Kisah Nabi Nabi, Peringatan Untuk Manusia
Ilustrasi kisah nabi nabi
Kisah nabi nabi pada dasarnya saling memiliki keterkaitan. Sebab kehadiran nabi nabi tersebut selalu melanjutkan tugas dan ajaran dari nabi yang terlebih dahulu ada sebelumnya. Demikian pula dengan Nabi Hud AS.
Nabi Hud merupakan nabi yang meneruskan kisah nabi nabi sebelumnya, di antaranya yakni Nuh AS. Umat nabi Nuh yang selamat dari bencana menurunkan banyak manusia yang kemudian tersebar ke berbagai daerah. Penyebaran ini mengakibatkan banyak umat yang mulai melupakan ajaran Nabi Nuh, terkait dengan masalah tolong menolong dan saling mengormati antar sesama manusia.
Keimanan umat manusia pada masa itu menurun drastis. Banyak manusia yang mulai meninggalkan kebaikan dan menuju pada kehidupan yang penuh dengan kerusakan dan kemusyrikan. Diantaranya dengan kembali menyembah berhala-berhala dan melupakan menyembah Allah.
Kisah Nabi Hud AS
Selain kisah Nuh dengan kapalnya, kisah nabi nabi pun mengungkap tentang peristiwa yang dialami di jaman Nabi Hud AS. Nabi yang melanjutkan perjuangan Nabi Nuh ini diuji Allah melalui kesabarannya menghadapi kecongkakan kaum yang hidup pada saat itu.
Dalam perjalanan dakwahnya Hud diperintahkan Allah untuk berdakwah pada kaum Aad yang terkenal akan kedurhakaannya. Mereka durhaka dan tidak mau menyembah Allah karena merasa bahwa harta melimpah dan kesuburan alam bukan berasal dari Allah. Namun mereka menganggap semua itu adalah hasil usaha mereka semata-mata.
Bahkan ketika kaum Aad diperingatkan oleh Nabi Hud untuk kembali menyembah Allah, mereka mengatakan Hud adalah manusia bodoh. Akibatnya, Hud memohon pada Allah agar kaum tersebut diberikan peringatan atas kecongkakan mereka.
Atas do’a dari nabi Hud, Allah mengabulkan dengan memberikan kemarau yang berkepanjangan selama tiga tahun tanpa ada air sedikit pun. Namun hal ini tidak mengurangi kecongkakan mereka. Akibatnya Allah menambah adzab yang lebih berat lagi yakni angin kencang selama tujuh malam dan delapan hari yang membinasakan binatang-binatang ternak di padang pasir.
Kisah Nabi Shalih
Setelah kaum Aad binasa, muncullah kaum Tsamud menghuni wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh Kaum Aad. Mereka mengolah lahan tandus tersebut hingga kembali subur. Namun kesuburan tersebut, lagi-lagi menjadikan kaum tersebut menjadi congkak dan enggan menyembah Allah.
Dan diutuslah Nabi Shalih AS untuk mengingatkan kaum Tsamud agar menyembah Allah. Namun kaum Tsamud melecehkan ajakan tersebut, bahkan mereka meminta Nabi Shalih untuk membuktikan kenabiannya.
Berdo’alah Nabi Shalih untuk meminta mukjizat pada Allah, yang dipenuhi dengan diturunkannya seekor unta betina yang sangat gemuk dan sehat dan memiliki air susu yang tidak pernah habis. Yang menakjubkan, unta tersebut muncul dari dalam gunung yang ada di luar kota Tsamud.
Alih-alih mempercayai kenabian Nabi Shalih, kaum Tsamud justru bertambah iri hingga mereka membunuh unta tersebut. Tujuannya, agar orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Shalih berubah pikiran dan mengikuti kekafiran kaum Tsamud.
Nabi Shalih yang mengetahui hal ini, memperingatkan pada kaum Tsamud untuk bertobat dan memberi waktu tiga hari pada mereka. Jika tidak bertobat, maka akan didatangkan bencana yang sangat dahsyat. Namun Kaum Tsamud justru menantang Nabi Shalih untuk mempercepat datangnya bencana tersebut.
Namun sebenarnya, Kaum Tsamud ini takut jika ancaman Nabi Shalih menjadi kenyataan. Akibatnya mereka berencana membunuh Nabi Shalih. Sayangnya, sebelum rencana tersebut dilaksanakan datanglah bencana gempa bumi dan petir yang teramat dahsyat yang menghancurkan Kaum Tsamud tersebut. Maka musnahlah Kaum Tsamud dan menjadi bagian dari kelompok yang menyepelekan kisah Nabi nabi sebelumnya, yang mengajak untuk menyembah dan mengakui keesaan Allah semata.
Kisah Nabi Ibrahim as. Menjadi Kekasih Allah
Beberapa Nabi memiliki gelar khusus. Nabi Musa diberi gelar dengan kalimullah, karena ia memiliki kesempatan berbicara dengan Allah. Nabi Muhammad Saw. diberi gelar dengan habibullah. Sedangkan Nabi Ibrahim as. digelar dengan khalilullah, yaitu kekasih Allah. Pernyataan ini termaktub di dalam al-Qur’an surat An-Nisa ayat 125. “… dan Allah memilih Ibrahim sebagai kekasih-Nya.
Menjadi pertanyaan bagaimana caranya Nabi Ibrahim as. menjadi kekasih Allah? Di dalam kitab Al-Munabbihatu Lil Isti’dadi Li Yaumil Ma’ad, syeikh Ibnu Hajar menjelaskan riwayat yang menyebabkan Nabi Ibrahim as. menjadi kekasih Allah.
“Datanglah seseorang menemui Nabi Ibrahim as, lalu bertanya, wahai Ibrahim apa menyebabkan dirimu diangkat menjadi kekasih Allah? Nabi Ibrahim as. menjawab, aku diangkat menjadi kekasih Allah karena tiga perkara. Yaitu, pertama, aku lebih memilih perintah Allah daripada perintah lainnya; Kedua, aku tidak pernah gundah gulana dengan apa yang ditetapkan Allah terhadap diriku; Ketiga, aku tidak pernah makan siang dan makan malam kecuali bersama tamu.”
Bila dikaji di dalam sejarah, Nabi Ibrahim as. adalah sosok nabi yang selalu mendahulukan Allah daripada yang lainnya. Meski ujian, dan ada yang menggodanya untuk tidak melakukan ujian tersebut, namun tak sedikitpun Nabi Ibrahim goyah. Inilah yang terjadi ketika ia diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putra kesayangannya. Lalu datang setan menggangunya untuk membatalkan niatnya melakukan apa yang diperintahkan Allah. Namun, tak sedikit pun Nabi Ibrahim as. goyah. Ia lebih mendahulukan perintah Allah daripada perintah lainnya.
Kedua, Nabi Ibrahim as. memang tidak pernah gundah gulana dengan apa yang telah ditetapkan Allah swt. Ketika diperintahkan oleh Allah meletakkannya anaknya di Mekah, di daerah yang tidak ada air dan pepohonan. Namun tak sedikitpun ada keraguan Nabi Ibrahim meninggalkan anak dan isterinya. Padahal, suku amaliqah, yaitu suku yang suka melakukan kegiatan kemah. Saat berada di Mekkah yang dalam kondisi padang tandus, mereka menyatakan tidak akan mau lagi datang ke tempat tersebut.
Nabi Ibrahim as. sangat yakin bahwa Allah Swt. akan memberikan anak dan isterinya makan. Dan kenyataannya memang benar. Allah memberikan lebih dari sekedar makanan. Allah memberikan sumber mata air yang mulia. Yaitu, air zamzam. Air yang hingga kini dapat dinikmati oleh kita. Padahal, jarak antara kita dengan Nabi Ibrahim as. Namun, hingga kini air tersebut tetap jernih.
Air zamzam juga bisa membuat orang yang meminumnya kenyang. Bisa membuat orang yang meminumnya sembuh dari penyakit. Dan air zamzam memiliki manfaat yang luar biasa. Sungguh, ini adalah hasil keyakinan Nabi Ibrahim as. bahwa Allah Swt. tidak akan membiarkannya merana, baik dirinya maupun keluarganya.
Ketiga, Nabi Ibrahim as. selalu makan siang dan makan malam bersama tamunya. Di dalam kitab Nasha-ihul ‘Ibad disebutkan, bahwa untuk mencari orang yang mau makan bersama, Nabi Ibrahim as. melakukan perjalanan hingga 3 mil. Sungguh perjuangan yang luar biasa. Maka, tak mengherankan bila para malaikat sempat cemburu kepada Nabi Ibrahim as. Pasalnya, namanya selalu disebut-sebut Allah Swt di hadapan mereka.
Hingga akhirnya, dua malaikat datang menemui Allah dan meminta izin untuk turun ke bumi menyaksikan apa yang dilakukan Nabi Ibrahim as. hingga Allah begitu memujinya. Setelah bertemu dengan Nabi Ibrahim as. yang sedang mencari orang yang ingin makan siang bersama, maka kedua malaikat tersebut diajak Nabi Ibrahim as. ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, sudah tersedia makanan yang nikmat di meja hidangan Nabi Ibrahim as. Lalu ia mengajak orang yang dibawanya ke rumahnya untuk makan. Ketika sedang makan, Nabi Ibrahim terkejut, karena dua orang yang dibawanya tidak menyentuh sedikitpun yang disediakannya.
Lalu Nabi Ibrahim as. bertanya, “Wahai dua sahabatku, kenapa kalian tidak memakan makanan yang kuhidangkan? Apa kalian tidak suka? Ataukah perlu aku ganti dengan menu baru. Lalu dua orang yang berwujud manusia berkata, “Hai Ibrahim! Kami ini adalah malaikat. Kami tidak memiliki nafsu.
“Lalu untuk apa kalian datang menemuiku?” potong Nabi Ibrahim as.
“Kami turun ke bumi ingin melihat apa yang kau kerjakan hingga dipuji-puji Allah. Ternyata, salah satunya adalah kau selalu makan bersama tamu. Inilah amal yang tak bisa kami lakukan, maka pantas bila Allah memujimu. Inilah kelebihan manusia dibandingkan malaikat,” jawab Malaikat.
Dari sini dapat dipahami, untuk menjadi kekasih Allah perlu iman dan perbuatan baik. Iman adalah percaya bahwa Allah akan menjamin rezeki kita. Allah memang menyuruh kita untuk lebih mendahulukan ibadah kepada-Nya dibandingkan yang lain.
Maka dari itu, cukup banyak yang kita ambil pelajaran dari kisah nabi-nabi. Belajar dari mereka adalah yang utama. Karena ujian setiap nabi sungguh luar biasa. Bila kita dapat ujian, cobalah untuk belajar dari kisah para nabi dalam mengarungi hidup.

