logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Sosial    Konflik Sosial

Akar Konflik Sosial Masyarakat


Ilustrasi konflik sosial masyarakat

Masyarakat adalah kumpulan manusia yang bergaul dan berinteraksi secara intensif dan tidak dapat terhindar dari konflik sosial masyarakat. Hidup serta eksistensinya akan selalu menjadi pokok permasalahan. Secara filosofis, manusia menurut Freud, bertindak berdasarkan naluri seksual.

Marx menilai manusia bergerak berdasarkan naluri ekonomis, sedangkan menurut Nietzsche sebagai “der Wille Zur Mach”, sebagai karsa menuju kuasa. Jadi, tidak heran timbul gesekan kepentingan yang dapat mengarah kepada konflik sosial masyarakat.

Manusia Makhluk Sosial

Masyarakat sebenarnya sebuah proses tiada henti. Manusia tidak berada di dalam masyarakat bukan bagai burung di dalam kurungannya, melainkan ia bermasyarakat. Masyarakat bukan wadah, melainkan aksi, yaitu social action. Masyarakat terdiri atas sejumlah pengertian, perasaan, sikap, budaya yang tidak terbilang banyaknya.

Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk dapat bekerjasama dengan orang lain, baik untuk kepentingan pribadi atau orang lain, untuk terciptanya kehidupan yang aman dan damai. Berikut ini beberapa pendapat para ahli mengenai manusia adalah makhluk sosial.

Dr. Johannes Garang menyebutkan bahwa yang disebut sebagai makhluk sosial adalah makhluk yang hidupnya berkelompok dan makhluk tersebut tidak dapat hidup secara individu atau sendiri.

Selain itu, Aristoteles menyebutkan bahwa makhluk sosial disebut juga sebagai zoon politicon. Maksudnya manusia itu dikodratkan untuk hidup secara bermasyarakat dan berinteraksi dengan orang lain.

Dari pendapat para ahli tersebut, dapat ditarik simpulan bahwa manusia sebagai makhluk sosial karena dalam kehidupannya manusia tidak dapat terlepas dari interaksi dengan orang lain dan manusia bukan makhluk yang individu atau menyendiri.

Interaksi sosial yang dilakukan oleh manusia banyak ragamnya. Tergantung kebutuhan manusia itu sendiri, apakah membutuhkan interaksi dengan invidu lagi atau dengan kelompok lain. 

Dalam kebudayaan tercermin segala kenyataan yang bernilai dan berharga. Begitu eratnya hubungan manusia dengan kebudayaan sehingga manusia pada hakikatnya disebut makhluk budaya. Pada akhirnya, ada pula yang terwujud dalam bentuk nilai dan tingkah laku. 

Indonesia termasuk masyarakat majemuk yang mengalami akulturasi budaya dari kultur mana pun. Ini terjadi mengingat kondisi sosiografisnya terletak di antara perlintasan sumber-sumber budaya yang sangat kuat. Itu sebabnya pada kondisi-kondisi tertentu Indonesia terkena gegar budaya (cultural shock) antara menerima dan atau menolak kekinian dengan mempertahankan tradisi. Ciri masyarakat majemuk adalah sebagai berikut.

  • Terjadi segmentasi dalam kebudayaan yang berbeda satu sama lainnya. 
  • Memiliki struktur sosial. 
  • Sering mengalami konflik antara satu dengan kelompok lain. 
  • Integrasi sosial tumbuh di atas paksaan dan saling ketergantungan dalam bidang ekonomi. 
  • Adanya dominasi politik suatu kelompok atas kelompok lain.  
  • Kemajemukan karena perbedaan geografis.

Adapun bentuk interaksi sosial berupa hubungan timbal balik antara individu dengan individu lainnya, antara kelompok dengan kelompok, dan antara individu dengan kelompok yang terdapat dalam masyarakatnya. Berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai bentuk-bentuk interaksi sosial.

1. Interaksi Antara Individu dengan Individu

Tingkah laku atau tindakan seseorang akan mendapatkan respon, reaksi, atau tanggapan dari apa yang diterimanya. Bentuk interaksi terhadap individu bisa berupa senyuman, saling menegur, berbincang, marah, mencium dan sebagainya.

Respon yang didapat bisa bermacam-macam tergantung stimulus, seperti apa yang diberikan. Contohnya, ketika Beti jatuh cinta, ia akan melakukan interaksi yang hangat ketika bertemu dengan pasangannya. Senyuman, seikat bunga, dan sebagainya akan ia ungkapkan. Beti akan mendapatkan respon yang sama, pasangannya pun akan lebih memperhatikan Beti. Respon bisa aktif maupun pasif.

Dari contoh bentuk-bentuk interaksi sosial tersebut, kita bisa menarik simpulan bahwa manusia merupakan makhluk sosial karena membutuhkan interaksi dengan individu lainnya. Apabila tidak ada interaksi antara kedua individu tersebut, Beti, seperti contoh tersebut, tidak berinteraksi dengan pasangannya, maka Beti tidak akan mendapatkan respon apa-apa dari pasangannya.

Itulah pentingnya interaksi dengan orang lain, yaitu untuk mengeluarkan ide yang berbentuk tindakan yang ada di dalam pikiran kita, sehingga terjadilah interaksi.

2. Interaksi Antara Kelompok dengan Kelompok

Interaksi kelompok dengan kelompok adalah interaksi individu dalam suatu kelompok sebagai satu kesatuan dan bagian dari dirinya dengan kepentingan kelompok lain. Contohnya, perwakilan delegasi sebuah negara menghadiri pertemuan dengan delegasi negara-negara lain dalam rangka mencari solusi mengenai isu lingkungan hidup.

Dalam hal ini delegasi datang bukan sebagai dirinya sendiri, namun mewakili negaranya. Dari contoh bentuk-bentuk interaksi sosial tersebut, dapat kita lihat bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi antara kelompok.

3. Interaksi Individu dengan Kelompok

Interaksi individu dengan kelompok adalah interaksi individu sebagai individu dengan kepentingan kelompok, misalnya dosen yang sedang memberi kuliah di dalam kelas.

Bentuk-bentuk interaksi sosial tersebut, membuktikan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Tidak akan terjadi interaksi apabila salah satu keduanya tidak ada yang memulai untuk berinteraksi. Interaksi sosial biasanya didasari atas berbagai faktor. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi interaksi sosial.

1. Imitasi

Proses imitasi adalah proses peniruan. Individu pertama kali melakukan imitasi pada waktu masih kecil, di dalam lingkungan keluarga. Anak biasanya akan meniru tindakan orang tua, seperti cara bicara, cara makan, cara berpakaian, dan sebagainya. Berikutnya, proses imitasi di lingkungan luar.

Proses imitasi bisa karena beberapa kemungkinan. Semakin kompleks suatu masyarakat dan tingginya interaksi, maka akan mengakibatkan dorongan proses imitasi pada masyarakat.

Proses imitasi dapat terjadi karena rasa tertarik, kagum kepada seseorang, sehingga individu tersebut melakukan peniruan. Imitasi bisa mengarah pada hal-hal yang bersifat negatif dan positif. Agar tidak terjadi dampak dan efek negatif, maka perlu ditanamkan norma dan aturan di masyarakat.

Bentuk-bentuk interaksi sosial tersebut dapat dilihat dari manusia sejak lahir, dimulai dari lingkungan yang paling kecil, yaitu keluarga. Semakin bertambah usianya maka bentuk-bentuk interaksinya semakin luas dan lingkungannya pun semakin luas.

2. Identifikasi

Proses identifikasi sama dengan proses pada imitasi. Namun, pada proses identifikasi ini bukan hanya peniruan fisik dan kelakuan, tapi bisa sampai proses kejiwaan. Bagaimana seseorang sudah menganggap dirinya sama seperti yang diidolakan.

Contohnya seorang individu mengidolakan seorang penyanyi. Ia melakukan proses imitasi sampai dengan pengidentifikasian dirinya sama dengan sang artis. Seorang anak yang dekat dengan salah satu orang tuanya, suka mengidentifikasikan dirinya menjadi sama dengan yang diidolakannya. Bentuk-bentuk interaksi sosial tersebut biasanya dilakukan manusia semenjak masih kecil juga, sama dengan proses imitasi. Keduanya saling berkaitan.

3. Sugesti

Sugesti adalah rangsangan atau stimulus yang diberikan oleh seseorang, sehingga individu yang diberi sugesti menurut dan mengikuti apa yang dikehendaki. Bentuk sugesti bisa berupa saran, pendapat, atau pertanyaan.

Contohnya, sugesti bisa dari individu ke individu, individu ke kelompok, dan kelompok ke kelompok lainnya. Sugesti bisa juga karena dipengaruhi oleh iklan-iklan di televisi, majalah, dan sebagainya. Sugesti cenderung bersifat irasional.

Bentuk-bentuk interaksi sosial tersebut membuktikan bahwa manusia sebagai makhluk sosial karena sifat alamiah manusia itu sendiri. Manusia membutuhkan sugesti dalam hidupnya.

4. Motivasi

Motivasi hampir mirip dengan sugesti. Namun, motivasi lebih cenderung positif, saran, atau stimulus yang diberikan dan dilakukan secara kritis, rasional, dan penuh dengan tanggung jawab. Bentuk-bentuk interaksi sosial tersebut sama dengan sugesti. Manusia bisa berinteraksi dengan orang lain karena ada motivasi untuk melakukan interaksi.

5. Simpati

Simpati adalah proses kejiwaan, di mana seorang individu merasa tertarik dengan seseorang atau sekelompok orang karena sikap, penampilan, perbuatan, dan wibawanya. Perasaan simpati seorang pria kepada wanita tidak akan menutup kemungkinan benih-benih cinta bersemi. Bentuk-bentuk interaksi sosial tersebut dilakukan karena manusia memang membutuhkan simpati dari orang lain, baik dari individu atau dari kelompok lainnya.

6. Empati

Empati mirip dengan simpati. Akan tetapi, bukan hanya perasaan kejiwaannya saja, empati dibarengi dengan respon tubuh. Misalnya, jika orang tua kawan meninggal dunia, maka duka yang mendalam ikut dirasakan, sama-sama merasa kehilangan. 

Apa Itu Konflik?

Konflik berarti juga permusuhan yang dapat mengarah kepada peperangan. Sudah terbukti, konflik sosial semisal perang antarsuku, perang antarkampung, perang antarsaudara, bahkan tawuran pelajar bermula dari konflik yang absurd dan abstrak alias sesuatu yang sifatnya sepele.

Contohnya, seperti pada tayangan berita di televisi. Di sebuah kampung terjadi konflik yang berujung maut hanya gara-gara uang seribu rupiah. Memang, kelihatannya uang segitu kalau diselesaikan dengan kepala dingin tentu akan baik, tetapi kalau sedang emosi, keadaannya jadi lain.

Konflik juga dilatarbelakangi oleh perbedaan individu menyangkut fisik, pengetahuan, adat, keyakinan, kecemburuan sosial, iri hati, dan lain sebagainya.

1. Faktor Penyebab konflik

  • Perbedaan prinsip.
  • Perbedaan kebudayaan.
  • Perbedaan kepentingan.
  • Perbedaan nilai.

2. Jenis-Jenis Konflik

  • Konflik sosial
  • Konflik keluarga
  • Konflik yang memang diorganisir
  • Konflik saudara
  • Konflik agama
  • Konflik politik

3. Akibat Konflik

  • Meningkatkan solidaritas sesama anggota konflik.
  • Retaknya hubungan persaudaraan.
  • Timbulnya dendam, benci, dan saling curiga.
  • Hilangnya harta benda dan nyawa manusia.

Lalu, sering kita baca Indonesia terlibat dalam konflik agama. Sebenarnya bukan konflik agama. Tetapi, konflik-konflik kepentingan yang bermula dari perebutan lahan tanah dan kemudian ditarik menjadi konflik politik-horizontal.

Menurut Hasyim Muzadi, “Konflik bernuansa agama bukanlah watak domestik bangsa Indonesia. Islam masuk ke Indonesia tanpa perang dengan agama yang sudah ada terlebih dulu, yakni Hindu, Buddha, dan agama lokal, melainkan melalui perdagangan serta akulturasi budaya.”  

Indonesia memang bangsa besar dan hebat. Indonesia bukan juga negara formal berbasis agama dan bukan juga negara sekuler. Negara berusaha melindungi semua agama dan aliran kepercayaan, meskipun kadang-kadang aliran agama yang minoritas teraniaya, sehingga terjadilah konflik sosial masyarakat.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Konflik - Masalah Sosial yang Wajar
  • Pentingnya Manajemen Konflik dalam Kehidupan
  • Konflik Antarbudaya di Indonesia dan Luar Negeri
  • Mengapa Terjadi Konflik Sosial dalam Masyarakat?
  • Berbagai Kasus Konflik Antar Negara
  • Serba-serbi Islam vs Kristen
  • Tragedi Bintaro - Melihat Skenario Takdir Kematian
  • Poso - Kapankah Tak Berdarah Lagi?
  • Konflik Sosial Budaya Sebagai Proses Pendewasaan
  • Konflik Israel vs Palestina dari Masa ke Masa
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA