Memahami Komponen Komunikasi pada Media Massa
Informasi telah menjadi kebutuhan primer bagi manusia. Berbagai media massa telah berseliweran di sekitar kita, baik elektronik maupun cetak: televisi, radio, koran, majalah, hingga internet.
Media-media massa yang kita kenal sebagai penyampai berita atau informasi, seperti koran (surat kabar), majalah, atau situs berita di internet disebut sebagai tulisan jurnalistik. Inilah saluran komunikasi yang membawa informasi ke hadapan kita setiap harinya.
Agar komunikasi pada tulisan jurnalistik berjalan efektif, para jurnalis haruslah memahami komponen-komponen komunikasi yang ada pada tulisan jurnalistik. Menurut Harold Lasswell, ada lima komponen komunikasi. Kelima komponen yang menentukan efektifitas pesan yang disampaikan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Komunikator, yaitu pihak yang menyampaikan pesan pada pihak lain. Komunikator itu bisa berupa orang, lembaga, ataupun media massa itu sendiri (seperti dalam editorial).
2. Pesan, yaitu informasi atau konten yang ingin disampaikan oleh komunikator kepada pihak lain. Jika kita membaca koran, misalnya, maka isi berita koran adalah pesannya.
3. Media, adalah saluran tempat beralihnya pesan dari komunikator kepada pihak lain. Seperti yang telah kita kenal, surat kabar, majalah adalah media yang lazim digunakan dalam komunikasi publik.
4. Komunikan, adalah pihak yang menerima pesan. Kebanyakan dari kita adalah komunikan. Kitalah konsumen berita yang disajikan oleh media massa.
5. Umpan balik atau respon, yaitu respon dari komunikan terhadap komunikator atas pesan yang disampaikan.
Seorang jurnalis atau sebuah lembaga jurnalistik mestilah memperhatikan kelima komponen di atas. Seorang jurnalis harus memastikan ia mendapat informasi dari komunikator yang jelas, bisa dipertanggungjawabkan keberadaannya, bukan tokoh fiktif. Komunikator juga mestilah kompeten atau setidaknya relevan dengan topik pada isi berita yang ingin disampaikan.
Seringkali kita menemukan media massa yang mencantumkan “sumber yang tidak bisa disebutkan.” Di satu sisi, hal ini baik karena setiap sumber berita berhak merahasikan dirinya. Namun di sisi lain, hal ini juga dengan sendirinya menurunkan kredibilitas berita.
Pesan yang disampaikan juga harus jelas. Seorang jurnalis harus mengemas beritanya menjadi padat, singkat, jelas dan mudah dipahami. Tulisan juga ditujukan agar mudah dipahami khalayak ramai, bukan hanya dimengerti oleh lapisan intelektual tertentu saja, karena komunikan dari sebuah media massa pada dasarnya adalah semua orang.
Media yang dipilih oleh jurnalis untuk menyampaikan pesan biasanya adalah surat kabar, majalah atau tabloid. Masing-masing media sudah memiliki segmentasi tertentu. Maka seorang jurnalis akan menyesuaikan kemasan beritanya dengan segmentasi tersebut.
Terakhir, media yang baik akan membuka ruang respon bagi pembacanya. Memang, di sinilah letak kelemahannya, terutama bagi media massa cetak. Media-media seperti ini tidak dapat memfasilitasi umpan balik secara langsung kepada pembaca, kecuali membuka ruang-ruang pendapat seperti surat pembaca atau sejenisnya.






