logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Budaya    Konflik Budaya

Bhineka Tunggal Ika Atasi Konflik Antar Budaya


Ilustrasi konflik antar budaya 

Perbedaan antar etnis atau suku di Indonesia pasti ada. Jangankan antar etnis yang memang berbeda latar belakang kehidupannya, antar saudara sekandung saja sering terjadi konflik. Anak dan orangtua juga sering terjadi perseteruan yang sangat sengit hingga saling membunuh. Itu perselisihan antarsedarah. Bagaimana dengan yang tidak sedarah?  Budaya, bahasa, adat istiadat yang berbeda selalu bisa menjadi sumber konflik kalau tak dilihat sebagai hal yang seharusnya membuat jiwa semakin kaya. Jalan yang mungkin bisa mengatasi konflik antar budaya tersebut adalah pemahaman bahwa kita memang berbeda tapi kita mempunyai satu tujuan, yaitu hidup damai dalam keragaman.

Mengalah

Tidak akan aman dunia ini bila tak ada yang mau mengalah. Mengalah itu bukan berarti kalah, Adakalanya memang harus mengalah dahulu agar konflik tidak semakin berkecamuk. Cukup menyedihkan mendengar beberapa orang menjadi korban dari tawuran antarkampung yang terjadi di ibukota pada bulan Ramadhan. Sungguh sangat disayangkan mereka menuruti nafsunya untuk saling menyakiti. Cobalah kalau tidak terlalu tersulut emosi, sisa Ramadhan yang hanya beberaap hari ini bisa dimanfaatkan untuk melakukan amal ibadah yang lebih bermanfaat.

Konflik antaranggota keluarga juga akan menyulut dendam yang tak berkesudahan. Di satu wilayah di Sumatera Selatan, ada seorang suami yang diajak duel oleh kakak iparnya. Permasalahanya berpangkal rasa tidak senang satu sama lain. Untungnya si kakak ipar masih berpikir waras dan malah memanggil polisi untuk menangkap adik iparnya yang telah mengajak teman-temannya untuk mengeroyok dirinya. Parahnya adalah bahwa adik iparnya itu mengajak teman-temannya yang mengkonsumsi narkoba. Selain itu, mereka telah membawa senjata tajam. Konflik bisa diselesaikan dengan jalur hukum.

Konflik yang terjadi di satu perkampungan yang dihuni oleh orang-orang transmigrasi yang tentu saja bukan berasal dari penduduk lokal bisa terjadi karena rasa cemburu melihat penduduk pendatang yang lebih sukses secara ekonomi. Padahal penduduk loka tahu bagaimana giat dan kerasnya penduduk pendatang menggarap lahan mereka. Kalau saja mereka mau berpikir panjang dan tidak menuruti rasa cemburu serta penyakit hati lainnya terus tumbuh subur di hati, maka konflik antarbudaya tidak akan terjadi.

Nanti kalau konlik ini terus berlarut. Rasa dendam pasti akan memenuhi hati para anak muda. Mereka akan tumbuh menjadi generasi pendendam. Hal ini tentu bukan satu generasi yang diharapkan. Bagaimana akan membangun dan bekerja sama kalau dalam hati mereka ada dendam. Kalau konflik ini tidak bisa diredam oleh siapapun, maka wialyah ini akan menjadi satu wilayah panas yang akan terus membara. Pada suatu saat bara itu akan semakin memerah dan korban jiwa tak akan bisa terelakkan. Masing-masing kelompok merasa benar dan mereka tak mau menjadi kelompok yang disalahkan.

Juru Damai

Dibutuhkan seorang tokoh yang bisa menjadi juru damai. Orang seperti Jusuf Kalla yang telah berkali-kali berhasil menjadi juru damai adalah satu contoh sosok yang bisa diharapkan memberikan angin segar perdamaian. Konflik Poso dan konflik Ambon yang sangat mengerikan akhirnya bisa reda setelah Jusuf Kalla bersama dengan timnya berkali-kali mendatangi kedua kelompok yang bertikai. Setelah ada perjanjian berkali-kali, kini kedua wilayah itu telah bisa bangkit kembali dan mulai membangun lagi. Mereka sangat menyadari bahwa bertikai itu hanya akan membawa malapetaka dan tidak akan membawa keuntungan apa-apa.

Dendam hanya akan melahirkan dendam. Kebencian hanya akan melahirkan kebencian. Hanya saling pengertian dan saling menghargai yang akan melahirkan damai dan cinta kasih. Kesadaran ini kadang tidak mudah didapatkan terutama kalau kepala kelompok atau orang yang dianggap sebagai pimpinan di wilayah itu, tidak ingin ada perdamaian. Masyarakat akar rumput lebih mudah diajak berkompromi karena mereka memang tidak mempunyai kepentingan apa-apa.

Tetapi para pimpinannya mempunyai agenda tersendiri yang mungkin merasa diuntungkan dengan adanya konflik tersebut. Sungguh bukan contoh seorang pemimpin yang baik. Kalau pimpinan telah berdamai dan pimpinan ini dianggap sebagai tokoh yang sangat disegani, pertikaian itu akan semakin mudah diredakan. Seperti kalau terjadi pertengkaran antarsaudara sedarah. Orangtua yang mampu menjadi juru damai akan membuat pertengkaran itu mudah diredakan. Sebaliknya, kalau orangtua tak bisa menjadi juru damai yang baik malahan berpihak kepada salah satu anak, maka anak yang lain akan merasa disisihkan. Hal ini malah akan menjadi sumber konflik yang tak berkesudahan.

Bhinneka Tunggal Ika (Unity in Diversity)

Berbeda-beda, tapi satu jua. Itulah makna dari Bhinneka Tunggal Ika. Persatuan Indonesia yang tertuang dalam sila ketiga Pancasila adalah wujud tujuan dari Bhinneka Tunggal Ika. Banyak hal yang bisa diperbuat ketika bersatu. Banyak hal yang membuat hidup lebih bermakna ketika hidup berdampingan dengan orang-orang yang berasal dari daerah dan budaya yang berbeda. Warna dunia semakin indah manakala saling menghargai dan menghormati satu sama lainnya.

Ajaran yang terkandung dalam Bhinneka Tunggal Ika serta sila ketiga Pancasila tersebut harus mulai diajarkan sedemikian rupa sehingga generasi muda memahami betapa pentingnya menerima kenyataan perbedaan budaya ini. Dan mereka tidak melihatnya sebagai sumber konflik, tapi sebagai kekuatan yang akan membuat Indonesia semakin hebat.

Perasaan setanah air itu akan membuat anak bangsa merasa bersaudara dengan siapapun yang berasal dari berbagai daerah di tanah air. Misalnya, persaudaraan antaretnis ini akan memperkaya khasanah pengetahuan tentang kuliner yang berasal dari berbagai daerah. Pasti akan sangat mengasyikkan makan nasi jagung dari Madura atau mencicipi papeda wilayah Indonesia Timur. Makan lemang yang merupakan tape ketan hitam yang dimasak dalam bambu dengan secangkir kopi luwak dari daerah Sumatera Selatan, pasti juga akan mendatangkan kenikmatan tersendiri. Hal ini pasti tidak bisa terjadi kalau konflik terus berkecamuk.

Bersama Lebih Nyaman

Melihat sisi buruk suatu etnis atau suku memang sangat mudah. Semua prasangka bisa saja didramatisir sehingga menimbulkan gesekan yang akan menyulut api kebencian dan akan mengobarkan perang urat syaraf hingga perang fisik yang menimbulkan korban jiwa, harta benda dan hanya akan mewariskan kebencian. Pembelaan yang diajukan adalah demi menjaga harga diri dan martabat suku dan keluarga. Padahal, terkadang masalah yang timbul tidak seimbang dengan pengorbanan yang harus diberikan.

Emosi memang mudah sekali menular. Gosip yang sengaja disebarkan mungkin mempunyai tujuan tertentu dan dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab sehingga dua etnis bertengkar dan saling serang. Kalau emosi tersebut diredam sedikit saja dan memandang orang-orang yang berasal dari suku yang berbeda tersebut merasakan hal yang sama, maka sesungguhnya saat dia dicubit sakit, kita pun waktu dicubit sakit. Dengan mempertimbangkan hal ini, kita pasti bisa menerima keluarga kita dari berbagai  daerah dengan sukacita.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan ketika perdamaian menjadi satu cita-cita bersama. Kehidupan yang saling membantu satu sama lain itu akan terasa sangat mudah dan ringan ketika segala kebencian dan segala prasangka yang tidak baik itu disingkirkan. Berprasangka tidak baik terhadap orang yang terkenal baik itu hanya akan menzalimi orang tersebut. Tentunya bukan satu hal yang adil ketika orang yang tak bersalah diduga telah melakukan hal-hal yang belum tentu telah ia lakukan atau ia rencanakan. Beda dengan berprasangka dengan orang tidak baik. Berprasangka dengan orang yang tidak baik itu menjaga diri dari perbuatan jahatnya. Malahan kalau berprasangka baik terhadap orang jahat, diri sendiri akan terjebak dalam penipuan.

Keuntungan Bersatu

Keragaman budaya akan membuat budaya semakin berwarna. Misalnya, satu jenis makanan mempunyai nama yang sangat banyak. Di samping itu, cara memasak makanan yang berbeda itu akan membuat selera juga menjadi semakin beragam. Bentuk pakaian, cara bergaul yang sangat bervariasi akan membuat orang semakin mudah diajak bertoleransi. Toleransi ini tak mungkin terjadi manakala ada rasa dendam atau benci terhadap orang lain.

Persatuan akan membuat pembangunan bangsa semakin cepat dan akan menghasilkan produk dengan kualitas maksimal. Ide-ide cemerlang pun akan lebih mudah didapat karena jiwa semakin kaya ketika bergaul dengan orang-orang dari suku lain. Tak ada gunanya terjadi konflik antarbudaya itu. Damai itu indah dan tak akan membawa kerugian apapun jua.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Pergolakan Budaya Aceh dalam Berpakaian
  • Gay, Psikologis atau Genetis?
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA