Meneladani Kisah Nabi Muhammad

Dalam kehidupan sosial bermasyarakat, keteladanan menjadi penting dan mutlak adanya. Harus ada orang-orang yang tampil ke depan menjadi cermin, rujukan dan tempat bertanya. Kejujuran, kemandirian, kerendahan hati, ketegasan, dan keberanian, paling tidak menjadi parameter penting yang harus dimiliki bagi orang yang diteladani.
Keteladanan demikian yang kelak menghantarkannya menjadi pemimpin.Pemimpin yang memang layak diteladani dan dipanuti. Tanpa parameter itu, kredibilitas pemimpin layak diragukan kepemimpinannya.
Keteladanan bisa datang dari mana saja. Pemimpin politik, tokoh agama, tokoh adat, elit-elit pejabat, dan lain-lain baik yang masih hidup maupun yang sudah tiada. Selama memiliki catatan kehidupan yang baik, adalah patut diikuti. Termasuk juga para pemimpoin agama atau para nabi.
Nabi Muhammad adalah satu dari sekian deretan nabi dan rasul yang wajib diteladani. Beliau adalah manusia pilihan Allah yang sudah barang tentu hampir-hampir tidak ada kesalahan dalam dirinya, baik kata, sikap maupun perbuatan.
Bagi yang mengaku pengikutnya, keharusan meneladani kisah nabi Muhammad tidak bisa ditawar-tawar. Beliau adalah sosok manusia yang terbukti mampu merubah sejarah peradaban manusia dari kebutaan menuju pencerahan nan terang benderang.
Kemandirian
Di sudut kota Makkah sekitar akhir abad ke-4 masehi, lahir jabang bayi yang kelak dicatat sebagai manusia istimewa di sisi Allah. Dialah Muhammad. Lahir di tahun Gajah pada Senin 12 Rabiul Awwal (atau 20 April 571 Masehi). Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib, dan ibunya Aminah binti Wahab.
Keduanya sama-sama berasal dari suku Quraisy. Sayang, selama hidupnya, Muhammad tidak sempat melihat wajah bapaknya. Status yatim disandang Muhammad saat ia lahir ke muka bumi. Kepergian sang bapak saat Muhammad masih ditimang dalam kandungan.
Enam tahun kemudian, ibu tersayangnya pun pergi meninggalkannya. Diusianya yang baru 6 tahun itulah Muhammad menyandang sebagai yatim piatu. Ibunya meninggal karena sakit di sebuah desa yang berada diantara Mekkah dan Madinah.
Dari usia 6 tahun hingga 9 tahun, Muhammad hidup dalam didikan kakeknya, Abdul Muthalib. Tidak lama berselang, kira-kira 3 tahun kemudian, kakek Muhammad juga meninggal dunia. Setelah kakeknya, pengayoman terhadap Muhammad berpindah ke pamannya, Abu Thalib.
Ditangan pamannya, Muhammad tumbuh menjadi orang dewasa dan mandiri. Profesinya adalah pedagang biasa. Muhammad kerap diajak berdagang. Pamannya sedikit banyak telah mempengaruhi pola pikir dan masa depannya.
Saat perjalanan ke Syam, Muhammad dan pamannya bertemu Bahira, salah satu tokoh agama Nasrani (pendeta). Menurut perkiraan Bahira, sebagaimana didapat dari kitab Taurat dan Injil, ada ciri-ciri khusus dan istimewa dalam diri Muhammad. Bahira menerawang bahwa Muhammad kelak akan jadi manusia pilihan Allah dan pemimpin dunia. Pendeta Bahrani pun mewanti-wanti agar pamannya menjaga keamanan Muhammad. Jangan sampai orang Yahudi mengetahui kalau Muhammad calon Rasul. Resikonya adalah dibunuh.
Saat menginjak usianya ke 25, paman tercinta Muhammad melihat sudah ada kemandirian dan kedewasaan dalam diri Muhammad. Muhammad diminta untuk untuk mencari pekerjaan sendiri. Disarankan oleh pamannya, agar Muhammad menjumpai Siti Khodijah, salah seorang perempuan kaya berprofesi sebagai pedagnag. Khodijah termasuk pedagang sukses yang ada di Makkah.
Muhammad akhirnya menuruti anjuran pamannya. Respon Siti Khodijah sangat positif. Sangat logis alasannya mengapa Siti Khodijah tanggap terhadap ajakan kerjasama Muhammad. Disamping sudah berpengalaman dalam berdagang, Muhammad dikenal cerdas, pintar, baik, jujur, sopan dan kesan positif lainnya.
Banyak keuntungan yang didapat dari kerjasama itu. Relasi antara Muhammad dan Siti Khodijah tidak sebatas urusan bisnis, tapi lebih jauh lagi, yakni hubungan percintaan dan asmara. Muhammad dan Siti Khodijah lalu menikah.
Walau Siti Khodijah menginjak 40 tahun dan Muhammad 25 tahun, tidaklah mengurangi kecintaan dan kasih sayang. Keduanya dikaruniai enam anak. Yakni Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, Fatimah, Qasim, dan Abdullah. Sayang, dua anak laki-laki meninggal dunia.
Juru Damai
Kecerdasan dan kebaikan Muhammad sangat dirasakan masyarakat Makkah. Pernah muncul gonjang-ganjing konflik antar pemimpin suku Quraisy gara-gara persoalan peletakan Hajar Aswad (Batu Hitam) pasca renovasi bangunan Ka’bah. Semua suku merasa paling berhak meletakkan meletakkan Hajar Aswad seperti sedia kala. Hampir saja terjadi pertumpahan darah antar suku Quraisy.
Untung saja ada Muhammad. Ia menawarkan solusi cerdas dan bisa diterima semua kalangan. Ia menggelar surbannya di atas tanah dan meletakkan Hajar Aswad diatasnya. Dengan bijak Muhammad mengajak para pentolan suku untuk bersama-sama mengangkat surban itu dengan cara memegang tiap-tiap ujung kain surban. Walhasil, cara itu diterima dan mewakili silang kepentingan yang ada.
Sekelumit kisah Nabi Muhammad sebelum menapatkan wahyu di atas patut digali pelajaran dan hikmahnya. Kesabaran, keteguhan dan kemandirian merupakan prinsip yang dipegang teguh oleh Muhammad. Terlebih kasus peletakan Hajar Aswad, peran Muhammad adalah simbol pengadilan kultural yang menyejukkan dan mendamaikan. Yakni sebuah pengadilan yang memberi putusan bijak, adil dan tidak berpihak.
Kepekaan dan kepedulian Muhammad sangat tinggi terhadap persoalan disekitarnya yang dirasa bertentangan dengan nurani dan akal sehat. Hanya seorang diri saja Muhammad dengan percaya diri berdiri tampil di hadapan tokoh-tokoh Makkah yang disegani menjadi penengah dan pengetok palu keadilan. Karakter seperti itulah yang kita rindukan. Kendati belum didaulat sebagai pemimpin, gaya kepemimpinannya sudah terlihat. Pemimpin yang berani, tegas dan adil.






