logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    25 Nabi Dan Rasul

Kisah Nabi Sulaiman dengan Segala Mukjizatnya


Ilustrasi kisah nabi sulaiman

Keistimewaan Nabi Sulaiman

Allah Swt telah mengaruniai Dawud dan Sulaiman ilmu Syariat dan hukum-hukumnya. Kedua nabi ini menikmati kadar kenikmatan yang diberikan Allah kepada mereka, maka keduanya berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami dari banyak hamba-Nya yang beriman dan tidak diberi ilmu, sebagaimana telah diberikan kepada kami.

Ketika Nabi Dawud meninggal, Nabi Sulaiman yang mewarisi kenabian kerajaan, karena ia putra satu-satunya. Kemudian, Nabi Sulaiman memanggil  para pejabat dan orang-orang pandai, untuk mengingatkan pada mereka akan kenikmatan-kenikmatan Allah atasnya serta mengakui karunia-Nya.

“Allah telah memberikan keutamaan kepadaku, maka ia mengajari aku bahasa hewan dan burung, dan menjadikan aku mengerti pembicaraan mereka. Ini disamping pemberian Allah kepada aku berupa kerajaan dan kenabian. Sesungguhnya kenikmatan-kenikmatan yang besar ini berasal dari keutamaan dan kebaikan-Nya. Hal itu jelas dan tidak samar bagi setiap orang.”

Pada suatu hari Sulaiman memanggil pasukannya, maka berkumpullah tentaranya berupa jin, manusia dan burung-burung yang berkumpul dengan taat kepadanya. Berangkatlah Sulaiman dengan pasukannya, hingga tiba di suatu lembah di mana banyak terdapat semut.

Maka Sulaiman mendengar seekor semut berkata kepada teman-temannya: ” Hai semut-semut, ini Sulaiman dan pasukannya berjalan menuju kalian, maka cepatlah bersembunyi di lubang-lubang, sehingga mereka tidak menghancurkan dan membinasakan kalian dengan injakan mereka, sedangkan mereka tidak merasakan kehadiran kalian.”

Sulaiman mendengar apa yang dikatakan semut, maka ia pun gembira atas hal itu dan ia pun merasa bersyukur atas pemberian Allah kepadanya berupa kenabian, keadilan, dan rahmat. Maka ia pun berkata kepada Tuhannya: ”Wahai Tuhanku, jadikanlah aku selalu bersyukur atas kenikmatan-Mu dan masukanlah aku dengan keutamaan dan rahmat-Mu dalam golongan orang-orang saleh yang mendapatkan keridhoan-Mu."

Kisah Nabi Sulaiman - Kenikmatan-kenikmatan yang Allah Swt Berikan pada Sulaiman

Sebagaimana Sulaiman berdoa kepada Allah Swt agar mengampuninya, ia pun berdoa kepada-Nya agar memberikan kekuasaan yang tidak pernah diberikan kepada orang lain. Maka Allah mengabulkan doanya dan memberikannya sebagai berikut:

Pertama, memberi kekuasaan atas angin untuk bertiup sesuai dengan perintahnya ke tempat yang dikehendakinya.

Kedua, Allah menundukkan setan-setan untuk melayani Sulaiman, di antara mereka ada yang bisa membangun istana-istana dan benteng-benteng. Selain itu, juga ada yang bertugas menyelam di laut untuk mengeluarkan mutiara-mutiara dan batu-batu mulia.

Kekuasaan ini semua disediakan Allah bagi Sulaiman, serta membolehkannya untuk bertindak menurut cara yang dikehendakinya. Di samping itu, dia juga mendapat kedudukan mulia di sisi Tuhannya dan tempat yang baik di akhirat, yaitu surga.

Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Saba’

Kerajaan Saba’ terletak di Yaman, kotanya bernama Ma’rib yang jarak perjalanannya tiga hari dari San’a. Negeri ini dinamakan Saba’, karena di sana tinggal anak Saba’ bin Yasyjub bin Ya’rib Qathan. Dinamakan Saba’, karena dia adalah raja Arab pertama yang menawan tawanan dan memasukan tawanan-tawanan keYaman.

Salah seorang ahli sejarah mengatakan; bahwa ia mendirikan kota Saba’ dan Sadd (bendungan) Ma’rib. Ketika terjadi banjir besar di Ma’riib, bercerai berailah pendudukan daerah ini dari Yaman, pergi ke segala arah, sehingga orang Arab sering membuat perumpamaan dengan mereka dalam hal bercerai berai.

Dalam kitab Perjanjian Lama, nama Saba’ disebut sebagai Syaba’, yaitu pusat perdagangan penting yang pedagangnya banyak dari kalangan orang-orang Ibrani. Kota ini terkenal kekayaannya berupa emas. Dalam kitab Perjanjian Lama, disebutkan kisah kunjungan yang dilakukan oleh Ratu Saba’ kepada mengangkut minyak-minyak wangi dan emas yang banyak serta batu-batu mulia.

Penduduk Habasyah berpendapat, bahwa keluarga yang memerintah di sana berasal dari keturunan Sulaiman dan istrinya Ratu Saba’, yang mereka namakan Maqadah. Di dalam Al-Qur’an telah diceritakan kisah kunjungan Ratu Saba’ kepada Sulaiman tanpa menyebut nama Ratu tersebut. Hanya ahli-ahli tafsir menyebutkan bahwa ia bernama Balqis.

Kisah Nabi Sulaiman - Dialog Antara Burung Hudhud dan Sulaiman

Pada suatu hari Sulaiman mencari Hudhud, ia tidak menjumpainya. Maka Sulaiman berkata: ”Kemana gerangan burung Hudhud ini? Apakah ia telah menghilang? Bagaimana dia bisa menghilang tanpa sepengetahuanku?”

Timbul kemarahan Sulaiman, ia berniat menghukum burung Hudhud, mungkin dengan mencabut bulunya, mengurungnya di dalam kurungan atau dengan menyembelihnya. Hal itu akan dilakukan menurut kadar dosanya. Mungkin juga dimaafkan, bilamana ia datang dengan bukti dan alasan yang jelas. Tidak lama kemudian Hudhud kembali seraya berkata: “Aku telah mengetahui apa yang tidak kau ketahui, aku baru saja kembali dari kerajaan Saba’ dengan membawa berita benar dan nyata."

Aku telah mendapatkan seorang perempuan yang memerintah kerajaan ini dan memiliki kekuasaan serta berbagai macam kenikmatan. Ia mempunyai singgasana besar yang dihiasi dengan permata-permata dan mutiara-mutiara, akan tetapi mereka tidak mengakui kenikmatan-kenikmatan Allah yang dicurahkan atas mereka dan tidak beriman kepada-Nya serta tidak menyembah-Nya, melainkan mereka menyembah matahari dan bersujud kepadanya, bukan kepada Allah.

Setan telah menyesatkan mereka, maka ia telah mengubah hati mereka dari jalan kebenaran, sehingga mereka tidak mendapat petunjuk untuk menyembah Allah semata-mata. 

Setan telah menyesatkan mereka dan menjauhkan mereka dari sujud kepada Allah yang berhak untuk disembah, karena Dialah yang telah menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang dikandung bumi, dan Dialah yang menurunkan hujan dari langit, Dialah yang mengetahui isi hati dan perbuatan-perbuatan manusia, Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia yang memiliki singgasana yang agung.”

Ketika Hudhud selesai berbicara Sulaiman menjawab: ”Kami akan menyelidiki dan memastikan perkataanmu apakah engkau berkata benar atau berdusta.”

Kisah Nabi Sulaiman - Surat dari Sulaiman Kepada Balqis

Untuk membuktikan kebenaran Hudhud, Sulaiman memberikan sepucuk surat dan menyuruh menyampaikannya kepada Balqis. Sulaiman berpesan supaya Hudhud mengawasinya dan mendengarkan jawaban mereka terhadap surat itu. Terbanglah Hudhud dengan surat Sulaiman menuju kerajaan Saba’, dan  memberikan surat itu kepada Balqis yang menerima dan membacanya.

Kemudian ia mengumpulkan pemuka-pemuka kaumnya dan pejabat-pejabat kerajaan dan berkata kepada mereka: “Hai kaumku, aku telah mendapat surat ini dari Raja Sulaiman yang isinya sebagai berikut: “Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Janganlah kalian sombong terhadap aku dan taatlah kalian kepadaku dan tunduklah kepada Allah saja.”

Setelah membaca surat itu, Balqis meminta nasihat orang-orang yang hadir mengenai isi surat itu. Maka berkatalah Balqis kepada mereka : “ Hai kaumku, kemukakanlah pendapat kalian mengenai urusan yang penting ini, karena aku tidak memberi keputusan dan melaksanakan urusan, kecuali di hadapan kalian dan setelah bermusyawarah dengan kalian.”

Para hadirin menjawab: “Kita memiliki kekuatan yang hebat dan jumlah yang besar. Kita juga mempunyai persiapan yang paling sempurna untuk berperang dan kami serahkan urusannya kepadamu, maka berilah perintah dan kami akan taat kepadamu.”

Kisah Nabi Sulaiman - Jawaban Balqis Atas Surat Sulaiman

Balqis merasa bahwa kaumnya cenderung untuk berperang, ia memikirkan serta memperhitungkan akibat segala urusan. Maka ia ingin menjelaskan kepada mereka bahaya-bahaya perang, khususnya terhadap orang yang kalah. Maka ia berkata: “Sesungguhnya raja-raja itu apabila memasuki dusun dalam keadaan perang, mereka pun merusak bangunannya dan membinasakan isinya serta menghinakan penghuninya. Demikian pula yang akan mereka lakukan jika mereka menang atas kita,”

Kemudian Balqis menyatakan pendapatnya seraya berkata: “Aku telah memutuskan untuk mengirim utusan-utusan dengan hadiah besar dan akan kita lihat pengaruhnya dalam jiwa mereka, karena kebiasaan raja-raja adalah jika menerima hadiah-hadiah yang baik, mereka membalasnya.

Maka apabila Sulaiman menerimanya, tahulah aku bahwa ia adalah raja yang senang menerima hadiah dan jika ia seorang nabi, maka ia hanya mengharapkan kita mengikuti agamanya, sebagaimana utusan-utusan ini akan kembali kepadaku membawa berita meyakinkan tentang besarnya kekuatan mereka."

Usai Balqis tiba di Palestina dengan membawa hadiah-hadiah bagi Sulaiman, maka utusan itu melihat kerajaan besar dan istana-istana serta pasukan yang bukan merupakan tandingan kerajaan Saba’. Tatkala delegasi Balqis tampil di hadapan Sulaiman dan menyerahkan hadiah, Sulaiman menolaknya, karena ia tidak mengharapkan hadiah.

Sebaliknya ia hanya mengharapkan supaya Balqis beriman kepada Allah dam mengikuti sya’riat-Nya serta meninggalkan penyembahan matahari. “Apakah kalian memberi hadiah kepadaku berupa harta, sedangkan Allah telah memberikan karunia kepadaku berupa kerajaan, menundukkan jin, manusia, serta burung sebagaimana Allah telah memberikan kenabian kapadaku. Maka aku tidak mempunyai ketamakan dalam harta, akan tetapi aku petunjuk bagi kalian. Kalian tentu merasa gembira dengan hadiah yang diberikan kepada kalian, Karena kalian mencintai keduniaan, tetapi aku tidak membutuhkan semua itu,”  tandas Sulaiman.

Kemudian ia berbicara dengan pimpinan delegasi seraya berkata: “Pulanglah kepada kaummu dan kembalikanlah hadiah ini, beritahu kepada mereka apa yang engkau saksikan pada diri kami mengenai kerajaan dan kekuatan serta penyembahan kami kepada Allah, jika mereka beriman maka mereka selamat, dan jika mereka tetap dalam kekafirannya, maka demi Allah kami akan kirimkan kepada mereka pasukan yang tidak mampu mereka melawannya. Kami akan mengeluarkan mereka dari kota Saba’ sebagai tawanan yang hina dan sebagai budak-budak."

Kisah Nabi Sulaiman - Singgasana Balqis di Hadapan Sulaiman

Delegasi Ratu Balqis kembali dan memberitahu ratunya tentang kekuatan Sulaiman dan penolakannya atas hadiah itu. Bahkan ia menegaskan sumpah Sulaiman berupa ancaman untuk menyerbu, jika Balqis menolak datang kepadanya.

Ketika Balqis memahami bahwa Sulaiman adalah seorang nabi yang diutus, maka ancaman itu benar adanya dan Balqis tidak akan sanggup menentang perintahnya. Maka bersiap-siaplah Balqis bersama pemuka-pemuka kaumnya, untuk pergi kepadanya. Sulaiman mengetahui perjalanan Balqis ke negerinya, maka ia pun bermaksud menunjukkan kepadanya salah satu mukjizat yang dikhususkan Allah baginya, agar hal itu menjadi bukti atas kenabiannya.

Sulaiman berkata kepada jin yang berada di sekitarnya: “Siapakah di antara kalian yang sanggup mendatangkan singgasana Balqis kepadaku untuk melihat kekuasaan Allah berlangsung di hadapan mereka?” Jin Ifrit berkata: “Saya sanggup membawanya kepadamu, sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu di mana engkau mengadili dan menghukum.”

Konon Sulaiman duduk dari pagi hingga siang setiap hari, untuk memutuskan hukuman di antara orang-orang. Kemudian jin Ifrit ini menambahkan, bahwa ia sanggup membawanya dan bisa dipercaya terhadap permata-permata yang terdapat disitu. Akan tetapi salah seorang malaikat yang memiliki ilmu dari kitab-kitab samawi berkata: “Aku akan mendatangkannya lebih cepat dari kejapan mata.” Ia pun mendatangkan singgasana di hadapan Sulaiman.

Tatkala Sulaiman melihat singgasana itu berada di hadapannya, ia berkata: “Pertolongan dan dukungan Allah dengan kehadiran singgasana, itu, adalah karunia Allah atas diriku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atas kenikmatan-Nya atau mengingkarinya.”

Sesungguhnya aku bersyukur kepada Tuhanku atas kenikmatan-kenikmatan-Nya dan manfaat syukur itu kembali kepada orang yang bersyukur, karena syukur itu menimbulkan tambahan kenikmatan dan kekekalan. Barang siapa tdak bersyukur, maka sesungguhnya Tuhan tidak membutuhkan hamba-hamba-Nya dan Dia Maha Pemurah yang memberikan keutamaannya kepada makhluk-Nya.

Kemudian Sulaiman menyuruh orang-orangnya mengubah bentuk singgasana sedikit, untuk mengetahui kalau-kalau Balqis bisa mengenalinya setelah menyelidiki dan mengamatinya, atau barangkali ia tidak tahu bahwa ini adalah singgasana dan kursi kerajaan. Tatkala Balqis tiba ditunjukanlah singgasananya kepadanya, maka ia pun berdiri kebingungan di depannya, karena di sana terdapat tanda-tanda yang menyebabkan dia bisa memutuskan bahwa itu adalah singgasana.

Ditanyakan kepada Balqis: “Apakah singgasana yang engkau lihat itu menyerupai singgasana yang engkau tinggalkan di negerimu?”

Balqis menjawab: “Barangkali benar.”

Setelah ia menyelidiki, yakinlah ia bahwa singgasana itu adalah kepunyaannya sendiri. Dan kedatangan singgasana sebelum kehadirannya itu merupakan mukjizat Sulaiman, khususnya bahwa singgasana itu terkunci di dalam istananya.

Oleh karena itu, berkatalah ia kepada Sulaiman: “Kami telah mengetahui  dengan kekuasaan Allah dan kebenaran kenabianmu dari mukjizat ini, dengan penyaksian kami terhadap perbuatan Hudhud. Dan apa yang didengar dari utusan-utusan kami kepadamu berupa ayat-ayat yang menunjukan hal itu, kami pun beriman sejak itu. Adapun yang menghalangi kami untuk menampakkan iman kami ialah, karena kami berada di tengah-tengah kaum yang kokoh dalam kekafiran, dan inilah yang menyebabkan kami menyembunyikannya hingga akhirnya datang kepadamu."

Kisah Nabi Sulaiman - Balqis di Istana Sulaiman

Sulaiman menunjukkan kepada Balqis tentang tenaga teknik yang khusus dimilikinya. Kemudian, dia pun menyuruh tenaga-tenaga ahli bangunan untuk membuat bangunan yang lantainya terbuat dari kaca tipis, rata dan mulus dengan mengalirkan air di bawahnya, sehingga lantai itu tampak seperti kolam air.

Kemudian, Sulaiman duduk di tengah lantai di atas tempat tidur raja dan ia menyuruh memanggil Balqis untuk menemuinya di istana. Balqis dipanggil, lalu masuklah ia menemui Sulaiman, tercenganglah ia melihat lantai yang tampak seakan-akan penuh dengan air. Maka ia pun menyingkapkan betisnya supaya tidak basah bajunya menurut dugaannya, dan berjalanlah ia di atas lantai.

Pada waktu itu Sulaiman memberitahukan kepadanya, bahwa lantai itu terbuat dari kaca yang tipis, mulus dan ini adalah pemandangan yang belum pernah disaksikan Balqis sebelumnya. Kemudian tatkala Balqis melihat penghormatan Sulaiman yang sangat kepadanya dan melihat kebenaran yang terang yang tadinya tertutup darinya, ia pun menuju kepada Tuhannya seraya berkata: “ Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat aniaya terhadap diriku dengan menyembah matahari, sekarang aku tunduk bersama Sulaiman kepada-Mu, wahai Tuhanku pemilik sekalian alam.” (Q.S. An-Naml: 44) 

Kisah Nabi Sulaiman - Kematian Sulaiman

Al-Qur’an menyebutkan kematian Sulaiman dengan firman Allah Swt:

“ Tatkala sampai ajal Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kematian dari binatang rayap yang memakan tongkatnya. Tatkala ia roboh, tahulah jin-jin itu bahwa seandainya mereka mengetahui hal-hal yang gaib, tidaklah mereka tinggal dalam siksaan yang hina itu.”(Q.S. Saba’:14) 

Ahli-ahli tafsir memiliki banyak pendapat mengenai tafsir dari nash Al-Qur’an ini. Sebagian di antara ada yang tidak masuk akal dan yang paling mendekati dengan logika ialah yang diriwayatkan oleh Abdul Wahhab An-Najjar, bahwa Sulaiman telat wafat dan kematiannya tidak diketahui oleh jin, kecuali manusia dan ia pun dikubur. 

Kemudian putranya menggantikannya sebagai raja, dan jin-jin di tempat-tempat yang jauh tidak berhenti bekerja karena takut dihukum oleh Sulaiman. Sesudah lewat suatu masa, tahulah bahwa salah seorang jin bahwa Sulaiman telah wafat ketika ia melihat tongkatnya tergeletak di atas tanah.

Jin itu mengangkatnya, ternyata tongkat itu telah dimakan rayap. Maka ia mendapat petunjuk dari bekas gigitan rayap pada tongkat itu, bahwa Sulaiman telah membiarkannya tergeletak di atas tanah untuk masa yang lama. Ia tidak akan membiarkannya, kecuali bila terjadi peristiwa kematian. Maka jin itu menyelidikinya, dan tahulah mereka bahwa andaikata mereka mengetahui hal-hal gaib, tidaklah mereka harus terus menjalani siksaan yang menghinakan itu.

Kemuliaan di Akhir Kisah Nabi Sulaiman as

Allah SWT telah memilih dari kelompok manusia untuk dijadikan wakilnya di bumi, demikian pula dengan Nabi Sulaiman yang memiliki kisah memukau. Kisah Nabi Sulaiman menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran Allah SWT kepada seluruh umatnya waktu itu dan akan menjadi bahan tauladan untuk umatnya yang kemudian. Begitulah kisah hidup para nabi, yang di sisi Allah SWT diangkat derajatnya menjadi setinggi-tingginya, namun di hadapan manusia tak jarang harus menerima cercaan dan hinaan. 

Kisah hidup para nabi dan rasul Allah di dunia ini, seperti juga kisah Nabi Sulaiman, seperti disitir dalam al-Qur'an, sepatutnya menjadi bahan pelajaran untuk umat manusia bahwa seorang nabi menyampaikan sesuatu bukan atas dasar hawa nafsu, melainkan semua itu atas bimbingan Allah SWT.

Andaikata seluruh umat manusia menyadari pada kondisi ini, maka kisah hidup para nabi akan mulus tanpa cercaan dan hinaan. Tapi kehidupan dunia dengan segala seisinya, seperti dijelaskan Allah SWT dalam al-Qur'an, semata-mata hanya fitnah dan hanya kehidupan akhiratlah yang abadi, baik dan terjamin. 

Kisah Nabi Sulaiman memang sepatutnya menjadi tauladan, karena di dalamnya mengandung berbagai macam pelajaran, tentang kemuliaan, tentang kepandaian berbahasa, tentang rasa kasih sayang yang melampaui manusia pada umumnya.

Artinya, apabila seorang manusia memelihara dirinya agar senantiasa berada di jalan Allah, maka ia bisa meraih kemuliaan di dunia seperti yang pernah diraih oleh Nabi Sulaiman seperti terungkap jelas dalam kisah Nabi Sulaiman itu sendiri.

Manusia pada umumnya memiliki potensi yang telah dianugerahkan Allah SWT yaitu potensi kekuatan nurani dan cenderung pada kebaikan. Apabila potensi terus diasah, terus dikembangkan dengan mencontoh kisah hidup para nabi dan rasul Allah SWT, maka ia akan memperoleh derajat yang sama.

Bukan menjadi nabi atau rasul, karena nabi telah ditutup oleh kehadiran Nabi Muhammad SAW. Tapi apabila potensi itu dikembangkan dengan optimal, terus selalu berusaha agar dirinya tetap berada dalam ridha dan jalan Allah SWT semata-mata, maka ia akan memperoleh derajat manusia yang mulai di sisi Allah, dan jaminannya adalah jaminan seperti yang dijanjikan Allah SWT dan diberikan kepada para nabi dan rasul yaitu surga.

Kisah Nabi Sulaiman - Kemuliaan Kehidupan Nabi Sulaiman

Dalam kisah Nabi Sulaiman as. diceritakan bahwa beliau hidup di tengah-tengah kemuliaan juga kejayaan di muka bumi, dan Allah menetapkan akhir hidupnya dengan kemuliaan pula. Sebagaimana kehidupan Nabi Sulaiman yang dipenuhi dengan keajaiban luar biasa maka kematiannya pun merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang sangat menakjubkan.

Tak ada seorang manusia pun mendapat anugerah besar berupa kemuliaan sampai akhir hayatnya kecuali dialami oleh Nabi Sulaiman as. Tentu saja semua ini menjadi rahasia Allah SWT tentang apa tujuan dan apa dampaknya bagi kehidupan.

Memang sepintas di dalam kehidupan dunia yang fana ini, manusia menganggap bahwa kemuliaan di hadapan manusia menjadi hal yang sangat penting, sehingga habis-habisan dikejarnya. Hal-hal yang akan menjadikan dirinya mulia di hadapan manusia siang malam terus dikejarnya.

Tapi setelah kemulian itu berada dalam genggamannya, ia belum tentu menjadi manusia yang hidup mulai di hadapan manusia dan bisa menjalankan kehidupan dengan mulia pula, sehingga akan mulia di hadapan Allah SWT. Kebanyakan dari manusia adalah sebaliknya, menjadi mulia di hadapan manusia tetapi menjadi hina di hadapan Allah SWT.

Hal kedua yang bisa dijadikan pelajaran dari kemuliaan Nabi Sulaiman as adalah bahwa dengan sekuat tenaga boleh mencari kehidupan dunia untuk meraih kemuliaan di hadapan manusia. Tapi setelah kemuliaan ada dalam genggaman, seharusnya menjadi lebih mulia di hadapan Allah SWT.

Lewat kisah Nabi Sulaiman as ini, Allah SWT ingin menyindir manusia pada umumnya, lihat saja Nabi Sulaiman yang memiliki kemuliaan luar biasa tapi juga seorang yang bertakwa luar biasa. Mana mungkin seorang manusia yang meraih kemuliaan alakadarnya kemudian tidak bisa bertakwa seperti Nabi Sulaiman as. 

Kematian nabi Sulaiman dikisahkan oleh Allah dalam QS. Saba :14 dimana tidak ada satu pun baik manusia maupun jin yang mengetahui saat nabi Sulaiman meninggal, dan mereka baru sadar dan mengetahui saat tongkat beliau rapuh dan habis dimakan rayap. Dari sini jelaslah bahwa bangsa jin pun tidak mengetahui masalah ghaib kecuali Allah SWT.

Kisah Nabi Sulaiman - Kematian Nabi Sulaiman as. Mematahkan Fitnah

Nabi Sulaiman mampu menundukkan, memperkerjakan, dan memiliki hubungan dengan para jin, hal ini menimbulkan fitnah bahwa jin mengetahui sesuatu yang ghaib. Dan tidak diketahui siapa yang mengepulkan asap fitnah apakah itu syaitan yang terkutuk atau jin yang bodoh atau manusia yang tertipu.

Isu tersebut menyebar mempengaruhi sebagian manusia dan jin, manusia melupakan bahwa ilmu ghaib hanya berada di tangan Allah SWT. Ilmu ghaib tidak akan ada yang mampu menguasainya baik jin , manusia atau Rasul sekalipun. Allah merencanakan kematian nabi Sulaiman untuk mematahkan isu bahwa jin mengetahui hal-hal yang ghaib.

Jin bekerja untuk nabi Sulaiman selama beliau hidup, tatkala beliau wafat tugasnya pun akan terbebas. Nabi Sulaiman meninggal tanpa diketahui oleh jin sehingga para jin tetap bekerja dan mengabdi untuk beliau. Seandainya saja jin ada yang mengetahui hal yang ghaib ini maka jin tidak akan lagi meneruskan pekerjaan mereka.

Akhir kisah Nabi Sulaiman yaitu ketika suatu hari beliau memasuki mihrabnya yang terletak di puncak gunung yang dindingnya terbuat dari permata untuk beri’tikaf, beribadah dan sholat. Dan bila beliau sedang berkhalwat, maka tidak ada seorang pun yang berani mengganggunya. Ketika itu Nabi Sulaiman duduk dan bersandar pada tongkatnya seperti sedang tenggelam dalam tafakur. Tongkat inilah yang menjadi satu-satunya saksi apa yang akan terjadi dengan Nabi Sulaiman as selanjutnya. 

Beliau berdzikir kepada Allah hingga malaikat maut menemuinya dan Nabi Sulaiman pun meninggal. Jin menyangka bahwa beliau sedang shalat sehingga mereka tetap melanjutkan pekerjaannya. Berlalulah waktu yang sangat panjang hingga rayap datang dan mulai memakan tongkatnya Nabi Sulaiman.

Tongkat beliau pun menjadi rapuh dan keropos hingga tak mampu lagi menopang tubuhnya, maka tubuh suci itu pun lalu jatuh dan tersungkur. Manusia pun berdatangan mendekatinya, dan mereka baru sadar bahwa Nabi Sulaiman as telah meninggal sejak lama. Jin menyadari bahwa mereka tidak mengetahui hal yang ghaib ini dan manusia pun menyadari pula hal yang sangat hakiki ini.

Dengan demikian maka berakhirlah fitnah yang selama ini berhembus amat kencang. Allah SWT telah menjaga kemuliaan Nabi Sulaiman ketika hidup begitu pun ketika mati. Dengan meninggalnya Nabi Sulaiman as seperti itu, kemuliaan beliau tetap terjaga.

Kisah Nabi Sulaiman - Burung Pun Mengantarkan Jenazahnya

Demikianlah akhir dari kisah Nabi Sulaiman as. yang meninggal dalam keadaan duduk dan shalat di mihrabnya. Berita ini segera menyebar, manusia, burung dan binatang buas mengantarkan jenazah beliau dengan diiringi kesedihan yang mendalam. Semua makhluk bersedih, sekumpulan burung pun tampak menangis.

Semenjak itu tak ada lagi orang yang dapat memahami bahasa burung, mungkin saja burung bersedih ditinggalkan Nabi Sulaiman as karena tidak ada lagi yang mengerti tentang bahasa mereka.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Kisah Singkat Nabi Yusuf
  • Misi Nabi Muhammad Saw sebagai Penyempurna Akhlak Manusia
  • Nabi Muhammad - Nabi Akhir Zaman yang Hebat
  • Kisah Nabi Muhammad yang Zuhud
  • Kisah Kehidupan Nabi Musa yang Berhadapan dengan Kekejaman Fir'aun
  • Kisah Nabi Sulaiman yang Bijaksana
  • Belajar Kehidupan dari Kisah 25 Nabi dan Rosul
  • Alasan Nabi Muhammad Saw Menikahi Isteri Isterinya
  • Shalatlah Seperti Shalat Nabi
  • Kisah Nabi Ayub as, Nabi Yang Sabar dalam Ujian
  • Pengertian dan Perbedaan Nabi dan Rasul
  • Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW
  • Belajar dari Penciptaan Nabi Adam
  • Nama Sahabat Nabi Muhammad SAW - Asratul Kiraam, Secercah Cahaya dari Surga
  • Mengimani dan Mencintai Rasulullah
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA