Kisah Nabi Musa Bersama Nabi Khidir
Kisah nabi yang diriwayatkan dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an tujuannya hanya satu, yaitu memberikan pelajaran hidup serta contoh berperilaku baik pada manusia. Kisah nabi diciptakan untuk menjadi teladan umat manusia. Tidak bisa tidak bahwa kisah nabi tersebutlah yang sedikit banyak mencontohkan mana tindakan yang baik dan mana tindakan yang kurang baik.
Berbicara tentang kisah nabi sama halnya dengan membicarakan sebuah pelajaran hidup. Bahwa manusia idealnya memang belajar dari sebuah cerita yang mengandung kebaikan. Karena dengan demikian, hidup akan lebih terasa bermanfaat, baik bagi diri kita sendiri ataupun orang lain.
Allah mengajarkan manusia tentang kebaikan dengan cara-Nya sendiri. Ia tidak menggurui dan otoriter. Oleh karena itu, Allah memberikan manusia otak, gunanya adalah untuk mencerna. Mencerna apapun yang ada di dunia ini, termasuk mencerna semua pelajaran yang terkandung dalam kisah nabi.
Dari sekian banyak kisah nabi yang diceritakan oleh Allah Swt dalam Al-Qur’an, ada beberapa kisah nabi yang boleh dibilang misterius, karena tidak banyak kisah nabi yang disampaikan.
Salah satunya adalah kisah Nabi Khidir (atau Khadr/Khader/al-Khadir). Kita tidak diberitahu banyak tentang siapa dia, latar belakangnya dan riwayat hidupnya. Dalam Al-Qur’an pun namanya tidak banyak dikisahkan.
Apa yang kita ketahui hanyalah sepotong kisahnya dalam sebuah episode kisah Nabi Musa, sebagaimana tertera dalam surat Al-Kahfi. Musa bertemu dengan Nabi Khidir, lalu terjadilah beberapa peristiwa yang menjadi pelajaran berharga bagi Nabi Musa. Bertemunya Nabi Musa dengan Nabi Khidir menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang kisah Nabi Musa.
Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir bermula ketika suatu saat Nabi Musa ditanya oleh pengikutnya dari Bani Israil, “Siapakah orang yang paling berilmu?” Lalu Musa menjawab, “aku.”
Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits, Allah langsung menegur Musa dengan berfirman, “sesungguhnya di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada di pertemuan dua lautan dan dia lebih berilmu daripada kamu.”
Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir pun dimulai dari sini. Mendapat teguran dari Allah, Nabi Musa berkeinginan untuk bertemu dengan orang yang dimaksudkan oleh Allah tersebut dan menimba ilmu darinya. Singkat cerita, Nabi Musa mendatangi tempat yang dimaksud dan bertemu dengan seseorang yang berjubah putih bersih, yang tidak lain adalah Nabi Khidir as.
Dalam kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir, dijelaskan bahwa Nabi Musa hendak berguru kepada Nabi Khidir. Lalu Nabi Musa pun berkata, “Aku datang menemui Tuan supaya Tuan dapat mengajarkan sebagian ilmu dan kebijaksanaan yang telah diajarkan kepada Tuan.” Namun, Khidir menjawab, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan bersabar denganku.”
Oleh karena itu, Nabi Musa meyakinkan Nabi Khidir bahwa ia akan bersabar dan berjanji untuk tidak bertanya tentang apa pun yang kelak dilakukan oleh Khidir sampai ia menjelaskannya. Musa pun mengikuti Nabi Khidir pergi dan bertekad untuk tidak bertanya walaupun kelak apa yang dilakukan oleh Khidir membuat Musa terperanjat. Kisah Nabi Musa yang menimba ilmu dari Nabi Khidir menjadi cerita menarik diantara rangkaian cerita Nabi Musa menyebarkan ajaran agama Islam.
Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir – Mengajarkan Ilmu dengan Teka-teki
Kisah Nabi Musa bersama Nabi Khidir digambarkan dengan sebuah peristiwa awal pertemuan dua nabi tersebut. Peristiwa pertama yang membuat Musa kaget adalah ketika Khidir menghancurkan perahu yang mereka tumpangi. Musa tidak dapat menahan diri untuk bertanya tentang sebab Khidir melakukan itu. Namun, Khidir mengingatkan janji Musa untuk tidak bertanya. Maka Musa pun meminta maaf atas kelancangannya.
Setelah mereka sampai di daratan, kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir berlanjut. Tiba-tiba Nabi Khidir membunuh seorang anak yang sedang bermain bersama teman-temannya. Nabi Musa kaget setengah mati dan tidak mampu menahan tanya. Khidir mengingatkan bahwa sekali lagi Musa bertanya, maka ia akan meninggalkan Musa as. Mereka pun melanjutkan perjalanan.
Sesampainya di sebuah pemukiman, kedua Nabi yang kelelahan ini meminta bantuan kepada penduduk setempat. Namun, mereka malah direspon buruk oleh para penduduk. Nabi Musa merasa sangat kesal atas perlakuan tersebut, namun apa yang dilakukan oleh Nabi Khidir as? Kisah Nabi Musa ketika berhadapan dengan Nabi Khadir mengajarkan kita tentang arti kesabaran.
Ia malah mengajak Nabi Musa untuk memperbaiki sebuah tembok yang hampir runtuh di daerah tersebut. Kali ini Musa kehabisan kesabaran hingga lagi-lagi ia bertanya tentang tindakan Khidir yang selalu kontroversial. Maka Khidir pun menegaskan bahwa Nabi Musa tidak dapat menjadi muridnya. Lalu ia pun menjelaskan alasan dari tindakan-tindakannya. Kisah Nabi Musa yang ingin berguru pada Nabi Khidir pun berakhir dengan kekecewaan.
Pada kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir kemudian dijelaskan mengapa Nabi Khidir melakukan semua perbuatan itu. Pada peristiwa pertama, Nabi Khidir menghancurkan perahu karena perahu itu milik seorang miskin dan di sana hidup seorang raja yang suka merampas perahu dari rakyatnya.
Pada peristiwa kedua, Khidir membunuh seorang anak karena ia tahu bahwa anak itu kelak akan menyesatkan kedua orangtuanya yang beriman. Maka Allah akan menggantinya dengan seorang anak yang shaleh.
Pada peristiwa terakhir, ia menjelaskan bahwa rumah yang temboknya mereka perbaiki itu adalah rumah dua orang kakak beradik yang shaleh yang ayahnya sudah meninggal dunia.
Dalam rumah itu ada harta peninggalan orang tuanya untuk mereka berdua. Apabila rumah itu runtuh, sudah barang tentu para penduduk akan mengambil harta itu, sedang kakak-beradik tersebut masih terlalu kecil untuk mengelola harta.
Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir – Ilmu Allah Tidak Akan Berkurang
Akhirnya Nabi Musa mengerti pelajaran yang ada di balik setiap tindakan Nabi Khidir as. Ia bersyukur dipertemukan dengan orang yang memiliki ilmu yang begitu luas, yang tentu saja diperoleh dari Allah Swt. Meskipun tidak menjadi muridnya, kisah nabi yang dialami Nabi Musa ini cukup mengajarkan Nabi Musa sesuatu, bahwa ilmu yang paling luas hanyalah dimiliki oleh Allah.
Nabi Khidir telah menjadi guru yang menyadarkannya bahwa ia bukanlah orang yang paling berilmu, masih ada orang yang jauh lebih berilmu daripadanya. Dan tentu saja Allah Swt memiliki ilmu yang jauh lebih luas daripada keduanya.
Saat mereka di dalam perahu, hinggaplah seekor burung di ujung perahu lalu meneguk air laut dengan paruhnya.
Nabi Khidir lantas berkata, “Ilmuku dan ilmumu tidak sebanding dengan ilmu Allah. Ilmu Allah tidak akan berkurang lantaran diminum sedikit airnya oleh burung ini.”
Nabi Khidir memberi pelajaran berharga, bukan hanya kepada Nabi Musa as, tetapi juga kepada kita bahwa tidak ada yang boleh mengklaim sebagai orang yang paling berilmu, dan bahwasanya seorang murid yang baik harus memiliki sikap sabar ketika menimba ilmu dari gurunya. Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir ini sudah sepantasnya menjadi panutan bagi umat manusia untuk tidak pernah letih menimba ilmu.






