Deskripsi Klasifikasi Iklim Junghuhn
Junghuhn adalah salah satu pakar meteorologi yang melakukan pengelompokan atau klasifikasi iklim berdasarkan garis ketinggian. Klasifikasi iklim Junghuhn ini sekaligus dapat menentukan tanaman budidaya yang dapat tumbuh di suatu daerah dengan ketinggian tertentu. Hal tersebut berdasarkan kesesuaian suhu udara dengan karakteristik tanaman. Setiap tanaman perkebunan memiliki kebutuhan suhu udara tertentu untuk dapat bertahan hidup.
Penggolongan iklim yang dilakukannya ini sangat bermanfaat untuk keperluan pola pembudidayaan tanaman perkebunan yang ada, termasuk di Indonesia. Tanaman-tanaman perkebunan yang dapat menggunakan pedoman dari klasifikasi iklim menurut Junghuhn ini, di antaranya adalah kopi, teh, kina, cokelat, sayuran, dan sebagainya. Semakin tinggi suatu daerah, suhu udaranya semakin dingin. Karakteristik tanamannya juga tentu berbeda.
Junghuhn mengklasifikasikan iklimnya berdasarkan lima zona, yaitu zona panas, sedang, sejuk, dan dingin. Berikut ini adalah deskripsi klasifikasi iklim menurut Junghuhn.
1. Zona Panas
Ketinggian 0-700 meter di atas permukaan laut (DPL). Zona ini memiliki suhu (temperatur) udara berkisar antara 26,3˚C-22˚C. Pada ketinggian ini, cocok ditanami jagung, padi, tebu, kelapa, dan coklat.
2. Zona Sedang
Ketinggian 700-1500 meter DPL. Suhu udara pada zona ini berkisar antara 22˚C-17,1˚C. Cocok untuk ditanami karet, kina, sayuran, coklat, kopi, dan teh.
3. Zona Sejuk
Ketinggian 1500-2500 meter DPL. Jenis tanaman yang cocok pada zona ini adalah pinus, cemara, dan sayuran. Suhu udara di zona ini berkisar antara 17,1˚-11,1˚C yang merupakan suhu yang cocok untuk tanaman-tanaman tersebut.
4. Zona Dingin
Ketinggian di atas 2500 meter DPL. Suhu udara di zona ini mulai dari 11,1˚c sampai dengan 6,2˚C sehingga dapat dipastikan tanaman yang dapat hidup di zona ini hanyalah tanaman berjenis lumut. Tanaman perkebunan tidak dapat hidup pada zona ini.
Pengaruh Ketinggian
Ketinggian memang berpengaruh terhadap suhu udara di suatu tempat. Pada akhirnya, semuanya ini akan berpengaruh pada iklim di bumi. Ketinggian dan suhu memiliki kondisi yang berbanding terbalik. Semakin tinggi suatu daerah, temperaturnya semakin rendah sehingga semakin dingin pula daerah tersebut.
Setiap pertambahan ketinggian sebanyak 100 meter, temperatur udara akan turun sebesar 0,6˚C. Itulah yang menyebabkan Junghuhn dapat mengklasifikasikan iklim ini yang secara tidak langsung mengklasifikasikan tanaman yang cocok pada iklim-iklim tersebut.
Para pengusaha perkebunan dapat menjadikan klasifikasi iklim menurut Junghuhn ini untuk melakukan pemilihan perkebunan yang cocok di daerahnya. Hal itu dilakukan agar tanaman yang ditanamnya dapat tumbuh, berbuah lebat, dan akhirnya dapat memberikan. Namun, perlu diperhatikan pula faktor-faktor lain, selain suhu dan ketinggian, yang juga mempengaruhi keberhasilan dalam budidaya tanaman-tanaman tersebut.






