Komunikasi Khalayak, Perubahan Media Massa, dan Teori Lama
Komunikasi Massa atau yang sering dipergunakan para akademisi di Malaysia sebagai Komunikasi Khalayak, merupakan kajian dalam komunikasi yang selalu berkembangkempis. Ini dikarenakanteori baru tidak semata menggantikan teori lama yang telah usang.
Terkadang teori yang sudah usang masih gunakan dalam memahami ilmu komunikasi. Jadi, belumlah kajian ini berkembang menjadi pemahaman yang semakin baik, semakin sempurna, polah tingkah para sarjana komunikasi yang gampangan, dan fatalis serta malas mengembangkan kajian heuristik dalam menjelaskan fenomena dan gejala baru mengenai komunikasi massa di Masyarakat.
Malah semakin dimiskinkan. Sehingga bisa diselorohkan bahwa, perkembangan ilmu komunikasi dalam kajiannya mengenai komunikasi khalayak atau komunikasi massa, hanya sekadar menambahi definisi saja. Sebagai contohnya, definisi dari Alo Liliweri [1991] bahwa :
“Komunikasi massa merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan saluran dalam menghubungkan komunikator dengan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh, sangat heterogen dan menimbulkan efek-efek tertentu.”
Hanya diperbaharui oleh Onong Uhjana Effendy setahun berikutnya [1992],sebagai proses :
“Penyebaran pesan dengan menggunakan media yang dituju kepada massa yang abstrak yakni sejumlah orang yang tidak nampak oleh si penyampai pesan.”
Tidak ada perbedaan mendasar, hanya perbedaan diksi. Ini merupakan degradasi, jika tidak ingin disebut sebagai skandal yang memalukan dari para sarjana komunikasi akhir-akhir ini. Semenjak teori komunikasi jadul dari Shanon & Weaver, Leon Festinger, Dennis McQuail atau Paul Lazarsfeld.
Sulit sekali mencari para teoritisi yang tajam tentang apa yang terjadi di dunia komunikasi massa. Para akademisi enggan merujuk pada pendatang baru yang membawa pemahaman komunikasi massa sebagai ruang sibernetis semisal Douglas Kellner dan kawan-kawan studi kultural lainnya.
Alasan tololnya tentu saja, kemandegan ilmiah para dosen pengajar di fakultas komunikasi. Alasan lebih tolol lagi, karena kawanan Kellner itu sarjana Sosiologi dan bukan ahli komunikasi. Para ‘ahli’ komunikasi itu lupa bahwa ilmu komunikasi yang dikukuhkan awalnya di Amerika itu dibangun fondasinya oleh para ahli Psikologi.
Sehingga ketika dalam bidang komunikasi massa, media massa telah berubah menjadi media konvergen. Para ahli komunikasi kehilangan pegangan, dan teori mutakhir untuk menjawabnya. Teoritisi yang bergerak menjelaskan apa yang terjadi, justru lahir di luar kampus.
Para praktisi dan jurnalis, seperti Thomas Friedman, John Naisbitt, atau Akbar S. Ahmed yang menjelaskan gejala kekinian dari komunikasi massa. Berdasarkan keterlibatan mereka dengan pengolahan informasi untuk khalayak.
Para pemikir bebas itupun sesekali mengutip McQuail, teori komunikasi mekanistis Shanon-Weaver, teori media Brenda Devlin, yang jelas mereka tidak mengutip apa definisi anu dan apa definisi dari si anu... si definisi itu mau hidup, mau modar, mau masuk angin, tidak dihiraukan lagi.
Tidak ada salahnya mengutip kembali anggapan Julien Benda. Bahwa para sarjana itu telah berkhianat pada bidangnya sendiri. Sarjana komunikasi massa, yang seharusnya bisa mempraktikan pemahamannya untuk membangun semangat baru memahami gejala kegandrungan masyarakat kepada teknologi informasi.
Malah ikut-ikutan jadi member. Ikut-ikutan add comment, ikut-ikutan klik like this... contohnya gamblangnya di Indonesia ISKI. Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia. Di facebook mereka jadi tidak penting lagi.






