Belajar dari Komunikasi Tradisional
Komunikasi tradisional lambat laun mulai tergerus zaman. Komunikasi tradisional sepi peminat. Terutama, di kawasan perkotaan. Komunikasi tradisional mulai punah seiring para penganut komunikasi ini yang telah tiada. Komunikasi tradisional tidak sukses melakukan regenerasi. Anak, cucu, dan cicit, mungkin telah lupa dengan komunikasi pendahulunya. Singkat kata, komunikasi tradisional terpinggirkan dalam budaya masyarakat.
Bentuk Komunikasi Tradisional
Komunikasi tradisional yang dimaksud adalah relasi antaranggota masyarakat. Bentuk dari interaksi dan komunikasi antar tetangga, kerabat, dan keluarga, kental terasa. Terutama, di pedesaan. Kawasan ini memang relatif mempunyai ikatan emosional yang kuat antarpenduduknya. Berikut ini bentuk komunikasi tradisional yang dimaksud.
- Orang sakit. Ketika seorang warga sakit, pasti para penduduk di lingkungan tersebut menyempatkan diri untuk menjenguk. Meskipun tidak membawa apa-apa, kesediaan untuk menjenguk sungguh luar biasa. Bandingkan dengan orang kota yang tak acuh. Bahkan, tetangga sakit keras pun mungkin ia tidak tahu.
- Hari raya. Perayaaan hari raya akan selalu meriah. Komunikasi tradisional akan berlangsung intens. Sebut saja, saling kirim opor dan ketupat antartetangga. Selesai salat ied, para warga berbaris untuk saling menyalami. Momen ini sungguh luar biasa. Di perkotaan, komunikasi tradisional seperti ini masih dilangsungkan, namun tidak memiliki nuansa emosional sedekat di pedesaan.
Komunikasi Modern
Masyarakat semakin rasional menghadapi zaman. Era modern yang serba cepat dan high gadget memaksa masyarakat untuk berubah. Dulu, ketika hari raya tiba, orang-orang akan antre menulis di post card. Kini, itu sudah menjadi cerita usang. Teknologi email, SMS, dan facebook, mulai menggantikan hal demikian.
Komunikasi modern tidak melulu berkonotasi buruk. Komunikasi modern suatu keniscayaan. Namun, kita tidak boleh membuang jati diri. Ibarat pohon, komunikasi tradisional adalah benih yang dipupuk oleh modernitas sehingga budaya kita mempunyai karakter. Toh, komunikasi modern memang berimplikasi positif, membuat serba cepat, tepat, dan mudah.
Nilai Komunikasi Tradisional
Apa yang perlu kita teladani dari bentuk komunikasi tradisional?
- Kekeluargaan. Semangat ini menunjukkan relasi emosional yang kuat. Relasi manusia tidak selalu ditakar dari jabatan, materi, atau kedudukan. Rasa kekeluargaan menempatkan manusia pada posisi yang sejajar.
- Pamrih. Sikap ingin dibalas budi sering mewarnai komunikasi kita belakangan ini. Komunikasi tradisional berlandaskan pada rasa tulus. Sikap pamrih dibuang jauh-jauh.
- Empati. Keunggulan komunikasi tradisional adalah empati, sikap kita mengerti kondisi orang lain. Merasakan jika kita berada pada posisi orang lain. Itu sebabnya orang-orang merasa perlu menjenguk tetangga sakit, mengirim ketupat, opor, dan sebagainya.






