Konflik Sosial Budaya Sebagai Proses Pendewasaan
Ilustrasi konflik sosial budaya
Konflik. Jila mendengar kata tersebut yang terekam dalam ingatan adalah pertikaian, darah dan airmata. Seolah hanya hal negatif yang tercermin dalam kata tersebut. Konflik sendiri dapat diartikan sebagai satu proses hidup dimana norma dan aturan dalam hidup bermasyarakat dilanggar.
Dalam kehidupan bermasyarakat banyak dikenal berbagai macam aturan dan norma susila. Terdapat tatanan hidup yang harus dipenuhi agar tercipta pola kehidupan social yang harmonis antara yang satu dengan yang lain.
Lalu bagaimana bila norma dan aturan itu tidak ditaati? Tentu yang timbul adalah terjadinya konflik, salah satunya konflik sosial budaya. Masyarakatlah yang menjadi pelaku dan korban dari konflik itu sendiri. Konflik ini tidak hanya terjadi di kota saja bahkan sudah masuk ke lingkungan desa sebagai efek dari tingkat informasi yang tinggi.
Definisi Konflik
Tidak ada definisi tetap mengenai konflik. Untuk memasukkannya ke dalam kata-kata sederhana, itu adalah situasi di mana dua atau lebih pihak berbeda dalam pikiran, tindakan dan perbuatan pada beberapa ide, topik dan pendapat.
Untuk memahaminya, mempertimbangkan konflik Jalur Gaza. Dekade demi dekade telah berlalu tetapi perbedaan pendapat, ideologi dan ketidakmampuan untuk menyelesaikan bahwa 'konflik', telah mengakibatkan hilangnya besaran nyawa, uang dan materi.
Pada dasarnya, konflik adalah perbedaan pendapat pada beberapa aspek atau total pendapat, ide atau tindakan.
Para pihak dalam konflik mencoba untuk menyelesaikan konflik dengan menyepakati beberapa istilah yang umum. Di sinilah peran manajemen konflik datang ke dalam gambar. Apa konflik kepentingan? Ini adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih tergantung pada kepentingan mereka terlibat dalam hasil kesepakatan atau diskusi.
Misalnya, dua perusahaan akan melalui kesepakatan merger & akuisisi, tetapi kedua belah pihak memiliki mereka sendiri 'kepentingan' yang tidak bisa ditawar untuk pihak lain. Dalam kasus tersebut, itu mengarah pada konflik kepentingan.
Dalam konflik kepentingan, untuk mencapai keputusan apapun, ada risiko tinggi bahwa kepentingan setiap partai harus dikompromikan.
Jika Anda telah mendengar istilah, 'konflik internal' dan ‘konflik eksternal, tetapi tidak pernah mendapat petunjuk tentang definisi nya, kemudian membaca nya di sini. Konflik internal adalah perang dalam diri sendiri atau satu entitas atau organisasi. Ada dapat banyak situasi konflik internal.
Anda bekerja di sebuah perusahaan dimana manajemen mengusulkan kebijakan tetapi sebagai karyawan Anda tidak puas dengan kebijakan. Ini adalah konflik internal. Demikian pula, setiap contoh konflik dalam suatu individu, negara, organisasi kelompok, yang membawa serta risiko yang benar dan kehilangan sesuatu atau menjadi sesuatu yang salah dan menang, adalah contoh khas konflik internal.
Dalam konflik eksternal, ada perjuangan melawan kekuatan-kekuatan eksternal. Pikirkan setiap film di mana protagonis sedang berjuang melawan antagonis untuk memenangkan cintanya atau akan melawan alam, menyeberangi laut yang mematikan dan pegunungan untuk memenangkan cintanya. Setiap perjuangan melawan kekuatan-kekuatan luar untuk memenuhi kebutuhan seseorang adalah konflik eksternal.
Jenis Konflik
Ada berbagai jenis konflik. Hubungan konflik atau konflik interpersonal, misalnya, terjadi karena adanya emosi negatif dan perasaan dalam suatu hubungan. Mereka bisa dengan, pasangan Anda teman, orang tua atau anak-anak.
Data konflik sering karena adanya fakta-fakta yang salah, informasi yang disalahartikan atau hambatan komunikasi beberapa. Ketika fakta-fakta dan angka-angka dalam sebuah diskusi yang terdistorsi, bisa ada ambiguitas dalam mendapatkan pemahaman yang jelas tentang seluruh masalah, sehingga menyebabkan 'konflik data'.
Apa Saja Teori Konflik?
Teori konflik dipopulerkan oleh Karl Marx, disangkal, salah satu tokoh terbesar dalam sosiologi. Sesuai teori konflik, proses fundamental merancang struktur sosial terjadi ketika ada perjuangan kelas antara individu untuk kekayaan dan kekuasaan.
Karl Marx dengan sungguh-sungguh percaya pada perjuangan kelompok dalam masyarakat antara yang kaya, miskin, petani, pekerja dan pemerintah yang mengarah ke kesetaraan lebih dinamis dan individualitas dalam masyarakat.
Ia menentang monarki atau aturan aristokrat seperti yang dapat mengakibatkan "upah perbudakan", seperti yang diberikan oleh Marx. Dia memperjuangkan penyebab masyarakat yang lebih inklusif, dimana, kepentingan miskin diidentifikasi. Saat itu di tahun 1960-an, bahwa teori-teori konflik yang menjadi terkenal.
Faktor Penyebab, Akibat dan Solusinya
Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya konflik sosial budaya. Apakah itu ?
1. Gegar Budaya Perkembangan jaman yang pesat dan penuh persaingan membuat semua sector kehidupan mengalami perubahan, terutama kehidupan bermasyarakat. Tidak semua lapisan masyarakat mampu menerima perubahan ini. Perubahan nilai – nilai dari tradisional ke modern terkadang membuat orang menyikapinya secara berlebihan sehingga terjadi benturan – benturan sosial, inilah yang disebut gegar budaya.
● Solusi : Siapkan mental untuk menerima setiap perubahan dan semua resikonya. Fleksibel adalah satu sikap positif untuk mau berbesar hati menerima input dan output demi kemajuan.
2. Sensitifitas Yang Tinggi. Hidup semakin sulit, harga naik melambung tinggi, tuntutan hidup yang semakin berat adalah salah satu hal yang menyebabkan terjadinya konflik. Orang semakin sensitif, mudah tersinggung atau marah kalau merasa terganggu atau dirugikan, bahkan hanya untuk hal yang terlihat sepele. Semakin banyak orang yang egois dan tidak merasa bersalah bila menyakiti orang lain.
● Solusi : Belajar berbesar hati dan legowo agar tidak terlalu sakit. Hidup bermasyarakat perlu kesadaran tinggi untuk saling berbagi. Ingatlah bahwa di antara yang terbaik masih ada yang terbaik lagi.
3. Agama & Kepercayaan Dengan 5 agama dan kepercayaan yang diakui oleh pemerintah memang rawan menimbulkan konflik sosial budaya. Setiap agama pasti mengajarkan kebaikan dan menghindari kejahatan, baik antar umat beragama maupun sesama mahkluk lainnya.. Namun, cara pandang yang sempit dan terbatas kadang menimbulkan nilai – nilai yang berbeda pula. Setiap orang merasa bahwa dia dan golongannya adalah yang terbaik. Ini tentu satu sikap yang salah.
● Solusi : Sikap toleransi antar umat beragama mutlak diperlukan. Luaskan hati Anda untuk saling menghormati kepercayaan orang lain.
4. Kesenjangan Ekonomi Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang pesat banyak menghasilkan orang – orang kaya baru. Perubahan status sosial dan ekonomi tentu juga menimbulkan perubahan gaya hidup metropolitan yang ditandai dengan munculnya kalangan sosialita. Namun disatu sisi juga makin banyak muncul kaum papa dan golongan ekonomi lemah.
Dengan penghasilan rendah, tingkat pendidikan kurang, lapangan kerja yang sulit dan menuntut skill tinggi menghadirkan masalah baru dalam masyarakat, yaitu pengangguran yang meningkat. Orang kaya semakin kaya dan orang miskin makin miskin agaknya menjadi anekdot hidup yang harus diterima, suka atau tidak suka. Kaum papa hanya mampu menonton tanpa bisa merasakan. Tingkat kesenjangan inilah yang sering menimbulkan konflik sosial budaya dengan tingkat kriminalitas tertinggi.
● Solusi : Ciptakan lapangan kerja di sektor ekonomi agar tingkat pengangguran berkurang. Dirikan sekolah dan lembaga pendidikan lainnya dengan fasilitas memadai bagi golongan ekonomi lemah, bekerjasama dengan pemerintah daerah atau lembaga luar untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing yang tinggi, beri kepercayaan berupa modal dan fasilitas bagi ibu rumah tangga untuk berwiraswasta sehingga mereka bisa mendukung peningkatan ekonomi keluarga.
Konflik sosial budaya ini pasti terjadi di tengah kehidupan bermasyarakat dan mau tidak mau harus diterima dan dicari jalan keluarnya. Perlu campur tangan pemerintah, pihak terkait lainnya serta partisipasi masyarakat agar konflik ini tidak makin meluas, yang berakibat berbahaya bagi kehidupan bernegara dan berbangsa.
Masyarakat juga harus menyadari bahwa konflik adalah bagian dari proses pendewasaan pola pikir, jadi belajar dan ambillah manfaat dari konflik ini agar ke depannya menjadi masyarakat yang jauh lebih baik, arif dan bijaksana.

