Koleksi Film Indonesia Adaptasi dari Novel
Belum lama ini, perfilman Indonesia digegerkan oleh film-film yang diadaptasi dari sebuah karya sastra, dalam hal ini novel. Sebut saja fenomena kesuksesan koleksi film Indonesia yang didulang Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy dan Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata.
Bahkan, hingga hari ini, kedua novel tersebut masih saja dibeli sebagian orang. Begitu pun filmnya, masih ada yang menonton.
Jika novel Kang Abik, begitu Habiburrahman akrab disapa, tetap digemari karena mengusung konsep membangun jiwa, novel Andrea Hirata tetap disukai karena mengangkat tema yang tidak basi: pendidikan ala Indonesia.
Bukan Hal Baru
Sebenarnya, film yang diangkat dari sebuah novel bukanlah hal baru bagi insan di dunia perfilman. Di sejumlah negara maju semisal Eropa, sudah banyak sekali novel yang diangkat ke layar lebar.
Pada 1986 kita mengenal novel The Name of The Rose karya Umberto Eco yang juga difilmkan dengan judul sesuai novelnya. Novel karya Leo Tolstoy berjudul War and Peace juga difilmkan dengan judul sama. Di Rusia sendiri, War and Peace merupakan bacaan tentang pergolakan politik pada abab ke-20 yang wajib dibaca oleh murid-murid sekolah umum di Rusia.
Beda Novel dan Film
Saat orang-orang mengantri di loket karcis untuk menonton film yang diangkat dari novel kesayangan mereka, tak jarang setelah keluar bioskop keluarlah kata-kata kecewa dari mulut mereka.
Umumnya, mereka berharap film yang diputar sama dengan apa yang mereka baca. Namun, harapan itu ternyata tidak mereka temui hingga berujung kekecewaan.
Novel sebagai karya sastra dan film sebagai kerja tim adalah dua hal yang berbeda. Novel tetap menjadi novel yang bebas lintas batas karena hanya mengandalkan imajinasi, sementara ketika difilmkan selalu saja ada diskusi-diskusi atau kompromi.
Adegan yang hanya bermodal imajinsi sang novelis bisa jadi sangat memberatkan dari sisi penggarapan oleh sutradara atau juga membengkakkan anggaran keunganan sang produser. Oleh sebab itu, sang novelis, sutradara, dan produser harus selalu duduk bersama untuk mendiskusikan hal-hal idealis, teknis, dan biaya.
Tips Agar Tidak Kecewa
Agar kita tidak merasa kecewa setelah menonton film adaptasi, ada baiknya Anda mempersiapkan diri sebelum ke bioskop. Menarik sekali tips-tips yang diberikan oleh Jonru, salah satu penulis Indonesia, yang bergerak di bidang sekolah menulis lewat dunia maya. Ada pun tips-tips sebagai berikut.
• Bekal Pertama
Kita harus sadar bahwa kita akan menonton FILM, bukan membaca NOVEL. Sekali lagi, film dan novel jauh berbeda. Mustahil bisa memindahkan adegan novel utuh dalam film.
• Bekal Kedua
Dalam kasus film Ayat-ayat Cinta, novelnya adalah karya Habiburrahman EL Shirazy, sementara filmnya kreasi dan karya sutradara muda Hanung Bramantyo. Jadi, jangan pernah beranggapan film Ayat-ayat Cinta pun karya Habiburrahman EL Shirazy.
• Bekal Ketiga
Ini juga harus disiapkan. Mohon lupakan diri Anda sendiri barang sejenak sebelum hendak berangkat ke bioskop untuk menonton film adaptasi dari novel. Anggap saja bahwa Anda sama sekali tidak pernah membaca novel tersebut. Jika ini tidak dilakukan, bersiaplah untuk kecewa.
Novel dan film tetap menjadi sebuah hal yang berbeda meski lahir dari imajinasi. Sekali lagi, ada kompromi-kompromi yang sudah disebut di awal yang pasti harus dilalui. Jadi, sudahlah. Tak usah kecewa. Nikmati saja buku dan filmnya.






