logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Ilmu Sejarah

Komunikasi Persuasif Ala Presiden Pinera


Ilustrasi komunikasi persuasif

Ketika drama penyelamatan petambang Chile yang mendekam di perut bumi selama puluhan hari disiarkan, dunia simpati sekaligus berdecak kagum. Chile berhasil keluar dari tragedi maut tersebut. Seluruh penambang yang terjebak di perut bumi selamat. Sosok yang mendapat perhatian dunia adalah Presiden Chile, Sebastian Pinera.

Pinera dianggap mampu melakukan komunikasi persuasif. Bahkan, Pinera menjadikan kejadian tersebut sebagai momentum persatuan Chile. Rakyat chile memiliki rasa bangga. Nasionalisme tersembul dalam hati. Pride make proud.

Pengertian Komunikasi Persuasif

Kata persuasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu: “Persuassion” yang berasal dari kata “to persuade” yang artinya membujuk, merayu, menghimbau. Selain dari bahasa Inggris yang berasal dari kata latin yaitu: “persuasion” yang berarti menggerakkan seseorang melakukan sesuatu dengan senang hati dengan kehendaknya sendiri tanpa merasa ada paksaan dari orang lain. (Effendy,1992).

Menurut Onong Uchyana Effendy, komunikasi persuasi adalah “Proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain agar dapat  merubah sikapnya, pendapat dan tingkah laku dengan kesadaran sendiri. (Effendy,1988). Sedangkan menurut Santoso Sastroeputro komunikasi persuasi adalah :“Salah satu metode komunikasi sosial dan dalam penerapannya menggunakan teknik tertentu, sehingga dapat menyebabkan orang bersedia melakukan sesuatu dengan senang hati, dengan suka rela, dan tanpa merasa dipaksa oleh siapapun.” (Sastropoetro,1988)

Dari kedua pernyataan para ahli tersebut, maka persuasi itu adalah suatu teknik komunikasi yang berfungsi membuat sasaran komunikasi, menerima baik sesuatu pesan atau mengubah sikap dan atau tingkah lakunya sesuai dengan pesan yang diterimanya. Dengan demikian seorang komunikator merasa bahwa perubahannya itu adalah atas kehendaknya sendiri. Sasaran komunikasi merasa bahwa perubahan sikap atau pendapat atau tingkah lakunya itu adalah perubahan-perubahan yang dilancarkan kepadanya.

Diketahui juga bahwa masyarakat pada dasarnya tidak ada seorangpun yang sukarela ingin perintah oleh orang lain atau digurui oleh orang lain dan yang kedua adalah bahwa seseorang mengubah sikap atau pendapat atau tingkah laku itu adalah atas kehendaknya sendiri, maka efek komunikasi yang demikian diharapkan akan lebih mantap.

Berdasarkan definisi di atas, komunikasi persuasi yang tiada lain agar komunikasi berlangsung secara efektif dan mencapai tujuan yang dikehendaki dan diharapkan bisa merubah pola sikap, pola pikir dan pola tindak komunikan dengan tidak ada paksaan melainkan atas kemauan dan kesadaran sendiri.

Proses Komunikasi Persuasif

Persuasi itu adalah salah satu teknik komunikasi. Jadi proses persuasi adalah sekaligus proses komunikasi, yang ditujukan untuk mempersuasikan sesuatu pihak yang menjadi sasaran komunikasi yang menjadi komponen-komponen proses komunikasi adalah:

1.   Source/sumber

Yang dimaksud dengan source/sumber adalah sumber komunikasi atau yang disebut juga komunikator, yang untuk itu dapat berupa seseorang persona atau lembaga atau sesuatu organisasi.

2.  Channel/Saluran

Yaitu alat atau benda yang telah diatur dan ditata menurut susunan atau tatanan tertentu, sehingga ia bukan saja menjadi sekedar saluran tetapi juga menunjang efektifnya komunikasi.

3.   Message/Pesan

      Yaitu ide atau gagasan yang telah dirumuskan minat bentuk komunikasi tertentu.

4.   Receiver/Penerima

      Yaitu sasaran yang menerima komunikasi atau yang biasanya juga disebut dengan komunikan.

Dalam proses komunikasi persuasi semua ini harus dapat dipersiapkan secara matang. Semua komponen itu harus diarahkan kepada upaya mensukseskan komunikasi. Sebab, salah satu saja komponen itu terabaikan maka proses komunikasi persuasi itu akan terganggu atau bahkan akan hancur sama sekali.

Prinsip-Prinsip Komunikasi Persuasif

Menurut Cutlip dan Center, yang dikutip oleh Onong Uchyana Effendy dalam bukunya menyebutkan bahwa didalam komunikasi persuasi terdapat prinsip-prinsip persuasi (principle of persuation) sebagai berikut:

1.  Untuk melakukan perubahan sikap, suatu saran bagi perubahan pertama-tama  harus diterima secara indrawi dan rohaniah. Penerimaan secara rohaniah suatu pesan merupakan faktor yang kritis dalam komunikasi persuasi.

2.   Besar kemungkinan saran akan diterima secara rohaniah secara bila sesuai dengan kebutuhan dan dorongan pribadi.

3.   Besar kemungkinan saran akan diterima secara rohaniah jika serasi dengan norma dan kesetiaan kepada kelompok.

4. Besar kemungkinan saran akan diterima secara rohaniah kalau komunikatornya dianggap terpercaya dan ahli.

5. Saran melalui media massa yang diperkuat oleh tatap muka, lebih besar kemungkinannya akan diterima secara rohaniah daripada dilakukan sendiri-sendiri atau melalui saluran-saluran lain yang sama.

6.   Besar kemungkinan perubahan sikap akan terjadi apabila saran diikuti factor-faktor lain yang mendasari kepercayaan dan sikap ini mengacu kepada perubahan lingkungan yang membuat penerimaan secara rohaniah lebih mudah.

7.   Lebih besar kemungkinannya akan terdapat perubahan opini pada arah yang dikehendaki bilamana kesimpulan dinyatakan secara eksplisit daripada kalau diserahkan kepada khalayak untuk mengambil kesimpulannya sendiri.

 8.  Jika khalayak bersikap ramah, atau bila hanya disajikan satu posisi atau kalau perubahan-perubahan opini yang dikehendaki adalah yang segera tetapi bersifat sementara, akan lebih efektif manakala diberikan hanya satu sisi dari argumen.

 9. Jika khalayak tidak setuju atau bila mendengar sisi lain dari sumber lain akan lebih efektif kalau disajikan kedua sisi dari suatu argumen.

10. Jika pandangan yang bertentangan tetapi sama-sama menarik disajikan berturut-turut, yang disajikan paling akhir mungkin yang paling efektif.

11. Kadang-kadang imbauan yang emosional yang lebih berpengaruh kadang kala yang faktual ini tergantung pada jenis pesan dan jasa khalayak.

12. Untuk melakukan perubahan opini, ancaman yang kasar umumnnya kurang efektif dibandingkan dengan ancaman lembut.

13. Perubahan opini yang dikehendaki bisa lebih terukur beberapa saat setelah terpaan komunikasi daripada segera setelah terpaan.

14. Orang-orang yang paling anda kehendaki pada khalayak, kecil sekali kemungkinannya ada disana. Ini akan membawa kembali kepemeriksaan perhatian yang diminta orang.

15. Terdapat efek lamban pada komunikasi yang diterima dari komunikator yang dianggap oleh komunikasi memiliki kadar keandalan yang rendah. (Effendy,1992:6)

Contoh Riil Komunikasi Persuasif

Puluhan hari para penambang harus berada pada kondisi genting. Antara hidup dan mati. Makanan tidak ada. Kakus apalagi. Namun, Pinera berhasil meyakinkan mereka. Bahwa there is light in the tunnel. Ada cahaya di ujung terowongan.

Pemerintahan Pinera membuat terowongan untuk mengantarkan makanan. Terowongan kecil itu menjadi lubang harapan para penambang. Lambat laun lubang harapan itu semakin besar.

Pinera turun langsung menyaksikan proses penyelamatan para penambang tersebut. Pinera mengambil alih peran yang harus dilakukan para teknisi. Pinera bak seorang bukan Presiden. Berada di kerumunan warga hari ke hari di lokasi kejadian. Pinera memonitor apa yang terjadi. Sentuhan humanisme Pinera terasa ketika Pinera bersorak sorai gembira, berdoa, dan muka waswas. Pinera menunjukkan pada dunia bahwa komunikasi persuasif demikian jauh lebih esensial ketimbang instruksi sana sini tanpa komando yang jelas.

Indonesia

Di Indonesia banyak momen yang mirip dengan kondisi di Chile. Sebut saja Lapindo, tsunami Wasior, tsunami di Aceh, gempa merapi, dan sebagainya. Namun, pemimpin di Indonesia justru abai pada komunikasi persuasif. Komunikasi persuasif menekankan pada sikap empatik. Mengajak warga untuk mengikuti leader berdasarkan legitimasi moral bukan semata legitimasi informal. Persuasif bisa ampuh jika para follower merasa tidak berkeberatan. Ikhlas dan tulus melakukan apa yang diperintahkan.

Legitimasi moral bisa dilihat di kasus Sultan. Legitimasi moral atau kultural di Indonesia memang masih dihargai. Ketika Sultan memberi komando untuk membantu saudara yang terkena bencana Merapi. Ajaibnya, keesokan hari warga Yogya berbondong-bondong membuat nasi bungkus. Entah siapa yang berinisiatif. Namun legitimasi formal seperti kekuasaan, tidak cukup ampuh dalam komunikasi persuasif.

Komunikasi persuasif mensyaratkan terjadinya rasa ketulusan dan keikhlasan. Sehingga komunikator harus berlaku demikian. Pinera turun langsung ke lapangan. Menjadi inspirator untuk menyalakan harapan. Bentuk persuasif ini bukan dengan cara pidato atau orasi. Namun kerja nyata. Aksi nyata. Ini yang perlu jadi renungan para pemimpin di Indonesia. Komunikasi persuasif harus dibangun dengan kata dan aksi nyata.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Sungai Nil - Saksi Bisu Peradaban Kuno Asia Afrika
  • Hari Bumi: Harinya Para Penyelamat Bumi
  • Sejarah Bali Pun Berkaitan dengan Ekspedisi Gajah Mada
  • Sisi Kelam Sejarah Matematika
  • Pengertian Sejarah Peradaban Islam
  • Sejarah Candi Borobudur
  • Sejarah, Kebijakan, dan Kontroversi Pendidikan Nasional
  • Peradaban Romawi dan Sistem Pemerintahannya
  • Perkembangan Agama Hindu di Indonesia
  • Kerajaan Samudra Pasai - Banyak Ditulis Para Penjelajah Dunia
  • Peradaban Dunia: Mengungkap Peradaban Pompeii yang Hilang
  • Sejarah Musik Indonesia
  • Perjalanan Sejarah Ilmu Pengetahuan
  • Indonesia Merdeka - Mengenang Kembali Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
  • Sejarah Perjuangan Irian Barat yang Panjang dan Berliku
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA