Komunikasi Massa Modern dan Absennya Makna
“We are in a universe where there is more and more information and less and less meaning.”
Inilah masa ketika pernyataan di atas oleh Jean Baudrillad [Idy. 2004] itu berlaku secara otentik di dalam kehidupan keseharian kita. Ya, komunikasi massa menyediakan informasi berlimpah ruah, orang-orang banyak omong, para komunikator massa tidak henti-hentinya bermunculan. Menyediakan informasi, tanpa bisa ditanyai orang butuh atau tidak?
Suatu hal yang sebelum masa ditemukan mesin cetak oleh Gutenberg, sangat berharga dan bernilai harta, kini membanjir di setiap sudut ruang kehidupan kita –yang paling kecil sekali pun. Ada ekses dari hal semacam itu: hilangnya makna. Karena media massa penyalur berbagai macam informasi itu, mengekspos segalanya.
Segalanya yang layak tersembunyi, dikesampingkan demi kemanusiaan, disembunyikan dari kontroversi, juga dipisahkan sebagai bagian untuk mendewasakan manusia. Dan segalanya yang mempertaruhkan masa depan umat manusia sendiri.
Media massa dalam pandangan semacam itu tidak harus berangkat dari suatu ideologi, cukup memiliki pemodal yang bagus dan pasar yang kompetitif -bermunculanlah ratusan media massa seperti parasit. Media tidak mempedulikan rasa kritis masyarakat -atau bahkan tidak perlu.
Lagi pula, di tengah budaya tontonan dan penguasaan media elektronik, bukankah pantas jika media cetak sebagai salah satu elemen media massa pokok memposisikan dirinya dengan lebih menjual kepada khalayak?
Makna Hilang datang Teman
Dan meskipun melanggar beberapa prinsip norma sosial yang lebih sempit atau moral kemanusiaan yang lebih universal, jika hal semacam itu memiliki khalayaknya sendiri, mengapa media tidak mengeksposnya? Jadi memang tidak masalah, jika media muncul bejat, karena memang itulah cermin masyarakat yang ditampilkan media.
Tidak ada rekayasa jarum hipodermik, tidak ada bias media, dan tidak ada campur tangan presiden [lebih-lebih SBY yang tampak kemayu]. Semuanya telah sejalan dengan hukum ekonomi permintaan-penawaran. Itulah media di bawah cengkeraman budaya massa.
Para komunikator massa adalah pegawai pabrik yang tidak punya kharisma ethos lagi. Tidak ada kredibilitas, karena mereka di upah standar, dan ikut membayar pajak pada negara. Termasuk presiden SBY. Ucapannya hilang kharisma dan tidak penting lagi. Tidak ideologis lagi.
Ideologi yang dahulu diperebutkan bak janda kembang, diusung-usung dengan parade bedil dan parang, kini ditinggalkan dalam kloset, di flush, disiram dan hilang bersama kotoran manusia ke dalam septik tank. Ideologi tidak menarik lagi, mau liberal kek, mau komunis kek, mau agamis kek, mau anti amerika atau anti ketombe tidak ada yang ambil pusing.
Para demagog hebat, tidak laku lagi tengah massa. Puisi para penyair sekelas Soni Farid Maulana kalah hebat dibandingkan lirik Cinta Satu Malam dari Keke. Batas elit dan jelata mengabur. Semua gara-gara media konvergen, dan fasilitas open source. Semenjak lahirnya Youtube, Facebook, Kompasiana, dan yang sejenis.
Para komunikator massa kehilangan peran. Mereka tidak menjadi kaum elit yang disanjung-sanjung lagi. Mereka manusia tanpa daya, hilang pencaharian omongan mereka bagai ember rusak. Jika tidak ada di friend list tidak perlu di dengar, ga perlu dikoment.
Makna memang hilang, bersamaan dengan mampusnya para komunikator massa, sebagaimana yang juga disebutkan oleh Prof. Umberto Eco. Menegaskan teori Semiotikan dari Barthes, bahwa pengarang telah mati, makna juga ikut mati. Well... pengarang boleh jadi mati bersama makna. Tapi yang penting, kita dapat teman baru, di internet. Siapapun dia.... accepted.






