Memahami Kondisi Psikis Wanita Setengah Baya
Ilustrasi kondisi psikis wanita setengah baya
Walaupun belum layak disebut lansia, namun kondisi psikis wanita setengah baya pantas untuk mendapat perhatian lebih. Karena rentang usia ini memiliki kemiripan dengan usia remaja. Dimana terdapat masa transisi atau masa peralihan yang rawan dengan konflik perkembangan.
Fenomena Wanita Setengah Baya
Memahami kondisi psikis wanita setengah baya, bukan seperti memahami kondisi seorang gadis remaja yang tengah mengalami jatuh cinta yang pertama. Justru karena kematangan diri dan kayanya pengalaman hidup, membuat pemahaman atas diri para wanita setengah baya ini gampang-gampang susah.
Tidak hanya cukup mengandalkan teori psikologi kemanusiaan saja, untuk memahami aspek psikologi mereka. Yang meliputi sikap, tindakan, serta perilaku. Namun perlu diingat bahwa psikologi kemanusiaan yang penekannya pada aspek personaliti setiap individu, jelas banyak dipengaruhi pula oleh faktor lingkungannya.
Sehingga, jangan dulu Anda menghujat atau buru-buru mengambil kesimpulan, apabila menemukan ketidaksesuaian yang terjadi pada diri seorang wanita setengah baya dalam sudut pandang Anda. Karena ada banyak faktor yang harus dianalisa lebih dahulu, sebelum akhirnya Anda menilai seseorang tersebut.
Fenomena wanita setengah baya juga merupakan yang sering dibahas dalam psikologi kemanusiaan. Manakalah bertahun-tahun seorang wanita menjadi pencurah kasih sayang, pemberi perhatian, dan pengamat perilaku hampir seluruh orang yang dekat dengannya; kemudian ketika sampai ke tahap tertentu dia justru berbalik ingin dicurahkan kasih sayang, ingin diperhatikan dan didengarkan segala keinginan dan pendapatnya. Inilah titik balik yang biasa terjadi pada diri seorang wanita setengah baya.
Seperti garis nadir dalam tata surya, ketika dalam satu takaran pandangan tertentu semua benda langit akan mengalami berakhirnya masa edar; maka kira-kira seperti itulah diri seorang wanita yang mengalami krisis paruh baya.
Krisis Paruh Baya
Krisis paruh baya hanyalah salah satu yang dirasakan pada diri seorang wanita setengah baya. Ketika segala perandai-andaian menumpuk di dalam pikirannya, padahal dulu semua 'andai-andai' tersebut bahkan tidak sempat mampir dalam benaknya.
Maka yang harus dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya adalah: tetap setia dan sabar mendampingi. Karena pada titik tertentu yang tidak dapat dipastikan kapan tepatnya, krisis paruh baya tersebut akan berlalu juga.
Memahami kondisi psikis wanita setengah baya dari sudut pandang psikologi juga tidak bisa dilakukan secara sembarang. Karena psikologi kemanusiaan itu sifatnya holistic, menyeluruh dan terperinci. Bukan dapat dilihat dari sudut tertentu saja secara terbatas.
Rentang waktu terjadinya perubahan kondisi psikis wanita setengah baya ini pun bisa dibilang cukup panjang. Normalnya adalah antara lima belas hingga dua puluh tahun. Bukankah berat menjadi seorang wanita bukan?
Lalu, pada usia berapa perubahan fisik yang diiringi perubahan psikis ini terjadi?
Dikatakan usia setengah baya jika seorang wanita memasuki rentang usia 40 hingga 60 tahun. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh seorang pakar psikologi, Elizabet B. Hurlock. Dalam bukunya 'Developmental Psychology'.
Hurlock menuliskan bahwa 'masa dewasa awal' atau 'early adulthood' memiliki rentang waktu dengan tercapainya kematangan secara hukum hingga pencapaian usia 40 tahun. Selanjutnya adalah masa setengah baya atau 'middle age' (dewasa madya), yang dimulai di usia 40 tahun dan berakhir pada usia 60 tahun.
Pubertas Kedua
Segala gejolak yang dialami oleh remaja, juga dialami oleh mereka. Hanya saja, jika pada usia remaja gejolak tersebut diakibatkan oleh mulai aktif dan matangnya organ-organ tubuh, situasi sebaliknya dialami oleh wanita setengah baya.
Pada saat ini, organ-organ tubuh mereka mengalami penurunan secara fungsi. Lapisan lemak jadi tebal dan kulit menjadi keriput. Tak hanya fisik, kemunduran secara psikis juga terjadi secara serentak. Kualitas feminin kebanggan seperti daya tarik, kecantikan, vitalitas, daya dengar, daya fikir, daya ingat, serta berbagai fungsi psikis lainnya, mengalami proses kemunduran nyata.
Akibatnya, kondisi ini menimbulkan berbagai pilihan mengatasi situasi serta konflik secara psikis. Akibatnya depresi dan perasaan stres sangat mungkin terjadi. Diperparah lagi oleh perasaan melankolis yang mendominasi, dan rentan pada perubahan cepat di luar kehendaknya. Merasa sudah tua dan tidak menarik lagi.
Tak mengherankan jika sering muncul tingkah laku yang aneh, lucu, janggal dan tidak pada tempatnya. Tingkah laku mereka cenderung seperti anak remaja. Emosi dan semangat yang meluap-luap, tapi tak berapa lama, perasaan sebaliknya yang dirasakan. Hiper sensitif dan perubahan mood (suasana hati) yang begitu kentara. Sehingga seringkali dikatakan sedang mengalami pubertas kedua.
Kondisi seperti ini juga dialami oleh laki-laki. Hanya saja, bagi laki-laki, efek perubahan yang terjadi tidak seekstrim wanita. Penyesuaian yang diperlukan oleh laki-laki pun, tidak "seberat" wanita.
Tetap Cantik di Usia 40
Terlepas dari penurunan fungsi fisik dan psikis, seorang wanita setengah baya memiliki 'kekuatan' untuk menyikapi perubahan yang terjadi. Pada usia ini, setiap individu (laki-laki atau wanita) umumnya telah mapan secara ekonomi dan sosial.
Kemapanan ini juga tampak dalam hal-hal yang sifatnya spiritual. Nuansa kejiwaan yang paling menarik pada usia 40 tahun adalah peningkatan minat pada diri seorang wanita terhadap agama. Fenomena yang sifatnya religious serta spiritualism. Dikatakan juga sebagai periode 'least religious period of life'.
Sikap dan perilaku untuk banyak bersyukur, meningkatkan ibadah, bertaubat serta beramal saleh, dibarengi rasa berserah diri kepada Tuhan, seolah menjadi sebuah keharusan. Dengan demikian faktanya, usia 40 tahun dapat dianggap sebagai gerbang pencerahan jiwa, serta menjadikan momentum tersebut sebagai cahaya menuju kehidupan yang lebih mulia.
Pada masa-masa inilah, seorang wanita dapat mengembangkan kecantikan tidak hanya dari luar (fisik), tapi juga kecantikan dari dalam (inner beauty). Yaitu kecantikan yang terpancar karena sifat atau karakter positif yang dimiliki. Sehingga dapat menginspirasi orang-orang di sekitarnya.
Siap Menghadapi Menopause
Kini, setelah memahami segala penjelasan dan pemahaman yang membutuhkan waktu panjang untuk dapat mengerti gejolak dan kondisi psikis wanita setengah baya, maka kurang lengkap rasanya apabila Anda belum mendapatkan tips singkat untuk merasa siap menghadapi menopause.
Menopause itu sendiri adalah kondisi atau keadaan di mana seluruh kemampuan reproduksi pada diri wanita mulai menghilang. Proses ini dibarengi dengan segala efeknya, seperti menurunnya kemampuan penglihatan, kemampuan pendengaran, dan fungsi panca indera lainnya. Beserta efek-efek psikologis, seperti mudah tersinggung, mudah merasa diabaikan, merasa tidak dipentingkan lagi, dan menjadi sangat mudah merasa marah.
Untuk menghalau sulitnya menghadapi masa transisi tersebut, ada baiknya Anda kulik tips sederhana ini, sebagai berikut:
- Tetaplah merasa percaya diri. Bahwa Anda dulu dan Anda sekarang tidak pernah berubah. Sugesti ini akan membuat Anda tetap merasa semangat, penuh vitalitas, percaya diri, dan stabil.
- Menerima takdir bahwa ‘semua orang akan tua’, dengan perasaan relaks dan santai. Justru orang yang mati-matian berusaha merawat diri berlebihan agar tidak dikatakan sudah tua, yang akan terlihat semakin tua. Namun mereka yang menerima bahwa dirinya pasti akan menua suatu waktu, terlihat lebih santai dan tetap penuh binar percaya diri.
- Tidak menuntut berlebihan perhatian semua orang. Termasuk perhatian dari suami atau pasangan, dari anak, perhatian dari teman dan keluarga. Terimalah mereka apa adanya, seperti mereka menerima Anda apa adanya juga.
- Ciptakan dan pertahankan inner beauty Anda. Dengan cara, berdandanlah sesuai dengan usia Anda, dan berbusanalah sesuai dengan cara Anda. Dua hal ini jelas akan memunculkan aura karisma yang tak dapat direbut oleh orang lain. Tips: tidak perlu juga merubah cara Anda berbusana karena merasa malu dengan umur, kemudian berubah mengenakan pakaian yang memiripkan Anda dengan orang-orang tua. Tapi kenakan saja busana yang memang biasa Anda kenakan dan Anda suka. Namun bersoleklah sesuai usia Anda, dalam arti membatasi pemakaian kosmetika dan sebagainya di wajah Anda.
- Tingkatkan kehidupan rohani Anda. Karena hidup religious itu memang konsep yang cocok untuk segala usia. Dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, adalah hal yang semakin membuat diri Anda tenang dunia dan akhirat.
Nah! Bagaimana? Bukankah sekilas tips tersebut di atas sangat mudah untuk dijalankan bukan? Dan saatnya Anda mengatakan, kuatir akan kondisi psikis wanita setengah baya? No, no more!

