Konferensi Perubahan Iklim: Sarat Muatan Politik
Apa yang tidak dikaitkan dengan politik? Sebuah lagu saja bisa memicu perang antara dua negara. Apalagi, konferensi perubahan iklim yang mengundang banyak tarik ulur di antara para pesertanya dan negara-negara yang masih belum mau meratifikasi kesepakatan yang sudah dibuat.
Membuat The Super Power Berkomitmen
Keengganan negara-negara super duper power untuk ikut serta dalam penanggulangan gas emisi di negaranya masing-masing, cukup membuat kecewa para aktivis lingkungan. Cina dan Amerika di antara dua negara yang akhirnya mau berkomitmen walaupun masih setengah hati.
Dimulai dari konferensi Kyoto, Jepang menghasilkan Protokol Kyoto yang menyepakati bagaimana negara-negara yang telah meratifikasi protokol Kyoto mempunyai komitmen terhadap pemanasan global dan berusaha ikut serta mengurangi emisi gas buang dari industri-industrinya.
Adalah suatu perjuangan berat dan hebat bahwa akhirnya Amerika mau meratifikasi protokol Kyoto. Tentunya, hal ini terjadi setelah ada beberapa kesepakatan yang hingga kini belum terlihat dengan sangat jelas kemauan keras Amerika untuk mengurangi emisinya.
Konferensi Perubahan Iklim di Bali
Pada 2007, Bali menjadi tempat diselenggarakannya konferensi perubahan iklim. Demi melihat kerusakan alam yang semakin parah, para aktivitis lingkungan sekali lagi mengekspresikan kemarahannya melalui poster, happening arts, tari-tarian, lagu, dan puisi.
Apalagi, pembalakan hutan dan illegal logging di Indonesia yang semakin hari semakin sulit tertangani dengan baik. Para perusak lingkungan tersebut seolah-olah menari-nari dengan gendang yang semakin kencang tanpa diiringi gerakan pencegahan dan penahanan oleh pihak berwajib.
Pencemaran laut dengan adanya tumpahan minyak mentah dari kapal yang mengalami kecelakaan dan penambangan lepas pantai bermasalah juga menjadi titik perhatian para peserta konferensi. "One Earth, One Sun" yang diusung oleh para pencinta lingkungan merupakan tanggung jawab moral yang semestinya diambil alih oleh pengambil kebijakan.
Para aktivitis itu hanya bisa menekan dan berharap adanya komitmen yang tidak main-main dari para pemimpin negara. Terutama, para pemimpin negara maju dengan industri besar dalam jumlah banyak.
Konferensi Kopenhagen, Denmark
Banyak yang kecewa dengan hasil konferensi perubahan iklim di Kopenhagen, Denmark. Penyebabnya apa lagi kalau bukan Amerika dan Cina. Kedua negara besar ini sekali lagi menggagalkan kesepakatan penanganan perubahan iklim yang digagas oleh negara-negara lebih kecil.
Mungkin hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan diplomasi. Namun, sebagian peserta yang berasal dari tidak kurang 192 negara di dunia merasa cukup puas atau paling tidak merasa bahwa konferensi Kopenhagen telah membawa perubahan yang signifikan mengenai pandangan masyarakat dunia terhadap lingkungan, pemanasan global, dan perubahan iklim.
Adanya kesadaran yang mulai tumbuh pesat, terutama di negara-negara Eropa. Keadaan ini membuat aktivitis lingkungan tersenyum sedikit.
Upaya Menyadarkan Masyarakat
Dari hasil konferensi perubahan iklim tersebut, selain terus disosialisasikan melalui G to G (Government to Government), melalui bidang seni. Sebut saja film The Day After Tomorrow yang bercerita tentang dahsyatnya pengaruh perubahan iklim terhadap kehidupan manusia. Film dokumenter The Unconvinience Truth yang meraih Oscar.
Kejadian nyata akibat perubahan iklim, seperti peristiwa badai Katrina di New Orleans, kekeringan di beberapa negara Afrika, banjir bandang di Cina, dan lain-lain. Semua itu diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran semua orang bahwa global warming sudah di depan mata.






