Klenik Kenapa Ada?
Belum lekang dalam ingatan, pemandangan di depan rumah Ponari, seorang dukun cilik. Semua mengantre untuk mendapat celupan batu petir pada airnya. Mereka berharap dapat sembuh dari segala jenis penyakit, seolah-olah dunia kedokteran sudah tidak masuk dalam hitungan.
Bukan hanya itu saja, ada juga berita tentang para Caleg yang datang pada dukun atau mengunjungi tempat keramat agar bisa dapat lolos dan terpilih dalam pemilu.
Klenik Selalu Ada
Membaca tulisan di atas Anda pasti berpikir, separah itukah? Sayangnya, kita harus mengakui mau tidak mau bahwa itu sudah menjadi sesuatu yang mendarah daging di dalam masyarakat Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dari sebuah survei yang dilakukan sebuah lembaga yang bergerak dalam bentuk media.
Mereka melakukan survei secara acak dan menemukan fakta mengejutkan bahwa banyak responden yang percaya pada hal klenik, dan jauh lebih banyak yang melakukan kegiatan klenik. Seperti misalnya percaya pada ramalan dan mendatangi seseorang yang dianggap “orang pintar” lalu kemudian mengadukan masalahnya dan meminta ramalan.
Atau yang paling jelas, banyak sekali kalangan orang-orang berdasi dan bersekolah di Universitas tinggi tetap percaya hal tersebut, mendatangi dan meminta restu dan jampi-jampi tanpa rasa malu ataupun takut disebut Syirik.
Indonesia terdiri atas beragam budaya. Sejak sebelum Indonesia menjadi sebuah negara kesatuan, dahulu kerajaan-kerajaan di wilayah Nusantara menganut pada ajaran agama nenek moyang, yang dekat dengan segala macam berbau klenik.
Orang percaya dan meminta pada yang sudah mati. Mereka yakin ada roh nenek moyang yang akan selalu menolong. Kebiasaan tersebut terus ada, dan mendarah daging.
Walau Islam sudah masuk, namun kebiasaan itu lekat di masyarakat. Oleh sebab itu banyak sekali tradisi yang berbau klenik, contoh yang nyata adalah mencuci keris yang dilakukan orang keraton di Yogya ataupun Solo.
Lalu air cuciannya digunakan oleh masyarakat setempat dan dipercayai bisa mengundang keberkahan dan keberuntungan. Islam memang masuk, namun sayangnya justru klenik yang ada mulai bersembunyi dibalik suasana Islam.
Katakan seperti ini, kalau ada orang yang datang, mereka akan memberi jampi-jampi dan jimat dalam bahasa Arab, seolah-olah itu adalah perbuatan yang diperbolehkan oleh agama.
Lalu, masyarakat pun mengamiminya begitu saja. Bagi yang menganut Islam, mereka percaya bahwa klenik yang didasarkan dari huruf Arab atau bacaan-bacaan Al-Quran sah-sah saja. Pendapat yang sembrono dan asal-asalan.
Say No to Klenik
Kita adalah masyarakat yang bergama. Agama kita (Islam, Kristen) mengajarkan untuk mempercayai bahwa hanya Tuhan saja yang bisa menentukan. Jadi, jangan meminta selain kepada Tuhan. Percaya klenik berarti menyerahkan urusan kita kepada hal-hal gaib, seperti Jin atau sebangsanya. Hal itu dapat memudarkan keimanan kita yang sesungguhnya. Jadi, Say No To klenik!






