logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Sosial    Konflik Sosial    Konflik Sosial

Penyebab Konflik Sosial dan Upaya Pengendaliannya

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Dalam bahasa Indonesia, konflik sering disebut sebagai perselisihan atau pertentangan yang terjadi dalam hubungan individu maupun kelompok. Konflik individual terjadi akibat adanya perilaku atau perebutan kepentingan individu yang bersangkutan. Kepentingan yang memicu timbulnya sebuah konflik bisa berhubungan dengan harta, jabatan, dan kehormatan.

Sementara itu, konflik sosial atau konflik kelompok merupakan pertentangan yang terjadi di antara beberapa kelompok sosial masyarakat yang mengatasnamakan suku, ras, jenis kelamin, organisasi tertentu, status ekonomi, status sosial, agama, bahasa, dan keyakinan politik, dalam sebuah interaksi sosial yang bersifat dinamis.

Konflik sosial dapat terjadi dalam masyarakat homogen maupun masyarakat majemuk. Konflik sosial, bahkan, dianggap sebagai hal yang biasa terjadi dalam masyarakat. Konflik sosial pun dapat dijadikan sebagai unsur dinamis yang justru melahirkan berbagai bentuk kreativitas.

Konflik sosial sangat mustahil dihilangkan karena sudah menjadi ruh dasar manusia yang memiliki perbedaan pendapat. Namun, kita harus mencegah terjadinya konflik sosial yang menjurus pada perusakan serta penghilangan salah satu pihak yang terlibat konflik. Oleh sebab itu, konflik harus dikendalikan, dikelola, serta diselesaikan melalui hukum. Penyelesaian konflik dalam hal ini berarti menjurus ke arah perdamaian.

Konflik Laten dan Konflik Terbuka

Konflik yang terjadi dalam masyarakat bisa bersifat laten dan bisa bersifat terbuka. Konflik yang bersifat laten atau tersembunyi merupakan pertentangan tertutup dan belum mencuat ke permukaan. Misalnya, kesenjangan yang terjadi dalam sistem pengupahan pekerja wanita dan pekerja pria dalam sebuah perusahaan yang berlangsung secara diam-diam dan tertutup oleh dominasi budaya patrimonial.

Suatu saat, konflik ini bisa meledak dan berubah status menjadi konflik terbuka. Contoh lain adalah dominasi posisi badan pemerintahan oleh sekelompok etnis atau ras tertentu yang mampu mengundang kecemburuan serta kekecewaan etnis lain. Meskipun awalnya bersifat laten, konflik ini bisa menjadi perselisihan terbuka jika tidak segera diselesaikan.

Pemicu Konflik Sosial

Konflik sosial dapat terjadi akibat berbagai sebab serta prasangka buruk dari tiap individu maupun kelompok terhadap individu dan kelompok lain. Prasangka ini bisa terjadi antarsuku, ras, agama, ideologi atau paham politik, serta adanya ketidakadilan dalam akses sumberdaya ekonomi dan politik.

Ketidakadilan akses dalam sumberdaya ekonomi dan politik mampu memperparah berbagai prasangka yang sudah menjangkiti kelompok-kelompok sosial tersebut. Sejarah Indonesia telah menunjukkan bahwa prasangka yang sudah ada di antara kelompok-kelompok sosial tersebut diperparah dan dipertajam dengan kebijakan negara.

Misalnya, kebijakan terkait dengan pengistimewaan golongan Eropa yang dilakukan oleh kolonial Belanda. Masyarakat Tionghoa pun telah mempertajam prasangka rasial antara golongan pribumi (Melayu) dengan golongan masyarakat Tionghoa.

Pengendalian Konflik Sosial

Bagaimanapun, konflik sosial akan terus menghiasi ranah kehidupan masyarakat yang kian multikultural. Konflik sosial masyarakat Indonesia yang selalu berkembang dan berakhir dengan kerusuhan berkepanjangan hingga menyebabkan kematian adalah konflik antaragama. Ya. Setiap agama memang mengakui bahwa cara pandangnya sebagai yang paling benar.

Padahal, Tuhan telah menganugerahkan perbedaan serta kemampuan berpikir manusia bukan sebagai ajang pencarian pembenaran bagi tiap kelompok. Tuhan telah memberikan perbedaan sebagai ajang pembelajaran bagi manusia untuk menanamkan sikap saling menghargai dan mengakui antarsesama, bukan untuk saling membinasakan.

Intinya, konflik sosial hanya bisa dikendalikan oleh kesadaran tiap individu untuk menerima keadaan dan kondisi manusia sekitarnya. Mengakui hak-hak prerogratif setiap individu dan berusaha menghargainya. Jika hal itu tidak bisa dilakukan, jangan berharap bisa mendapatkan kedamaian.

Semoga kita mampu membaca konflik sosial sebagai peristiwa yang patut dikendalikan, bukan ajang percontohan! Semoga bermanfaat!

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Konflik Sosial Budaya Sebagai Proses Pendewasaan
  • Tragedi Bintaro - Melihat Skenario Takdir Kematian
  • Konflik - Masalah Sosial yang Wajar
  • Akar Konflik Sosial Masyarakat
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA