabi Muhammad Saw masih memiliki pengikut yang sedikit. Hanya beberapa sahabat setia yang bersedia menjadi pengikut Nabi Muhammad. Perlahan namun pasti, perjuangan Nabi Muhammad Saw sedikit membuahkan hasil. Banyak juga di antara kaumnya yang mengucapkan dua kalimat syahadat untuk memeluk agama Islam.

Kisah Nabi Muhammad - Zuhudnya Rasulullah dalam Kehidupannya

Banyak kisah yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah seorang yang zuhud. Kezuhudan dan kesederhanaan merupakan ciri kehidupan beliau. Salah satu kisah Nabi Muhammad saw tentang zuhud dapat dilihat melalui peristiwa berikut.

Suatu ketika Nabi Muhammad Saw telah bersumpah akan berpisah dengan istri-istrinya selama satu bulan sebagai peringatan bagi mereka. Selama sebulan beliau tinggal seorang diri dalam sebuah kamar sederhana yang letaknya agak tinggi. Terdengar kabar di kalangan para sahabat bahwa Nabi Muhammad Saw telah menceraikan semua istrinya.

Ketika Umar bin Khaththab ra. mendengar kabar ini, dia segera berlari ke masjid. Setibanya di sana ia melihat para sahabat sedang duduk termenung, mereka bersedih dan menangis. Juga kaum wanitanya menangis di rumah-rumah mereka. Kemudian Umar ra. pergi menemui putrinya, Hafshah ra. yang telah dinikahi oleh Nabi Muhammad Saw.

Umar bin Khaththab ra. mendapati Hafshah ra. sedang menangis di dalam kamarnya. Umar ra. bertanya, “Mengapa engaku menangis?” Bukankah selama ini saya telah melarangmu agar jangan melakukan sesuatu yang dapat menyinggung perasaan Nabi?”

Kemudian, dia kembali ke masjid, terlihat olehnya beberapa orang sahabat sedang menangis di dekat mimbar. Kemudian, Umar ra. duduk bersama para sahabat beberapa saat, lalu berjalan ke arah kamar Nabi Muhammad Saw yang terletak di tingkat atas masjid. Dia mendapati Rabbah ra, seorang hamba sahaya sedang duduk di tangga kamar itu.

Melalui Rabbah ra, dia meminta izin untuk menemui Nabi Muhammad Saw. Rabbah ra. pergi menemui Nabi Muhammad Saw, kemudian kembali dan memberitahukan bahwa dia telah menyampaikan keinginannya, namun Nabi Muhammad Saw Hanya diam tanpa menjawab pertanyaan. Permintaan Umar ra. untuk menemui Nabi Muhammad Saw. Disampaikan beberapa kali, hingga akhirnya Nabi Muhammad Saw. Mengizinkan Umar ra. masuk untuk menemuinya.

Ketika Umar ra. masuk, dia menjumpai Nabi Muhammad Saw. sedang berbaring di atas sehelai tikar yang terbuat dari pelepah daun kurma, sehingga di badan beliau yang putih bersih dan indah itu terlihat jelas bekas-bekas daun kurma. Di tempat kepala beliau ada sebuah bantal yang dibuat dari kulit binatang yang dipenuhi oleh daun dan kulit pohon kurma.

Umar ra, bertanya, ”Ya, Rasulullah Saw, apakah engkau telah menceritakan istri-istri engkau?” Beliau menjawab, “Tidak”.

Umar ra. merasa sedikit lega mendengar jawaban Nabi Muhammad saw. Kemudian, sambil bercanda Umar ra. berkata, ”Ya Rasulullah, kita adalah kaum Quraisy yang selamanya telah menguasai wanita-wanita kita. Tetapi setelah kita hijrah ke Madinah, keadannya ungguh berbeda dengan orang-orang Anshar. Mereka dikuasai oleh wanita-wanita mereka sehingga wanita-wanita kita terpengaruh oleh kebiasaan wanita-wanita mereka.”

Nabi Muhammad saw. tersenyum mendengar perkataan Umar ra. Kemudian, Umar memperhatikan kamar beliau. Terlihat tiga lembar kulit binatang yang telah dismak dan sedikit gandum di sudut kamar itu. Selain itu tidak terdapat apapun, saya menangis melihat keadaan ini. Nabi Muhammad saw bertanya, “Mengapa engkau menangis?”

“Bagaimana saya tidak menangis, ya Rasulullah. Saya sedih melihat bekas tanda tikar yang engkau tiduri di badan engkau yang mulia dan saya prihatin melihat keadaan kamar ini. Semoga Allah Swt. mengaruniakan kepada tuan bekal yang lebih banyak.

Orang-orang Persia dan Romawi yang tidak beragama dan tidak menyembah Allah, tetapi raja mereka hidup mewah. Mereka hidup dikelilingi taman yang di tengahnya mengalir sungai, sedangkan engkau adalah pesuruh Allah, tetapi engkau hidup dalam keadaan miskin.

Nabi Muhammad Saw berkata,”Wahai Umar, sepertinya engkau masih ragu mengenai hal itu. Dengarlah, kenikmatan di alam akhirat, tentu akan lebih baik jika kesenangan hidup dan kemewahan di dunia. Jika orang-prang kafir itu dapat mewah di dunia, kita pun akan memperoleh semua kenikmatan tersebut di akhirat nanti. Di sana kita akan mendapatkan segala-galanya.”

Mendengar ucapan Nabi Muhammad Saw, Umar merasa menyesal, lalu berkata “Ya Rasulullah, mohon ampunkanlah kepada Allah Swt. Untuk Saya. Saya telah bersalah dalam hal ini.”

Begitulah kisah Nabi Muhammad bisa kita gambarkan bagaimana kepribadinnya yang zuhud. Dengan memiliki harta yang melimpah Nabi Muhammad Saw tidak pernah merasa dirinya paling tinggi derajatnya di antara umatnya. Beliau memperlakukan semua umatnya secara adil. Oleh karena itulah mengapa Nabi Muhammad Saw banyak disukai dan disegani oleh kaumnnya. Kepribadian mulia yang dimilikinya membuat hati setiap yang menatapnya menjadi tenang.

Sebagai umatnya Nabi Muhammad Saw, sudah sepantasnyalah kita mengamalkan kepribadian beliau seperti yang ada dalam kisah Nabi Muhammad.

Meneladani Kisah Nabi Muhammad

Dalam kehidupan sosial bermasyarakat, keteladanan menjadi penting dan mutlak adanya. Harus ada orang-orang yang tampil ke depan menjadi cermin, rujukan dan tempat bertanya. Kejujuran, kemandirian, kerendahan hati, ketegasan, dan keberanian, paling tidak menjadi parameter penting yang harus dimiliki bagi orang yang diteladani.

Keteladanan demikian yang kelak menghantarkannya menjadi pemimpin.Pemimpin yang memang layak diteladani dan dipanuti. Tanpa parameter itu, kredibilitas pemimpin layak diragukan kepemimpinannya.

Keteladanan bisa datang dari mana saja. Pemimpin politik, tokoh agama, tokoh adat, elit-elit pejabat, dan lain-lain baik yang masih hidup maupun yang sudah tiada. Selama memiliki catatan kehidupan yang baik, adalah patut diikuti. Termasuk juga para pemimpoin agama atau para nabi.

Nabi Muhammad adalah satu dari sekian deretan nabi dan rasul yang wajib diteladani. Beliau adalah manusia pilihan Allah yang sudah barang tentu hampir-hampir tidak ada kesalahan dalam dirinya, baik kata, sikap maupun perbuatan. 

Bagi yang mengaku pengikutnya, keharusan meneladani kisah nabi Muhammad tidak bisa ditawar-tawar. Beliau adalah sosok manusia yang terbukti mampu merubah sejarah peradaban manusia dari kebutaan menuju pencerahan nan terang benderang. 

Kemandirian

Di sudut kota Makkah sekitar akhir abad ke-4 masehi, lahir jabang bayi yang kelak dicatat sebagai manusia istimewa di sisi Allah. Dialah Muhammad. Lahir di tahun Gajah pada Senin 12 Rabiul Awwal (atau 20 April 571 Masehi). Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib, dan ibunya Aminah binti Wahab.

Keduanya sama-sama berasal dari suku Quraisy. Sayang, selama hidupnya, Muhammad tidak sempat melihat wajah bapaknya. Status yatim disandang Muhammad saat ia lahir ke muka bumi. Kepergian sang bapak saat Muhammad masih ditimang dalam kandungan.

Enam tahun kemudian, ibu tersayangnya pun pergi meninggalkannya. Diusianya yang baru 6 tahun itulah Muhammad menyandang sebagai yatim piatu. Ibunya meninggal karena sakit di sebuah desa yang berada diantara Mekkah dan Madinah.

Dari usia 6 tahun hingga 9 tahun, Muhammad hidup dalam didikan kakeknya, Abdul Muthalib. Tidak lama berselang, kira-kira 3 tahun kemudian, kakek Muhammad juga meninggal dunia. Setelah kakeknya, pengayoman terhadap Muhammad berpindah ke pamannya, Abu Thalib.

Ditangan pamannya, Muhammad tumbuh menjadi orang dewasa dan mandiri. Profesinya adalah pedagang biasa. Muhammad kerap diajak berdagang. Pamannya sedikit banyak telah mempengaruhi pola pikir dan masa depannya.

Saat perjalanan ke Syam, Muhammad dan pamannya bertemu Bahira, salah satu tokoh agama Nasrani (pendeta). Menurut perkiraan Bahira, sebagaimana didapat dari kitab Taurat dan Injil, ada ciri-ciri khusus dan istimewa dalam diri Muhammad. Bahira menerawang bahwa Muhammad kelak akan jadi manusia pilihan Allah dan pemimpin dunia. Pendeta Bahrani pun mewanti-wanti agar pamannya menjaga keamanan Muhammad. Jangan sampai orang Yahudi mengetahui kalau Muhammad calon Rasul. Resikonya adalah dibunuh.

Saat menginjak usianya ke 25, paman tercinta Muhammad melihat sudah ada kemandirian dan kedewasaan dalam diri Muhammad. Muhammad diminta untuk untuk mencari pekerjaan sendiri. Disarankan oleh pamannya, agar Muhammad menjumpai Siti Khodijah, salah seorang perempuan kaya berprofesi sebagai pedagnag. Khodijah termasuk pedagang sukses yang ada di Makkah.

Muhammad akhirnya menuruti anjuran pamannya. Respon Siti Khodijah sangat positif. Sangat logis alasannya mengapa Siti Khodijah tanggap terhadap ajakan kerjasama Muhammad. Disamping sudah berpengalaman dalam berdagang, Muhammad dikenal cerdas, pintar, baik, jujur, sopan dan kesan positif lainnya.

Banyak keuntungan yang didapat dari kerjasama itu. Relasi antara Muhammad dan Siti Khodijah tidak sebatas urusan bisnis, tapi lebih jauh lagi, yakni hubungan percintaan dan asmara. Muhammad dan Siti Khodijah lalu menikah.

Walau Siti Khodijah menginjak 40 tahun dan Muhammad 25 tahun, tidaklah mengurangi kecintaan dan kasih sayang. Keduanya dikaruniai enam anak. Yakni Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, Fatimah, Qasim, dan Abdullah. Sayang, dua anak laki-laki meninggal dunia.

Juru Damai

Kecerdasan dan kebaikan Muhammad sangat dirasakan masyarakat Makkah. Pernah muncul gonjang-ganjing konflik antar pemimpin suku Quraisy gara-gara persoalan peletakan Hajar Aswad (Batu Hitam) pasca renovasi bangunan Ka’bah. Semua suku merasa paling berhak meletakkan meletakkan Hajar Aswad seperti sedia kala. Hampir saja terjadi pertumpahan darah antar suku Quraisy.

Untung saja ada Muhammad. Ia menawarkan solusi cerdas dan bisa diterima semua kalangan. Ia menggelar surbannya di atas tanah dan meletakkan Hajar Aswad diatasnya. Dengan bijak Muhammad mengajak para pentolan suku untuk bersama-sama mengangkat surban itu dengan cara memegang tiap-tiap ujung kain surban. Walhasil, cara itu diterima dan mewakili silang kepentingan yang ada.

Sekelumit kisah Nabi Muhammad sebelum menapatkan wahyu di atas patut digali pelajaran dan hikmahnya. Kesabaran, keteguhan dan kemandirian merupakan prinsip yang dipegang teguh oleh Muhammad. Terlebih kasus peletakan Hajar Aswad, peran Muhammad adalah simbol pengadilan kultural yang menyejukkan dan mendamaikan. Yakni sebuah pengadilan yang memberi putusan bijak, adil dan tidak berpihak.

Kepekaan dan kepedulian Muhammad sangat tinggi terhadap persoalan disekitarnya yang dirasa bertentangan dengan nurani dan akal sehat. Hanya seorang diri saja Muhammad dengan percaya diri berdiri tampil di hadapan tokoh-tokoh Makkah yang disegani menjadi penengah dan pengetok palu keadilan. Karakter seperti itulah yang kita rindukan. Kendati belum didaulat sebagai pemimpin, gaya kepemimpinannya sudah terlihat. Pemimpin yang berani, tegas dan adil.      

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Sejarah 25 Nabi dan Rasul
  • Maulid Nabi - Ekspresi Cinta dari Umat Muhammad Saw
  • Nama nama Nabi dari Berbagai Kepercayaan
  • Kisah Nabi Musa
  • Kapal Nuh - Antara Agama dan Sejarah Manusia
  • Gambaran Akhlak Nabi Muhammad SAW
  • Sekilas Sejarah Nabi Muhammad
  • Shalatlah Seperti Shalat Nabi
  • Belajar dari Penciptaan Nabi Adam
  • Kisah Nabi Ibrahim As. dan Meneladani Nilai-Nilainya
  • Mengenal Mukjizat 25 Nabi dan Rasul
  • Kisah Tentang Nabi Yusuf AS
  • Kata Mutiara Islam dari Sabda Nabi Muhammad Saw
  • Pengertian Nabi dan Rasul
  • Ash Shiddiq - Salah satu Akhlak Nabi Muhammad SAW
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA