Konsep Dakwah Islam
Dalam sebuah hadits yang berisi tentang konsep dakwah, Islam memerintahkan ummatnya untuk menyampaikan kebenaran walaupun hanya satu ayat. Isi hadits tersebut seolah amat mudah untuk dijalankan yaitu menyampaikan satu ayat. Konsep dakwah dalam Islam memang tidak memberatkan. Akan tetapi, benarkah mengajak orang lain ke jalan Islam itu mudah?
Definisi Dakwah
Dakwah memiliki arti mengajak, menyeru dan memanggil. Secara umum, konsep dakwah adalah mengajak seseorang agar meyakini sesuatu yang disampaikan oleh pendakwah atau da’i.
Jadi, dakwah tidak saja mengajak orang kepada kebenaran, tetapi bisa juga mengajak kepada kemungkaran. Baik mengajak kepada kebaikan atau kemungkaran sama-sama berarti dakwah. Iblis pun senantiasa berdakwah kepada anak cucu Adam agar menjauhi perintah Allah dan mendekati larangan-Nya.
Sedangkan para Nabi, Rasul dan orang-orang beriman akan mengajak manusia kepada jalan Allah Swt. Itulah yang membedakan iblis dengan orang-orang beriman.
Konsep Dakwah Islam
Allah Swt. memerintahkan hamba-Nya untuk mengajak manusia agar taat beribadah hanya kepada Allah Swt. Berdakwah atau mengajak tidak selalu berakhir baik. Ada tiga kemungkinan respon objek dakwah atau mad’u terhadap ajakan da'i:
- Menerima dan mau melaksanakan ajaran kebenaran
- Ragu-ragu
- Menolak dan selalu menghindari pertemuan dengan kita
Apapun respon dari objek dakwah, kewajiban seorang da’i hanyalah menyampaikan. Itulah konsep dakwah sesungguhnya. Maka Allah Swt. tidak akan membebani hamba-Nya dengan keharusan bahwa setiap objek dakwah harus berhasil diajak.
Rasulullah Saw. sendiri tidak berhasil mengajak paman kesayangannya yang bernama Abu Thalib untuk memeluk Islam. Padahal sang paman turut membantu perjuangan Rasulullah Saw. semasa hidupnya.
Peristiwa tersebut mengandung hikmah bahwa hidayah adalah milik Allah Swt. Hanya Allah Swt. yang berkehendak untuk menentukan apakah seseorang layak menerima cahaya-Nya atau tidak. Dengan demikian, sudah sepatutnya seorang da’i tidak dongkol atau berputus asa ketika ajakannya ditolak mentah-mentah, dicaci dan dihina oleh objek dakwah.
Menyikapi Objek Dakwah yang Menerima Ajakan
Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, bahwa ada tiga kemungkinan respon dari objek dakwah dalam menerima ajakan da'i.
Terhadap objek dakwah yang menerima ajakan da'i, tetaplah memberi motivasi agar ia istiqamah di jalan Allah. Godaan untuk kembali kepada kemaksiatan pasti lebih besar sebagai ujian terhadap keimanan dalam hatinya. Oleh karena itu, silaturahmi harus senantiasa dijaga untuk saling nasihat menasihati, memotivasi dan meningkatkan keimanan.
Menyikapi Objek Dakwah yang Ragu-ragu
Terhadap objek dakwah yang masih ragu-ragu, da’i harus mengekplorasi lebih dalam tentang dirinya. Mungkin ada masalah keluarga, latar belakang atau pemahaman yang menghambat dirinya untuk menerima kebenaran.
Setelah faktor-faktor penghambat itu dihilangkan, barulah materi dakwah bisa disampaikan. Ibaratnya, janganlah memasukkan air susu ke dalam gelas yang masih ada ampas kopinya. Bersihkan dulu gelas dari ampas kopi, baru masukkan air susu. Dengan demikian susu yang akan diminum tetap murni dan tidak tercampur aduk dengan kotoran ampas kopi.
Menyikapi Objek Dakwah yang Menolak
Penolakan dari objek dakwah adalah hal lumrah. Dakwah Nabi Nuh a.s. ditolak oleh anak-anaknya. Dakwah Nabi Luth a.s. ditolak oleh istrinya. Dakwah Nabi Ibrahim a.s. ditolak oleh ayahnya. Bahkan kerabat terdekat Rasulullah Muhammad Saw. pun ada yang menolak dakwah beliau.
Konsep dakwah Islam mengajarkan agar tidak membalas cacian orang-orang yang mencaci agama. Islam juga mengajarkan agar tetap menyampaikan dakwah dengan sabar, penuh hikmah dan nasihat yang baik dengan bahasa yang mudah dipahami oleh objek dakwah.
Sikap anarkis seorang da’i terhadap objek dakwah bertentangan dengan konsep dakwah Islam. Rasulullah Saw. sendiri tidak pernah mengajarkan hal tersebut. Jika penolakan terus berdatangan, berdoalah kepada pemilik hidayah yaitu Allah Swt. Hanya Allah Swt. saja yang bisa membolak-balikkan hati manusia. Wallahu’alam bishshawab.






